CLUB No. 1 (CHAP FIVE)

“MWO? Jadi dia benar-benar dikeluarkan?” jerit Jaejin di tribun lapangan.

“Nee, Oppa… Bayangkan saja. memangnya dia akan dimasukkan kelas mana setelah ini? Aah, aku jadi was-was.” Seru Haerin. Saat ini Haerin, Haekyu, dan Youngri sedang menonton anak-anak Keychee, dari Club cheerleader Myungso berlatih untuk menyemangati Club Basket nanti pada waktu kompetisi. Mereka hanya berjaga-jaga sewaktu-waktu Club Basket benar-benar bisa mengikuti kompetisi itu.

“Wah, kali ini aku berharap aku bisa kembali ke kelas 2,” ujar GO cengengesan.

“Semoga saja di kelasku dan Seunghyun!” seru Jaejin. Haekyu melirik Seunghyun untuk melihat reaksinya.

“Ah, aku lupa.. Seunghyun mana tertarik yang seperti itu..” Jaejin meralat ucapannya.

“Mungkin dia akan masuk kelasku, Jaejin. Youngri kan baru saja masuk Club itu.” Haekyu menimpali.

“Mmm.. kok kesannya seperti Youngri merebut posisi Minji ya?” pikir Jonghun sambil melirik mereka semua. Terlihat Youngri langsung membelalakkan matanya. “Eh, tidak juga. Terkadang mereka perlu diberi pelajaran. Lihat saja bagaimana nasib Minji jika bukan sebagai anggota dari Xtreem, the president of school itu.”

“Jonghun Oppa jahat sekali..” kata Haerin. Jonghun hanya bergidik dan memperhatikan Club Keychee itu lagi.

“Apakah ada sesuatu yang terjadi di antara kalian?” tanya Bom Sonsaengnim sewaktu mengajar.

“Waeyo?” tanya Seungho cuek.

“Aku tidak melihat Minji 2 hari terakhir ini. Apa kalian ada masalah? Apa Minji sudah keluar dari kelas ini? Apa itu benar?” tanyanya penasaran.

“Oh, benar.” Jawab Seungho lagi.

“bahkan kau mengeluarkan tempat duduknya? Omonaa… apa masalahnya seberat itu?” tanya Bom sonsaengnim.

Tidak ada satupun dari mereka yang menjawab. “Geurae, jam pelajaran juga sepertinya mau habis. Lakukan sesuka kalian saja… annyeong haseyo…” Bom tersenyum ramah pada semuanya. Thunder dan Hongki kompak berdiri dan keluar dari kelas. Seungho menatap Sangeun penuhtanya. “Oh, mau ke toilet katanya..”

Hongki dan Thunder menghalangi jalan Bom Sonsaengnim. Karena sepertinya sesuatu yang penting, Bom Sonsaengnim mengajak mereka ke kantornya.

“Bom Sonsaengnim… kami sedikit cemas dengan keadaan Minji saat ini. Kami kira kemarin waktu dia pergi dari sekolah ini, dia akan melakukan hal nekat. tapi biar bagaimanapun, tolong kau pergilah ke apartemennya untuk melihat keadaanya. Dia tinggal sendirian.”Kata Hongki memelas.

“Jinchayo? Tinggal sendirian? Loh, bukannya kalian barusan bilang… rrr~ Ommanya dan Omma Yonghwa adalah pemilik Grand hotel itu? Memangnya Yonghwa tidak tinggal bersama? Orang tuanya bahkan?”

“Sayangnya begitu. Kami hanya bisa berharap padamu saja, Sonsaengnim…” rayu Thunder.

“Oh, geurae! Dengan senang hati. Aku akan ke sana..” jawab Bom Sonsaengnim.

“Jincha yo?” Hongki menatapnya dengan penuh harap.

“JINCHA JINCHA JINCHA!!” jawab Bom Sonsaengnim penuh semangat.

DING DONG..

DING DONG..

Bom Sonsaengnim tetap menekan-nekan bel di depan apartemen Minji.

“Apa tidak ada di rumah?” tanyanya pada dirinya sendiri. DING DONG…

“Yoboseyoooo?? Minji~aah, ini Bom Sonsaengnim!!” seru Bom akhirnya. Karena Minji tidak kunjung membuka pintunya. Bom Sonsaengnim bahkan juga menelpon ke HPnya, tetapi HP itu tidak diaktifkan. Ia melongok-longok untuk memastikan bahwa Minji tidak sedang bersembunyi karena melihat kedatangannya. Namun, tiba-tiba seorang menghampirinya.

“Kau mencari orang yang tinggal di rumah ini?” tanya orang itu.

“Ne. kau tau dia? Apa dia ada di dalam?” tanya Bom.

“Dia sudah pergi beberapa jam yang lalu.”

“Pergi ke mana?”

“Demons Club. Akhir-akhir ini dia sering pergi ke sana.” Jawabnya.

“Bagaimana kau bisa tau?” tanya Bom sedikit curiga.

“2 hari lalu aku di telfon orang Club itu untuk menjemputnya, karena kebetulan nomorku ada di speed callnya.”

“Omona. Itu gawat sekali. Baiklah kalau begitu. Kamsahamnida, annyeong haseyo..”

Bom buru-buru keluar ke parkiran dan menelpon siapa saja yang bisa ditelpon. Ia tidak mungkin pergi sendirian ke club itu. Ia punya sedikit trauma dengan tempat itu.

“Yoboseyo, Hongki~ya?”

“Ini Thunder, Bom Sonsaengnim…” ralat Thunder.

“Ah, mian. Siapapun kau, cepatlah ke apartemen Minji sekarang juga. aku tunggu di depan. Cepat. Aku pakai mobil Hyundai kuning. Araseo? Kau, cepatlah… palli palli palli yoo…”

“Oh, Ne, sonsaengnim…”

Setelah menunggu sekitar 15 menit, akhirnya Thunder datang dengan Volvo C30nya. Bom Sonsaengnim keluar dari mobil. Juga demikian dengan Thunder. “Ya, ottokae. Minji di Demons Club.” Kata Bom. “MWOORAGO?!” jerit Thunder tidak percaya. Bom sonsaengnim mengangguk.

“Palli, cepat susul dia. Aku tidak bisa pergi sendiri. Aku agak takut dengan suasana club yang penuh… errhh..”

Thunder mengangguk, “Kajaaa… Aku akan berangkat lebih dulu. Bom sonsaengnim ikuti aku saja.” ucap Thunder lalu masuk ke dalam mobilnya. Bom juga sudah bersiap-siap. Akhirnya mobil Thunder berjalan lebih dulu baru mobil Bom mengikutinya dari belakang.

**

Demons Club, 9:30 pm

DAG DAG DAG JDUG JDAG JDUG

“Masih mau lagi? Tapi anda sudah minum banyak..” ucap salah satu bartender.

“Mwo? Ahaha… jin…cha? Itu…bagus. Palliyo, berikan aku… haaaa… segelaas..lagi..” Minji memukul meja marmer itu.

“Ah, ne… baiklah..” akhirnya ia menuang vodka lagi ke dalam gelas. Minji tertawa cengo, “Gomawoyo…” katanya sambil terus tersenyum. “OMONA!! JUNG MINJI~AH!!” Bom Sonsaengnim sedikit berlari menghampiri Minji yang ada di meja bar. Thunder juga mempercepat langkahnya.

“Minji~ah? Gwaenchanayo?” tanya Bom panic.

“Nugueyo? … haha..haha.. mwo, andwaee… aku tidak..kenal denganmu…” seru Minji.

“Ya~! Gwaenchana?” tanya Thunder sambil menepuk-nepuk pipi Minji.

“Dia minum banyak sekali.” Lapor Bartender yang ternyata bernama Gumyeon itu. “Oh, ini…” Thunder menggesekkan kartu kreditnya ketika Bartender Gumyeon menyodorkan mesinnya.

Ia menatap Minji dengan tatapan iba. “Omo… sepertinya dia mabuk berat.” Bom Sonsaengnim berusaha membuat Minji berdiri. Tetapi tetap saja gagal. Thunder menyampirkan tangan Minji ke belakang lehernya dan memapah Minji keluar dari Pub malam itu. Ia membawanya masuk ke dalam mobilnya.

“Apa perlu ku telpon Ommanya?” tanya Bom Sonsaengnim.

“Untuk apa? Ommanya sedang ada di Amerika sekarang.” Jawab Thunder.

“Ah, aku lupa. Baiklah, bawa saja dia pulang.” Suruh Bom Sonsaengnim lalu masuk ke dalam mobilnya dan berangkat lebih dulu. Thunder menyusul di belakangnya.

“Bagaimana bisa dia keluar sendirian seperti itu? Bagaimana jika sampai ada orang jahat yang ingin berbuat macam-macam padanya? OMONA. Sepertinya ini permasalahan yang serius sekali.” Ucap Bom Sonsaengnim sambil mengusap-usap kepala Minji.

“Sepertinya. “ Jawab Thunder.

“Kalau begitu aku harus ambil tindakan. Aku akan menelpon orang tuanya.”

“Andwaaee… jangan begitu.” Thunder mengelak.

“Lalu bagaimana?”

“Percuma saja, ini kalau diteruskan akan semakin kacau. Lebih baik bicarakan saja dengan Kepala Sekolah Choi untuk membubarkan Club Xtreem.”

“Mworago?”

“Memang sudah waktunya untuk dibubarkan. Tidak mungkin Club itu akan terus jalan dengan 3 orang saja.”

“Kau mau keluar juga?” tanya Bom Sonsaengnim bingung.

“Aku dan Hongki sudah membicarakan ini sebelumnya. Dan dia setuju denganku.”

“Hmm… baiklah. Akan kucoba. Untuk sementara bertahanlah beberapa saat saja.”

“Itu tidak masalah.” Jawab Thunder lalu keluar dari kamar Minji dan duduk di sofa sambil melihat acara televise. Tetapi tidak ada satu acarapun yang dapat menarik perhatiannya. Akhirnya setelah beberapa lama menonton, akhirnya ia tertidur juga. entah sudah berapa lama, ia tiba-tiba terbangun karena suara berisik dari kamar Minji. Sepertinya mereka sedang berbicara. Thunder menguap lalu pergi ke dapur untuk membuatkan air madu.

“Kau tidak mengerti Sonsaengnim.”

“Araseo. Tapi sampai kapan kau mau seperti ini?”

“Aku tidak akan menemui orangtuaku.” Ucap Minji tegang.

“Kau kesepian, Minji~ah. Jangan membohongi dirimu sendiri.” Kata Bom sonsaengnim.

“Aniyo…” sahut Minji. Lalu Bom Sonsaengnim menarik tangan Minji untuk menghalanginya pergi dari situ.

“Kau bisa cerita padaku. apa orang tuamu pernah menyakitimu?”

Minji tidak menjawab, melainkan mengalihkan pandangannya dari tatapan Bom Sonsaengnim yang menatapnya iba sekali. Bom Sonsaengnim melengos. “Apa karena mereka terlalu sibuk, jadi mereka jarang mengunjungimu?” desaknya lagi. Akhirnya Minji terduduk dengan berlinangan air mata. Bom Sonsaengnim memeluknya.

“Sonsaengnim, aku benar-benar bingung kenapa aku harus menjalani hidup ini seorang diri. Aku tidak punya siapa-siapa Sonsaengnim. Walaupun Omma dan Appa terus mengirimiku uang untuk hidup, tetapi rasanya hidup ini hampa sekali. Satu-satunya tempat dimana aku benar-benar merasakan kebahagiaan hanyalah di sekolah. Bisa bertemu Sangeun, Thunder, Hongki, Seungho… tapi bagaimana dengan sekarang?!”

“Masih ada Thunder dan Hongki yang peduli denganmu, Minji~ah…”

“Sonsaengnim, aku sudah menganggap Seungho seperti Oppaku sendiri…”

“Aaah, araseo araseo. Jincha araseo. Aku juga sama sepertimu. Aku hanya tinggal berdua dengan halmoniku. Omoni dan Abeoji tinggal jauh sekali dari sini. Kadang aku juga sedikit kesepian..” cerita Bom Sonsaengnim.

“Sonsaengnim, setidaknya orang tuamu tidak cerai tanpa sepengetahuanmu, kan?”

“Ehm, sorry? Maksudmu, orang tuamu sudah bercerai?” tanya Bom.

“Kurasa seperti itu. Aku tidak pernah bertemu dengan Appaku. Aku hanya menelponnya saja.” kata Minji.

“Lalu apa yang ingin kau lakukan sekarang?” tanya Bom. “Aku hanya ingin bertemu dengan Appaku. Itu saja.”

Thunder tertunduk lalu menutup pintu kamar yang tadi sedikit terbuka.

**

Kantor Kepala Sekolah, 12:30 PM

“Mwo? Membubarkan Club Xtreem?!” pekik Mr Siwon.

“Oh, ayolah, sonsaengnim.” Hongki memohon. “Bukannya kalian sendiri dulu yang meminta agar Club itu tetap ada? Kau ingat kan?? apa kalian sudah tidak waras?” tanya Mr Siwon.

“Kami waras seratus persen!! Mr Siwon, jebaal…”

Mr Siwon berpikir sambil memutar-mutar kursinya. Bukannya ia tidak mau membubarkan Club itu, toh dulu ia juga sangat menentang dengan di dirikannya Club itu. Club itu benar-benar memicu keirian murid-murid lain di Myungso. Tetapi, untuk saat ini, Club itu mungkin memang sangat dibutuhkan, karena banyak sekali anak yang mendaftar untuk bersekolah di Myungso hanya karena Club itu.

“Begini saja. bagaimana kalau kalian minta persetujuan Club-Club lain. Oh, mungkin lebih baik persetujuan murid-murid lain. Karena memang Club ini satu-satunya asset sekolah ini. Kalian harus pikirkan itu matang-matang.” Seru Mr Siwon. Thunder melengos. “Yang lain sudah pasti setuju. Kita hanya meminta persetujuan darimu saja, Sonsaengnim..” jelas Thunder.

“Andwaeyo…” sahut seseorang dari belakang. Hongki ragu-ragu melongok ke belakang.

“Andwaeyo!! Siapa yang setuju dengan permohonan konyol ini? Ya~ kalian ingin membubarkan Club ini? Club yang kita dirikan dengan susah payah ini?? Thunder, Hongki… kau sudah gila?” Seungho berjalan mendekat bersama Sangeun dan Youngri di belakangnya.

“Mwo? Siapa yang dengan susah payah mendirikan Club ini? Kau bilang kita?” Thunder tertawa melecehkan.

“Kau dengan seenaknya mengeluarkan Minji yang juga ikut mendirikan Club ini? Seungho~ya… bahkan dia tidak ikut mendirikannya kan?” Hongki menunjuk Youngri dengan tatapan liar. Seungho mendengus kesal.

“Dia memang pantas di keluarkan karena dia pengkhianat. Pengkhianat tidak seharusnya dengan Kita.” Ucap Seungho santai. “YA~!! Biar bagaimanapun, aku dan Thunder akan keluar. Terserah kau ingin membuat Clubmu sendiri atau apa bersama Sangeun dan Youngri. itu terserah!” Hongki menggebrak meja yang membuatMr Siwon sedikit terlonjak. Ia membelalak pada mereka semua, tapi nampaknya mereka tidak sadar bahwa sedari tadi ia memperhatikan.

“YAAAAA~~!!! APA YANG KALIAN LAKUKAN?! TIDAK SOPAN SEKALI!!” Mr Siwon menggebrak mejanya sampai kertas-kertas berhamburan.

“Mr Siwon, sebaiknya bubarkan saja Club ini. Kau bilang minimal harus ada 4 orang. Bahkan mereka tidak lebih dari 3 orang.” Hongki terus mendesak. “ANDWAEE!!” Seungho meremas buku-buku tangannya. Thunder menatap Seungho dengan tatapan melecehkan.

“Mian, kalau ini memang karenaku, aku yang akan keluar dari Club ini. Tapi kumohon, jangan pernah bubarkan Club ini.” Youngri akhirnya angkat bicara. “Jangan bersikap sok pahlawan…” ucap Seungho datar pada Youngri. Youngri yang mendengar itu hanya menunduk.

“SHUTTT UUUPPPPPP~~~~!!!!!!!” Mr Siwon akhirnya berteriak.

Semua terdiam sambil menatap Mr Siwon. “JANGAN ADA YANG BERBICARA SELAMA AKU BERBICARA. GEURAE~ Situasinya sudah seperti ini, mau bagaimana lagi. Seperti kataku tadi, mintalah persetujuan murid-murid yang lain. Batas waktunya sampai besok pukul 3 Sore. Sudah, pergilah!” seruMr Siwon sambil menghapus keringatnya dengan sapu tangannya.

Seungho melengos lalu pergi dan membanting pintu kantor kepala sekolah itu. Thunder, Hongki, Sangeun, dan Youngri mengikuti dari belakang. Hongki terdiam. “Kurasa mereka sepertinya menguping tadi…” bisik Hongki pada Thunder. Thunder tersenyum kecut.

Pelajaran Siang itu sama sekali tidak menarik. Semua anak sibuk mempertanyakan apakah Club Xtreem benar-benar akan bubar. Guru-guru juga demikian. Mereka juga tampaknya tidak terlalu terfokus untuk mengajar murid-muridnya.

Akhirnya bel pulang berbunyi. Jam sudah menunjukkan pukul 5 sore. Seungho pulang lebih dulu karena akan ada pemotretan untuk Majalah Dstar. Sedangkan Sangeun sibuk mengomel di depan madding sekolah berusaha menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi hanyalah salah paham saja. Youngri membantu Sangeun merobek kertas-kertas issue bahwa Xtreem akan bubar.

“Ya,” Hongki menepuk bahu Yonghwa. Hongki tidak sengaja bertemu dengan mereka sewaktu berada di tikungan lorong dan mereka sedang memperhatikan murid-murid lain mengerumuni papan itu. Hongki memberikan selembar karton hitam dan Marker silver pada Yonghwa. Yonghwa terdiam.

“Tanda tanganlah jika kau setuju Xtreem dibubarkan…” ucap Hongki. Minhyuk, Jungsin, dan Jonghyun yang berada di situ saling bertatapan.

“Jadi benar-benar akan dibubarkan?” tanya Minhyuk.

“Kalau kalian setuju dan yang lainnya juga setuju, kenapa tidak?” sahut Hongki.

“Aku sih setuju saja…” Minhyuk menyahut marker itu dan menandatanganinya besar-besar. Jungsin menyahut marker dan kartonnya, “Kalau kau membuatnya sebesar itu, tidak akan ada cukup tempat untukku tau…” katanya sambil membubuhkan tanda tangannya di sebelah tanda tangan Minhyuk.

“Kau?” Hongki menyuguhkannya pada Jonghyun. Jonghyun mengangguk dan menandatanganinya secepat kilat.

Hongki dan Yonghwa bertatapan. “Apa ini karena masalah ku dan Minji yang ternyata saudara?” tanya Yonghwa.

“Ani. Tapi kalau kau menganggapnya begitu, terserah kau. Ini kan juga demi dongsaengmu, Hyung.”

“Aah, baiklah.” Yonghwa akhirnya membubuhkan tanda tangannya di atas karton itu. Hongki menghela napas lega.

“Gomawo.”

“Jadi? Benar?” tanya Jaejin, ia masih terperangah dengan kenyataan barusan.

“Lalu kalau dibubarkan, kau akan ikut kelas siapa?” tanya Mir ketus. “Molla. Mungkin aku akan masuk kelas biasa seperti kalian. Sudahlah, tanda tangan sajalah…” Jawab Thunder. Ia makin gemas karena mereka tidak segera menandatangani kartonnya yang masih bersih itu.

“Jamkanman, lalu Club kalian?” tanya Jonghun sambil berpura-pura berpikir.

“Aku belum pikirkan hal itu. Lagipula, bukannya kalian dulu juga ikut demo agar Mr Siwon membubarkan Club ini?”

“Begini saja. bagaimana kalau kita barter?” Jonghun menawarkan diri. Seunghyun menatap hyung-hyungnya dengan tatapan bingung seribu satu arah. Tetapi Jaejin membisikinya sesuatu dan membuat Seunghyun mengangguk mengerti. Thunder menatap Jonghun was-was.

“Mwo?”

“Kau kan butuh tanda tangan kami untuk membubarkan Club itu, dan kau sendiri juga tau kami sedang dalam krisis. Bagaimana kalau kita menandatangani kartonmu, dan kau akan bergabung dengan Club kami sementara waktu untuk mengisi kekurangan pemain Club kami??” Tawar Jonghun.

“Mm Mwo?”

“Ah, begini. Park Cheondung, kami tau kau sebenarnya punya bakat di bidang basket. Jadi kami juga memerlukan bantuanmu untuk ikut dengan Club kami sementara waktu.”

Thunder terdiam. Tetapi lalu tiba-tiba Jonghun menarik karton dan marker dari tangan Thunder dan mencoretkan tanda tangannya di atas kertas itu. “Tapi biar bagaimanapun aku akan menandatanganinya. Aku memang tidak suka dengan Club aneh itu.” Ucap Jonghun lalu melemparnya pada GO. Dengan cepat GO menandatangani.

“Mir, Joon, kalian tidak setuju juga kan?” tanya Jaejin.

“Kami? Oh. Haha… geurae.” Joon ikut membubuhkan tanda tangannyanya setelah Seunghyun.

“Pikirkanlah lagi.” Suruh Jonghun pada Thunder. “Ah, Ne.” jawab Thunder.

Thunder beranjak lalu Haerin dan Haekyu datang. Thunder segera menghampiri mereka untuk meminta tanda tangan dari mereka. Setelah dapat, ia segera pergi meninggalkan lapangan itu. Tatapan Haerin dan Mir tidak sengaja bertemu, seketika Mir melengos dan pergi keluar dari lapangan itu.

“Apa Mir masih marah padaku soal yang itu?” tanya Haerin hati-hati.

“Hah? Soal yang itu apa?” tanya Jaejin bingung.

“Oh. Sepertinya…” jawab Joon lalu menyusul Mir sambil terkikik.

“Yaaa~~ kalian sebenarnya ada hubungan apa?!” tanya Jaejin tidak sabar. “Aneyoo, Oppa…” jawab Haerin

“Mireu!! Jamkanmaann..” panggil Haerin.

Mir tidak menoleh sedikitpun dan tetap berjalan dengan tatapan lurus ke depan. “MIR!!” panggil Haerin lebih keras lagi. Kali ini Mir bereaksi. Ia berhenti. “Wae?”tanya Mir malas. Haerin segera menyusul Mir dan menyetarakan langkahnya. Tampaknya Mir masih benar-benar marah dengan kejadian beberapa minggu yang lalu.

“Kau masih marah padaku?” tanya Haerin.

“Ya~ pervert~! Bagaimana bisa tidak marah kalau kau mengambil first kiss ku?!?!?” seru Mir keras.

“MWO?! Kau panggil aku apa barusan? Yaa~ bukannya itu kesalahanmu sendiri?? Kenapa jadi menyalahkanku?!?!”

“Kalau kau tidak ada di depanku, aku tidak mungkin melakukannya padamu, pervert!!”

“Aku juga tidak tau kalau kau akan jatuh!!! Salahmu sendiri kenapa tidak membetulkan tali sepatumu dengan benar!!”

“MWO? Kau menyalahkan tali sepatuku?? Itu karena kau!! Kau menyuruhku untuk cepat-cepat berlari. Mana sempat aku membetulkan bentuk tali sepatuku…!!” Mir berteriak lebih keras lagi.

“Itu karena kau berlari dengan lambat!!” balas Haerin.

“Kenapa kau tidak memarahi orang yang berlari di depanku kalau begitu?!”

“Mana bisa aku memarahi Yang Seungho?!?!?!?!?”

Mir terdiam. “Pengecut kau.” Kata Mir lalu kembali berjalan dengan santai. Haerin mendengus kesal. “HEEYYY!! Katakan dulu kalau kau sudah tidak marah padaku lagi!!” pekik Haerin kesal. Mir berjalan dengan cuek.

“DASAR KERAS KEPALAAA!! BABO!! MIREU BABBOOOOO!!!” Teriak Haerin sambil melangkahkan kakinya besar-besar keluar dari gerbang sekolah itu.

**

Nov 30, 10:00 AM

“Ah, habislah kita…” Sangeun berjalan mondar-mandir di depan kelas.

“Yaa… berhentilah sekarang juga.” bentak Seungho yang sedang duduk diam di atas meja.

“Haiiss… semua ini karena Minji tidak jujur pada kita. Hah. Sampai sekarang aku masih bingung. Apa dia tidak menganggap kita temannya? Bukannya kita sudah menganggapnya seperti saudara sendiri?” omel Sangeun keras-keras. Seungho melengos.

“Sudahlah, jangan bahas itu lagi…” sahut Youngri.

“Mworago?!”

“Ya~ya… saat ini pikirkanlah bagaimana nasib kita. Kalau kita benar-benar kalah, otomatis kelas ini akan di pakai sebagai gudang, dan mungkin kita semua akan tinggal di kelas biasa seperti yang lainnya.Dan juga ikut Club biasa seperti yang lainnya. Bagaimana mungkin?!?!” kata Seungho tegas.

“Yah, memang sudah seharusnya begitu.” Jawab Sangeun.

“Aku akan pergi dari sekolah ini jika memang itu yang akan terjadi.” Ucap Seungho.

“Omo… yaa~ pikirkan lagi ucapanmu.” Sahut Youngri. Sangeun dan Seungho kontan langsung menatap Youngri yang terlihat kebingungan sendiri dengan ucapannya.

“Ahaha… Mm, aku keluar dulu. Kata Haerin ada ribut-ribut di luar. Jalgaa…” seru Youngri lalu keluar dari kelas itu.

Semua murid sepertinya terlihat sangat tegang, bahkan guru-guru sepertinya juga begitu. Mr Choi Siwon terpaksa membebaskan mereka dari pelajaran untuk hari ini. Ia memberikan kesempatan pada Hongki dan Thunder untuk meminta persetujuan murid-murid lain tentang pembubaran Club ini.

Youngri berlari kecil mendekati Haekyu yang sedang bersama Haerin di sudut koridor sekolah. Ia menepuk pelan bahu Haekyu. “Ya, waeyo??” tanya Youngri bingung.

“Oh, itu… Minji kembali.” Sahut Haekyu.

“Mwo? Jincha? Kupikir dia bakal frustasi lalu pindah sekolah begitu.” Ucap Youngri.

“Mwoya? Tidak mungkin. Pasti mereka bertiga tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini untuk balas dendam,”

“Pasti seru sekali. Jujur saja, aku tegang.” Kata Haekyu lagi.

“Apalagi aku. Kau tau kan, aku berpihak pada siapa sekarang?”

“Oh. Eh, araseo.”

Youngri memicingkan mata untuk melihat tatapan Haekyu, “Kau belum menandatangani mereka kan?” tanya Youngri.

“Ohehehe… itu… sudah.”

“Aah, ottokaeyo. Haerin~aah kau juga sudah?” Tanya Youngri. Haerin tidak menyahut.

“YA~~” Youngri memanggilnya, tetapi tetap tidak ada respon. “Dari tadi dia begitu. Aku sendiri jadi bingung.” Kata Haekyu sebelum Youngri sempat bertanya.

“Hmm… Mir. Dia masih marah denganku.” Kata Haerin lirih sekali.

“Omona, kan sudah kubilang! Cari saja yang lain!!!” bentak haekyu.

“Bagaimana bisa. Kalau mencari yang lain sih gampang! A piece of cake!! Tapi bagaimana dengan nama baikku? Aaahh..”

“Nah, bagus lah kalau kau sadar.” Gumam Haekyu.

“Geez.” Umpat Haerin.

“Sepertinya akan benar-benar tamat.” Kata Hongki sambil mengulum chupa chups rasa strawberry kesukaannya.

“Tapi aku tidak ingin Club ini dibubarkan. Kau tau sendiri kan? bagaimana susahnya membentuk Club ini dulu? Lalu semudah itu ingin dihancurkan? Aah. Kelihatannya semua orang benar-benar menggila.” Jawab Minji.

“Lagian kalau tidak begitu mau gimana lagi? Mereka kan tidak mungkin terus jalan dengan 3 orang saja.”

Mereka akhirnya duduk di café yang ada di depan sekolah mereka karena hanya tempat itu satu-satunya tempat yang tidak ramai dikunjungi murid-murid Myungso. Salju juga sedikit-sedikit sudah mulai turun di Seoul. Hongki berlari kecil untuk memesan minuman hangat dan beberapa potong cake untuk mereka.

“Ya~ Minji~ah, berjanjilah padaku…” Thunder mengacungkan kelingkingnya.

“Wae?”

“Jangan pernah pergi ke tempat seperti itu lagi. Kau benar-benar membuatku hampir gila.”

“Oh, itu. Aku tidak bisa berpikir jelas waktu itu. Kalau kau jadi aku kau pasti juga gitu kan.”

“Pokoknya jangan pernah menginjakkan kakimu ke tempat seperti itu.” Jelas Thunder.

“ah, araseo araseo, sonsaengnim…”

“The Coffee is comiiinggg…” seru Hongki lalu datang dan duduk di kursi sebelah kursi Thunder.

Thunder meminum hot capuccinnonya. Hongki yang tampak sangat kelaparan tanpa diduga sudah menghabiskan 2 potong blueberry cheese cake dalam sekejap. Thunder hanya bisa menggeleng melihatnya.

“Kalian sudah siap dengan kelas baru kita?” tanya Hongki tersenyum lebar.

“Mmm… tergantung. Ahaha,” jawab Thunder.

“Oh, well… aku sebenarnya sudah memutuskan. Selama beberapa hari ini aku berpikir. Bom Sonsaengnim juga mendukung keputusanku. Thunderrie, Hongki… sepertinya aku akan meneruskan sekolah ku di Italia.” Kata Minji yang membuat Hongki menelan bulat-bulat Blueberry Cheese cakenya. Thunder terbelalak.

“Mwo? Coba ulangi lagi. Sepertinya aku tidak begitu jelas mendengarnya…”

“Oh, jincha? Aku akan sekolah di Italia.” Kata Minji lebih keras.

“MWOOORAGOOO?!?!?!” Hongki menjatuhkan garpunya dan membuat beberapa pasang mata tertuju padanya.

“Jincha?! Waeyo? Kenapa terburu-buru seperti ini. Apa kau takut dengan Seungho? Untuk apa pergi ke Italia?” Thunder juga ikut menginterogasi. “Malhaebwaaa… kajimayo, Minji~aah…”

“Andwaee~ aku sudah daftar dan aku di terima.”

“Andwaeeee… ottokaji? Andwae Minji, andwaeeee…” Hongki berteriak histeris.

“Seobaaang~ ottokaeyo? Sudah terlanjur…” gumam Minji memanyunkan bibir.

“Yobooo~”

“Seobaangg..”

“Yobooo…” Hongki memeluk Minji. Thunder hanya melengos melihat kelakuan mereka.

“yaa~ kalian mengerikan sekali. Ya, mau bagaimana lagi… aku juga pasti mendukungmu. Hwaiting!” seru Thunder.

“Gomawo, Thunderie.”

“Kalau Thunder setuju, aku juga. jaga diri baik-baik yobooo~ jangan lupa menelfonku tiap satu jam sekali.”

“Itu sih kelewatan.” Komentar Thunder. “Geuraeso?? Ya, kapan kau berangkat?” tanya Hongki.

“Lusa.”

**

“Perhatian, semua murid diharapkan berkumpul di Stadium A sekarang juga. Sekali lagi, semua murid diharapkan berkumpul di Stadium A sekarang juga. Kamsahamnida…” Suara Kepala Sekolah Choi Siwon menggema ke seluruh pernjuru ruangan. Semua murid berhamburan keluar kelas. Tidak perlu diminta dua kali, mereka memang sudah menantikan saat-saat ini. Waktu juga sudah hampir menunjukkan pukul 3 sore.

Haerin dan Haekyu tidak sengaja bertemu dengan Youngri yang kelihatannya berjalan sendirian di koridor itu. Mereka segera menghampirinya.

“Bagaimana? Apakah tidak ada tanda-tanda dari Clubmu?” tanya Haerin.

“Sepertinya benar-benar akan bubar. Aku pesimis sekali.” Jawab Youngri.

“Aku juga sama sekali tidak melihat Anak-anak Xtreem yang lainnya. Kemana mereka?”

“Aku bersama Seungho dan Sangeun dari tadi. Kalau yang kau maksud adalah Hongki, Thunder, dan Minji… Err~ entahlah. Mungkin mencari orang-orang yang ingin menandatangani karton-karton mereka.”

“Geez, habislah sudah Club bersejarah itu.” Komentar Haekyu.

“Kaja, katanya kepala sekolah juga ingin mengadakan voting.”

“Jincha? Benar-benar mengerikan.” Youngri menggeleng. “Oh, Jamkanman, HPku terjatuh. Kalian duluan saja,” Haekyu berbalik dan kembali mencari HPnya di antara kerumunan-kerumunan orang-orang yang lewat. “Ottokae? Kemana perginya HP itu? Omona, Omma pasti membunuhku.” Haekyu merunduk untuk mencari.

JDUUG!

“Aduuuhhh… Yaa~ ada orang di sini!!” teriaknya. Tetapi sepertinya tidak ada yang bisa mendengarnya dari situ. Tidak hanya sekali dua kali, tetapi berkali-kali ia terbentur kaki orang-orang. Jumlah mereka memang tidak sedikit dan mereka berjalan mengikuti arus.

“Ya~” Sebuah tangan menyambar lengannya dan melindunginya dari benturan-benturan kaki orang-orang yang lewat di situ. Ia menariknya ke sudut koridor. Menunggu sampai arus itu berkurang. Haekyu mendongakkan kepalanya untuk melihat siapa yang berbaik hati mau menolongnya.

“Omo, Yonghwa Oppa…?”

“Kau ini babo atau apa? Buat apa kau duduk seperti itu di tengah-tengah jalan seperti itu?”

“Aku sedang mencari HPku yang tadi terjatuh di sekitar sini.”

“HP. Maksudmu yang ini?” Yonghwa mengeluarkan benda pink itu dari sakunya. Haekyu terbalalak.

“Aigoo~ kenapa bisa ada di tanganmu, Oppa?”

“Tadi terjatuh. Ige…” Yonghwa menyerahkan HP itu. “Gomawoyo… Jongmal Gomawo, Oppa.”

“Sudahlah, Kaja, kita bisa terlambat…” Yonghwa merangkul Haekyu, mengajak cepat-cepat ke Stadium A.

Ruangan memang sudah sesak dengan orang. Yonghwa dan Haekyu duduk di kursi belakang yang juga berada di atas. Dari situ ia bisa melihat Haerin dan Youngri yang duduk bersebelahan dengan Club Dance beberapa kursi di depan mereka.

Kepala Sekolah Choi Siwon mulai masuk dan membungkuk pada mereka semua.

“Annyeong hasimnikka..”

“Annyeoonnnggg!!”

“Kamsahamnida sudah berkenan berkumpul di sini pada sore hari yang cerah ini. Semua murid diharapkan untuk duduk dengan tenang dan tidak membuat keributan sekecil apapun.” Katanya memulai.

“Seperti yang telah kita dengar. Xtreem akan dihapus dari Club sekolah ini. Oleh karena itu, saya mengumpulkan kalian semua di sini untuk memutuskan apakah Club itu akan dibubarkan atau tidak. Di samping kanan kursi kalian semua sudah ada remote voting untuk memberikan suara kalian pada Club ini. Bagi yang menginginkan Xtreem tetap ada silahkan tekan tombol hijau. Dan yang tidak menghendaki Xtreem tetap ada, silahkan tekan tombol merah.”

“Termasuk juga oleh semua bapak-ibu guru yang telah hadir di sini. Baiklah, tidak perlu banya bicara. Pada hitungan ke 3 semua murid termasuk siswa yang bersangkutan silahkan memilih sesuai hati nurani masing-masing. Pada hitungan ke tiga. Hana… Dul… Set…”

Diagram perolehan suara mulai bergerak perlahan di layar raksasa LCD yang terhampar di depan mata mereka. Diagram berwarna merah dengan cepat melonjak mendahului diagram hijau. Tetapi, perlahan diagram hijau itu mulai menaik-dan semakin menaik.

Tentu saja yang memilih warna hijau tidak ingin Xtreem bubar begitu saja. setelah berjalan 3 menit, diagram itu mulai berhenti bergerak. Kepala Sekolah Choi mengamati grafik itu. Dahinya berkerut. Murid-murid juga sepertinya sedikit kecewa karena perolehannya memang sama banyak.

“Jamkanman. Voting ini diikuti oleh 1580 orang. Tetapi hanya 1577 anak yang ikut memilih.” Gumam Kepala sekolah.

“Saya beri waktu satu menit untuk berpikir. Segera putuskan pilihan kalian.” Serunya. Semua mata sekarang seolah tertuju pada Thunder, Hongki, dan Minji yang duduk di deret agak belakang. Seolah tau, Kepala Sekolah Choi berdeham. Dan mulai menghitung mundur.

“Kau belum memilih?” tanya Thunder pada Hongki.

“Sudah!” seru Hongki. “Kau?” tanya Thunder lagi. Kali ini pada Minji. Minji menggeleng.

“kau masih ragu untuk memilih?” tanya Hongki. “Aku bingung.”

“Haissss…” hela Hongki.

Namun tiba-tiba suara lengahan anak-anak terdengar karena grafik hijau yang lebih unggul saat ini. Hongki terus mendesak Minji untuk menekan tombolnya. “Hanya tinggal dua orang lagi. Entah itu siapa, yang jelas kau salah satu diantara dua orang itu. C’mon… aku bisa mati berdiri jika seperti ini…”

“Hhhoaaa…”

Minji mendongak untuk melihat grafik merah yang sekarang sama tingginya dengan grafik hijau.

“Jung-Min-Ji!!!” pekik Hongki.

“Araseo-araseo!!!!!” Minji menekan tombol merah. Seketika grafik merah di layar LCD bergerak lebih tinggi.

“YESSS!!” seru Hongki dan Thunder bersamaan.

“Haah…”

“QUUIIIEETTTT !!!!” Seru Kepala Sekolah Choi Siwon, berusaha untuk menenangkan seluruh isi Stadium.

“Ne, kalau begitu… sesuai dengan hasil voting, Club Xtreem akan dibubarkan. Mianhamnida…” ucapnya lalu membungkuk dan masuk ke dalam backstage lagi.

“Ehm, aku duluan…” Minji beranjak pergi meninggalkan stadium itu.

Tiba-tiba Seungho, Sangeun, dan Youngri menghampiri mereka sambil tersenyum kecut. Seungho menatap mereka merendahkan. Seolah-olah mereka tidak layak untuk berada di depan mereka. Seungho mengulurkan tangannya.

“Chukae. Ini kan yang kau harapkan?” ucap Seungho dingin. Thunder mengalihkan mukanya.

“Oh, geurae. Chukae juga untukmu.” Sahut Hongki dengan tatapan mematikan.

“Chukae untuk kami? Memangnya kami barusaja menang apa, eh?” tanya Sangeun.

“Chukae kau baru saja menang. Karena Minji akan benar-benar pergi dari hadapanmu.” Kata Thunder pelan lalu mengajak Hongki untuk pergi dari situ.

“Mwo? Apa maksudnya?” tanya Youngri.

“Molla. Dasar dua anak aneh itu…”

^^o^^o^^

Seungho, Sangeun, dan Youngri menunggu mobil jemputan mereka di depan gerbang sekolah. Hari juga sepertinya semakin malam saja. setelah mereka menunggu selama beberapa menit, akhirnya mobil van putih itu datang. Seungho masuk lebih dulu. Saat Sangeun hendak masuk, terdengar suara Bom Sonsaengnim memanggil-manggil mereka.

“Waaiitt!! Wait pleaseee…”

“Sonsaengnim…” gumam Sangeun dan Youngri bersamaan. Seungho melongok untuk mencari tahu.

“yaa~ aku ada sedikit perlu dengan Youngri.”

“Na? Waeyo, Sonsaengnim??” tanya Youngri bingung.

“Mm, ini…” Bom Sonsaengnim menyerahkan secarik kertas yang berisikan alamat sebuah apartemen di sana. Sangeun melongok untuk melihat. Namun, sedetik kemudian wajahnya berubah bingung.

“Ah, mulai besok kau segera kemasi barang-barangmu dan pindahlah ke sana.” Kata Bom.

“Mm, itu apartemen Minji kan?” tanya Sangeun ragu-ragu.

“Oh, err…”

“Apa dia sudah menjual apartemennya dan tinggal bersama Yonghwa?” tanya Sangeun.

“Mmm… aku juga kurang tau. Lebih baik kau tanya saja sendiri. Aku akan ada di rumahmu nanti untuk membantumu. Ya sudah yaa… Jalgaa…”

Youngri dan Sangeun akhirnya masuk.

“Ini benar kok rumahnya. Ah, apa mungkin aku yang salah?”

“Aneh sekali.” Komentar Youngri.

“Sudahlah, berisik sekali.”

**

Sunday, 08:05 AM

“Aahaha… kau sama saja seperti Hongki. Dulu kalau kami jogging pagi seperti ini, dia selalu pergi mencari toilet. Aahh… sudah beberapa waktu terakhir ini hubunganku dan Hongki juga Thunder semakin memburuk. Ottokaeyo?” Sangeun bercerita pada Youngri.

“Jincha? Ehm~”

“Oh, Youngri~ah, bukannya ini dekat dengan rumahmu? Bagaimana kalau kita ke sana dulu? Perutku sepertinya mulai lapar.” Kata Seungho menyahuti dari belakang. “Ah, geurae. Aku juga lapar. Kau juga kan, Sangeun??” tanya Youngri. Sangeun menangguk dengan penuh semangat.

Rumah Youngri sudah bisa dilihat dari kejauhan. Di depan rumahnya terparkir manis sebuah Hyundai kuning mungil Bom Sonsaengnim dan sebuah mobil yang tidak dikenal oleh Youngri. Sangeun terdiam.

“Ada Bom Sonsaengnim?” tanyanya.

“Err… aku juga tidak tau. Sepertinya begitu.”

Youngri mengangguk. Mereka berjalan lebih dulu sedangkan Seungho menyusulnya dari belakangnya. Benar saja, itu memang Bom sonsaengnim. Ia menyapanya dari pintu masuk.

“Masuklah. Ada sedikit tamu. Ku harap kalian tidak terlalu terkejut.” Ucapnya lebih dulu sebelum Youngri sempat bertanya. “Oh. Baiklah. Apa itu tamumu, Sonsaengnim?”

“Oh sebenarnya bukan. Hanya pemilik rumah ini. Ia ingin mengambil beberapa barang yang tertinggal dulu.”

“Geuraeso? Joha, kalian duduklah dulu… aku akan membuatkan makanan untuk kalian.”

“Oh, Youngri~ah, boleh aku pinjam toiletmu??” tanya Seungho.

“Ne. ada di atas.” Kata Youngri. Bom Sonsaengnim menatap Seungho was was. Tetapi sejurus kemudian, ia pergi ke dapur mengikuti Youngri.

Brakk Bug…

“Dimana foto album halmoni? Andwae, tidak mungkin Youngri telah membuangnya.”

Minji mengeluarkan semua isi laci untuk mencari album-album fotonya bersama Halmoni dan juga Seungho. Halmoninya selalu merayakan ulang tahunnya berdua bersamanya. Juga dengan foto-fotonya bersama Seungho waktu jaman SMP dulu. Minji menyeka keringatnya dan kembali berkutat mencari benda-benda itu.

“Andwaee~~ dimana?” raung Minji dan mulai mengacak-acak ruangan itu hingga kertas bertebaran. Seungho yang tak sengaja masuk ke ruangan itu terhenti saat it menginjakkan kakinya di sebuah kertas yang agak tebal. Ia memungutnya.

Dilihatnya ternyata Minji sudah ada di situ, tampak sekali sangat frustasi.

“Andwae… halmoni mianhae… Seungho mianhae…” Minji mulai menangis sambil menekuk lututnya. Ingin sekali Seungho menyahutinya saat Minji memanggil namanya. Tetapi ia menahan untuk tidak mendekatinya dan pergi dari tempat itu.

“Dongsaeng, ya~? Waeyo? Apa sudah ketemu?” tanya Yonghwa dari pintu lain yang menghubungkan antara kamar itu dengan kamar lain. Minji menggeleng.

“Mungkin kita salah rumah.”

“Aniyo, Oppa. Di sini. Pasti Karena sudah lama tidak ditempati jadi orang-orang membuangnya. Ottokaeyo?”

“Mau bagaimana lagi…” Yonghwa merangkul Minji keluar dari tempat itu menuju ke ruang bawah yang agak lebih ramai karena Sangeun dan Youngri ada di sana. Mereka terkaget-kaget begitu melihat Yonghwa dan Minji yang baru saja turun dari kamar atas.

“Mianhae.”

“Sudah ketemu?” tanya Bom cemas. Minji menggeleng.

“Kenapa kalian ada di sini???” tanya Sangeun tegang.

“Oh, Sangeun~ah, Youngri~ah… sebenarnya itu… ah, mianhae sebelumnya. Aku tinggal di sini sebelumnya bersama halmoniku. Aku hanya ingin mengambil beberapa albumku yang tertinggal di sini. Kau melihatnya?” tanyanya. Youngri menatap Minji dan Yonghwa bergantian. Kenapa baru saat ini dia sadar bahwa mereka benar-benar mirip. Mungkin karena dia baru saat ini melihat mereka berdiri berdampingan seperti itu.

“Mm… mollaseo. Aku bahkan tidak pernah ke kamar atas. Apa sesuatu yang penting?” tanya Youngri.

“Anya, sebenarnya hanya album fotoku saja. Ehm, kalau begitu aku pergi dulu. Kamsahamnida… Bom Sonsaengnim, gomawo…” ujar Minji lalu memberikan Korean bow pada mereka bertiga. Yonghwa membuntutinya dari belakang. Setelah mereka keluar dari rumah itu Sangeun melengos keras-keras.

“OMO! Apa yang mereka lakukan di sini?” tanya Sangeun.

“Mm, well… mereka sedang mencari sesuatu. Sudahlah. By the way, mana Seungho? Dia lama sekali…” kata Bom.

“Seungho ada di atas kan? harusnya dia sudah melihat ada Minji dan Yonghwa di sini tadi…” kata Youngri.

“Tak tahulah. Sudahlah, kita makan saja…” kata Sangeun berlari lebih dulu ke dapur dan mencomot salah satu dari sekian makanan yang dihidangkan oleh Bom Sonsaengnim.

^^o^^o^^

“Omo, tiket pesawatku dimana?” Minji mulai membongkari barang-barang di apartemen Oppanya karena apartemennya sudah di tempat oleh Youngri. Yonghwa melirik dengan malas. Dia sedang asyik menonton siaran ulang konser musik semalam yang tidak bisa ia tonton karena harus menemani dongsaengnya membereskan semua perlengkapan.

“Mungkin di tas mu yang itu.” Kata Yonghwa hanya menunjuk.

“Yang mana??”

“Yang ituuu… yang di situ…”

“Mm… molla.” Seru Minji lalu meraih tasnya dan keluar dari apartemen.

Drrtt… Drrrtt… HPnya bergetar, tanda ada sms masuk.

Datanglah ke tempat biasa.

Minji mengernyit melihat nomor yang baru saja masuk di HPnya. Rasanya ia tidak mengenal nomor itu. Tetapi, ia tetap melangkahkan kakinya ke tempat yang dimaksud olehnya. Minji hanya tau pasti itu adalah salah satu anggotaXtreem. Karena mereka selalu menyisipkan kata ‘datanglah ke tempat biasa’.

Minji sampai di sebuah taman yang terletak tepat di belakang sekolah mereka. Mereka memang suka berkumpul di sini. Dilihatnya tidak ada orang. Sudah 3 kali ia memutari lapangan itu tetapi tetap saja tidak ada orang. Sampai seseorang menarik tangannya dan memeluknya erat-erat dari balik pohon sakura besar dengan salju menumpuk di atas ranting-rantingnya.

“Mianhae…” ucapnya. Seketika Minji langsung sadar bahwa orang yang sedang memeluknya saat ini adalah Seungho.

“Yaa~”

“Mian, aku sudah kasar sekali denganmu.”

Minji melengos, “Seungho~ya, lepaskan…”

“Ani. Sebelum kau bilang kau tidak jadi pergi ke italia.”

“Ya, tinggal dimanapun sama saja, kan? aku akan tinggal sendirian. Sedahlah, besok aku akan pergi. Mungkin ini memang sudah jalannya.” Kata Minji. “Minji, Please…” Seungho jatuh berlutut di depan mata Minji. Ia menggenggap tangan Minji erat-erat.

“Ireonabwa… Oppa, jangan seperti ini…” Minji menarik pelan tangan Seungho agar ia berdiri.

“Aku janji aku tidak akan lama-lama.” Kata Minji.

“Jincha?”

“Ne~”

Seungho terdiam. Lalu ia ingat sesuatu. “Kau lihat konser semalam?” tanyanya. Minji menggeleng. Kalau tidak salah konser yang dimaksud Seungho pastilah konser yang dilihat oleh Yonghwa tadi sebelum ia pergi ke sini. “Waeyo??”

“Ehm, aku sudah menduga kau pasti tidak melihatnya. Ini. Juga album fotomu. Aku mengambilnya setelah rumah itu kosong. Dan aku baru sadar kalau rumah yang ditempati Yongri adalah rumahmu dan Halmonimu dulu. Mian…” ucap Seungho.

“OMO! Seungho, gomawoo…” seru Minji senang lalu memeluk Seungho. Mereka terdiam beberapa saat. Minji terbelalak kaget ketika Seungho mendekatkan wajahnya ke wajah Minji. Namun Minji mendorong dirinya dan menjatuhkan album foto itu sengaja. Seungho mendengus kecil antara gemas dan kesal.

“Mmm… Gomawo, Seungho…” seru Minji lalu berlari pergi meninggalkan Seungho yang tersenyum-senyum.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: