BREAK OUT! Part 7

Teuki oppa, hari ini aku, Hyemin, Haekyu, dan Minji akan pergi jalan-jalan. Mian, aku tidak bisa menemanimu mencari buku. Love, Haerin..

“Nah, aku sudah meng sms Teuki oppa. Kaja,” Haerin beranjak dari bangku McD.

“Memangnya kita mau ke mana? Unnie memang sudah tau akan kemana?” tanya Haekyu.

“Yaa, itulah. Mungkin kita bisa ke rumah Sangeun dulu dan berkonsultasi dengan Gyuri Halmoni…?” usul Haerin.

“Ne, benar juga. Tapi, sebentar ya. Aku mau menghabiskan cokefloatku dulu.” Kata Minji, tampak serius menyeruput habis cokefloatnya. “Hari ini kau tidak latihan?” tanya Haerin, karena biasanya Minji tidak akan mau di ajak keluar pada jam-jam latihannya.

“Aniyo. Aku akan bolos untuk hari ini saja. Hehehe..”

“Omona, tumben sekali. Padahal konser sudah dekat.” Timpal Haekyu. Minji tersenyum simpul. Haerin melirik Hyemin yang sedang sibuk menggulung-gulung spagetinya yang jelas-jelas hancur karena terlalu banyak di gulung. Melihat spageti Hyemin, Haekyu bergidik. “Yaikh, Unnie. Itu menjijikkan sekali!!” seru Haekyu.

“Ne?” tanya Hyemin buru-buru memasukkan spageti dalam gulungan besar-besar ke dalam mulutnya.

“Haah, kau mulai melamun lagi. Sudahlah, hari ini kita akan mulai mencari cara untuk melepaskan kutukan ini. Jadi semangatlah.” Kata Haerin memberi semangat. Hyemin Cuma tersenyum dan kembali memakan spagetinya.

Setelah makanan di meja mereka sudah benar-benar habis, Minji seperti biasa melemparkan kuncinya pada Haerin, dan Haerin selalu sigap menangkapnya. Haerin masuk mobil dengan riang gembira dan segera menyalakan mesin mobilnya. Tapi, Minji dan Hyemin tetap diam di luar sambil melihat bagian bawah mobilnya.

“Ya, kaja! Nanti bisa telat. Sudah siang nih,” seru Haerin seraya menunjuk-nunjuk jam tangannya.

“Unnie~ah, ban nya. Kenapa kempes semua???” tanya Minji tergelak.

“MWO?” Haerin buru-buru keluar untuk memastikan. “HAAAHHH, kenapa bisa kempes ?? kau tadi ke sini baik-baik saja kan?” tanya Haerin pada Minji. “Ne, tanya saja Haekyu. Tadi sebelumnya bannya baik-baik saja kok.” Kata Minji meyakinkan.

“Haaasshh, pasti ada orang iseng yang sengaja mengempeskan ban mobilmu.” Hyemin merenggut.

“Lalu bagaimana ini?” tanya Haerin.

“Kita panggil orang bengkel saja. Kita tidak mungkin meninggalkan mobil Minji di sini kan?” kata Haekyu.

“Ya sudah, Haekyu ya, panggil montir sana. Aku akan menelpon Yunho Oppa agar kita bisa ikut mobilnya.” Seru Minji lalu sibuk menekan-nekan nomor Oppanya yang sudah dia hafal di luar kepala. Satu kali, dua kali..

“Yoboseyo?”

“Ne? Waeyo??” tanya Yunho berbisik.

“Oppa, kau bisa jemput kami di restoran McD di dekat apartemen Haerin unnie?” tanya Minji.

“Aah, Mian. Oppa kuliah. Ini dosennya killer. Kau telpon Krystal saja, ya. Byee..”

Tut.

“Gimanaa?” tanya Haerin.

“Aku disuruh menelpon Krystal Unnie. Sebentar ya,”

“Ya, aku sudah menelpon mereka. Mereka akan ke sini dalam beberapa menit.” Kata Haekyu.

“Yoboseyo? Unnie-ah??”

“Ne, Minji? Waeyo?” tanya Krystal bermalas-malasan.

“Unnie, bisa jemput-”

“Aaa, ani ani ani. Mobilnya dipakai Omma dan Appa. Aku sendirian di rumah dan pintu terkunci. Kau tanya Yunho Oppa saja. Atau kau kan bisa minta Kibum untuk menjemputmu.” Kyrstal memotong ucapan Minji.

“Jongmal? Oh, ne Unnie..”

Tut.

“Wae wae??” tanya Haekyu tidak sabar.

“Andwae. Krystal Unnie sedang terkunci di rumah. Bagaimana ini?”

“Mir oppa tidak mungkin, dia bahkan tidak punya mobil. Kyuhyun Oppa juga.” Haerin menggaruk kepalanya.

“Teuki Oppa?” tanya Haekyu lalu segera menelpon Oppanya.

“Baru saja aku mau telpon.” Gumam Haerin lirih.

“Yoboseyo, Oppaaa..”

“Nugu? Haekyu??”

“Ne, Oppa. Oppa dimana? Aku dan yang lain tidak bisa pulang. Mobil Minji tiba-tiba bannya kempes sepertinya ada yang iseng dengan kita.” Kata Haekyu.

“Oppa sedang kuliah. Barusan Minji juga telpon Yunho. Harusnya kan kau tau kalau Oppamu dan Oppanya Minji ini sekelas. Ah, bagaimana kau ini. Apa Haerin ada di situ?” tanya Leeteuk.

“Ne, waeyo?” tanya Haekyu.

“Ahaha, Aniyo. Sampaikan salamku padanya ya. Kalian naik bus saja lah,” kata Leeteuk.

“Mwo?”

“Ne, see ya..”

Tut. Tut. Tut.

“Haasshh, Teuki Oppa tidak bisa.” Seru Haekyu kesal.

Haerin melengos. Minji juga. Haekyu malah diselingi dengan bibir manyunnya. Namun, tiba-tiba mereka bertiga menatap Hyemin yang masih melamun. “mwo?” tanya Hyemin cuek. “Yaa, telpon Donghae sana..” suruh Haerin. “Iyaa, kalau nunggu sampai selesai bisa buang-buang waktu.” Kata Haekyu menyetujui.

Aku malu. Selama ini kan hubunganku dengan Donghae Oppa renggang..

Minji melirik Hyemin. “Ya, kau ini kan pacarnyaaa!! Apa perlu aku yang telpon??” seru Minji tiba-tiba. Hyemin menatapnya penuh tanya. “Ya, Aku dan Donghae Oppa tidak ada apa-apa. Kenapa Unnie masih belum percaya sih?? Aku sudah menganggap Donghae Oppa seperti Oppaku sendiri. Jadi tidak mungkin aku menyukainya lebih dari seorang Oppa.” Ungkap Minji tiba-tiba dengan mata berkaca-kaca.

Lalu kenapa kau mesrah-mesrahan dengan dia kalau kau menganggapnya hanya sebagai OPPA??

“Apa salah kalau seorang Oppa memperlakukan dongsaengnya dengan perhatian seperti itu??? Aku sudah mengenal Donghae Oppa sejak aku berumur 4 tahun, ketika Yunho Oppa mengenalkanku padanya. Kalau memang Donghae Oppa suka padaku, dia tidak mungkin memacari Hyemin Unnie!” kata Minji lagi. Kali ini matanya sudah berair dan beberapa air matanya sudah jatuh.

“Ne?” gumam Hyemin juga berkaca-kaca.

“Unnie tidak memperhatikan Donghae Oppa, maka dari itu Donghae Oppa dekat denganku. Donghae Oppa juga sering cerita kalau Unnie sudah berubah.”

“Ya, Hyemin Unnie, sudahlah.. Minji dan Donghae Oppa memang tidak ada apa-apa kok.” Kata Haekyu.

“Ne, Hyeminnie, waktu aku mendudukkan Donghae dan Minji, memang mereka tidak berhubungan selain Oppa dongsaeng. Bahkan Kibum juga datang.” Kata Haerin.

“Jincha?” tanya Hyemin.

“Ne, sudah, telpon sana..” suruh Haerin. Haekyu merangkul Minji yang masih terisak.

“Ya, aku merasa bersalah. Aku tidak sepenuhnya jujur..” bisik Minji.

“Gwaenchana, kalau tidak begitu mereka tidak bisa akur…” balas Haekyu.

Tepat ketika Hyemin hendak menekan nomor Donghae, sebuah mobil berhenti di depan mereka. Montir dari bengkel yang tadi di telpon oleh Haekyu sudah datang dan siap membenarkan ban yang bocor tadi menjadi benar kembali. Mau tak mau mereka akhirnya menunggu karena tidak mungkin untuk meninggalkan mobil itu di situ, dan salah satu dari mereka mengatakan bahwa prosesnya tidak akan lama.

Tak sampai beberapa menit, akhirnya mereka selesai mengganti ban yang tadinya kempes dengan yang baru. Dan tampaknya sudah tidak ada kendala. Setelah membayar mereka, Haerin segera menyalakan mesin mobil dan memanaskannya sebentar.

“Yah, ready girls?” tanya Haerin.

“Okee. Kaja..” seru Haekyu dari jok belakang.

Mobil meluncur menuju rumah Sangeun yang letaknya lumayan jauh dan di pinggir Seoul. Haerin tampak handal sekali menyelip sana sini. Setelah beberapa menit perjalanan tiba-tiba di daerah dekat dengan tol, menjadi padat dan mobil sama sekali tidak bisa bergerak.

“Haaaassh, macet pula!” Haerin mengumpat sambil memukul-mukul setir.

“Haekyu-ya, buat mobil-mobil ini supaya jalan..” suruh Hyemin.

“Mwo, tidak mungkin yang seperti itu. Tidak ada cara lain selain menunggu.” Jawab Haekyu.

“Sudah jam berapa ini? Haaaah,” Minji ikut mengeluh.

“Kalau lebih lama lagi di sini, bisa-bisa kita kehabisan bensin!” Haekyu, Hyemin, dan Minji menoleh pada Haerin karena kata-katanya barusan. “Mwo? Lihat ini, bensinnya tinggal 1 strip! Minji, kau tidak mengisi tadi?” tanya Haerin masih menatap strip yang sekarang mulai berkedip-kedip.

“Aniyo. Tadi kupikir masih banyak. Kenapa sekarang tinggal sedikit sekali. Yaaah.” Minji melongok.

“Hmm, ya.. mengapa bulu kudukku berdiri, ya?” tanya Hyemin lalu menggosok-gosok leher dan tangannya yang dingin. Haekyu bergeser menjauh. “Yayayayaa, Unnie. Jangan membuatku takut seperti itu.” Kata Haekyu, mukanya benar-benar pucat sekarang.

“Ani, aku tidak menakut-nakuti atau apa. Tapi, bulu kudukku benar-benar berdiri.”

“Hyeminnie, sudahlah. Jangan selalu mengumbar hal itu.” Seru Haerin juga merinding. Langit semakin gelap karena awan mendung yang menutupi matahari. “Kalau tidak keterlaluan tidak mungkin ku umbar!! Tapi sejak beberapa hari yang lalu sepertinya dia mengikuti kita. Ahh, seperti dikejar malaikat pencabut nyawa.” Kata Hyemin.

“Huuuhssshh!! Jangan bilang seperti itu!! Kita pasti bisa melepaskan kemampuan kita!!” seru Haerin.

“Tapi lihatlah, sama sekali tidak mau bergeraak!!” Minji mulai meraung-raung.

“Haaa, bensinnya tinggal setengah strip! Otokeyo?” tanya Haerin.

“Naik taxi atau bis pun sama saja kalau macetnya seperti ini.” Kata Haekyu.

“yayayaa, aku merasa dia akan terus mengikuti kita. Maksutku, mungkin aku.” Cerita Hyemin.

“Suruh saja dia pergi.” Kata Haekyu, merepetkan badannya ke jendela.

“Andwe, aku bahkan tidak dapat melihatnya. Dia tidak mau menunjukkan diri.”

“Kalau begitu tidak usah dipikirkan!” kata Minji.

“Ahh,”

“Geez! Kali ini mobilnya benar-benar mati!! Lalu bagaimana ini?” tanya Haerin.

“Kenapa dari tadi sial terus sih?” seru Haekyu.

“Tidak ada cara lain, ayo kita keluar. Dan mencari bus di sebrang jalan.” Minji mengajak.

“Hujan…” gumam Hyemin.

“Kalau begitu, kalian di sini saja. Aku akan keluar mencari bantuan.” Kata Minji. “Ya! Jangan keluar, di luar hujan.” Cegah Haerin. Tetapi, Minji sudah ngeloyor duluan di bawah rintikan hujan yang deras tanpa payung, mencari bantuan untuk mereka.

“Nekat sekali. Apa tidak apa-apa?” tanya Hyemin.

“Haaah, bisa-bisa aku dibunuh oleh Yunho Oppa kalau dia tau.” Keluh Haekyu seraya menoleh-noleh ke belakang untuk memastikan Minji tidak apa-apa.

Mereka menunggu beberapa saat, kemudian Minji datang dengan membawa 2 botol cairan kuning di kedua tangannya. Ia menggedor-gedor kaca jendela. “Unnie ya!! Buka pintu tangkinya.” Suruh Minji. Haerin keluar menerpa butiran-butiran hujan dan membantu Minji menuangkan cairan yang ternyata bensin itu ke dalam tangki mobil.

“Kau dapat dari mana?” tanya Haerin.

“Di ujung jalan ada yang menjual. Ya sudah, ku beli saja. Yang penting kita bisa pergi dari sini.”

“Haekyu ya, nyalakan mesinnya!” suruh Haerin. Haekyu langsung menyalakan mesinnya. Lalu Minji dan Haerin segera masuk dan menjalankan mobilnya. Walaupun tol sudah tidak sepadat tadi.

**

Sangeun’s House 17:58 PM

“Ya, kalian kehujanan?” tanya Sangeun kaget sewaktu ia membukakan pintu untuk mereka.

“Iya, tadi mobil Minji kehabisan bensin. Aah,” keluh Haerin. Sangeun segera masuk ke kamarnya dan mengambilkan 2 helai handuk untuk mengeringkan Minji dan Haerin. “Gomawo, Sangeunah.”

“Masuklah. Gyuri Halmoni sedang sakit.” Kata Sangeun.

“Mwo?! Sakit apa?” tanya Hyemin.

“Molla, dari kemarin badannya panas dan tidak bisa bangun. Mungkin terlalu banyak bekerja.” Kata Sangeun.

Mereka masuk ke ruang tengah dimana Gyuri Halmoni berbaring. Hyemin terduduk lalu mendekat pada Gyuri Halmoni dan mencium tangannya. “Gyuri Halmoni, waeyo?” tanya Hyemin. Hyemin sudah menganggap Gyuri Halmoni seperti Halmoninya sendiri.

“Aigoo, kalian datang? Biar aku buatkan sesuatu untuk kalian.” Kata Gyuri Halmoni hendak bangkit. Hyemin menahannya. “Aniyo. Nanti kalau kami butuh apa-apa biar kami ambil sendiri. Gyuri Halmoni istirahat saja supaya cepat sembuh.” Kata Hyemin.

“Ne, kami ke sini sebenarnya ingin menanyakan sesuatu pada Gyuri Halmoni.” Kata Haerin.

“wae?”

“Halmoni, sebelum ini Halmoni bilang, kita harus melepaskan kemampuan kita. Kita juga sudah memikirkannya dengan matang-matang, tetapi kita bingung harus berbuat apa. Menurut Halmoni, apa yang harus kita lakukan untuk melepaskan kemampuan-kemampuan itu?” tanya Haekyu.

“Ne? Kalian harus berusaha sendiri. Aku sendiri juga tidak tahu bagaimana caranya. Mungkin kalian bisa pergi ke daerah Gogam di atas gunung dan temui seseorang bernama Kwon Boa. Mungkin dia dapat membantu kalian. Dan, kalian harus cepat melepaskannya.” Ucap Gyuri Halmoni.

“Gogam? Kwon Boa? Jadi kami harus menemuinya?” tanya Minji.

“Ne. Lebih cepat lebih baik.” Kata Gyuri Halmoni.

“Kalau begitu, biarkan aku membantu kalian.” Kata Sangeun.

“Andwe, nanti kami merepotkanmu.” Tolak Minji.

“Sama sekali tidak. Berlima lebih baik kan dari pada berempat.”

Esoknya, Minji mengendap keluar dari kamar dan meraih kunci mobil Krystal yang tergeletak di sebelah TV. Krystal memang sedikit ceroboh. Setelah berhasil mengendap-endap mengambil kunci, ia segera berlari ke garasi untuk mengeluarkan mobil.

“Minji? Kau mau kemana?” tanya Jessica Omma.

“Ne? Omma sudah bangun??” Minji malah balik bertanya.

“Kau mau kemana pagi-pagi buta seperti ini? Bahkan matahari juga belum muncul.”

“Ahaha, Omma.. hari ini harus ada latihan untuk konser pagi-pagi. Aku pergi dulu, ya..”

“Yaaa~ Aigoo, anak itu susah sekali tinggal di rumah.” Gerutu Jessica Omma lalu kembali masuk ke kamarnya.

Minji segera melesatkan mobilnya menuju rumah Haekyu yang hanya beda 3 kompleks perumahan dengannya. Ketika ia menjemput Haekyu, ia terlihat masih mengantuk dan Leeteuk masih memarahinya karena pergi terlalu pagi. Setelah Minji menjelaskan ini dan itu, akhirnya Leeteuk luluh dan membolehkan Haekyu untuk pergi.

“Hoooaaah, pagi sekali. Aku saja baru tidur 3 jam yang lalu.” Seru Haekyu di sebelahnya.

“Bukan hanya kau. Aku juga.” Kata Minji malas-malasan.

Mereka sampai di depan apartemen Haerin dan Hyemin. Rupanya mereka sudah siap dan langsung masuk. Mereka yang paling segar dan semangat diantara mereka berempat.

“Mobil siapa lagi ini? Haiss..” Seru Haerin dari jok belakang. “Ini punya Krystal Unnie. Terpaksa kucuri. Aku tidak mau ambil resiko pakai Ford sialan itu..” Kata Minji.

“Great, Hyundai ini juga tidak terlalu buruk..” Kata Hyemin. “Nanti akan kusampaikan pada Krystal,” seru Minji.

“Jadi kau sudah tau dimana itu Gogam?” tanya Hyemin. “Ne, aku sudah cari di internet dan dapat peta untuk ke sana.”

**

Gogam 11:00 AM

“Ha, ini sudah ke 3 kalinya kita memutari daerah ini.” Kata Minji akhirnya menyerah dan menghentikan mobilnya. Haerin yang duduk di belakang bersama Hyemin celingukan melihat daerah itu lagi. Benar juga, mereka sudah memutari daerah ini sebanyak 3 kali.

“Harusnya rumah itu ada di sekitar sini.” Kata Hyemin, meneliti kembali petanya.

“Ajumma tadi juga bilang kalau di daerah sini.” Sahut Haekyu.

“Kita turun saja. Mungkin ada di atas sana.” Kata Minji sambil menunjuk daerah atas yang sepi.

“Ne, kaja.” Hyemin semangat lalu keluar dari mobil dan menghirup udara segar dalam-dalam. Haekyu juga melakukan hal yang sama. “Di sini nyaman sekalii…” seru Haekyu sambil merenggangkan tulang-tulangnya yang pegal karena 6 jam duduk di mobil.

“Ya, ayo ke atas.” Hyemin mendahului mereka naik ke jalan setapak yang akan membawa mereka ke atas.

Beberapa dakian lagi mereka akan tiba. Minji melongok ke bawah. Ngeri juga kalau melihat dari atas seperti itu. Dan, tiba-tiba suara cempreng Haekyu mengagetkan semuanya. “Yaa!! Ada rumah di sini!!!”

Haerin, Hyemin, dan Minji segera menyusul untuk melihat. Dan benar saja. Memang ada rumah kecil di atas sana. Satu-satunya rumah yang ada di atas gunung. Mereka tidak membayangkan penghuninya harus tinggal di dalamnya malam hari. Di sana belum ada listrik.

Hyemin maju duluan dan mengetuk pintu rumah itu.

TOK TOK TOK

Tidak ada jawaban. “Apa orangnya sedang tidur?” tanya Minji. “Oh ya? Coba kau ketuk sekali lagi.” Suruh Haerin. Hyemin mengetuknya, kali ini lebih keras dari sebelumnya. DOK DOK DOK..

“Tidak ada orang.” Klaim Hyemin.

“Mwo? Haah, sudah capek-capek ke atas tapi tidak berpenghuni. Ya sudahlah, apa boleh buat.” Kata Haekyu hendak berbalik. Haerin maju menyeruak dan menggedor pintu itu keras-keras. “Annyeoong Hasimnikkaaaa?!?!?!” seru Haerin hampir mendobrak rumah.

“Annyeeooong?? Kami perlu bicara dengan Kwon Boa sshi!” kata Haerin.

KRIIIEEKKK..

“HHHAAAAHHH!!! Aigoooooo!!” seru Haerin melompat beberapa jengkal ke belakang saking kagetnya.

“Ah, Annyeong Haseyo, Halmoni. Kami ingin mencari Kwon Boa Sshi.” Kata Minji. Halmoni yang membukakan pintu tadi menatap mata mereka satu-persatu dengan liar. Haekyu bersembunyi di balik tubuh Haerin. Lutut Haerin bahkan gemetaran.

“Ne, Saya Kwon Boa. Siapa kalian? Kenapa mengetuk rumah orang seenaknya?!”

“Eh, Oh.. Annyeong Kwon Boa Halmoni.” Sahut mereka hampir bersamaan.

“Cheosunghamnida, kami tidak akan mengulanginya. Kami perlu berbicara dengan anda.” Kata Hyemin.

“Siapa kalian?” tanya Boa Halmoni.

“Saya Lee Haerin, Yang ini Hwang Hyemin, Park Haekyu, dan Jung Minji.”

“Gyuri Halmoni yang menyuruh kami semua ke sini. Kami ingin menghilangkan kemampuan sixthsense kami dan membuang kutukan 13 turunan yang diturunkan keturunan kami dulu.” Kata Hyemin. “Ne, Halmoni.” Minji dan Haekyu menyahut.

“Hmm. Kutukan yang berumur sangat tua. Tapi kekuatannya melebihi apapun. Masuklah.” Suruh Boa Halmoni. Ia mempersilakan mereka untuk duduk di sofa tua yang sangat tidak nyaman dan berbau. Rumah itu memang suram sekali. Gelap dan hanya diterangi oleh sebuah lilin kecil di sudut ruangan.

“Aku memang pernah mendengar tentang kutukan itu. Ya, keturunan kalian yang terdahulu masih berhutang nyawa. Tapi, kalian salah jika kalian pergi kepadaku. Aku tidak dapat berbuat apa-apa. Kami semua, 13 Halmoni-halmoni tua yang tau persis tentang kejadian 900 tahun lalu.” Cerita Boa Halmoni.

“Ne? 13 Halmoni?” ulang Minji, sama terkejutnya dengan yang lain.

“Ada 13 orang yang menurunkan cerita ini sampai sekarang.” Ungkap Boa Halmoni. Minji, Hyemin, Haekyu, dan Haerin saling bertatap-tatapan.

“Yang aku tau sekarang, waktu kalian tidak banyak lagi. Ada sesuatu yang sebenarnya tidak bisa kami semua ungkapkan pada kalian. Kalian harus cepat melepaskan kemampuan itu sebelum umur 20 tahun.” Kata Boa Halmoni. Kata-kata yang sudah tidak asing lagi di telinga mereka. Gyuri Halmoni selalu mengatakan itu berkali-kali.

“Lalu, apa yang harus kita berempat lakukan? Kami sendiri tidak tau harus berbuat apa untuk melepaskan ini.” Kata Haekyu. Tatapan Hyemin kembali kosong. Haerin menghela nafas, menyerah. Haekyu memegangi kepalanya. Minji Cuma menatap Boa Halmoni dengan tatapan pasrah.

“Pergilah kalian menemui Hyoyeon Halmoni. Mungkin dia tau sesuatu. Dia tinggal di Laut Timur.” Kata Boa Halmoni. Minji terhelak, “Donghae?” Boa Halmoni mengangguk. “Ne, pergilah ke sana dan temui Hyoyeon  Halmoni. Lebih cepat kalian menemukan cara untuk melepaskan kemampuan dan kutukan itu, lebih baik.” Ucap Boa Halmoni.

“Memangnya, jika kita tidak menemukan caranya hingga berumur 20 tahun? Apa yang akan terjadi?” tanya Hyemin. “Bukankah kami akan mati. Dan, semua itu sudah selesai. Kalau begitu aku akan menyerah saja dan menghabiskan 2 tahun ini.” Haerin menimpali juga.

“Andwae! Kutukan itu akan terus berlanjut sampai nyawa yang terhutangi dulu terbayar.”

Minji menganga. “Baiklah, kalau begitu. Kami akan secepatnya menemui Hyoyeon Halmoni. Kamsahamnida.” Kata Minji lalu beranjak. Yang lain juga ikut beranjak. “Ingat, temukan secepatnya. Aku tidak bisa memastikan kalian akan habis di umur 20 tahun. Karena beberapa hari yang lalu sebuah pelarian besar-besaran terjadi. Segera temukan Hyoyeon Halmoni.” Kata Boa Halmoni. “Pelarian besar-besaran?” tanya Haekyu. “Tidak usah pikirkan itu, fokuskan pada pelepasan kemampuan kalian!”

“Algeshimnida.” Kata mereka bersamaan.

“Kalau begitu kami semua pamit dulu, halmoni. Kamsahamnida.”

“Ne, hati-hati..”

**

On The Way HOME 16:20 PM

“Tidak usah cemas. Optimis saja kita bisa menemukan cara untuk melepaskan kutukan sialan itu. Besok, setelah Minji dan Haekyu pulang sekolah, kita langsung berangkat ke Laut Timur.” Kata Haerin.

“Aku pasti tidak akan konsentrasi sewaktu sekolah.” Kata Haekyu.

“Aku juga akan bolos latihan lagi. Inspektur pasti marah-marah.” Minji mengeluh.

“Hanya kali ini saja. Jebaal, waktu kita tidak banyak.” Hyemin merayu. Haerin yang menyetir dengan tenang tiba-tiba tersendat. “Wo wo wo, what’s the matter?” tanya Hyemin. Mesin mobil mati. Haerin mencoba menyalakan lagi, tetapi tidak bisa.

“Geez! Mobil ini kenapa lagi sih?” ujar Haerin Bete.

“Omona.. padahal ini bukan mobil yang kemarin. Ini punya Krystal Unnie. Haa, aku akan turun untuk melihat mesin dalamnya.” Kata Minji lalu turun dan membuka kap mobil depan yang mulai berasap. Haekyu, Hyemin, dan Haerin ikut turun dan melihat. Mereka mengibas-ngibaskan tangan mereka untuk mengurangi asap yang ditimbulkan salah satu mesin itu.

“Aku tidak tau cara memperbaikinya.” Kata Minji menyerah lebih dulu.

“Aku juga tidak bisa. Aku Cuma bisa balapan saja.” Haerin juga menyerah.

“Apa lagi aku?” Haekyu menggeleng.

“Mungkin aku bisa sedikit-sedikit. Akan ku coba dulu.” Kata Hyemin. Hyemin mengambil peralatan mekanik di bagasi mobil dan mulai mengeluarkan alat-alat yang biasanya digunakan oleh montir-montir. Haerin melengos dan duduk di trotoar pinggir dan membuka Hpnya, siapa tau ada pesan untuknya. Tapi, tidak ada satupun pesan yang muncul di layarnya. “Teuki bahkan tidak menelponku.” Keluh Haerin.

“Mungkin Oppa sedang sibuk. Atau Hpnya ketinggalan.” Hibur Haekyu.

“Aneh sekali. Beberapa waktu terakhir ini aku sama sekali tidak bisa menggunakan kemampuan melihat masa depanku dengan baik. Bahkan untuk hal-hal sepele seperti ini. Hhaaaah, kenapa ya?” Haerin memutar-mutar Hpnya.

“Mungkin itu tandanya kalau kemampuanmu akan pudar, Unnie.” Sahut Haekyu sok tau.

“Aku juga begitu. Aku sekarang Cuma bisa merasakan makhluk halus itu saja. Tapi jarang sekali aku bisa melihat seperti apa mereka. Haah, tapi itu lebih baik.” Jawab Hyemin sambil membetulkan mesin.

Minji membuka pintu mobil dan duduk di dalamnya. Ia membiarkan pintu mobil tetap terbuka. Drrttt… Drrttt… Drrttt.. Hpnya bergetar, tanda ada panggilan masuk. Minji mengangkatnya dengan cepat. “Yoboseyo?”

::

Studio Band, 16:23 PM

Ngiiiing.. tak! Tak! Drreremm..

“Ya, Kibummie, suaranya belum pas.” Seru Donghae.

“Araseo, tapi dari tadi sudah ku stem dan tidak berhasil.” Jawab Kibum, sibuk memutar-mutar kunci gitarnya.

“Ya sudahlah, kau tetap jadi bassist saja. Wookie, nada yang barusan kurang tinggi..” kata Donghae lagi.

“Ne, Hyung.”

“Hari ini sepertinya tidak ada yang semangat ya?” Changmin tetap menggebuk-gebukkan drumnya pelan. Sungmin mengangguk. “Aku juga lelah sekali. Ternyata belajar Bass bukan sesuatu yang mudah. Haah..” Sungmin mengeluh. Donghae menghampiri mereka.

“Ya, aku juga capek. Kita latihan lagi, oke? Hwaiting!” seru Donghae.

“Ne!” sahut semuanya lalu berada pada posisi masing-masing.

Jari-jemari lentik Ryeowook mulai menari indah pada tuts-tuts keyboardnya. Sungmin juga nampak serius sekali menekan kunci-kunci gitar dan menggenjrengnya. Kibum juga, sesekali ia melirik ke jendela luar. Changmin dengan kekuatan penuh menggebuk drum sesemangat mungkin.

Haruga jinago, Handari jinado, noege yonragu ojireul anhasseo, nunmuri heullo gaseumi appa, aniya jamsippunya, anilgoya.. anilgoya.. anilgoya.. nareul dallejima.. Niga ddeonan bin jariman keojyeoga..

Neorul dashi bwado neon neon nae sarang.. subaekbeon bwado nan nan nae sarang.. haneuri maejeojun neon nae saraang.. Niga jamsi gireul ilheun geotbuniya..”

Nguiiinngg, jjdaass….

“Hassh!!” lagu berhenti. Semua menatap Kibum yang kini terdiam sambil memegangi jarinya.

“Waeyo?” tanya Changmin lalu melongok.

“Kawatnya putus, Hyung.” Jawab Kibum sambil memegangi kawat bass nya.

“Omona.” Donghae melengos dan menghempaskan dirinya di sofa dan meneguk air mineralnya. Sungmin menghampiri Kibum dan membantunya berbuat sesuatu pada bassnya. Ryeowook memutuskan untuk duduk bersama Donghae di sofa. Changmin diam dan memperhatikan semuanya.

“Latihan hari ini sepertinya cukup. Kita lanjutkan saja besok. Kita semua sama-sama capek.” Kata Donghae.

“Ne, baiklah.” Kata Changmin lalu keluar untuk mengambil tasnya yang tertinggal di luar.

“Waeyo?” tanya Sungmin lirih pada Kibum.

“Perasaanku tidak enak, Hyung.” Kata Kibum. Sungmin mengangguk, “Minji ya? Telpon saja. Mungkin dia butuh sesuatu.” Kata Sungmin. “Sini bass mu. Aku bisa memperbaikinya.” Sungmin menawarkan diri. Kibum mengangguk dan menyerahkan bassnya pada Sungmin.

Ia pergi ke luar dan mendial nomor Minji yang sudah dihafalnya di luar kepala. Tuut.. tuut.. tuut..

“Yoboseyo?” sahut Minji.

“Minji~ah, gwaenchana?” tanya Kibum.

“Err-Ne. Waeyo?” tanya Minji.

“Aku tidak melihatmu seharian ini. Jadi aku takut kau kenapa-napa.” Kata Kibum.

“Eh, sebenarnya.. saat ini aku, Hyemin Unnie, Haerin Unnie, dan Haekyu tidak bisa pulang.”

“Wae?”

“Mobilku tiba-tiba mogok. Tapi, Hyemin Unnie sedang berusaha untuk memperbaikinya. Oppa tenang saja.”

“Aku akan menjemput kalian. Kalian dimana?” tanya Kibum.

“No no no Oppa. Nanti saja, kalau mobilnya benar-benar tidak bisa baru Oppa ku telpon.” Kata Minji.

“Oh, Ne? Jincha?? Kalau begitu, jangan matikan Hpmu. Aku akan menelponmu nanti.” Kata Kibum.

“Ne, Oppa. Gomawoyo.”

“Saranghae, Minji~ah..”

“Ne, Oppa. Saranghaeyo.”

Tut.

BRUAKK!!

Hyemin mengusap dahinya yang berkeringat. “Minjiii!! Coba kau nyalakan mesinnya!!” suruh Hyemin. Minji mengangguk dan pergi ke jok depan untuk menyalakan mesin mobilnya. GRUUNG.. GRUUNG.. JLEG.

“Yaa, Unnie, belum bisaa!!” seru Minji.

“Coba lagi..”

GRUUNG.. GRUUUUNGG.. GRUUUUNGG.. JLEG.

Hyemin melengos lalu membuka kap itu lagi dan mulai berkutat. Haekyu berdiri dan memberikan sebuah es potong padanya. “Unnie, kalau memang tidak bisa tidak usah dipaksakan.” Kata Haekyu. Hyemin meraih es potong itu dan mulai memakannya.

“Memang apanya sih yang membuat mogok?” tanya Haekyu ingin tau.

“Harusnya sih setelah disambung bisa hidup mesinnya. Mungkin harus di eratkan yang ini.” Jelas Hyemin lalu mengeratkan salah satu mesin. Hyemin melongok, “Minji, coba nyalakan!” suruh Hyemin.

“Nee!!”

GRUUUNGG.. Jleg.

“Hyeminnie! Sini, istirahat dulu. Kita pikirkan cara lain untuk pulang.” Kata Haerin. Hyemin setuju dan duduk di sebelah Haerin. Ia mengeluarkan Hpnya. “Aku akan meminta Donghae Oppa menjemput kita.” Kata Hyemin lalu menelpon nomor Donghae. Tapi, sudah berkali-kali tidak juga diangkat. Akhirnya ia mengirim sebuah pesan singkat untuk Donghae.

Oppa, aku terjebak di perjalanan pulang dari Gogam.. Mobil Minji tiba-tiba mogok, bisakah Oppa menjemput kita? Mianhae Oppa…

Hyemin akhirnya menekan tombol send. Mereka menunggu sekitar 15 menit. Karena, belum menadapatkan cara untuk pulang, Hyemin kembali berkutat dengan mesin mobil dan mencoba membenarkannya. “Unnie, mungkin yang ini harus dilepas..” kata Minji sewaktu melongok ke dalam kap mobil.

“May be..” kata Hyemin lalu memotong salah satu kabel. Haerin yang sudah mendapatkan sinyal untuk menyalakan mesin mobil segera menyalakannya dan..

GRUUUUNGGG.. GRUUUNGG.. GRUUUUNGGG…

“YEEEYYY!! Kaja!! Mesinnya bisa nyalaa..” seru Haerin dari balik mobil. Hyemin mencari HP di sakunya untuk mengabari Donghae kalau mesinnya sudah nyala dan dia tidak perlu menjemputnya di daerah yang sangat jauh itu. Tetapi, tanda peringatan muncul. LOW BATTERY. Hyemin melengos lalu memasukkan kembali Hpnya ke dalam saku.

“Sial, nanti saja mengabarinya. Donghae Oppa pasti tidak akan membaca pesanku.” Gumamnya.

**

Apartemen Donghae, 18:00 PM

Drrttt.. Drrttt..

“Donghae~yaa.. Hpmu niih!!” seru Shindong yang sibuk mengemil es krim Baskin Robbins yang besarnya melebihi baskom di sebelahnya untuk menadahi air yang bocor dari kamar mandi apartemen. Donghae yang baru saja selesai mandi segera meraih Hpnya dan membuka pesan.

Pesan dari Hyemin.

“Siapa?” tanya Shidong tidak jelas.

“Hyeminnie, aku harus menjemputnya. Sudah dulu, ya.”

“Menjemputnya di mana? Kau tidak lama kan??” tanya Shindong, mulutnya benar-benar penuh.

“Di dekat Gogam.” Jawab Donghae.

“Mwo? Jauh sekali.” Shindong mengeluh. “Aku akan kembali.” Kata Donghae lalu menyahut kunci mobil yang di taruhnya di atas meja telpon dan bergegas ke parkiran bawah. Hyemin pasti sudah menunggunya dari tadi. Donghae menstarter dan kemudian meluncur dengan cepat menuju jalanan yang tidak begitu ramai.

Donghae menaikkan kecepatan mobilnya hingga 90km/jam. Dengan lihai, ia menyalip mobil dan bus yang lalu lalang di jalan raya. Donghae melirik jam tangannya, kemudian Hpnya. “Ssssh, aku akan menelponnya..” kata Donghae lalu meraih Hpnya di jok sebelahnya.

Dan dengan kecepatan stabil 90 km/jam, Donghae juga sibuk mencari nama Hyemin di contactnya yang penuh. Sesekali ia melihat jalanan untuk memastikan tidak ada kendaraan yang lewat di depannya. “Aah, ini dia.”

TIIIINN.. TIINN…

Dan dari arah berlawanan, sebuah Kontainer besar melaju dengan kecepatan yang juga sangat kencang dan menabrak mobil Donghae yang berjenis sedan itu.

BRUUAAKK.. DRAKK.. DRAKK..

Truk Kontainer tadi berhenti dan orang yang mengemudikannya segera kabur melarikan diri. Mobil Donghae terlempar jauh sekali sekitar 100 meter ke belakang dan beberapa kali terbalik-balik. Api muncul dari mesin mobil Donghae. Donghae terlempar keluar dan terhempas keras di aspal yang dingin. HP yang ada digenggamannya terlepas.

“H-hye-m-min..”

**

Apartemen Haerin, saat yang sama waktu Donghae kecelakaan.

“Ya~ Aku rindu dengan Donghae Oppa. Kira – kira apa yang sedang ia lakukan, ya?” tanya Hyemin sambil melihat foto – foto berpigura yang ada di atas meja.

“Molla. Kau telpon saja dia…” Haerin masih sibuk dengan cyworldnya.

“Hahh…” Hyemin menghela nafas panjang.

“OH MY GOSH!” pekik Haerin tiba – tiba.

PRANG! Hyemin menjatuhkan salah satu pigura yang berisi fotonya bersama Donghae.

“Andwae!! Aku menjatuhkannya!” Hyemin memungut pigura itu.

“Kenapa kau berteriak – teriak?” sambung Hyemin, menatap Haerin bingung.

“Aku melihat sebuah kontainer menabrak mobil sedan. Tetapi aku tidak tahu itu mobil siapa, semuanya samar – samar. Aku tidak bisa melihat dengan jelas.” Haerin berkata hanya dengan satu tarikan nafas. Hyemin hanya melongo melihat Haerin berkata seperti itu, sambil memegangi pigura yang ia jatuhkan tadi. Kemudian ia menunduk dan melihat pigura itu ditangannya.

“Kenapa yang pecah hanya bagian Donghae Oppa?”

“Mwo?” tanya Haerin kemudian menghampiri Hyemin.

“Foto yang kujatuhkan… Kaca piguranya hanya pecah di bagian Donghae Oppa. Sedangkan bagianku tidak.” Hyemin masih memandangi pigura itu.

“Jangan – jangan…”

**

Rumah Haekyu 19:32 PM

“Annyeong.” Sapa Haekyu lalu masuk dengan gontai. Lampu yang semula gelap, langsung menyala dan sosok Appanya sudah berada di depannya sambil berkacak pinggang. Di belakangnya Leeteuk, Oppanya yang tampak sangat khawatir sekali dengan Haekyu.

“Dari mana saja?!?!” tanya TOP Appa.

“Mianhae, Appa. Hari ini aku mengerjakan tugas.” Jawab Haekyu.

PLAK!

Haekyu memegangi pipinya. Leeteuk menghampiri dan memeluknya.

“Appa! jangan menamparnya seperti itu!” sergah Leeteuk, melindungi Haekyu.

“Jangan bohong!! Tidak mungkin mengerjakan tugas sampai semalam ini!!” seru TOP Appa. Lalu kemudian, Bom Omma masuk dengan tas belanjaan dimana-mana.

“Neo! Istri macam apa kau?!?!” bentak Top Appa.

“Mwo? Lalu mau apa?” tanya Bom Omma.

“Omma..” Haekyu mencoba mencari perlindungan.

“Anak dan Omma sama saja! Kau mengajari anakmu yang tidak benar! Lihat Haekyu, dia sekarang sudah berani pulang malam. Mau jadi apa dia??” TOP Appa hendak menampar Bom Omma.

Tetapi, Bom Omma tampak tenang-tenang saja. “Mwo? Kau ingin menamparku di depan anak-anak, kan? Ayo, tampar saja. Biar mereka tau kalau Ommanya sudah terbiasa diperlakukan seperti itu.” Seru Bom Omma.

“Hash, aku malas berdebat denganmu. Haekyu ya, Teuki ya! Masuk ke kamar kalian!!” suruh Top Appa.

“Kau juga!” Top Appa menunjuk Bom Omma dan menyuruhnya masuk ke dalam kamar.

Leeteuk dan Haekyu naik ke kamar Haekyu. Haekyu menghempaskan dirinya di kasur dan mengulet sebentar. Hari ini dia benar-benar lelah setelah seharian duduk dan berputar-putar mencari rumah Yuri Halmoni yang ternyata sangat terpencil.

“Kau habis dari mana saja?” tanya Leeteuk.

“Aku mengerjakan tugas, Oppa.”

“Tidak mungkin.”

“Aah, Oppa dan Appa sama saja. Kalian selalu tidak mempercayaiku.” Haekyu mengernyit.

“Bukannya begitu. Tapi, masa sampai malam seperti ini?” tanya Leeteuk.

“Ne. Sudahlah, Oppa. Nanti kalau sudah saatnya akan kuberitahu ini padamu. Untuk saat ini, aku harus menepati janjiku pada Appa. Ini janji seumur hidup. Tapi nanti akan kuberitahu jika umurku sudah hampir habis.” Kata Haekyu terkekeh, tetapi dalam hati ia ingin berteriak.

“Haasshh, lama sekali!”

“Sebentar! Hanya menunggu beberapa saat.”

“Maksudmu kau akan berumur pendek begitu?” tanya Leeteuk terbelalak.

“Haa, sudah-sudah, Oppa masuk saja ke kamar Oppa sendiri. Aku mau tidur.”

“Tsk~ beraninya mengusir Oppamu sendiri seperti itu.” Leeteuk menggeleng lalu mengacak rambut Haekyu.

“Ya sudahlah, istirahat sana. Bye.” Leeteuk menjitak kepala Haekyu pelan.

“Auw!”

**

Rumah Minji 19:40 PM

“MINJI SSHI!!!!!!!!!” Bentak Krystal dari balik sofa ketika Minji masuk dan melewati Krystal, Yunho, Siwon Appa, dan Jessica Omma. Minji menoleh.

“KAU! MENCURI MOBILKUUUU .. !! KAU TAU?! AKU TIDAK BISA PERGI KEMANA-MANA HARI INI!! MWOYAAAA!!!!!!” Minji menutup telinganya. Bahkan Jessica Ommapun juga menutup telinganya.

“Mian, Unnie. Hari ini aku lelah sekali. Besok saja ya. Jalga yorobun..” Minji mengabaikan Krystal dan tetap acuh naik ke kamarnya.

“Yunho Jagiya, lihat dongsaengmu gih.” Suruh Jessica Omma. Yunho melewati Krystal dan memukul ubun-ubun kepalanya keras sekali.

“Yaaa! Oppa! Sakit tauuu!! Ommaa, Oppa memukul kepalakuuu…” adu Krystal.

“Yunhooo~” Siwon Appa memperingatkan.

“Mwo, Appa??? Ahahaa..” sahut Yunho cengengesan.

Yunho menghalangi Minji untuk masuk ke kamarnya. Minji memutar bola matanya bingung. Kali ini apa lagi? Pikirnya.

“Ya~ kau tadi habis darimana?” tanya Yunho.

“Aku mencari paranormal yang bisa menghilangkan kemampuanku.” Kata Minji jutek.

“Untuk apa dihilangkan?? Bukannya bakat itu menolongmu banyak hal.” Kata Yunho.

“Sejauh ini memang menolong. Tapi, bakat ini harus dilepas secepatnya.”

“Wae?”

“Aku mau tidur.” Minji kemudian mendorong Yunho dan masuk ke kamarnya.

“Jangan coba bangunkan aku!” Minji berpesan lalu memejamkan mata dan tidur secepat-cepatnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: