I’m a Loner~Pre Break Out (Project Mireu)

PROJECT MIRDOK DOK DOK !!
“Mir, Wake up!!” seru Taeyeon Omma lantang. Mir menggeliat matanya masih sulit untuk membuka. Tetapi, suara Taeyeon Omma memang tidak mau berkompromi. Lagi-lagi suara lantangnya mengusik kesenangan di alam mimpinya yang terasa sangat sekejap itu.
“MIR…!!!”
“Omma, nanti tetangga bisa mendengarmu…” ucap Haerin sambil lalu membawa setangkup sandwich tunanya.
“Lihat Oppamu itu! Jam segini belum bangun. Memangnya dia tidak kuliah apa?” omelnya.
“MIRR!!! Kalau kau tidak bangun-bangun juga, Omma akan masuk!” ancam Taeyeon Omma.
“One..” Haerin terkikik di meja makan sambil memperhatikan tingkah Ommanya yang konyol. “Two…” Kyuhyun datang dari arah dapur membawa segelas susu coklat yang menggiurkan. “THREE!!!” Taeyeon Omma membuka knop pintu dengan paksa dan mendorong pintu hingga terbuka.
Taeyeon Omma masuk lalu menarik selimut Mir yang menyelubungi tubuhnya. “Yaa, ayo pemalas… sudah jam berapa ini…” seru Taeyeon Omma. Tiba-tiba Taeyeon Omma terdiam lalu berteriak keras.
“AAAAARRGGHHHH !!!”
Haerin melirik Kyuhyun, begitu juga Kyuhyun. Haerin hendak berdiri untuk melihat, tetapi Kyuhyun menahannya.
“Jangan, kau pasti juga akan berteriak… hihi…” kata Kyuhyun lalu menyusul Ommanya ke kamar Mir.
“Aigooooooo~ Mir!! WHERE’S YOUR CLOTHES?!?!” seru Taeyeon Omma lalu menggeretu keluar dari kamar Mir.
“Siapa suruh Omma masuk ke kamarku dengan paksa seperti itu..” sahut Mir cuek lalu bangkit dan menarik handuk yang tergeletak di kursi malasnya. Kyuhyun dari balik pintu menggeleng dengan raut muka datarnya. “Aigoo, apa semua anak laki-laki suka tidur dengan tidak memakai baju seperti itu?” tanya Taeyeon Omma pada dirinya sendiri. Kyuhyun tertawa kecil. “Mungkin. Tapi aku tidak, Omma.” Jawab Kyuhyun.
“Aah, Omma… Mir Oppa kan juga anak Omma sendiri. Masa Omma malu? Ckck,” timpal Haerin.
“Kau sudah mau berangkat?” tanya Taeyeon Omma. Haerin mengangguk. “Hyemin sudah selesai makan di rumahnya, sekarang dia sedang on the way ke sini Omma. Bye… Bye, Kyu Oppa…” kata Haerin lalu menyampirkan tasnya di bahu kirinya yang bebas. “Coba kalau Mir seperti kau dan Haerin. Haah… Omma dan Appamu sudah putus asa..” ujar Taeyeon Omma.
“Mir sudah dewasa, Omma. Nanti dia akan mengerti sendiri.” Kata Kyuhyun lalu mengemasi barang-barangnya. Ia ada kuliah pagi dan Profesor yang mengajar terkenal sangat killer. “Kau tidak berangkat dengan Mir?” tanya Taeyeon Omma.
“Ani. Aku mau naik bus saja. biar Mir yang bawa mobilnya.” Kata Kyuhyun. “Jalga, Omma…”
“Ne…”

“Mir… this is the breakfast…” kata Taeyeon Omma.
“No, I have to meet my Amelia soon, omma. Don’t worry, I’ll eat well… bye Ommaa…” seru Mir singkat lalu pergi, menyambar kunci dan menyalakan mesin mobilnya. Secepat kilat ia mengemudikan mobil itu ke rumah Amelia, Pacarnya. Mereka sudah bersama selama 2 tahun ini. Amelia juga sama seperti Mir, orang korea yang tinggal di America, jadi sedikit banya mereka bisa mengerti satu-sama-lain.
Mobilnya berhenti di apartemen besar. Biasanya, Mir senang sekali berkunjung ke apartemen itu. Tapi kali ini Amelia sudah siap bahkan sebelum mobil Mir datang. Mir membuka kaca mobilnya. “Come in, Honey…” serunya. Amelia tersenyum dan masuk ke dalam. Mir tidak langsung menjalankan mobilnya. Entah mengapa hari ini ia suka sekali melihat wajah Amelia yang tidak dipoles dengan make up.
“Kau terlihat sangat natural…” kata Mir.
“Ne? sebenarnya tadi aku mencari makeup toolkit ku tapi aku tidak bisa menemukannya. Kurasa sudah habis.”
“Kau mau pergi pulang kuliah nanti?” tanya Mir.
“Kau mau menemaniku?” tanya Amelia.
“Sure. Why not? Ada yang harus kukatakan juga padamu. Tentang hubungan kita…” kata Mir lalu tersenyum.
“Waeyo? Kau… kau tidak ingin memutuskanku kan?” tanya Amelia.
“Mwo? Ani… jangan salah tangkap dulu. Nanti saja, kau juga akan tau sendiri…” kata Mir. “Ready for college, Honey?” tanya Mir. Amelia mengangguk. Mir mendekatkan wajahnya dan mengecup bibir Amelia dengan hati-hati. Rasanya berbeda kali ini, Mir terbiasa dengan rasa strawberry di bibir Amelia. Tapi kali ini sepertinya terasa lebih manis.
Amelia mendorong dada Mir pelan ingin ia melepaskan ciumannya. “Wae?” tanya Mir bingung sambil menatap ke dalam mata Amelia.
“Ani, hanya… ehm~ aku tidak memakai make up.rasanya pasti lain.” Kata Amelia.
“Ya~ Honey, I love you as the way you are. Don’t you understand me?”
“Ne, Mireu… ne, kaja!” seru Amelia. Mir melengos lalu mengegas mobilnya ke arah kampusnya.

“Mir, don’t you come in? the doggy is ready…” kata teman Mir yang bernama James.
“No, I think I’m not coming today. Tell the doggy, I have something to do in a hurry.” Kata Mir. James menggeleng. Ia seperti sudah hafal kebiasaan Mir yang satu itu. Amelia mendongak. “Kau tidak masuk?” tanya Amelia. “No, Ame… aku sedang malas dengan professor killer itu. Lebih baik aku bersamamu…” kata Mir.
“Ah~ aku sebenarnya ada mata kuliah hari ini. Kau tidak apa jika sendirian, Mir?” tanya Amelia.
“Eh? Tadi kau bilang kau kosong jam pertama.” Mir menuntut. “Ye, aku kan tidak tau jika tiba-tiba Mimi mengabari jika jam siang diganti jam pagi. Kau keberatan jika kutinggal sendirian, Mir?” tanya Amelia lembut. “EHm~ ku kira aku bisa berdua saja denganmu, Ame. Ya sudahlah… masuklah, aku juga akan ikut mata kuliahku pagi ini…”
“Ne.” kata Amelia.
“I Love you…” kata Mir lalu menarik Amelia ke dalam pelukannya.
“Hm, Love you too…” ucap Amelia. Mir mencuri kesempatan untuk mengecup puncak kepala Amelia dan berlari seketika itu juga.
“Hais,” gerutu Amelia.
Mir berlari kecil pergi masuk ke kelasnya. Tidak begitu telat. Si professor juga sepertinya masih sibuk dengan LCDnya yang rusak. Mir mengendap-endap masuk dan duduk di sebelah James dan Yuriko, cewek blasteran jepang yang chubby sekali. James meliriknya sebelah mata. “Waeyo?” tanya Mir tidak suka. “you said you wouldn’t come.” Kata James mencibir.
“Ya, I think you don’t like if I come.” Kata Mir.
“Ya, enough guys.” Kata Yuriko. James dan Mir memandangnya bingung. “Kau masih dengan Ame?” tanya Yuriko sedikit berbisik. Ia menggunakan bahasa Korea. Sebetulnya belajar banyak dari Mir karena Mir masih suka sekali berbicara dengan bahasa kebangsaannya itu. James mendekat untuk mendengar.
“Ye. Waeyo?” tanya Mir. James mengangguk, tanda dia tau apa yang mereka bicarakan. “I think she’s not that good for you, Mireu.” Kata Yuriko. Mir bergidik dan menatap Yuriko marah. “Maksudmu?” tanya Mir dalam bahasa Korea.
“Hmm, ani. I mean she may hurt you…”
“She won’t. why do you guys act like this strange today? Do you eat kimchi too much?” tanya Mir bercanda.
“No, I just… I just wanna warn you. Just, forget it if you don’t.” kata Yuriko lalu kembali menekuni buku tebalnya. Mir menatap James meminta penjelasan darinya. Tapi James mengangkat bahu. “I don’t know what she’s talking about. Haha…” katanya lalu memasang earphone di telinganya dan memejamkan mata. Bermalas-malas di bangkunya.
Mir hanya melengos.

Amelia berjalan cepat menuju ke taman di belakang kampusnya. Suasananya cukup bagus hari ini. Ia menghampiri seseorang yang sedang duduk sendirian di bangku taman dan tampak menikmati alunan lagu yang melantun di telinganya. Amelia hendak mengagetkannya. Tetapi rupanya dia sudah lebih dulu tau.
“Duduklah…” katanya.
“Ah, kau tidak seru sekali, Oppa…” kata Amelia.
“Sejak kapan kau memanggilku Oppa, eh?”
“Habisnya, kau ini tidak cocok jika di panggil Joon.” Kata Amelia terkikik.
“Nanti jadi kan?” tanya Joon. Amelia mengangguk, “Tentu saja. masa batal?” tanyanya. Joon berdeham kecil. “Baguslah. Aku akan menjemputmu di tempat ini lagi. Kau tidak ada kelas?” tanya Joon lembut. “Aniyo. Memangnya kau ada kelas?” tanya Amelia. Joon menggeleng. “Jadi kita sama-sama kosong hari ini, eh?” gurau Joon.
“Baguslah. Kita bisa berdua saja kalau begitu.” Ucap Amelia, membuat Joon menoleh cepat padanya.
“Mireu?”
“Wae? Jujur saja, aku bosan dengannya. Yah, Cuma begitu-begitu saja.
“Kau bosan dengannya? Wae?” Tanya Joon.
“Well, kau tahu sendiri, Oppa. Semester depan kita sudah lulus, dan ia sudah janji untuk melamarku menjadi tunangannya. Tapi, sekarang setiap kali kutanyakan masalah itu, ia selalu menghindar.”
“Mungkin Mir masih belum siap?”
“Aishh! Sudahlah, Oppa! Aku malas membicarakan Mir! Pokoknya hari ini kita pergi berdua saja, okay?”
“Ne. Terserah kau saja.” Kata Joon lembut.
“Great! Baiklah, aku pulang dulu. Annyeong, Oppa…” Amelia tersenyum kemudian kembali ke gedung kampusnya.
“Ya! Amelia! Honey!” Amelia berhenti, kemudian menoleh.
“Hey, honey!” Amelia langsung memasang senyum manisnya itu.
“Ayo, kuantar kau pulang.” Mir merangkul pinggang Amelia dan menuntun gadis itu ke lapangan parkir kampus mereka.

**

“Appa, sebentar lagi aku dan Hyemin akan lulus. Aku berencana kembali ke Seoul. Boleh?” Tanya Haerin pada Yoochun Appa.
“Seoul?” Yoochun Appa mendongakkan kepalanya dari atas laptopnya.
“Ne! Aku ingin bertemu teman – teman lamaku, Appa. Boleh ya?” rengek Haerin.
“Baiklah, tapi berjanjilah pada Appa, kau dan Hyemin akan menjaga diri, okay?”
“Of course, Appa! Kamsahamnida! Aku akan memberitahu Hyemin…” Haerin merangkul Appanya itu.

“Ya, Hyeminnie! Appaku mengijinkan kita kembali ke Seoul!” kata Haerin dengan semangat.
“Really??”
“Yes!”
“That’s great! Oppa – Oppamu juga ikut?”
“Aniyo, mereka masih harus meneruskan kuliahnya.”
“Ahh, I see…”
“Okay, I gotta go, catch you later. Bye!” Haerin menutup teleponnya.
“So, kau dan Hyemin akan pulang ke Seoul??” Tanya suara Mir dari balik punggung Haerin.
“Err, ne, Oppa. Why?”
“Apa kau tega meninggalkanku sendirian di sini bersama Kyuhyun???”
“Oppaaa… aku ingin sekali kembali ke Seoul. Mengertilah… lagipula, ada Omma dan Appa, kan?”
“Haishh! Apa Omma dan Appa bisa ku kerjai? Apa Omma dan Appa bisa kujahili seperti aku menjahilimu? Kyuhyun Hyung apalagi. Dasar orang itu terlalu serius! Ya, Haerin, don’t leave your Oppa alone here…” rengek Mir.
“Biarkan saja dia pergi. Ia juga ingin bersenang – senang.” Kyuhyun tiba – tiba ikut dalam pembicaraan mereka.
“Aishh! Kalian semua!” Mir meninggalkan Haerin dan Kyuhyun di ruang keluarga itu. Haerin masih memandangi sosok Mir masuk ke dalam kamarnya. Kyuhyun menghempaskan badannya di atas sofa di depan TV.
“Haerin ah…” Kyuhyun menepuk – nepuk sofa di sebelahnya, member isyarat pada Haerin agar ia duduk di sebelahnya. Haerin menurut.
“Oppa, apa kau piker Mir Oppa akan membenciku karena aku akan pulang ke Seoul?”
“No, absolutely not. Mir terlalu sayang padamu. Mungkin ia merasa rumah ini akan sepi tanpamu.” Kyuhyun sambil mengacak rambut Haerin.
“But… what should I do now?”
“It’s okay, kalau kau ingin pulang, pulang saja. Mir pasti akan mengerti. Kau pasti sudah sangat ingin bertemu teman specialmu itu kan?” goda Kyuhyun.
“Nte??”
“Jujur saja padaku. Aku tahu kau tahu maksudku. Leeteuk. Kau kangen padanya kan?”
“Ahhh… Oppa… Ne, aku sangat merindukannya. Seperti apa ya Teukie Oppa sekarang? Sudah 4 tahun aku tidak bertemu dengannya. Donghae Oppa, Minji, dan Haekyu juga…”
“Kalau begitu, kau harus pulang ke Seoul. Lagipula, kau kan sudah lulus sekolah.”
“Hmm… promise me, Oppa. Kalau kalian ada kesempatan, susul aku ke Seoul, ya?”
“Of course!” Kyuhyun tersenyum kecil. Tiba – tiba ada sesuatu yang melintas di pikiran Haerin. Haerin melihat Amelia, pacar Mir, bersama seorang yang sosoknya tidak jelas.
“Ya, Oppa… menurutmu, Mir Oppa sangat mencintai Amelia Unnie?”
“I think so. Why?”
“Nothing. Aku hanya merasa Amelia Unnie tidak pantas untuk Mir Oppa.”
“Why do you think so?”
“I don’t know. Just my feeling, maybe. Alright, just forget it.” Haerin tersenyum. Kyuhyun tersenyum kecil lalu mengacak rambut Haerin dan masuk ke kamarnya.

**

Mir menekan nomor Amelia yang sudah ia hafal di luar kepala. Menunggu sampai ceweknya itu mengangkat telpon darinya. Tapi ia tidak kunjung mengangkatnya. Mir mematikan dan mencoba meredial nomor itu. Sampai sekitar 10 kali ia meredial nomor itu dan tidak kunjung diangkat juga.
“Where’s she?” gumamnya lalu duduk dengan nafas berat.
“Come on, Ame… angkat laah… kau sudah janji akan menemaniku malam ini.” Kata Mir lalu kembali mendekatkan HP di telinganya.
TUT.
Mir melengos pasrah, wajahnya kecewa sekali. Ia merogoh sesuatu dari tasnya. Kotak mini berwarna merah yang sengaja ingin ia berikan pada Amelia nanti malam sepertinya harus ditahan lagi. Mir membuka tutupnya, menatap sebuah cincin permata yang indah sekali. Cincin yang sengaja ia beli dari hasil tabungannya sendiri.
“Mungkin memang harus menunggu…” kata Mir, mengangguk dan tersenyum lalu memasukkannya lagi ke dalam tasnya.

**

Malamnya, semua ikut makan malam bersama di meja makan. Ada Hyemin juga, dia sedang membantu Taeyeon Omma menyiapkan segala macam American Food. Haerin yang baru turun dari lantai atas mengikat rambutnya ke belakang dan menatap semuanya yang ada di situ. Kyuhyun tampak tenang-tenang saja dengan gitar barunya, hadiah dari Yoochun Appa. Yoochun Appa juga sibuk menonton TV yang menyiarkan berita.
“Ya~ Haerin~ah, Mir tidak mau keluar tuh.” Kata Hyemin. Taeyeon Omma hanya bergidik.
“Wae?” tanya Haerin bingung. “Ngambek karena kau benar-benar akan pergi.” Kata Kyuhyun.
“Ne? Jongmal? Dia masih marah padaku? aaahh~ sekarang aku benar-benar merasa bersalah dengannya.” Kata Haerin.
Haerin melangkah cepat-cepat ke kamar Mir yang sangat berisik dengan musik-musik Punk Rock yang memekakkan telinga. Haerin mengetuk pintu agak keras agar Mir mendengarnya. “Oppa~ annyeong? Mir Oppa~” panggil Haerin. Ia menatap miris pintu kamar Mir yang banyak sekali tempelan-tempelan sticker band punk rock kesukaannya.
“OPPA~ OPEN PLEASE… I THINK WE SHOULD HAVE A TALK…” kata Haerin penuh penekanan.
“Kayo~ aku sedang ingin sendiri saja.”
“Ya, Oppa apa kau marah karena aku akan pulang ke Korea?” tanya Haerin.
“Ne~” jawab Mir membuat Haerin tersentak.
“Oppa, jincha~ kita bisa bertemu setelah aku kembali dari Korea, Oppa.”
Sepi. Kamar itu mendadak sepi. Mir membuka pintu dan melewati Haerin begitu saja lalu mengambil jumpernya dan menyambar kunci mobil yang tergeletak di meja dekat TV. “Mir, mau kemana? Sudah malam begini…” tanya Taeyeon Omma. Kyuhyun mencegah Ommanya untuk menyusul Mir yang sekarang sudah berjalan keluar.
“Ya~ oppa! Aku akan berangkat besok.” Seru Haerin lalu mencibir dan ikut membantu Hyemin dan Taeyeon Omma bekerja di dapur. Yoochun Appa Cuma menggeleng melihat kelakuan Mir. “ya~ Kyu Oppa… kau masuk kuliah lebih dulu daripada Mir, tetapi kenapa Mir lulus duluan?” tanya Hyemin.
Kyuhyun tertawa, “Kita beda jurusan, Hyeminnie.” Jawab Kyuhyun. Hyemin mengangguk-angguk.

**

Mir memacu mobilnya kencang menembus Los Angeles malam yang dingin itu. Sesekali Mir melirik Hpnya, mungkin Amelia tiba-tiba menelponnya. Ia tidak ingin melewatkan satu panggilanpun darinya. Kotak cincin itu sekarang sedang ia genggam. Ia memperhatikannya sekilas lalu memasukkan kembali ke dalam sakunya.
HPnya berdering nyaring di sebelahnya. Yuriko. Agak kecewa, Mir mengangkatnya.
“Mwo?” ia bergumam sebagai sapaan.
“Aku menyesal sekali memberitaukan ini padamu. Tapi, aku tidak punya pilihan selain memberitahumu sesuatu, Mir. Come please. Aku di tempat biasa.” Kata Yuriko dengan nada tidak enak. Mir mengernyit, “Ne. Jamkanmanyo…” sahut Mir lalu menutup. Ia memutar balik mobilnya dan meluncur ke café tempat biasa dia, James, dan Yuriko biasa berkumpul.
Mir sampai di café bernama Louvree dan memarkir mobilnya. Mir keluar dan mengunci mobil secara otomatis, rupanya sudah lama ia tidak pergi ke sini. Mir masuk lewat pintu samping dan mencari sosok Yuriko di suasana remang-remang.
Ia berhasil menemukan sosok Yuriko karena ia melambai-lambaikan tangannya ke arah Mir. Mir menghampirinya.
Yuriko menyuruh Mir untuk duduk. Mereka tidak duduk di indoor, entah mengapa mereka lebih suka duduk di outdoor bersatu dengan suara malam. “Wae?” tanya Mir bingung.
“Ehm, aku ingin memberitahumu bahwa Amelia memang bukan gadis yang baik untukmu, Mir.”
“Aaahhss, kau selalu bilang begitu kan? aku sudah 2 tahun bersamanya, Yuriko~chan.”
“Araseo araseo. Bagaimana jika aku benar kalau Amelia bukan yang terbaik untukmu?” tanya Yuriko.
“Tunjukkan dulu kalau ia benar-benar tidak baik untukku…”
Yuriko mengangguk lalu menunjuk ruangan indoor yang hanya dibatasi dengan pintu kaca. Ada live performance malam ini. Mir memicingkan matanya untuk melihat lebih jelas. Di situ baru terlihat jelas, pacarnya, Amelia sedang berada di situ. Di dalam ruangan indoor itu.
“Wait, the man who’s sitting next to her… who is he?” tanya Mir.
“Ah, I just wanna ask that. May be you know? I don’t really know. Mereka dari tadi berdansa dan bergandengan tangan. Lumayan lama.” Kata Yuriko pelan, ia menatap ekspresi Mir yang berubah garang dan ganas perlahan. Tetapi Mir tidak berbicara hanya memperhatikan Amelia dengan entah siapa itu.
“Kau mau menghampiri mereka?” tanya Yuriko.
“Molla~ menurutmu apa yang harus kulakukan? Rasanya aku ingin mati saja…” kata Mir putus asa dan menunduk.
“Mireu, aku ikut sedih. Kalau memang itu benar-benar. Ehm- selingkuhannya, apa yang akan kau lakukan?”
MC malam itu naik ke atas panggung kecil setelah musik berhenti. Walaupun mereka berada diluar, mereka masih dapat mendengar apa yang terjadi di dalam. Mir dan Yuriko menunggu. Sepertinya akan ada sesuatu yang special untuk malam ini. Karena dekorasi untuk malam ini serba pink dan sangat manis.
“Ok, café ini malam ini memang sengaja di sewa oleh seseorang untuk seseorang yang sangat special baginya.” Sahut MC itu. Mir tercengang, ini pasti bukan bahasa yang umum dipakai. Ini bahasa kelahirannya, bahasa korea yang sedang dia bicarakan. Mir semakin heran. Apa mungkin yang menyewa ini adalah orang korea sama sepertinya. Sama seperti Mir, Yuriko bertanya padanya.
“Kau merasa ini seperti bahasa yang sekarang sedang ku gunakan?” tanya Yuriko.
“Ne, aku juga mau bilang begitu.”
“Hmm… aku semakin was-was.” Jawab Yuriko bergumam, Mir tidak mendengarnya. Ia kembali memfokuskan dirinya pada orang di depan matanya. Amelia dan orang asing itu yang sedang bersama sekarang. MC berbicara lagi, tapi Mir bahkan tidak peduli dengan apa yang akan dikatakan MC itu. Ia seperti tidak bisa mencerna dengan baik. Tau-tau cowok di sebelah Amelia tadi berdiri dan mengajak Amelia untuk berdiri. Mir menggertak dan mendengus kasar.
Dilihatnya, cowok itu menggandeng Amelia ke depan panggung. Diam sebentar kemudian mencium kening Amelia. Membuat semuanya menjadi kabur. Tentu saja, karena mata Mir sudah dipenuhi dengan air mata yang siap jatuh. Tetapi sekuat mungkin Mir menahannya. Namun tiba-tiba cowok tadi mengeluarkan sebuah benda yang sama seperti yang sekarang ada di kantong Mir. Benda yang ingin sekali ia berikan pada Amelia.
“Amelia, Would you be my fiancée?” ucap Joon lembut dan penuh karisma dalam suaranya. Amelia tersentak kaget. Pipinya yang sudah terpoles blush on semakin bersemu merah. Mir menahan napas sambil meremas kotak yang berisi cincin permata yang sudah ada di tangannya sekarang.
“Yes…” jawab Amelia malu-malu. Mir berdiri dan mendongak ke atas agar air matanya tidak jatuh. Yuriko menunduk menyesal.
“Mireu, mianhae… harusnya aku tidak perlu melakukan ini padamu…” kata Yuriko. Mir diam lalu tiba-tiba melempar kotak cincin itu ke rumput. Membiarkan cincin itu menghilang dari pandangannya. Air matanya jatuh dan mengalir deras. Ia menangis tanpa suara. ia mengasihani dirinya sendiri.
“Mir…” Yuriko memanggil.
“Wae? Apa aku tidak cukup baik untuknya? Apa aku pernah menolak segala permintaannya? Apa yang dia pikirkan? Menerima lamaran cowok brengsek bajingan itu?! AAAAAARRGGHH!! MOLLAA~” jerit Mir penuh kepedihan. Yuriko memejamkan mata dan ikut menangis. Ia juga ikut sakit melihat sahabatnya kecewa seperti itu.
“Mir, lebih baik kita tenangkan dirimu dulu.” Kata Yuriko. Mir mengangguk dan berjalan tak tentu. Yuriko membimbingnya, kalau saja outdoor itu diterangi oleh cahaya, Yuriko pasti tau kalau wajah Mir sudah berubah merah hingga nyaris meledak. Tetapi, Mir tidak melakukannya. Setidaknya ia harus mengontrol emosinya dulu.
Yuriko menawarkan diri untuk menyetir dan membawa Mir ke suatu tempat di Los Angeles yang agak sepi, di Garden City. Tidak ada banyak orang yang ke sana pada malam hari.
Mir melampiaskan diri dengan menendangi batu-batu yang ia temukan di jalan. Setelah lelah ia duduk di sebelah Yuriko dan menangis sepuasnya di bahu Yuriko. Yuriko mencoba menenangkannya walaupun itu sudah pasti sia-sia, yang Mir butuhkan saat ini bukan nasihat tetapi pendengar yang baik, dan Yuriko sudah siap untuk itu.
Mir terus menangis. Bahkan ia tidak berbicara sama sekali semenjak keluar dari café itu. Setelah malam semakin larut dan udara juga semakin dingin, Yuriko menarik Mir kembali ke mobil dan mengantarnya pulang. Baru sejenak ia menyetir dengan ditemani alunan musik classic yang indah, Mir tertidur di jok sebelahnya. Ketika ia melewati café tadi, ia memutuskan untuk berhenti dan mencari cincin Mir yang dibuangnya tadi. Yuriko dan James sama-sama tau Mir mengorbankan segalanya untuk membeli cincin itu. Cincin itu bukan barang murah.
“Sir, don’t you see my ring? It fell about 2 hours ago.” Kata Yuriko.
“Hmm, no… but I’ll try to help you find it.” Kata salah satu waiter. Pesta masih berlangsung walaupun berangsur-angsur tamu yang datang makin sepi. Yuriko mencari bersama waiter tadi di sela-sela rumput. 15 menit berlalu, akhirnya Waiter itu berjalan menghampiri Yuriko dan menyerahkan cincin yang sangat bagus itu.
“Omo, thank you so much…” kata Yuriko.
“That’s my pleasure, miss… anything~”
“Ah, no sir… thanks so much for your help. It’s very important for me. I’m leaving now.”
“Aha, yes. Take care of it. See you…”
Yuriko mengangguk lalu kembali ke mobil Mir. Sejenak ia menatap ruangan indoor itu. Mereka sedang berdansa. Ingin sekali ia melempar Amelia dengan sepatu high heelsnya sekarang juga karena membuat Mir menangis. Tetapi ia mengurungkan niatnya lalu kembali ke mobil Mir.

**

“Thanks, Yuriko. Gomawo telah mengantar Mir pulang. Sebenarnya apa yang terjadi?” tanya Kyuhyun di depan rumah, mengobrol dengan Yuriko. “Amelia. Dia menerima lamaran cowok lain. Mir melihatnya. Oh, ya… dia membuang ini tadi.” Kata Yuriko lalu menyerahkan kotak cincin itu pada Kyuhyun. Kyuhyun membukanya dan tercengang kaget.
“Itu Mir yang beli. Untuk Amelia.” Imbuh Yuriko.
“Mwo?” Kyuhyun mengangguk mengerti lalu tersenyum. “Anak itu pasti sangat depresi saat ini.” Kata Kyuhyun.
“Aku dan James akan ke sini setiap hari untuk menghibur Mir. Mungkin lebih baik jika Amelia dijauhkan dari hadapan Mir.” Usul Yuriko. “Ne, Mir tadi juga sempat marah karena Haerin ingin pulang ke Korea. Jadi ini pasti merupakan pukulan berat baginya.”
“Aah, jincha? Aku pasti akan merindukannya.” Kata Yuriko.
“Apa perlu kau ku antar pulang?” Tanya Kyuhyun karena dilihatnya Yuriko sudah beranjak. Yuriko menggeleng.
“Ani. Rumahku kan ada di belakang rumah ini..” Jawabnya.
“Kalau begitu besok akan ku suruh Appaku untuk membuat jalan pintas untuk ke rumahmu.” Kata Kyuhyun sambil terkekeh. “Baiklah, aku akan pulang dulu. Sampaikan pada Mir, aku menyesal dan minta maaf padanya.”
Kyuhyun mengangguk. Ia mengantar Yuriko sampai depan pintu pagar. Setelah itu, ia menutup semua pintu dan masuk ke dalam rumah. Kyuhyun kembali mundur begitu melewati kamar Mir. Ia membuka pintunya perlahan.
Mir sedang terisak. Kyuhyun hanya dapat melihat punggung dan kepalanya yang tertunduk. Bahunya berguncang. Ia ingin menghampiri dan menenangkannya. Ia teringat dengan cincin yang diberikan oleh Yuriko tadi. Mungkin lebih baik ia menyimpan cincin itu sampai Mir benar-benar dapat melupakan Amelia. Akhirnya setelah cukup lama berdiam diri dan menatap Kyuhyun sedih ia memutuskan untuk kembali ke kamarnya.

**

Paginya, Haerin sudah bersiap-siap dengan kopernya. Semua baju ia masukkan hingga cukup ke dalam kopernya yang sekarang sudah ada dua. Ia menggeret turun kedua kopernya berkelotakan menuruni tangga.
Hyemin sudah menunggunya di bawah sambil menonton TV bersama Kyuhyun. Taeyeon omma sibuk menyiapkan sarapan untuk mereka semua. Yoochun Appa membaca koran sambil ditemani capuccino hangatnya.
“Annyeong all..” Sapa Haerin hangat.
“Annyeong!” Kata Hyemin balik menyapa. Haerin mengedarkan pandang ke seluruh ruangan mencari Mir. Kyuhyun mengerti dan menghampiri Haerin yang tampak kecewa.
“Ya, sudahlah.. Mir mungkin masih harus menenangkan diri dulu.” Ucap Kyuhyun. Haerin melengos. Tetai sejurus kemudian Mir keluar dengan ceria lalu menyapa semuanya. Terlihat matanya dibingkai dengan kacamata berframe tebal berwarna coklat.
“Morning aalll!!” Serunya dengan senyum sumringahnya.
Haerin melongo. Kyuhyun juga. Semua yang ada di ruangan itu tercengang dengan tampilan baru Mir itu. Mir memeluk Haerin erat sambil berputar-putar.
“Kau tidak marah denganku Oppa?” Tanya Haerin ragu.
“Aniyooo.. Untuk apa aku marah? Nanti aku akan menyusulmu ke korea. Haah.. Kau pasti tidak bisa melihat wisuda kelulusanku.” Kata Mir. Kyuhyun memperhatikan baik-baik mata Mir. Dibawahnya memang tampak kantong mata berwarna kehitaman. Sekarang Kyuhyun tau mengapa ia memakai kaca mata berframe super tebal itu. Rupanya untuk menyamarkan lingkaran hitamnya itu.
“Ne, mian Oppa. Tapi aku akan menelponmu..” Kata Haerin.
“Nice!! Ayoo, kalian sudah siap untuk berangkat? Aku akan mengantar kalian ke airport.” Seru Mir.
“Setelah breakfast, Mir..” Ralat Taeyeon Omma.
“Ne, setelah breakfast!” Ulang Mir. Wajahnya bersemu merah.

Hari itu hanya Mir dan Kyuhyun yang mengantar Haerin dan Hyemin ke airport. Appa dan Omma mereka sangat sibuk sehingga tidak dapat mengantar mereka.
Kyuhyun yang menyetir. Mir di sebelahnya menatap ke arah jendela. Haerin dan Hyemin bersenandung di belakang. Wajah mereka tampak ceria sekali. Kyuhyun tersenyum melihat mereka lewat kaca spionnya. Lalu Kyuhyun melirik Mir yang diam saja dengan headphone putih di telinganya. Dari pantulan kaca Kyuhyun dapat melihat jelas Mir menangis walaupun diam. Tidak seperti tadi malam.
Kyuhyun menepuk bahu Mir pelan. Mir tidak menanggapi.
Membutuhkan waktu sekitar satu jam untuk pergi ke Airport. Setelah mereka tiba, Kyuhyun segera membantu Haerin dan Hyemin mengeluarkan tas-tas koper mereka.
“Hhhuaaahh.. Aku akan sangat merindukan kaliaann!!” Seru Mir ceria kembali. Haerin menatap Mir bingung. Tetapi Kyuhyun berhasil mengalihkan perhatian Haerin ke hal lain. Mereka masuk ke dalam. Kurang lebih 10 menit lagi pesawat akan take off. Haerin memeluk Kyuhyun erat-erat.
“Have a nice trip. Haerin-ah..” Kata Kyuhyun.
“Ne, oppa. Thanks..” Sahutnya. Hyemin juga memeluk Kyuhyun. Lalu Haerin membiarkan Hyemin memeluk Mir lebih dulu baru dirinya.
“Haerin-ah.. Doakan aku lulus ya..” Kata Mir dengan nada nakal.
“Sure oppa!! Ya, jangan lupa menyusul kami ya…”
“Pasti. Tepat sehari setelah aku lulus ya..” Kata Mir lalu mengecup kening Haerin dengan sayang.
“Bye oppa..” Kata mereka berdua bersamaan lalu berbalik dan menghilang. Mir melengos lalu melepas kacamatanya. Dan Kyuhyun baru menyadari betapa bengkaknya mata Mir. Mir hendak terisak kembali, Kyuhyun mengajaknya kembali ke dalam mobil.
Barulah disana ia menangis lagi. Kyuhyun menghentikan mobilnya di pinggir jalan. Pemandangannya sangat bagus sebenarnya tapi tidak untuk suasana hati Mir saat ini.
“Apa kau benar-benar merasa kehilangan?” Tanya Kyuhyun.
“Mwo?”
“Aku sudah tau dari Yuriko. Tadi malam dia cerita padaku.”
“Hyung.. Aku merasa sudah tidak ada gunanya aku hidup..”
“Ya~ jangan begitu. Cewek bukan hanya Amelia saja.”
“Tapi Hyung, kau tau aku dengan Amelia sudah begitu lama. Aku hendak mengajaknya bertunangan di malam kelulusanku. Tapi, ia bahkan sudah bertunangan dengan orang lain. Aku masih berstatus pacarnya, Hyung..” Kata Mir lirih.
“I know that dongsaeng.. Sudahlah, aku tadi cukup salut denganmu. Kau berpura-pura ceria di depan Haerin dan Hyemin.”
“Aku tidak ingin dia membatalkan rencananya untuk pulang ke Seoul. Aku tau dia ingin sekali bertemu Leeteuk.” Jawab Mir.
“Ne, lalu apa yang akan kau lakukan?” Tanya Kyuhyun.
Mir menghela nafas panjang lalu menghapus sisa air matanya. Menatap lurus ke depan kemudian mengangguk mantap.
“Aku akan berjuang untuk tes kelulusanku..” Kata Mir membuat Kyuhyun terharu. Kyuhyun menepuk bahu Mir. “Geurae, nanti kalau kita ke Korea, kita akan cari pengganti Amelia bersama-sama..” Ucap Kyuhyun.
“OKAY!!! HWAITING ..!!!!” Seru Mir lantang.
“NE! HWAITING..!!!”
Kyuhyun dan Mir tersenyum lalu menyetel musik keras-keras. Kyuhyun melajukan mobilnya ke jalanan lurus ke depan, Mir sudah memutuskan, ia akan mengejar masa depannya. Begitu juga dengan Amelia yang mungkinsudah bahagia dengan Joon.

THE END

Kyurin_Cula

2 responses

13 01 2011
shinhyunrin

anyeong ff’a bagus author . .

salut aku ma MIR . .

29 01 2011
KOREANSTAR

waaah, heheh makasih :’)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: