Heartbeat Part 2 : ~i’m a bet girl~

Keesokan harinya di siang hari menjelang sore, mereka semua duduk di bawah pohon yang rindang seperti biasanya. Kali ini Kibum ikut bergabung. Dan ia sibuk memainkan apel yang ada di tangannya. Apel itu diputar-putar bahkan dilempar-lempar. Donghae yang gemas akhirnya bertanya,

“Apel dari mana itu, Kibummie?” tanya Donghae.

“Ini? Dari teman. Waeyo?” tanya Kibum. Ia berbohong soal apel itu. Sebenarnya apel itu pemberian dari Jinju tadi sewaktu istirahat untuk Kibum. Kibum dan Jinju makan siang bersama di kantin belakang karena Kibum tau bahwa kantin depan sudah dikuasai oleh Super Junior. Dan, jika tidak ingin digosipkan yang aneh-aneh, ia harus menghindari sahabat-sahabatnya itu.

“Anya, kau tidak memakannya malah melempar-lemparnya. Tuh lihat, Hyukjae sudah mupeng melihat apelmu itu..” kata Donghae. Kibum melirik Eunhyuk yang sedang melihati apel merah itu.

“Tidak, Hyung. Ini apel spesialku. Tidak ada yang boleh memakannya selain aku.” Kata Kibum lalu berdiri.

“Kau sudah mau pulang, Kibummie?” tanya Leeteuk.

“iya, sampai jumpa besok ya, Hyung…” kata Kibum lalu melambai. Semuanya mendongak dan mengucapkan selamat tinggal pada Kibum. “Kau yakin tidak mau ikut jemputan?” tanya Shindong.

“Tidak, Hyung. Rumahku kan dekat dari sini. Sudah ya. Lain kali saja aku ikut jemputan bersama kalian…”

“Baiklah. Hati-hati di jalan, Kibummiee…!”

^___________________________________^

“Anya. Kibum sudah berangkat, hyung. Ommanya tadi bilang padaku…” kata Eunhyuk yang baru masuk ke dalam mobil van berukuran sangat besar dan berisi anak-anak dari Super Junior.

“Oh yaaa? Anak itu kalau berangkat pagi sekali yaa. Yasudah, kita berangkat saja. Ayo, Paak cabuuuutt!!” teriak Leeteuk penuh semangat. Yesung di sebelahnya menutup sebelah telinga.

“Baiklah, kita bertemu nanti jam istirahat ya…” seru Kangin. Semuanya menyahut. “Byee…”

Jam sudah menunjukkan pukul 12 siang. Waktunya untuk makan siang. Jinju berjalan gontai ke arah kantin sendirian karena ia tidak membawa bekal. Akhir-akhir ini memang ia jarang sekali membawa bekal dari rumah. Ommanya sibuk sekali sampai tidak sempat membuat bekal untuk Jinju.

Sebenarnya jika tidak terpaksa sekali Jinju tidak akan pergi ke kantin dan makan bersama teman-temannya yang lain. Tetapi, dari tadi otaknya tidak bisa berpikir karena kelaparan.

Jinju menatap nasi goreng kimchi di depannya. Ia menatapnya sejenak lalu mulai memakannya. Dia tidak tau beberapa orang sedang memperhatikannya dari kejauhan.

..

“Ya, itu cewek yang waktu itu kau ajak bicara itu kan, Hyung? Baru kali ini aku melihatnya pergi ke kantin ini…” gumam Donghae lalu menyeruput segelas jus jeruknya. Kibum melirik cewek yang dimaksut Donghae. Jinju. Benar saja. lalu Leeteuk mengangguk setelah sebelumnya tersenyum pada Kibum.

“Jinju itu benar-benar cewek yang manis sekali…” kata Hankyung.

“Ya? Kau serius? Dia sama sekali tidak ada yang special. Kalau bukan karena Unnienya di taksir oleh Teuki Hyung juga aku tidak bakal tau siapa itu Jinju.” Timpal Heechul.

“Tapi setidaknya dia tidak neko-neko seperti cewek lain.” Kata Sungmin menyetujui Hankyung.

“Dan dia itu pintar. Dia satu-satunya rivalku di kelas…” kata Kyuhyun juga.

“Aku suka sekali cewek dengan rambut pendek. Aaah, Jinju. Rambut itu lucu sekali…” kata Shindong sambil tersenyum senang. “Apa dia itu dancer?” tanya Yesung.

“Kenapa bertanya yang seperti itu eh, Hyungie?” tanya Ryeowook.

“Kau benar sekali. Kau tau dari mana?” tanya Leeteuk berbinar.

“Entahlah, aura dancenya terpancar saja.” jawab Yesung. Donghae mengangguk. “benar juga. Kupikir dia lumayan kok. Sedikit saja di make over pasti dia akan sangat memukau.” Kata Donghae.

Kibum bergidik. “Dia tidak akan mau kau make over, Hyung.”

“Yaa, aku kan hanya bilang jika ia di make over. Ya, kuperhatikan kalian semua kelihatan sangat tertarik dengan cewek itu. Apa kalian~” ucapan Donghae terputus oleh Shindong.

“Aaaa… araseo. Aku tau apa yang akan kau bilang sebentar lagi.. Anya! Aku tidak setuju denganmu. Cukup Yejin saja yang terakhir, Donghae~ya.”

“Waaaeee ? kurasa tidak ada yang salah dengan itu. Kita semua sama-sama menyukainya. Bagaimana kalau kita berlomba untuk mendapatkan cewek itu? Itu bukan taruhan kan?” kata Donghae. Kibum menggebrak meja.

“Hyung, apakah Yejin tidak cukup? Kau selalu saja mempermainkan cewek! Kau pikir mereka suka apa? Apa kau pikir mereka tidak akan menangis setelah kau sakiti seperti itu, hah?? Kau tidak tau kan bagaimana perasaan mereka? Cobalah untuk bersikap dewasa, Hyung…” kata Kibum lalu melengos dan memalingkan mukanya.

Semua terdiam. Sungmin mengangguk, ia setuju dengan pernyataan dongsaengnya itu. Kyuhyun menggeleng dan lebih memilih untuk memainkan PSPnya. Eunhyuk menggaruk kepalanya.

“Tapi setelah kupikir, ide itu boleh juga. Kita kan sama-sama suka. Dan tidak ada larangan untuk itu kan? selama kita bersaing sportif itu tidak akan masalah.” Kata Eunhyuk kemudian. Donghae tersenyum iblis. Yesung tiba-tiba juga ikut menggebrak mejanya. Setelah terdiam cukup lama Yesung ikut-ikut tersenyum.

“Boleh juga. Kalian pikir Donghae saja yang bisa mendapatkan cewek? Aku tidak akan kalah dengannya.” Kata Yesung percaya diri. Ryeowook masih teguh pada pendiriannya bahwa ia tidak akan ikut-ikut hal-hal semacam ini. Tetapi kemudian, Heechul juga mengiyakan usul Donghae. Begitu pula Hankyung dan Kangin. Bahkan Sungmin mulai terpengaruh oleh Eunhyuk yang sedari tadi membujuknya.

“Baiklah. Kau benar tidak ingin ikut Kyu? Wookie???” tanya Heechul.

“Entahlah. Aku bingung.” Kata Kyuhyun.

“Aaaaaiiisss, aku tidak akan terpengaruh.” Kata Ryeowook.

“Bagaimana dengan Teuki Hyung?” tanya Shindong.

“Aku tidak akan ikut-ikut. Lagipula aku itu sudah menyukai Unnienya.” Kata Leeteuk.

“Aaaaah, araseo. Lalu kau, Kibummie??” tanya Heechul.

“Aku ikut. Aku yang akan mendapatkannya.” Kata Kibum lalu beranjak dari duduknya menuju ke kelasnya. Leeteuk melirik Kibum. Tetapi Kibum terus berjalan.

^_____________________________^

Pagi itu di Nadam High School,

BRUUAAKK…

“Omo,” pekik Jinju. Pagi-pagi begini sudah ada saja yang menaruh buku di depan wajahnya. Kalau pagi Jinju memang sering membantu petugas perpustakaan untuk membereskan buku-buku. Dan, pagi itu seseorang membawa setumpuk buku dan meletakkannya di depannya.

“Errr~ hai, nona manis. Aku ingin mengembalikan buku-buku ini.”

“Ngh? Iya, sebentar. Siapa namamu? Biar ku carikan kartumu…” kata Jinju.

“Namaku Kim Jongwoon. Panggil saja aku Yesung. Semua orang memanggilku begitu. Kau Jinju kan? Park Jinju. Nama yang sangat cantik sekali…”

“Eeeh? Ehehee… kamsahamnida. Tapi darimana kau tau namaku?” tanya Jinju.

“Aku sudah lama memerhatikanmu, Nona manis…” jawab Yesung lalu duduk di depan Jinju yang sibuk mencari kartu perpustakaan Yesung. “Mwo? Untuk apa kau memperhatikanku?”

“Tentu saja karena kau sangat manis.” Jawab Yesung. Jinju bergidik lalu ia menemukan kartu yang ia cari-cari. Ia mengambil dan membacanya sebentar lalu tersenyum.

“Kim Jongwoon kelas 12?” gumam Jinju. Yesung tersenyum. “Iya, itu aku.”

“Oooh, kau sudah kelas 12 rupanya. Ini kartumu. Jangan sampai hilang ya, itu berguna sekali . bye,” ucap Jinju lalu menghilang di balik rak-rak buku yang super tinggi. Yesung tersenyum kecil lalu menggelengkan kepalanya kemudian beranjak.

“Jinju~ya, ada apa?” tanya Solmi teman dekat Jinju.

“Eeerr, itu ada orang yang tiba-tiba mendekatiku dan tampangnya sangat mesum sekali. Aku jadi takut padanya… omonaaa…” cerita Jinju.

“Ohyaa? Ahahaaa. Orang itu pasti sangat menyukaimu, Jinju.”

“Tidak mungkin, dari tatapannya dia sangat playboy sekali,”

“Begitu ya? Hmm, eh, bagaimana? Nanti siang kau jadi keluar dengan Kibum?” tanya Solmi. Jinju mengangguk malu-malu. “Begitulah.”

“Aaaiiih, senangnya. Memangnya dia akan mengajakmu kemana, Jinju~ya?”

“Entahlah, dia hanya ingin mengajakku berjalan-jalan saja karena dia bosan. Bukan berarti apa-apa…” kata Jinju. Solmi mengangguk. “araseo araseo… Mm kau masih lama membereskan bukumu?” tanya Solmi.

“Eh, sedikit. Kalau kau terburu-buru kau duluan saja. aku akan menyusulmu di kelas nanti.”

“Baiklah, daa…”

^_______________________________^

“Hoooiii, Jinju!”

Jinju menoleh. “Yaa? Ooohh, Shindong Oppa. Annyeong ^^”

“Annyeong, annyeong. Oh iya, kau ada waktu hari ini? Aku ingin menunjukkanmu sesuatu.” Kata Shindong.

“Sesuatu apaa?” tanya Jinju.

“Jurus baruku!!” seru Shindong semangat. Jinju terbelalak. “jongmal? Aah, tapi sayang sekali hari ini aku sudah ada janji dengan orang lain, Oppa. Mianhaeyo…”

Shindong menggaruk kepalanya. Mukanya terlihat kecewa sekali. Jinju menyentuh pundak Shindong dan menepuknya, “Mianhaeyo. Lain kali akan kulihat. Hari ini aku benar-benar tidak bisa, Oppa…” kata Jinju.

“Begitu yaa? Baiklah, tapi lain kali kau akan datang dan melihat jurus baruku kan?” tanya Shindong. Jinju mengangguk dan mengacungkan dua jarinya membentuk symbol victory.

“Janji.” Kata Jinju.

“Baiklah, lanjutkan saja kegiatanmu yang tadi. Aku akan ke kantin menemui teman-temanku dulu. Bye, Jinju~ya…” kata Shindong lalu melangkah riang menuju ke kantin.

“Daaa…”

..

“Shindong~ah, kau tadi ngomong apa dengan Jinju? Aku cemburu sekali tau…” kata Eunhyuk yang tidak bernafsu makan dan hanya memainkan kimchi dengan sumpitnya. Shindong mendelik lalu memancarkan aura kesenangannya.

“Aku hanya ingin mengajaknya untuk melihat jurus baruku. Memangnya kenapa? Ada yang salah?” tanya Shindong.

“Memangnya dia juga ikut taekwondo apa?” tanya Sungmin.

“Iya, dia memang ikut taekwondo. Dari situlah aku mengenal Jinju. Hari ini dia tidak bisa ikut karena ada janji dengan orang lain. Aku kecewa sekali. Entahlah apa salah satu diantara kalian yang mengajaknya keluar…” kata Shindong, ia melirik sebentar ke arah daging panggangnya baru kemudian ia melahapnya tanpa sisa.

“Aaah, aku akan pindah mulai besok!” kata Sungmin lalu mendorong piringnya.

“Pindah???” ulang Heechul dengan mulut penuh.

“Iya, aku akan ikut taekwondo agar bisa dekat dengan Jinju,”

“Lalu bagaimana dengan Kungfu mu, ha? Sebentar lagi kan kita turnamen.” Kata Hankyung yang berbicara sambil mengacungkan tusuk kebabnya ke muka Sungmin.

“Biar saja. kan masih ada kau. Setidaknya, aku bisa lebih dekat dengan Jinju.” Gumam Sungmin.

“Terserah kau saja lah…” kata Hankyung masih acuh.

Kyuhyun meletakkan PSPnya lalu menancap garpunya pada sebuah bawang Bombay utuh berbalut bumbu barbeque. “Ah, berarti hanya aku saja yaa yang untung di sini? Aku sekelas dengan Jinju dan rumah kami juga tidak jauh satu sama lain…” katanya.

“Aku tidak peduli. Weekkk…”

Kibum melengos lalu cepat-cepat menghabiskan sisa makanannya yang ada di piring dan segera pergi dari tempat itu sebelum telinganya bertambah merah mendengar obrolan mereka. Belum lagi jika Donghae sampai datang dan ikut membicarakan soal Jinju.

Kibum pergi ke taman belakang sekolah yang lumayan agak sepi. Ia ingin menenangkan diri sejenak dari kepenatannya. Kibum berjalan menuju ke taman belakang yang lumayan terpencil dan jauh dari jangkauan anak-anak lain. Karena mereka tau bahwa itu daerah kekuasaan Super Junior dan tidak ada satupun yang berani ke sana.

BUGG!!

“eee, Mianhaeyoo. Aku tidak melihatmu…”

“Jinju~ya?” gumam Kibum. Jinju mendongak dan mendapati Kibum sudah ada di depannya. Raut muka Kibum berubah. Wajahnya juga memerah. Jinju tersenyum padanya.

“Sedang apa kau di sini?” tanya Jinju.

“Kau yang sedang apa di sini?” Kibum balik bertanya.

“Aku? Aku hanya sedang jalan-jalan saja. kau sendiri??”

“Aku memang ingin ke sini.” Kata Kibum lalu berjalan dan duduk di sebuah bangku taman di dekat situ. Kibum menunduk sambil memegangi kepalanya yang mulai pusing.

“Kau ada masalah?” tanya Jinju menghampiri Kibum.

“Ngh? Tidak juga. Memangnya tampangku seperti tampang orang frustasi apa?” kata Kibum lalu tersenyum.

“Hahaha. Nah gitu dong, senyum. Kita hidup di dunia harus dipenuhi dengan senyum. Kalau tidak, mukamu akan cepat berubah menjadi kakek-kakek… hihihi” kata Jinju.

“Kau ini ada-ada saja.” gumam Kibum.

“Nanti kita jadi kan jalan-jalan? Katanya kau mengajakku~”

“Kapan?” tanya Kibum. Jinju ternganga. “Iya, iya. Kau jangan bertampang seperti itu ah, mukamu konyol sekali…”

“Kau siiih, jangan membuatku malu setengah mati dong…”

Kibum hanya tersenyum. Jinju memperhatikannya. “Kau kelihatan pucat,” kata Jinju.

^____________________^

Donghae mengetuk-ngetuk meja dengan jari-jari di tangannya. Sudah 10 menit ia menunggu tapi belum ada tanda-tanda Jinju datang. Donghae mengajak Jinju makan di sebuah restaurant setelah sebelumnya mereka berkenalan lewat messenger.

Jinju baru saja datang dan celingukan dari balik pintu restaurant itu. Rambutnya sedikit basah karena ia baru saja selesai latihan taekwondo dan langsung menemui Donghae. Jinju menerima pesan Donghae yang mengatakan bahwa ia memakai baju berwana biru. Jinju celingukan lagi mencari sosok cowok yang berbaju biru.

Donghae tak sengaja menoleh ke belakang dan melihat Jinju sedang berusaha mencari dirinya. Donghae melambai pada Jinju. “Jinju sshi !!” panggil Donghae.

“Donghae Oppaa?” tanya Jinju. Donghae mengangguk. Jinju menghampirinya.

“Sudah lama ya? Mianhae, aku baru saja pulang dari latihan. Belum sempat pulang untuk mandi sih.”

“Kwenchanayo, belum lama kok…” kata Donghae.

Setelah memesan makanan dan pesanan mereka datang di meja, Jinju mulai melahap makanannya dengan lahap. Donghae melihatnya dengan terheran-heran. Selama ini cewek yang ia ajak keluar selalu berusaha mengatur cara makannya agar terlihat anggun. Tetapi, Jinju? Ia bahkan tidak peduli dengan Donghae yang ada di depannya. Donghae hanya bisa menelan ludah melihat Jinju, ia sudah tidak bernafsu lagi untuk makan.

“Aaaaaahh, Kenyaaang. Eh? Kau tidak menghabiskan makananmu?” tanya Jinju. Donghae menggeleng. “Aku sudah kenyang.” Kata Donghae.

“Sudah kenyang. Aduuuh, itu kan sia-sia sekali. Tau begitu kau tidak usah pesan tadi. Kalau begini kan sayang sekali kalau dibuang.” Kata Jinju.

“Sudahlah, biarkan saja…”

“kumakan saja ya, daripada dibuang…” kata Jinju. Donghae lagi-lagi melongo. Ia kemudian berpikir bahwa mungkin semua teman-temannya salah menilai orang. Ia bahkan lebih rakus daripada mesin penggiling makanan.

“Nanti ku antar kau pulang, ya..” kata Donghae.

“Eh? Tidak usah, Oppa. Rumahku lumayan jauh dari sini. Harus naik 2 kereta bawah tanah.” Kata Jinju dengan mulut penuh dengan ramen.

“Tidak apa-apa justru itu. Aku ingin memastikan kau selamat sampai ke rumahmu. Lagian kau kan cewek, tidak baik pulang sendirian malam-malam begini…” kata Donghae.

“Mmmm… baiklah. Kalau itu tidak merepotkanmu…”

“Tentu saja tidak sama sekali…” kata Donghae sambil tersenyum. Jinju membalasnya.

^_________________________^

Beberapa Minggu kemudian, anak-anak Super Junior mulai dekat dengan Jinju. Shindong bahkan tidak menyukai Jinju lagi dan menganggap Jinju sebagai dongsaengnya, begitu juga dengan Leeteuk, Hankyung, dan Heechul. mereka sudah tidak ingin ikut-ikut memperebutkan Jinju. Kyuhyun juga sepertinya sudah malas bersaing dengan para Hyungnya. Ia lebih tertarik dengan Solmi yang lembut dan pemalu ketimbang Jinju yang cablak.

“Haah, Jinju sudah tinggal selangkah lagi…” kata Donghae.

“Kau tidak akan mempermainkannya kan kalau dia jadi pacaran denganmu?” tanya Sungmin yang masih tidak rela Jinju menjadi milik Donghae. Donghae tertawa kecil. “Untuk apa aku mempermainkannya? Aku benar-benar menyukainya tau!” sergah Donghae.

“Ya, lebih baik kau cari yang lain saja, Donghae~ya. Jinju terlalu polos untuk kau permainkan.” Kata Leeteuk. Donghae melengos lalu mendekatkan wajahnya ke wajah Leeteuk.

“Hyung, apa aku terlihat seperti orang yang sedang main-main, Hah?” tanya Donghae. Leeteuk menggaruk kepalanya. Semua memandang Donghae dengan tatapan tidak enak. Donghae mendorong kursinya dengan marah lalu terdiam menatap semua teman-temannya.

“Aku tidak perduli dengan yang kalian katakan terhadapku. Aku tetap mencintai Jinju. Dan tidak ada yang bisa melarang itu!” kata Donghae lalu pergi dari tempat itu. Leeteuk hanya bisa diam sambil menatap perginya Donghae. Bahkan sup hangatnya kini menjadi dingin karena terlalu lama didiamkan.

“Apa yang ia katakan? Apa dia benar-benar serius, hah?” tanya Shindong.

“Haaaaahh, tak taulah.” Kata Leeteuk lalu ikut pergi.

“Sekarang siapa yang salah?” gumam Kyuhyun menggeleng lalu kembali fokus dengan PSP di tangannya.

..

Jinju menghampiri meja Kyuhyun. Dilihatnya Kyuhyun sedang asyik mengerjakan tugas matematika untuk besok. Jinju duduk di depannya dan memperhatikannya menghitung.

“Ya, jangan melihatku seperti itu, ah.” Kata Kyuhyun tanpa melirik sedikitpun pada Jinju. Jinju mendengus.

“Tumben sekali kau tidak main PSPmu.”

“Kalau baterainya tidak habis aku pasti akan main lagi. Berhubung baterai cadanganku tidak kubawa, yah lebih baik mengerjakan tugas untuk besok saja. biar nanti aku tidak perlu mengerjakannya lagi.” Kata Kyuhyun lalu menutup bukunya tanda ia sudah selesai.

“Waaa, kau pintar sekali,” puji Jinju. Kyuhyun tertawa kecil.

“Apa yang membawamu datang ke tempatku, eh?” tanya Kyuhyun.

“Ahaha, tidak juga, aku ingin tanya kau ketemu Kibum tadi?” tanya Jinju. Kyuhyun tertawa. “Sudah kuduga, kau pasti ingin menanyakan itu padaku. tapi sayang sekali, aku bahkan tidak melihatnya hari ini. Memangnya ada apa kau mencarinya?” tanya Kyuhyun.

“Mm, aku ingin mengembalikan sapu tangan ini padanya. Kemarin tertinggal.” Kata Jinju. Kyuhyun merebut sapu tangan itu perlahan. “Untuk apa di kembalikan? Kibum pasti punya banyak sekali sapu tangan seperti ini.” Canda Kyuhyun.

“Ohya? Kau sudah mengenal Kibum berapa lama memangnya?” tanya Jinju.

“Sudah lumayan lama. Aku sudah kenal dengannya dari TK, tapi lalu dia pindah ke amerika selama beberapa tahun dan kemudian ia kembali lagi ke sini. Waeyo? Aku mengenal dia sangat baik. Orang tua kami bersahabat.” Cerita Kyuhyun lalu menunduk sejenak.

Lalu HP Jinju berbunyi. Itu dari Solmi. Jinju segera membuka SMS darinya,

Hari ini dia tidak masuk, Jinju~ya.

Jinju menatap layar HPnya untuk beberapa saat. Kyuhyun memperhatikannya. “Waeyo? SMS dari siapa itu? Kenapa mukamu berubah drastis seperti itu, hah?” kata Kyuhyun.

“Ehehe, tidak. Hanya dari Solmi.” Jawab Jinju.

“Solmi? Jongmal?”

“He’eh. Memangnya kenapa, Kyu? Jangan-jangan kau suka lagi pada Solmi??” goda Jinju.

“Sssssshh… jangan keras-keras nanti orang-orang pada tau. Aaah.” Kata Kyuhyun lirih sambil membekap mulut Jinju dengan tangan kanannya. Jinju mengangguk-angguk dan berjanji tidak akan memberitahu siapa-siapa. Malah sebaliknya, ia berjanji akan membantu Kyuhyun untuk mendekati Solmi dengan syarat ia akan membantunya dekat dengan Kibum dan mencari tau siapa yang disukai Kibum.

“Selama itu membuat Kibum bahagia, aku pasti akan berusaha..” kata Kyuhyun mantap.

“nte? Kau bilang apa barusan? Memangnya kau segitu menyayangi Kibum, hah?” ucap Jinju lalu terkikik. Kyuhyun hanya tersenyum kecut.

^____________________^

“Kira-kira kemana dia sampai tidak masuk segala…” gumam Jinju. Solmi menggeleng. “Kenapa tidak kau sms saja?” usul Solmi. Jinju melengos.

“Sudah berkali-kali ku sms tapi tidak ada satupun smsku yang dibalas. Huuuh. Aneh sekali sih dia.” Kata Jinju. Tiba-tiba Donghae mencegat mereka berdua.

“Annyeong, Jinju sshi?” sapa Donghae.

“Aiih, Donghae Oppa. Sejak kapan ada di situ?” tanya Jinju.

“Aku memang sengaja menunggumu di sini. Kau mau pulang bersamaku?” tanya Donghae. Jinju melirik Solmi yang hanya tersenyum pada mereka.

“Aku sudah ada janji untuk pulang bersama Solmi, Oppa. Bagaimana?”

“Kalau begitu kita antar Solmi juga. Ayolah, hari ini sepertinya akan turun hujan.” Kata Donghae lalu mendongak ke atas untuk melihat langit yang berwarna keabu-abuan. Jinju mengangguk. “Baiklah, bagaimana Solmi~ya? Kau mau kan ikut dengannya?” tanya Jinju. Solmi mengangguk.

Donghae mengacungkan tangannya sambil bergumam “Yes” lalu segera membukakan pintu mobilnya untuk mereka berdua.

Donghae mengantar Solmi pulang terlebih dahulu karena jaraknya yang paling dekat dengan sekolah. Baru ia mengantar Jinju untuk pulang ke rumahnya. “Maaf sekali jadi sering merepotkan Oppa.” Kata Jinju.

“Ah, kwaenchana. Lagipula rumahku dan rumahmu kan searah kalau dari sekolah.” Kata Donghae. Jinju hanya tersenyum. Mobil Donghae berhenti tepat di depan sebuah rumah yang tidak begitu besar namun kelihatan sangat asri sekali. Dan, benar saja beberapa saat kemudian hujan mengguyur kota Seoul.

Mereka terdiam sejenak di dalam mobil. Jinju bingung ingin mengatakan apa. Rasanya, kata terimakasih belum cukup untuk membalas semua hal yang telah dilakukan oleh Donghae padanya. Tiba-tiba Donghae menggenggam tangan Jinju lembut.

Donghae menatap mata Jinju lekat-lekat lalu mendekatkan wajahnya dengan wajah Jinju perlahan-lahan. Donghae memejamkan matanya.

“Ah, Mianhae Oppa, aku turun dulu. Terimakasih atas tumpangannya. Annyeong…” Jinju lalu turun dan berlari masuk ke dalam rumah karena hujan yang turun begitu deras.

Donghae menghela nafasnya lalu memukul setir yang ada di depannya. “Geez!!” umpatnya lalu menggeram dan menggas mobilnya dengan kecepatan tinggi.

^________________________^

Kibum datang keesokan harinya. Ia melangkah sedikit gontai melewati koridor. Ia sangat menyayangkan letak loker tempat penyimpanan barang miliknya terletak sangat jauh sekali. Hari ini Kibum memang terlihat belum seratus persen sadar. Matanya saja masih sayu-sayu.

Tetapi rupanya Jinju sudah datang lebih awal dan berdiri manis tepat di depan loker Kibum. Kibum mengucek matanya yang masih belum jelas. Dilihatnya Jinju tersenyum manis padanya.

“Annyeong.” Sapa Jinju.

“Eh?”

“Sedang apa kau di situ,” tanya Kibum. “Aku baru saja meletakkan barang-barangku di lokerku.”

“Oh,” kata Kibum datar.

“Kau kemarin tidak masuk?” tanya Jinju.

“Kau tau darimana aku tidak masuk, eh?” aktifitas meletakkan barang-barangnya terhenti dan ia menatap tajam ke arah Jinju yang masih bertampang innocent. Satu lagi yang membuat Kibum begitu menyukai Jinju, yaitu matanya yang bulat juga berwarna hitam pekat.

“Kemarin aku ke kelasmu untuk mengembalikan ini…” kata Jinju lalu menyodorkan sehelai sapu tangan. Kibum tersenyum lalu menerima sapu tangan itu. “Ooh. Iya, terimakasih ya…” kata Kibum.

“Tapi kau tidak ada. Memangnya kemana kau kemarin?” tanya Jinju.

“Aku ada sedikit urusan. Aaah, kau sebenarnya juga kangen padaku kann? Mengakulah,” goda Kibum lalu berjalan mendahului Jinju yang masih manyun.

“Anya.”

“Aaah, sudahlah. Mengaku sajalah. Hahahaaa…”

“Anya anya anya.”

..

Hujan lebat mengguyur Kota Seoul lagi. Akhir-akhir ini memang sering sekali hujan. Semua anak di Garam mengeluh karena hujan yang lebat dan rutin sekali. Semua anak juga tidak bisa duduk-duduk di taman belakang sekolah. Semuanya berlindung di bawah atap sekolah yang membuat kantin menjadi membludak.

Tetapi tidak untuk Jinju. Jinju tampak sangat menikmati hujan kali ini. Ia duduk di atas mejanya sambil melihat ke jendela luar. Butiran-butiran hujan yang turun sesekali membuatnya tersenyum. Kyuhyun memperhatikannya dengan seksama lalu pergi keluar dan kembali dengan membawa seseorang.

Kibum. Kibum perlahan mendekati Jinju.

“Hari ini sepertinya kita tidak bisa pulang naik kereta bawah tanah.” Kata Kibum.

“Eh? Oh? Aiih… kau membuat ku kaget saja.” ujar Jinju.

“Btw, memangnya kenapa? Kan kita bisa pakai payung…”

“Kau kelihatannya sangat menyukai hujan, ya?” kata Kibum lalu ia menggenggam pergelangan tangan Jinju dan mengajaknya keluar dari kelas. Kibum mengajaknya ke balkon sekolah dimana Jinju bisa melihat hujan dan merasakan rintikannya.

“Ahaha. Kau tau saja. Hujan adalah dimana saat kita menjadi sangat sangat romantis. Itulah yang dikatakan orang-orang…” celetuk Jinju. “Hahaa, kau ini ada-ada saja. romantis itu bisa dilakukan kapan saja.”

“Tetapi akan lebih dramatis kalo dilakukan saat hujan. Itu benar lho…”

Kibum mengernyit, “Ohya?”

“Kau akan tau saat kau mengalaminya sendiri.”

♥♥♥♥♥♥

One response

28 11 2011
irma

cinta segitiga…#teriak pk toa
khawtr jd.a, donghae pst jd penghalang yg sush wat kibum..
udhmh kibum lbh memlh diam drpd bilang suka sm jinju ke hae.a…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: