Kerajaan Rubah Putih & Musang Lancip part 13

Kerajaan Musang Lancip,,

Ho Dong akhirnya membawa Hyemin kembali ke istananya, Musang Lancip. Hyemin sudah menerima bahwa dirinya tidak bisa melihat lagi. Ia bahkan tidak mengungkit-ungkit soal Ryeowook lagi. Yang membuat Ho Dong lega adalah Hyemin tidak menyalahkan Ho Dong soal kebutaannya ini. Sebaliknya, ia malah merasa bersalah sekali karena tidak hati-hati.
“Penasihat Ho Dong, kau berjanji tidak akan memberi tahu Omma dan Appa tentang yang sebenarnya kan?” tanya Hyemin ketika sampai di depan istana. Ho Dong mengusap air matanya yang baru saja mengalir.
“Nee Nona Muda Hyemin. Tapi apa Nona Muda yakin akan memberi tahu Ratu dan Raja sendirian?” tanya Ho Dong. Hyemin mengangguk.
Hyemin dituntun oleh Ho Dong menuju ke ruang besar keluarga Musang Lancip. Tetapi di koridor, Ratu Taeyeon yang sedang sibuk merajut sebuah syal mendapati mereka berdua. Taeyeon mencegat mereka.
“Hyemin, kau dari mana saja? Kami kawatir sekali mencarimu. Ommamu sampai tidak tidur semalaman…” kata Omma Taeyeon lalu memeluk Hyemin. Hyemin hanya diam saja. Tatapannya kosong karena ia tidak bisa melihat apapun kecuali kegelapan.
Omma Taeyeon mengernyit karena tatapan kosong Hyemin. “Hyemin? Ya~ kau sedang melihat apa sih?” tanya Omma Taeyeon sambil mengibas ngibaskan tangannya di depan muka Hyemin. Tetapi Hyemin tidak bergeming. Omma Taeyeon mulai curiga ada yang salah dengan Hyemin. Ia kembali mengagetkan Hyemin.
“Hyemin~ah?”
“Omma… Mianhae…” ucap Hyemin lalu berlutut di kaki Omma Taeyeon.
“Wae? Bangunlah, Hye…” kata Omma Taeyeon, tetapi Hyemin tetap berlutut.
“Mianhae, aku tidak dapat melihat apapun, Omma…” kata Hyemin lalu mengeluarkan air matanya. Taeyeon membekap mulutnya lalu ikut berlutut di depan anaknya. “Jincha? Hyemin~ah? WAE????”
“WAE? Kau buta???”
“Ye Omma. Aku pergi ke dunia manusia waktu itu dan waktu itu aku tidak melihat ada Mobil dari arah kiriku. Mobil itu menabrakku dan pecahan kacanya mengenai mataku hingga aku tidak dapat melihat lagi…” cerita Hyemin. Taeyeon kembali memandang anak Tiffany yang nasibnya malang sekali. Taeyeon sesenggukan melihat Hyemin.
“Apa yang harus ku katakan pada Ommamu, Hye?”
“Molla~ aku juga tidak tau. Aku tidak ingin membuatnya sedih, Omma Taeyeon…”
“Tapi Ommamu pasti sangat sedih melihatmu seperti ini…”
“Hyemin?” tiba-tiba Omma Tiffany datang dari arah yang berlawanan dan melihat Hyemin serta Taeyeon terduduk di lantai dengan air mata berlinangan. Omma Tiffany menghampiri mereka berdua.
“Ya~ ada apa ini? Hye sayang, kapan kau tiba? Omma cemas sekali padamu…” kata Omma Tiffany lalu memeluk Hyemin dari belakang. Taeyeon menghela nafas lalu bersiap membuka mulut untuk menceritakan yang sebenarnya pada Tiffany.
“Tiffa, Hyemin anakmu buta…” gumam Taeyeon lirih.
“Apa? Apa yang kau katakan tadi?” tanya Omma Tiffany bingung.
“Omma, aku buta…” sahut Hyemin. Ho Dong menunduk ia merasa sangat bersalah.
“MWO? BUTA? BLIND?” pekik Tiffany. Taeyeon mengangguk. Tiffany masih mencicit lirih. “Jin… Jin… Cha?” tanyanya lalu pingsan seketika. Taeyeon memekik histeris. Ho Dong langsung sigap membantu Ratu Tiffany yang pingsan. Hyemin bingung. Ada apa sebenarnya. Ia tidak dapat melihat apapun. Tetapi dari ekspresi yang diutarakan oleh Taeyeon, ia tau Ommanya pingsan.
Pengawal Shindong membawa Ratu Tiffany ke dalam kamar Ratu Tiffany. Raja Eunbum langsung panik melihat istrinya pingsan sedangkan yang lain terisak di pelukan Sungmin. Sungmin memandang Donghae dengan tatapan bingung ingin meminta kejelasan pada Donghae tetapi Donghae menggeleng tanda ia juga tidak tau apa-apa.
“Shindong! Ada apa ini?”
“Yang Mul, Ratu Tiffany pingsan Yang Mul…” lapor Shindong.
“WAEYO? Kenapa bisa pingsan?” tanya Raja Eunbum. Zhoumi yang baru saja datang menjawil tangan Donghae, ia juga ingin meminta kejelasan Hyungnya. Lagi-lagi Donghae hanya menggeleng. Raja Eunbum mendekati Ratu Taeyeon yang masih terisak.
“Yeobo, ada apa ini sebenarnya? Mengapa Tiffany pingsan dan mengapa kau terisak seperti itu?” tanyanya gagah. Tangis Taeyeon makin menjadi. Walaupun Hyemin bukan anak kandungnya, tetapi Taeyeon dan Hyemin sangat cocok jadi wajarlah jika Taeyeon sedih sekali ketika tau Hyemin buta.
“Omona,… Hiks… Yeobo, Anakmu Hye Hiks… Min… hukss… Buta, yeobo…” kata Taeyeon sesenggukan.
“Mm…”
“…”
“Mm, mwo? Coba ulangi, yeobo. Yang jelas sedikit ya…” pinta Raja Eunbum.
“HYEMIN BUTA YEOBO! HWAAAAA….” Jeritnya histeris. Raja Eunbum menganga. Ia masih tidak percaya lalu segera menepis lengan Zhoumi yang berdiri di dekat pintu dengan kasar karena menghalangi jalannya. Raja Eunbum segera pergi mencari Hyemin. Ho Dong menunjuk ruang keluarga yang sepi. Raja Eunbum langsung masuk dan menemui Hyemin.
Benar saja, Hyemin berada di sana sedang duduk manis. Bagi Eunbum, tidak ada yang salah dengan anaknya. Ia tampak sedang memperhatikan ke jendela ruang keluarga yang besar dan mewah dimana sinar mentari dapat menembusnya. Tetapi, bagi Hyemin sejujurnya ia hanya melihat warna hitam. Walaupun matahari cerah bersinar, baginya siang hari tetaplah malam hari.
“Hyemin…” panggil Appa Eunbum hati-hati tidak ingin mengagetkan Hyemin.
“Ne? Appa?”
“Hyemin, coba kau ke sini sebentar…” suruh Appa Eunbum. Hyemin berdiri lalu berjalan menuju Appanya. Ia mencoba untuk mencari dimana Appanya dengan meraba-raba sekitarnya. Raja Eunbum menutup mulutnya. Ia masih tidak percaya anaknya buta.
“Hyemin, Appa di sini…”
“Appa, jangan jauh-jauh…”
“Wae? Kau tidak bisa melihat?”
“Appa, Appa tau darimana aku tidak bisa melihat…?” tanya Hyemin.
Raja Eunbum menggigit bibir bawahnya. “Sayang, sebenarnya ada apa ini sampai kau tidak bisa melihat seperti ini?” tanya Appa Eunbum mencoba sabar dan ikhlas menerima kenyataan.
“Appa, ini semua karena kecerobohanku. Ini semua di luar kendaliku. Tiba-tiba saja aku tidak bisa melihat, kata dokter yang menanganiku mataku terkena serpihan kaca… Appa, mianhae atas kecerobohanku ini…” kata Hyemin lalu menunduk. Raja Eunbum mendekati Hyemin lalu memeluk anaknya.
“Anakku, Appa sangat menyayangimu… sudahlah, yang berlalu biar saja berlalu. Tidak usah di sesali ya, mulai dari awal lagi ya. Jika kau perlu apa-apa kami semua selalu ada untukmu…”
“Appa, sungguh aku tidak mau kalian terbebani olehku… biarlah aku berusaha sendiri karena kecerobohanku.” Kata Hyemin sambil mengusap wajahnya yang basah karena air mata yang terus mengalir. Raja Eunbum membantunya. Tetapi Hyemin menepisnya halus.
“Hyemin, ayo kita jenguk Ommamu…”
“Nee, Appa…”

>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>

Seoul, Siang Hari …

“Kyuuu…”
Kyuhyun mendongak. Suara itu berasal dari lantai dua. Suara yang cempreng dan sangat ia hafal sekali. Minji. Sahabat yang akan terus akan menjadi sahabatnya.
“Wae?”
“Tunggu aku! Kau ini bagaimana sih? Masa aku ditinggal?” omel Minji lalu segera menyusul Kyuhyun ke bawah. Di ujung tangga, Kyuhyun sudah menunggu. “Kau bilang tadi masih akan mengerjakan sesuatu…”
“Ya, kupikir akan memakan waktu yang lama. Ternyata hanya di suruh menghapus papan tulis…”
“Huuahh… ayo kita pulang…”
“Ayo.”
“Kau tidak pulang bersama Kibum?” tanya Kyuhyun, menyadari ketidak hadiran Kibum.
“Wae? Apa harus bersama Kibum? Rumahku kan searah dengan rumahmu, jadi aku pulang bersamamu…”
“Hmm, baiklah bisa kuterima…”
Minji tersenyum riang lalu menggandeng tangan Kyuhyun dan mengayunkannya seirama dengan langkah kakinya. Kyuhyun hanya bisa mengikuti dan tersenyum bingung. “Kyuhyunnie, aku senang sekali sudah kembali ke kehidupanku yang normal…”
“Memangnya kehidupanmu yang biasanya tidak normal apa??”
“Aneyooo… sangat membosankan. Huuuuhhhh…”
“Kyuhyun~” panggil seseorang. Keduanya menoleh ke sumber suara. Ternyata Kibum.
“Kyuhyunnie, kau langsung pulang?” tanya Kibum pada Kyuhyun. Kyuhyun langsung melepas gandengan Minji dan mengangguk. “Ne. kau sendiri, Hyung?”
“Aku akan ke rumah Hankyung dulu. Oh iya, Kyuhyunnie… aku titipkan dia padamu ya. Kalau dia nakal jitak saja kepalanya.” Kata Kibum lalu melirik Minji.
“Ya~”
“Oh, baiklah Hyung. Haekyu akan senang dapat mainan baru sepertinya.” Jawab Kyuhyun. Kibum mengangguk. Lalu beralih pada Minji. Kyuhyun memilih untuk berjalan lebih dulu meninggalkan mereka berdua.
“Ya, kau tidak papa?” tanya Kibum pada Minji lalu memeriksa keningnya tetapi Minji langsung menepisnya.
“Ani. Aku baik-baik saja. Eer, aku pulang dulu, ya… tugasku banyak sekali. Bye.” Sahut Minji lalu berbalik dan segera menyusul Kyuhyun. Kibum hanya diam dan menatap Minji sampai ia benar-benar hilang dalam pandangannya.

>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>

“Aku pulang…” sahut Kyuhyun di depan pintu lalu masuk ke dalam rumahnya. Haekyu mengintip dari balik tangga lalu tersenyum senang melihat Kyuhyun yg sudah duduk manis di sofa.
“Kau sudah pulang? Lama sekali, aku sudah bosan menunggumu seharian ini…” kata Haekyu lalu menghampiri Kyuhyun. “Ahaha. Kau juga sudah pulang? Aku baru akan menjemputmu di rumah Kibum tadi.”
“Huuaah, gak perlu sebenarnya, Kyu sayang. Karena hari ini Bibi Hwang yg datang ke sini. Lihatlah apa yg baru saja kubuat…” kata Haekyu lalu menggeret Kyuhyun masuk ke dalam ruang makan. Haekyu membuka penutup makanan yg ada di atas meja dan TARA!
“Kau pasti lapar sekali kan? Ini sudah ku masakkan sesuatu untukmu. Hari ini aku belajar banyak dari Bibi Hwang…” kata Haekyu sambil tersenyum penuh kebahagiaan. Kyuhyun juga ikut tersenyum melihatnya.
“Wew. Banyak sekali yg kau masak, Hae.” Kata Kyuhyun. Haekyu menatap makanan yg banyak sekali lalu ia mengangguk setuju dengan calon suaminya. “Aah, ku kira kau ingin mencicipi debut masakanku… rupanya aku memasaknya terlalu banyak yaa…”
“Ani, ani… bukan begitu, Hae. Kita hanya tinggal berdua dan kau memasak ini cukup banyak. Kau yakin kau akan menghabiskannya?”
“Errgh, tidak juga siih. Lalu bagaimana? Sudah terlanjur nih.”
“Begini saja, bagaimana jika yg lain ku undang ke sini untuk makan malam bersama? Daripada makanan ini tidak habis dan terbuang percuma. Benar kan?”
“aa, bener juga yaaa, Kyu. Kau ajak Minji ke sini ya nanti malam. Biar aku yang menelpon Kibum,”
“Baiklah.”

..

“Makan malam di rumahmu begitu?” tanya Minji dari balik pagar rumahnya. Kyuhyun mengangguk. “Baiklah, tetapi aku datang setelah PRku selesai ya. Oh iya, aku juga nanti akan menelpon SangEun Unnie agar datang juga…”
“Ya, kulihat akhir-akhir ini hubunganmu dan Kibum agak renggang ya? Waktu istirahat tadi kau bahkan tidak menemui Kibum. Bahkan kau tidak pulang bersamanya tadi.”
“Aneyo! Siapa yang bilang? Memangnya orang pacaran harus selalu bersama apa?” tanya Minji.
“Ya gak juga. Tapi aneh sekali rasanya. Kalian tidak sedang bertengkar kan?”
Minji terdiam. Sejenak ia menghela nafas. Ia bingung bagaimana menceritakannya pada Kyuhyun.
“Eeergh. Tidak juga. Aku hanya ingin fokus pada sekolahku saat ini. Dan kuharap dia mengerti.”
“liar! Aku tidak percaya padamu.”
“Kalau begitu kau harus percaya padaku”
“Tidak akan.”
“Harus!”
“Nggak!”
“Harus!! Harus! Pokoknya harus!”
“Nggak! Ya, kau ini bagaimana? Kau tidak mungkin bisa membohongiku, eh. Aku sudah mengenalmu dari kecil. Jadi kau tidak bisa membohongiku, Minji~ah.”
“Hhhaaauuhh, baiklah baiklah… aku memang tidak bisa berbohong padamu seumur hidupku.” Kata Minji lalu membuka pagar dan duduk di bawah pohon yg tertanam di depan rumah mereka.
“Lalu apa yg mau kau ceritakan?”
“Sohee Unnie yang terus mengancamku.” Kata Minji memulai.
“Mwo? Sohee? Aku sudah tau itu. tidak ada yg dapat melawan Sohee Noona. Selain keras kepala juga sifatnya yg sangat aku benci sekali. Kibum memang cinta pertamanya. Ia mengenal Kibum sudah lama. Bahkan mereka sudah saling kenal sejak TK.”
“Masa?”
“Ne. tapi kau jangan marah ya. Kibum sebelumnya juga mencintai Sohee. Tetapi, setelah tau Sohee hanya mempermainkannya, Kibum marah dan meninggalkan Sohee. Tetapi, sialnya mereka bertemu lagi di Nadam. Begitulah, jadi kau jangan menghiraukan si licik Sohee itu ya…” cerita Kyu.
“Tapi tadi aku melihat mereka berdua di laboraturium Biologi. Entahlah, aku hanya merasa seharusnya Kibum tidak dekat-dekat dengan Sohee lagi. Selain itu…” lalu Minji membisikkan sesuatu ke telinga Kyuhyun.
“HOH?! Ini kelewatan. Masa berani-beraninya mengancammu untuk memutuskan hubunganmu dengan Kibum? Ya, kau jangan dengarkan si nenek lampir itu! dasar psikopat!!!”
“Wew, sabarlah Kyuuu. Aku malah merasa bersalah sekali pada Sohee Unnie karena telah merebut Kibum darinya. Lalu bagaimana ini?”
“Sudahlah, jangan kau hiraukan dia. Dia itu memang licik sekali. Kalau dia memang mencintai Kibum, tidak mungkin ia mempermainkan Kibum dulu, Minji~ah. Lagipula, kalian itu kan sudah tunangan. Ada hak apa Sohee menyuruh kalian memutuskan hubungan kalian.”
“Entahlah… kurasa ia punya alasan…” kata Minji lalu menunduk dan menghela nafas sebelum ia berdiri. Minji melangkahkan kaki ke rumahnya. Kyuhyun hanya dapat menatapnya dari bawah pohon yang rindang dan sejuk itu.
“Minji~ah, jangan lupa nanti malam ya…” kata Kyuhyun sebelum Minji benar-benar masuk ke dalam rumahnya. Minji menoleh lalu mengangguk dengan semangat kemudian masuk ke dalam rumah.
Tiba-tiba Haekyu datang dari balik pagar rumah Kyuhyun dan ia berjalan perlahan menghampiri Kyuhyun yang duduk di bawah pohon. “Aku tidak mengerti jalan pikiran Kibum. Sudah bagus ia dapat cewek sebaik Minji tetap saja memilih Sohee.” Gumam Haekyu. Kyuhyun tersentak.
“Sejak kapan kau ada di sini?”
“Sejak tadi. Habisnya aku penasaran sekali dengan kalian. Hihi…”
“Lain kali kau jangan menguping lagi ya. Itu tidak baik.”
“Iya iyaa… aku kan tidak bermaksut begitu Kyu…” ucap Haekyu lirih merasa bersalah. Kyuhyun mengacak rambutnya penuh sayang. “Araseo, Jagiya… sudahlah, ayo masuk. Kita telpon yang lain untuk makan malam.”
“Mmm, rasanya Minji tidak akan datang jika ada Kibum. Anak itu masih harus menenangkan dirinya…”
“ya~ kau tau apa sih? Tidak akan terjadi apa-apa. Justru kita harus mempertemukan mereka.”
“Untuk?”
“Untuk mendamaikan mereka kembali tentunya.”
“Kau ini,”
“AHAHAA…”

>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>

Kerajaan Musang Lancip 16:27

“Sedang apa sendirian di luar begitu?” tanya Donghae.
“Eh? Oppa~ tidak sedang apa-apa…” jawab Hyemin. Donghae menghampiri Hyemin yang sedang duduk di sebuah gazebo di taman belakang istana. Sudah lama ia memerhatikan Hyemin duduk di situ. Donghae cukup prihatin dengan kecelakaan yang menimpa Hyemin dan membuat kedua matanya tidak dapat melihat.
“Ooh.” Gumam Donghae. Hyemin tersenyum.
“Mau ku temani?” tanya Donghae lagi.
“Boleh. Memangnya Oppa tidak sekolah hari ini?” tanya Hyemin.
“Guru Besar Hee Jun sedang cuti hari ini.”
Hening. Tidak ada percakapan. Donghae bingung harus berkata apa. Dan Hyemin sepertinya juga tidak tau harus memulai dari mana. Mereka begitu canggung. Padahal, Hyemin dan Donghae sangat dekat sebelumnya. Hyemin hanya menerawang jauh sedang Donghae terus menatap dongsaengnya.
“Oppa~ jangan melihatku seperti itu.” kata Hyemin. Donghae tertawa kecil lalu memalingkan mukanya.
“Siapa yang melihatmu? GR banget…”
“Walaupun aku tidak dapat melihat, tapi aku dapat merasakan tatapan itu, Oppa.”
“Aah. Baiklah, kau menang kali ini.”
“Hihi. Tak perlu merasa kasihan seperti itu. aku sudah mulai terbiasa dengan ini…” lanjut Hyemin. Donghae melengos. “Sudah lama aku ingin bertanya. Apa yang sebenarnya terjadi?”
“Tidak ada apa-apa.”
“Kau tidak percaya pada Oppamu sendiri?”
“Ara… oke aku cerita. Tapi hanya padamu.”
“Kau bisa percayakan aku…”
Hyemin tersenyum. “Beberapa hari lalu, aku pergi ke dunia manusia bersama Ryeowook. Kita berdua kencan. Banyak sekali yg kita lakukan hingga malam hari. Lalu, kami berdua duduk di sebuah taman dan Ryeowook pergi membelikanku es krim. Ketika dia hampir menyebrang jalan raya, aku yang ceroboh buru-buru menghampirinya tanpa melihat kanan dan kiri. Dan akhirnya, sebuah mobil menabrakku hingga seperti ini…” ceritanya.
Donghae diam sambil meringis membayangkan kejadian itu. “Lalu Ryeowook pergi kemana?”
“Entahlah. Semenjak saat itu aku tidak mendengar suaranya lagi. Aku tidak percaya dia pergi meninggalkanku saat aku seperti ini. Kupikir dia orang yang baik…”
Donghae menaruh kepala Hyemin di bahunya lalu mengusap kepalanya lembut. “Sudahlah, jangan dipikirkan lagi. Masih banyak yg ingin denganmu,”
“Dengan cewek buta seperti aku? Hh. Jangan menghiburku seperti itu, Oppa~”
“Tentunya cowok yg menerimamu apa adanya.”
“Bisa kuterima. Eh, Oppa~ aku ingin makan Kimchi deh…”

>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>

Henry melangkahkan kakinya keluar dari café latte tempatnya bekerja. Henry memang sudah resmi diterima kerja sebagai pelayan di café itu. walaupun kerjanya sangat merepotkan, tetapi Henry sangat menikmatinya. Ia bahkan sudah banyak mendapatkan banyak pengagum dari customer yang sering ngopi di sana karena wajah tampannya.
Henry berjalan riang sambil bersiul, tetapi ia teringat sesuatu. Ia lupa jalan menuju ke rumahnya. Tetapi ia tetap berjalan terus. Ketika melewati sebuah perempatan ia melihat seseorang sedang duduk di bangku sambil mendengarkan lagu dari Ipodnya. Kebetulah sekali, dirinya sedang tersasar, pikirnya.
“Ehm, Annyeong. Eh bisa tunjukkan jalan menuju ke alamat ini? Sepertinya aku tersasar…” kata Henry sambil menunjukkan alamat rumahnya. Cewek tadi melepas Earphonenya.
“waeyo?”
“Bisa tunjukkan jalan menuju alamat ini?”
“Oh, rumah ini… kau dari sini belok kanan trus belok kiri. Nah, nanti ada restauran cina kau belok ke kiri. Lalu jalan sedikit nanti pasti ketemu.” Jawab cewek itu. Henry mengingat-ingat kata-kata cewek itu.
“Oh, begitu ya. Kamsahamnida ya. Oh iya, siapa namamu?”
“Hyorin. Lee Hyorin.”
“Aku Henry. Sampai jumpa lagi ya…” kata Henry lalu segera beranjak dari duduknya karena sudah hampir malam dan bisa-bisa ia tambah tersasar akibat daya ingatnya yang lemah.
Hyorin memasang kembali earphonenya lalu mengambil buku di sebelahnya. Tetapi tangannya menyentuh sesuatu yang lain. Sebuah sapu tangan berwarna putih. Di sapu tangan itu Hyorin melihat sebuah nama terukir.
“Henry? Omo, sapu tangannya ketinggalan. Hh, dasar. Menambahi pekerjaanku saja.”

..

“Annyeong. Halo? Minji~ah?” panggil Henry.
“Eh, Oppa. Kenapa baru pulang sih? Aku cemas sekali padamu…” sahut Minji dari balik pintu kamarnya lalu mendekat pada Oppanya dan memeluknya. “Aih, aku ini kan sudah besar…” kata Henry lalu terkekeh.
“Biarpun begitu. Tapi kau kan baru di dunia manusia. Oh, iya… bagaimana pekerjaanmu?”
“Lancar. Banyak sekali pelanggannya hari ini. Aku sampai kewalahan sendiri.” Jawa Henry.
“Baguslah. Yasudah, mandi sono. Bau bangeet…”
“Ya~ ini harum tau. Daripada bau kuda-kuda Daddy. Urgh…”
“Sama saja. Cepatlah, setelah ini kita makan di rumah Kyu. Mereka mengundang kita makan malam…”
Henry mengangguk dan segera masuk ke kamarnya untuk mandi. “Lalalalaaa…”

Selesai mandi, Henry dan Minji pergi ke rumah Kyuhyun untuk makan malam. Ternyata sudah ramai. Ada SangEun, Hankyung dan juga Kibum. Minji segera memalingkan mukanya begitu melihat Kibum ia hendak pergi lagi untuk pulang ke rumahnya, tetapi Kibum sudah terlanjur Minji dan buru-buru menahannya agar tidak pergi.
“Minji~ah,”
“Oppa~ aku ada urusan,” katanya sambil berusaha melepaskan genggaman Kibum. Tetapi Kibum tetap tidak melepasnya. “Jangan menghindar lagi. Kau pikir aku tidak tau apa kalau kau menghindari aku terus. Huh.”
“Sini duduklah di sebelahku. I miss you so much…” kata Kibum lalu menarik Minji agar duduk di sebelahnya. Yang Minji baru sadar. Di sana juga ada Sohee. Tetapi Sohee disibukkan oleh Haekyu dengan menyiapkan makan malamnya.
Kibum baru akan membuka mulut ketika teriakan Sohee yang super duper keras dan memekakkan telinga berkumandang. “YAA~ MAKAN MALAMNYA SUDAH SIIAAAPPP …”
“Geez, suaranya bagai petir. Zz…” gumam Hankyung dari balik tabloid resep bulan ini.
Semuanya menghampiri meja makan dan duduk di sana. Haekyu duduk di sebelah Kyuhyun dan Henry, Hankyung dan SangEun duduk berhadapan dengan mereka. Minji duduk bersama Kibum dan Sohee yang juga duduk di sebelah Kibum tersenyum senang sekali.
“Semuanya, selamat makaann … !!” sahutnya.

..

Kibum segera menarik Minji keluar dari rumah kyuhyun dan masuk ke dalam mobilnya. Sohee sempat memberontak tetapi atas bantuan Kyuhyun dan Hankyung Kibum berhasil mengajak Minji keluar dan hanya berdua saja.
Kibum menyetir dalam diam. Juga Minji yang diam seribu bahasa dengan perasaan campur aduk dan sejuta pertanyaan di dalam kepalanya. Kibum bahkan tidak melirik Minji sedikitpun. Minji hanya dapat melengos dan pasrah hendak dibawa Kibum kemana.
Kibum berhenti di sebuah tempat yang sangat Minji kenal. Namsan Tower. Tempat dimana dulu Kibum melamarnya. Kibum berjalan mendahului Minji. Minji tau, ia harus mengikuti Kibum ke atas. Akhirnya, mereka tiba di atas. Tempat itu tidak seramai biasanya. Hanya ada beberapa pasang kekasih yang sedang berkencan di sana. Kibum duduk di bangku. Rambut coklatnya berkibar terkena angin malam yang sangat menusuk. Minji perlahan duduk di sebelahnya lalu melepas mantelnya dan memakaikannya pada kibum.
Kibum terperangah lalu melepas kembali mantel itu. “Kenapa kau berikan itu padaku?” tanya Kibum.
“Kau kan masih sakit.” Jawab Minji lalu memakaikan kembali.
“Memangnya kau peduli?”
“Tentu saja aku peduli.”
“Lalu kenapa kau menghindar dariku tadi di sekolah?” tanya Kibum.
“Itu… eh, karena aku banyak tugas. Jadi aku tidak punya banyak waktu untuk kelayapan.”
“Kalau begitu namanya kau tidak peduli…” sahut Kibum lalu cemberut. “Ya~ aku peduli denganmu.”
“Kau cemburu kan dengan Sohee?”
“Mwo?”
“Kau cemburu kan ??? sudahlah bilang saja kalau kau cemburu dengannya.” Goda Kibum.
“Anya!”
“Dengar ya, Minji. Aku dan Sohee tidak ada apa-apa. Aku hanya mencintaimu…” kata Kibum lalu ia melirik Minji yang duduk di pojok sambil menekuk mukanya. Perlahan Kibum bergeser ke sebelahnya. Dan langsung merengkuh Minji dalam pelukannya.
“Apapun yang dikatakan Sohee padamu, please jangan kau dengarkan.”
“Sohee tidak mengatakan apapun padaku…” kata Minji. Kibum mengacak rambut Minji.
“Kau pikir aku tidak orang kepercayaan untuk menjagamu?” tanya Kibum sambil menatap dalam mata Minji. Kibum melengos. “Kyuhyun yang cerita semuanya padaku…”
Minji manyun. “Sudahlah, jangan menyalahkan Kyuhyun. Aku yang memaksanya berbicara padaku tadi. Minji~ah, kita ini kan sudah tunangan, bentar lagi juga kita akan menikah…”
“Lalu apa hubungannya ??”
“Jelas berhubungan! Masa hanya karena Sohee saja kau menghindar? Kau sendiri kan sudah tau kalau aku mencintaimu. Lalu untuk apa kau pedulikan si Sohee itu?” sahut Kibum tajam.
Minji menunduk. Kibum melepaskan rengkuhannya lalu ikut menunduk sambil memainkan kakinya.
“Kupikir, aku tidak ada apa-apanya dibanding Sohee Unnie. Dia cantik, super model, kaya… sedangkan aku? Apa yang bisa kubanggakan? Aku tidak cantik, bahkan aku Cuma orang biasa saja… semua orang menganggapku aneh. Kecuali, orang-orang tertentu saja yang menerimaku apa adanya…”
“Lalu aku berarti termasuk orang-orang tertentu…” sahut Kibum lalu melirik Minji.
“Ngh??”
“Aku menerimamu apa adanya. Kau tidak perlu secantik Sohee, tidak perlu menjadi super model. Bagiku kau yang paling cantik. Dan yang terpenting, kau menjadi dirimu sendiri.”
“Kibum~ah…” gumam Minji lirih.
“Oh iya, bagaimana jika liburan nanti kita pergi ke villa?”
“Aaa, villamu yang itu ya, Oppa? Boleh boleh…” angguk Minji setuju. “Kita ajak yang lain juga ya biar lebih seru…”
“Tapi tanpa Sohee…” lanjut Minji kemudian. “Iya, tanpa Sohee…” sahut Kibum sambil tersenyum.

>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>

Beberapa minggu kemudian,

“Yoboseyo?”
“Yoboseyo, dongsaeng! Ini Teuki Oppa…”
“Wae? Teuki Oppa!” pekik Minji melalui Hpnya.
“Nee. Bagaimana kabarmu saat ini?” tanya Teuki.
“Johaeyo. Oppa sendiri?”
“Oppa baik-baik saja. Oh iya, di sini juga ada Haerin. Kau ingin bicara padanya?”
“Boleh boleh…” jawab Minji. Leeteuk memberikan Hpnya pada Haerin yang saat itu sedang duduk di sebelahnya.
“Yoboseyo?”
“UNNIE! Bagaimana kabarmu, Minji~ah?” tanya Haerin. “Baik-baik saja. Unnie sendiri?”
“Unnie juga baik. Oh iya, nanti malam kami berdua akan datang ke rumahmu untuk memberikan undangan pernikahan kami. Kau ada di rumah kan?” tanya Haerin.
“Mm. Mungkin hanya ada Henhen Oppa saja tapi akan ku usahakan. Memangnya kalian akan menikah kapan?”
“2 Minggu lagi, dongsaeng!! Pastikan kau dan Kibum datang ya…”
“Aaa, cepat sekali. Iya, aku dan Kibum pasti datang. Hais, aku ingin tau berita ini lebih lanjut!”
“Maka dari itu, Unnie dan Oppamu nanti malam mau kerumah mu…”
“Baiklah, ku tunggu ya…”
“Okky Dokky…” sahut Haerin lalu menyerahkan Hpnya pada Leeteuk lagi. “Yoboseyo? Kau bisa kan, Minji?” tanya Teuki Oppa. “Iya-iya. Aku akan membatalkan semua acaraku demi kalian. Oke? Daaaa~”

“Teuki Hyung?” tanya Kibum. Minji mengangguk. “Iya, nanti malam mereka akan datang untuk memberikan undangan pernikahan mereka. Waah, aku jadi tidak sabar melihat Haerin Unnie dan Teuki Oppa memakai gaun pengantin nanti…”
“Mereka memang serasi sekali. Oh, ya? Lalu nanti malam dibatalkan?” tanya Kibum.
“Mau tak mau harus begitu, Oppa. Gwaenchana?”
“It’s okay. No problemo, Jagiyaa…”
“Ya sudah, mau kemana kita sekarang?” tanya Minji. “Kita putar balik ke rumahmu.” Kata Kibum.

>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>

Di café latte tempat Henry bekerja…
“Henry, tolong kau antar ini ke meja nomor 14 ya…” suruh Seungho sambil menunjuk ke meja yang ia maksut. Henry mengangguk senang. Hari ini ia melayani banyak sekali pelanggan dan kerjanya sudah mulai bagus. Ia bahkan dipuji oleh Bosnya.
Henry berjalan perlahan menuju meja nomor 14. “Annyeong, ini pesanannya…” katanya lalu meletakkan gelas kopi itu di depan seorang gadis yang sedang membaca buku sejenis novel dengan earphone menggantung di telinganya. Gadis itu terperangah lalu tersenyum.
“Kamsa~”
“Ya, kau yang waktu itu kan?” tanya Henry tiba-tiba karena ia merasa sangat mengenali wajah itu. Hyorin tersentak kaget lalu melepaskan earphonenya. “Eerr~ kau juga yang waktu itu kan?”
“Iya benar,”
“Oh iya, kau melupakan sesuatu…” kata Hyorin lalu merogoh kedalam tas kecilnya dan mengeluarkan sebuah sapu tangan Henry yang saat itu tertinggal. Sapu tangan itu sudah disulap menjadi lebih bersih dan rapi. Henry tertawa. “Ini punyaku?”
“Iya. Kau ceroboh sekali meninggalkan sapu tanganmu. Walaupun sapu tangan bukan sesuatu yang begitu penting, tapi kalau keterusan bisa menjadikanmu orang yang ceroboh. Ini…” kata Hyorin.
“Iya deh, Mianhamnida. Oh iya, kamsahamnida ya, Hyorin…”
“Kau ingat dengan namaku ya? Bahkan aku saja lupa dengan namamu. Mianhae…”
“Kwaenchanayo. Aku Henry. Lain kali kau harus mengingat-ingatnya ya… ya sudah, aku kembali bekerja dulu…” kata Henry. Hyorin mencegahnya, “Kau bekerja di sini?” tanya Hyorin. Henry mengangguk. “Iya, baiklah aku kedalam dulu…” kata Henry lalu membungkukkan badannya pada Hyorin dan pergi. Hyorin menggeleng bingung lalu ia menatap Henry hingga ia menghilang di balik pintu pantry.

>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>

Seperti janjinya, Leeteuk dan Haerin datang malam itu tepat pada pukul 7 malam. Haerin memakai dress hitam dengan jaket bulu-bulu warna putih. Mereka baru saja pulang dari fitting baju pengantin di butik yang direkomendasikan oleh Sang Eun, pacar Yesung.
“Annyeong…” sapa Haerin lalu memeluk Minji dan mencium pipi kanan dan kiri Minji. Leeteuk juga begitu. Lalu dilanjutkan bersalaman dengan Kibum dan Henry. Lalu kelimananya duduk di sofa di ruang tamu Minji. Haerin tampak bahagia sekali. Terlihat dari raut mukanya yang bersinar dan senyum yang tak pernah lepas dari wajahnya.
“Ini undangan untuk kalian…” seru Haerin lalu mengeluarkan sesuatu dari tasnya berbentuk sebuah gulungan perkamen dengan pita berwarna pink yang sangat lembut.
“Usahakan kau datang bawa pasangan ya, Henhen…”
“Aah, Hyung selalu begitu. Hyung kan tau aku tidak punya pasangan…” kata Henry lalu cemberut menerima undangan Hyungnya. Haerin tertawa kecil. “Eeh, jangan begitulah sama dongsaengmu sendiri Jagiya…” kata Haerin. Henry hanya tersenyum simpul.
“kalian habis darimana?”
“Kami baru saja fitting baju pengantin. SangEun yang mengantar kami tadi. Mumpung ia tidak kuliah hari ini. Ia banyak merekomendasikan hal hal yang berbau wedding pada kami.” Cerita Leeteuk.
“Pastinya. SangEun Unnie kan punya banyak kenalan yang seperti itu… Kalian akan pakai warna apa?” tanya Minji. “Untuk pemberkatannya kami akan pakai warna putih. Lalu untuk resepsinya, warna ungu. Haerin yang memilihnya.”
“Ya, Noona… kalian ini mengambil tema lelautan ya? Sampai menikah harus dengan warna biru segala…” celetuk Henry. PLETAKK!! “Heh, anak kecil… kau diam saja ya… kau ini masih terlalu kecil untuk membicarakan soal ini. Nanti kalau kau sudah waktunya, kau akan merasakannya…” ucap Leeteuk.
“Eeh, sudah-sudah…” lerai Minji.
“Lalu pernikahan kalian akan diadakan dimana?” tanya Kibum. “Rencananya permberkatan dilakukan di dunia manusia lalu untuk pestanya di istana. Keluarga Haerin banyak yang disana. Aku tidak ingin mereka berbondong-bondong datang ke dunia manusia dan membuat geger orang-orang di sini karena tidak biasa, tapi itu hanya rencana kami. Karena Omma dan Daddy minta agar pemberkatan dilakukan di istana saja sesuai adat rubah putih yang di sahkan oleh 7 dewa.” Kata Leeteuk.
“Lalu bagaimana dengan Hankyung Oppa dan Kyuhyunnie ? mereka jelas tidak bisa masuk ke dunia kita kan?”
“Itulah masalahnya. Mungkin mereka bisa mengerti…” sahut Haerin dengan muka sendu. “Sayang sekali mereka tidak dapat hadir di pestanya. Habis mau bagaimana lagi? Yang penting kan pemberkatannya…” kata Haerin.
“Benar juga, lagipula apa kata orang-orang rubah putih melihat Haekyu tiba-tiba datang ke istana kita?” kata Henry. “kalau begitu kasian Yesung Oppa ya… dia tidak bisa mengajak SangEun Unnie untuk datang ke pesta kalian nanti.”
“Aah, benar juga… kenapa tidak terpikir olehku ya? Padahal, SangEunlah yang mengurusi segalanya. Dia harus melihat kita mengenakan gaun itu. dia pasti kecewa sekali…” keluh Haerin.
“Aku tau satu cara!”

..

“Astaga, ini sungguh merubah kehidupanku…” cicit SangEun pada Haerin. “Tenanglah, dengan begitu kau jua akan mendapat restu dari orangtua Yesung juga kan?” kata Haerin lalu membantu SangEun berdiri dari tempat tidurnya. Ketika pintu terbuka, Leeteuk langsung menghampiri mereka.
“Bagaimana? Kau sudah mentransfusikan darahmu untuk SangEun?” tanya Leeteuk. Haerin mengangguk. “Aku yakin orangtuamu akan setuju dengan hubungan Yesung dan SangEun. Mereka juga bisa datang ke pesta pernikahan kita, jagi…” kata Haerin senang.
“Tenanglah, SangEun… tidak akan terjadi apa-apa. Berbahagialah, kau sudah menjadi bagian dari kami sekarang…” kata Leeteuk sambil menepuk bahu SangEun.
“ahaha… tapi apa kalian yakin dengan ini orang tua Yesung akan merestui hubunganku dengan Yesung?”
“Pasti! Kami akan membantu kalian.” Kata Haerin lalu mengajak SangEun keluar dari rumah sakit.

>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>

Saat ini semuanya sedang sibuk dengan pernikahan Leeteuk dan Haerin. Menurut adat rubah putih, seorang mempelai wanita harus dipingit selama seminggu sebelum pernikahan dan selama itu pula mempelai wanita harus mandi dengan air kembang yang diambil langsung dari pegunungan Himalaya yang sudah di jampi-jampi oleh 7 dewa. Jadi saat ini, Haerin sedang duduk di atas tempat tidurnya di istana Rubah putih dan mengalami masa pingitannya. Sedangkan Leeteuk harus menghafal isi buku married swear sebanyak 10 lembar.
Minji, SangEun, Haekyu, Kyuhyun, Henry, Hankyung, dan Kibum pergi ke butik di pusat pertokoan hendak mencari dress dan tuxedo yang akan dikenakan mereka besok di hari pernikahan Leeteuk dan Haerin.
“Omona, lihatlah… aku tampak gagah sekali seperti pria mapan ya… Orangtuaku pasti senang sekali melihatku dengan tuxedo seperti ini…” kata Hankyung di depan kaca sambil mengagumi bayangannya yang gagah dengan tuxedo hitamnya.
“Kalian semua sangat gagah dengan pakaian seperti ini. Sungguh, aku tidak berbohong…” kata SangEun yang disetujui oleh Haekyu. Haekyu sendiri sudah berdiri manis dengan maxi dress warna merah maroon dengan sebuah pita berwarna hitam melingkar di pinggangnya.
Kyuhyun menghampiri Haekyu yang terdiam di depan sebuah kaca besar. Rambut pendeknya sudah agak panjang dan dengan dressnya, Haekyu berubah bak seorang putri. “Yeppoyo…” gumam Kyuhyun dari belakang Haekyu. Haekyu tersenyum penuh arti. “Aku terlihat sangat gendut ya… terutama lenganku yang sedikit berotot…”
“Anya. Aku suka sekali dengan yang ini. Kau terlihat begitu memukau…”
“Jongmal?”
“Nee.” Jawab Kyuhyun sambil tersenyum. Minji keluar dari fitting room dengan muka kusut.
“Aaargh, kenapa aku terlihat seperti kodok sih? Oppa~ kau ini bagaimana masa warna hijau? Yang seperti ini sih membuatku kembar dengan kodok… Andweee~” pekik Minji lalu menghentak-hentakkan kakinya.
“Memangnya apa yang salah?” tanya Kibum sambil berusaha menahan tawanya karena muka Minji yang kusut serta rambutnya yang acak-acakkan. belum lagi karena Minji yang cemberut karena merasa bajunya sangat mengerikan. “HOOOHH.. Lihatlah Kibummaah~ apa apaan ini? Kau ingin aku terlihat seperti kodok? Atau malah lemper? Hooohh…” pekik Minji lalu masuk lagi ke dalam fitting room.
Kibum tersenyum dengan killer smilenya lalu segera mencari dress yang cocok untuk Minji. Lalu ia menemukan mini dress silver – tubetop. Kibum berpikir sejenak lalu segera memberikannya pada Minji.
“Nih, kau coba yang ini ya…” kata Kibum lalu menyerahkan pada Minji dari luar. Minji meraihnya dan segera mencoba. Henry terkikik di bangku tunggu masih dengan tuxedo putihnya. “Sayang sekali ya, Yesung hyung tidak dapat ikut.” Gumam Henry yang tiba-tiba merindukan Hyungnya yang super jahil itu.
“Tenanglah, dia akan menyusul nanti.” Jawab Kibum pada SangEun. Seakan dapat membaca pikiran SangEun Kibum menimpali. SangEun hanya tersenyum. “Pasti…”
Minji membuka tirai yang menutupi dirinya. Dengan malu-malu ia keluar. “Ya, bagaimana dengan yang ini?”
Kibum berdiri. Henry terperangah hingga menganga. Terutama Hankyung yang menganganya lebih parah. SangEun bahkan langsung menghampiri Minji yang terpaku di depan fitting room. “Perfect! Serasi sekali dengan tuxedo Kibum. Lihatlah…” SangEun menggeret Minji agar berdiri di sebelah Kibum.
“Lihatlah mereka berdua. Lucu sekali ya…” kata SangEun. Haekyu mengangguk. “Waaaa, joha joha nomu johaaa…” katanya sambil bertepuk tangan.
“Pilihanku yang ini tepat kan?” bisik Kibum. Mau tak mau Minji mengangguk.
“Tepat.”

..

Hari yang dinanti-nanti oleh Haerin dan Teuki datang juga. Mereka batal mengadakan pemberkatan di dunia manusia karena Daddy Siwon yang tidak mengijinkannya. Maka, Leeteuk memutuskan akan melakukan pemberkatan di dua tempat. Di dunianya dan di dunia manusia untuk kerabat-kerabatnya.
Hari itu Haerin tampak memukau dibalut dengan gaun pengantin warna putihnya yang begitu cantik. Proses pemberkatan berjalan lancar. Selama itu pula tidak ada yang berbicara. Mereka menjadi saksi cinta Leeteuk dan Haerin saat itu.
Istana telah dirubah sedemikian rupa dengan bangku-bangku panjang di sisi kanan dan kiri terus kebelakang. Minji berdiri di sebelah Kibum berbalut dengan mantel bulunya mengikuti prosesnya dengan khidmat. Bahkan Yesung dan SangEun sampai menitikkan air matanya karena terharu.
Dan tak tanggung-tanggung, Ratu Jessica menangis tersedu-sedu melihat pangeran kecilnya sekarang sudah tumbuh dewasa bahkan sudah menikah dan akan memberikan cucu untuknya. Raja Siwon di sebelahnya tampak tenang. Tapi dibalik ketenangannya, sebutir air mata mengalir dari pelupuk matanya.
Leeteuk tampak bahagia mencium bibir Haerin. Henry yang melihatnya hanya menggeleng sambil tersenyum jail. Hanya Ryeowook yang tidak menghadiri pernikahan Hyungnya. Bukan karena tidak ingin tetapi karena tidak bisa. Ryeowook harus menjalani proses trainingnya sebagai prajurit yang sejak lama menjadi impiannya. Dan Leeteuk sangat memaklumi bahkan ia sangat mendukung keputusan dongsaengnya itu.

Setelah proses pemberkatan selesai dan telah di restui oleh 7 dewa : Dewa Kesejahteraan, Dewa kesuburan, Dewa percintaan, Dewa Kemakmuran, Dewa Keharmonisan, Dewa Keutuhan, dan Dewa Momongan, Leeteuk dan Haerin sudah terlebih dahulu pergi dengan kereta kudanya.
Omma Jessica masih berada dalam pelukan Daddy Siwon dan menangis sejadi-jadinya. Banyak undangan yang memberikan selamat pada mereka. Bahkan Yesung dan SangEun yang kelelahan berdiri sekarang duduk di pojokan sambil memakan kudapan yang disediakan oleh koki istana. Yesung tampak berbicara serius dengan SangEun.
Kibum merangkul Minji dan keduanya masih terbawa emosi pernikahan yang luar biasa sakral. Omma Jessica yang sudah sedikit lebih tenang menghampiri Kibum dan Minji.
“Ya, Omma masih tidak tega melepaskanmu, Minji Sayang. Kau tau kan, Omma baru sebentar sekali bersamamu…” kata Omma Jessica. Minji terdiam. “Omma, aku dan Kibum belum mau menikah sekarang. Lagipula, aku tidak mau mendahului Oppa-Oppaku. Biarlah setelah ini Yesung Oppa yang menyusul. Lihatlah, mereka berdua cocok sekali menjadi suami istri ya…” celetuk Minji.
“Aaah, bagaimana SangEun itu bisa sampai sini? Setau Omma dia itu kan manusia??”
“Entahlah, lebih baik Omma dan Daddy berbicara pada mereka berdua… aku, Kibum, dan Henry Oppa harus bersiap-siap untuk kembali lagi ke dunia manusia. Besok kita masuk sekolah, Omma…” kata Minji.
“Aiiih, jincha? Berarti setelah ini kau pergi lagi dong?”
“Sayangnya begitu, Omma… Tapi tenang saja, nanti sewaktu pesta pernikahannya Teuki Oppa dan Haerin Unnie kami bertiga pasti datang lagi.” Kata Minji. Omma mengangguk. “Baiklaah, ya sudah… hati-hati ya. Oh iya, kau tidak mau menunggu sampai Oppamu kembali ??”
“Ani. Salam saja buat Teuki Oppa, ya, Omma…” pamit Minji lalu memeluk Ommanya. Omma Jessica membalas pelukan Minji. Kibum yang tadi berbincang bersama Henry membalikkan badan dan menghampiri calon mertuanya.
“Ya, Kibummie~ kau ingat ya pesan Omma. Jangan sampai kau sakiti anakku. Jagalah dia. Omma percaya padamu sepenuhnya. Awas sampai kau membuatnya terluka ya! Omma tidak akan segan-segan mengutukmu jadi rubah!” kata Omma Jessica dengan tampang sok garang.
“Omma, iiih… kasian Kibum dooong…” cela Minji lalu merangkul tangan Kibum. “Itu tidak mungkin terjadi. Aku pasti akan menjaganya.” Sahut Kibum.
Omma Jessica mengangguk. “Yasudah, kalian boleh pergi. Tidak usah berpamitan dengan Daddymu. Daddymu itu sedang tidak bisa diganggu. Nanti salam kalian pasti Omma sampaikan. Bye, Jagiyaaa…”
“Bye…”
Lalu Omma Jessica segera menghampiri Yesung dan SangEun yang masih berduaan di pojokan.

>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>

Di Kerajaan Musang Lancip,

“Apa? Rupanya anak rubah putih yang paling pertama sudah married yya? Kenapa bisa begitu??” tanya Raja Eunbum sambil mengelus-elus jambangnya yang berwarna sedikit kecoklatan. Tiffany yang duduk di sebelah Hyemin, anaknya tidak memberi tanggapan dan hanya membelai rambut Hyemin yang mulai panjang.
“Biar saja lah, Jagiya… Itu kabar baik kan?” timpal Taeyeon.
“Haah, berarti aku sudah kalah dengan Siwon itu.”
“Tidak juga. Kau lupa? Haekyu kan juga akan menikah sebentar lagi dengan Kyuhyun.”
“Aa, benar juga ya. Tiffany Jagiya? Kau dari tadi diam saja…” kata Eunbum mengagetkan Omma Tiffany. Tiffany gelagapan, “Wae? Iya, benar. Mereka memutuskan akan tinggal di dunia manusia, Jagiya. Karena Orang tua Kyu meminta Kyu agar meneruskan bisnis mereka. Lagipula, Kyu bilang ia tidak siap menjadi Raja.” Kata Tiffany.
“Kau sudah bertemu dengannya, Chingu?” tanya Taeyeon.
“He’eh… baru kemarin lalu aku mengunjungi mereka ke dunia manusia. Haekyu tampak sehat-sehat saja. Ia belum bisa mengunjungi kita karena Kyu masih disibukkan dengan ujian di sekolahnya. Oh, iya… Haekyu bahkan menitipkan sesuatu untukmu, Hyemin…” kata Tiffany yang tiba-tiba teringat sesuatu dan merogoh ke kantongnya.
Ia mengeluarkan sebuah kotak musik berukuran sangat mini yang jika dibuka akan mengeluarkan bunyi yang sesuai dengan perasaan si pemiliknya.
“Untuk apa Haekyu Unnie sampai repot-repot membawakan benda ini untukku segala…” gumam Hyemin sambil tersenyum. Tiffany berlinangan air mata lagi. Donghae buru-buru menghampiri Ommanya dan menghapus air matanya. Donghae bahkan membisikkan sesuatu pada Tiffany yang membuatnya mengangguk dan kembali tersenyum.
“Haekyu sangat merindukanmu, Hye. Dia tidak bisa datang maka dari itu ia menitipkan ini pada Omma untukmu. Unniemu sangat khawatir sekali sewaktu Omma cerita tentang keadaanmu saat ini. Tetapi, ia berjanji akan selalu mendoakanmu, Hye…” cerita Omma Tiffany.
Hyemin tersenyum. “Karenaku semua jadi khawatir yaa… sejujurnya, aku baik-baik saja. Jongmal.”
“Sudahlah, bagaimana jika kita membicarakan hal yang lain? Tentang rencana perdamaianmu dengan Siwon mungkin, Jagiya…” kata Taeyeon. Semuanya terperangah. “MWO??”
“Mwo? Katakan sekali lagi, Taeyeon! Jinchaaa ?!?!” pekik Tiffany.
“Suer deeehh… tanya aja tuh sama si Kunyuk…” jawab Taeyeon lalu berpaling pada suaminya. “Jagiya? Jincha?”
Raja Eunbum menggerutu tidak jelas sambil tetap mengelus jambangnya. “Mmm… He’eemmm…”
“Aaaah, gak jelas Jagiya..”
“IYAA. Puas kalian?” bentak Raja Eun yang mukanya mulai memerah.
Tiffany melompat penuh kegirangan. Taeyeon juga. Seketika mereka berdua mulai berjoget-joget tarian hawaii diiringi musik-musik ala pantai. Raja Eunbum menekuk mukanya. Sungmin, Donghae, dan Zhoumi terkikik karena tingkah Appanya yang aneh. Heechul hanya bertepuk tangan bersama Hyemin.
Tiffany duduk di sebelah Raja Eunbum. “Jagiyaa, tell me-tell me kenapa kok tiba-tiba berniat baikan??”
“Eerrr- ituu… itu karena aku mulai sadar bahwa aku lah yang selama ini salah. Dan, kurasa tidak ada gunanya kita terus-terusan bermusuhan dengan Rubah Putih. Sama sekali tidak menguntungkan…” kata Raja Eunbum.
“Baguslah kau mengerti, Jagiya. Lalu ? kapan ???????????”
“Entahlah. Aku masih bingung untuk menyusun kata-kata…”
“baiklah, nanti kita berdua akan membantumu. Lagipula, harusnya kau tidak membawa-bawa nama kami dalam urusan kalian. Kami kan tidak bersalah sama sekali… HUH” keluh Taeyeon. Tiffany mengangguk. “Nee, araseo. Aku kan sudah bilang kalau aku menyesal, Hunny…” kata Raja Eunbum.
“baiklaaahhh… hari ini akan menjadi hari dimana kita akan merencakan perdamaian dengan Rubah Putih. Yeeyy…” seru Zhoumi girang sekali. Donghae dan Sungmin saling toss karena rencana Orangtuanya untuk melakukan perdamaian dengan Rubah putih akan terlaksana. Semua itu sebenarnya berkat campur tangan dari Donghae, Sungmin, dan Zhoumi juga dibantu sedikit oleh Heechul.

>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>

Seminggu telah berjalan. Pemberkatan Leeteuk dan Haerin yang dilakukan di dunia manusia berjalan lancar walaupun hanya dihadiri oleh teman-teman dekat mereka dan tentunya orangtua Haerin dan Orang Tua Leeteuk. Semuanya berjalan lancar juga dengan acara yang digelar besar-besaran di dunia mereka. Semuanya bersuka cita merayakan pernikahan Haerin dan Leeteuk.
Dan tak terasa sudah seminggu berlalu, dan semuanya kembali berjalan normal seperti biasa. Minji, Kibum, Kyuhyun, dan Hankyung harus pergi sekolah dan Haekyu yang ikut privat dengan Bibi Hwang di rumah. Semua berjalan seperti biasa hingga musim panas yang menyengat kembali datang.
Dan ketika itu pula, Semua gempar di kagetkan oleh berita yang dibawa oleh Pengawal Kangin yang pergi ke dunia manusia seorang diri. Bahkan, Minji yang baru saja pulang sekolah dan sedang berteduh di bawah pohon kenangannya sampai hampir pingsan melihat kangin yang datang tiba-tiba dengan muka sangat kusut juga tatapan yang sangat tidak enak.
“Nona, saya diutus oleh Baginda Raja untuk membawa Nona Minji dan Tuan Muda Henry untuk pulang ke istana rubah putih karena sesuatu yang sangat mendesak.” Kata Pengawal Kangin dengan hormat.
“Waee? Sesuatu mendesak bagaimana? Ada apa memangnyaa?”
“Nona Muda, terpaksa harus saya rahasiakan dulu. Ini menurut perintah Baginda Raja, Nona…”
“Aiiisss, kenapa feelingku tidak enak yaa? Tapi, Kangin… Henry Oppa bahkan belum pulang.”
“Kalau begitu kita jemput saja, Nona. Ini sangat mendesak.”

“Ya? Ada apa ini??” tanya Kyuhyun yang mendengar ribut-ribut dari dalam rumahnya. Minji berdiri seketika lalu menggeleng. “Entahlah, tiba-tiba Daddy menyuruhku kembali.”
“Yasudah, pulanglah dulu , temui orangtuamu. Rumahmu serahkan saja pada kami…” kata Kyuhyun lalu mengedipkan sebelah matanya. Minji tersenyum. “Baiklah, aku titip rumah dulu ya. Oh iya, kalau Kibum datang bilang saja aku pergi ke duniaku. Gomawoyo, Kyuhyunnie…” kata Minji lalu membungkukkan badan dan segera menyusul Kangin.
Minji dan Kangin segera pergi ke tempat Henry bekerja dengan taxi. Selama perjalanan tak henti-hentinya
Kangin melengos seperti berusaha untuk menahan semuanya. Minji juga bertanya-tanya dalam hati. Ada apakah gerangan tiba-tiba Daddynya memanggilnya dan Henry untuk pulang.
Akhirnya setelah menempuh perjalanan sekitar 15 menit, mereka tiba di tempat kerja Henry. Hanya Minji saja yang turun. Minji takut kalau orang-orang menganggap Kangin adalah orang gila karena memakai pakaian yang seperti itu ke dunia manusia. Dan, untunglah Bos Henry sangat mengerti dan mengijinkannya untuk absen hari itu juga. Sama halnya seperti Minji, Henry juga bingung.
Taxi mereka meluncur menuju tempat dimana portal untuk menuju ke dunia mereka terletak. Minji membayar taxinya dan buru-buru menyebrangi jembatan yang memisahkan dunia mereka. Dan dalam sekejap mereka sudah tiba di dunia mereka. Istana Rubah Putih yang megah di tutupi oleh awan mendung dan langit yang suram.
Dengan dipandu Kangin, Minji dan Henry menuju Istana Rubah Putih dengan langkah cepat. Sesampainya di sana, terlihat banyak sekali orang-orang berkumpul di dalamnya.
Minji semakin bingung. Tidak mungkin orangtuanya tiba-tiba mengadakan pesta tetapi dengan suasana yang semencekam ini. Bahkan, dari pintu masuk menuju aulanya saja sudah dapat terdengar pekikan keras Omma Jessica. Minji segera menerobos kerumunan orang-orang itu dan mencari tau apa yang terjadi.

Ketika ia sudah berhasil menerobos orang-orang yang menutupi jalannya. Daddy Siwon langsung menghampirinya dan segera memeluk kedua anaknya, Minji dan Henry. Minji belum sempat melihat apapun. Ia hanya melihat sosok Ommanya menangis di pelukan Leeteuk.
Lalu ia melihat ke sekitar. Ia mulai sadar bahwa orang-orang yang ada di sana semua memakai gaun dan lain sebagainya dengan nuansa hitam. Minji mulai memberanikan diri mengintip dari balik lengan Daddynya.
Mendadak Minji terkulai lemas. Ia yakin ini tidak mungkin terjadi. Bahkan, tidak secepat ini.
“Minji~ah, Henry~ah… Hyung dan Oppa kalian Ryeowook telah pergi ke surga…” gumam Daddy Siwon dengan air mata terus mengalir di pelupuk matanya. Minji menggeleng. Mencoba meyakinkan bahwa itu semua hanyalah mimpi. Ia yakin Oppanya masih hidup. Ia tidak akan pergi meninggalkan keluarganya.
“Andwee, Daddy… itu tidak mungkin kan? Katakan padaku itu bukan Wookie Oppa…” ucap Minji lirih. Leeteuk berdiri menghampiri Minji lalu memeluknya. “dongsaeng, Ryeowook telah pergi untuk selamanya.”
“ANDWEEE~ BAGAIMANA BISAA ?! KENAPA SEMUA INI BISA TERJADI ???” Pekik Minji histeris.
“Ryeowook meninggal karena terbunuh sewaktu bertempur di medan perang, Minji. Oppa juga tidak percaya Wookie pergi. Ini sungguh terlalu cepat.”
Minji masih menangis di pelukan Leeteuk. Juga Henry yang mukanya memerah menahan tangis yang masih bisa ia tahan. Lalu setelah setiap orang memberikan ucapan bela sungkawanya, perlahan-lahan istana mulai sepi dan semua anggota keluarga serta semua penghuni di istana Rubah Putih duduk melingkari peti mati Ryeowook.
“Seandainya saja dia tidak pergi dulu… Semua akan baik-baik saja… aku tidak akan kehilangan salah satu anakku. Semua ini terlalu cepat, Wookie. Omma benar-benar merindukanmu. Bahkan kau belum bilang pada Omma bahwa kau sudah sukses… Wookie, banyak sekali yang belum Omma sampaikan padamu. Walaupun akhir-akhir ini kita belum bertemu, tapi Omma yakin kau pasti sangat menyayangi Omma dan keluargamu. Begitupula dirimu, Wookie… Wookie, Kajimaa~” ucap Omma Jessica sambil sesenggukan.
“Ryeowook, Daddy juga sangat menyesali keputusanmu untuk pergi berperang. Karena Daddy khawatir sekali padamu. Daddy takut kalau kau kenapa-napa. Daddy takut kalau kau sampai seperti ini. Tetapi, di satu sisi… Daddy bangga padamu. Kau berperang dengan nama keluargamu. Tidak ada yang dapat mengalahkan keberanianmu, Wookie. Daddy sangat bangga sekali padamu… Bahagialah di surga, Wookie. Daddy selalu mendoakanmu di sini…” kata Daddy Siwon.
“Wookie. Satu hal yang ingin ku katakan padamu. Aku bangga sekali padamu. Kau rela mengorbankan nyawamu untuk menjadi anggota militer kerajaan. Bagiku, kaulah yang terbaik. Tidak banyak yang kukatakan. Aku sudah terlalu banyak menangis… Wookie, saranghae…” ucap Leeteuk.
“Wookie. Apa kau mendengarku? Entahlah, dimanapun kau berada, kuharap kau dapat mendengarku. Mungkin, hal ini cukup terlambat mengingat kepergianmu yang sungguh mendadak ini. Wookie. Aku memang Hyung yang payah. Aku tidak seperti Teuki Hyung yang bijaksana. Bahkan, sekeras apapun aku berlatih dan bekerja itu tidak akan membuatku menjadi raja di Rubah Putih ini. Tapi, Wookie… aku ingin berterima kasih padamu karena kaulah yang membuatku memiliki semangat baru untuk lebih giat bekerja lagi. Wookie, semoga kau bahagia di surga…” Kata Yesung lalu tertawa kecil sambil melihat ke arah lain berusaha untuk menahan air matanya agar tidak keluar. Sejauh ini hanya Yesung dan Henrylah yang tidak menangis.
“Hyuuung. Molla~ aku masih shyok dengan semua ini. Tapi kalaupun ini benar-benar nyata. Yang dapat kulakukan hanya mendoakan yang terbaik untukmu. Aku juga minta maaf karena selama ini aku seriing sekali menjahili Hyung tetapi Hyung tidak pernah sekalipun marah padaku. Hyung selalu sabar dan sayang pada keluarga. Hyung Hebat. Aku ingin sekali seperti Hyung yang berani. Hyung, selamat jalan…” kata Henry lalu tersenyum pada Ryeowook yang tampak tenang.
“Oppa. Awalnya, aku sebal karena kalian memaksaku untuk tinggal di sini bersama kalian. Bersama dunia yang tidak aku kenal sama sekali. Aku sangat kesepian sekali di sini. Bahkan lebih parah daripada tinggal di California. Tetapi, kini aku mengerti apa yang membuatku merubah segala pemikiranku. Karena Wookie Oppa yang menjadi kebanggaan kami. Entahlah apa reaksi Hyemin ketika tau Oppa benar-benar meninggalkannya…”
“Untuk selama-lamanya. Oppa, walaupun baru sebentar aku mengenalmu, tetapi kita memiliki ikatan batin yang kuat. Aku bangga memiliki banyak sekali Oppa yang selalu menjagaku. Tenanglah, tugasmu di dunia ini sudah selesai. Kau harus bahagia ya di sana. Walaupun kau sudah pergi tetapi kau akan selalu menjadi Oppaku. Saranghaeyo…” kata Minji yang sekarang lebih dapat mengontrol dirinya.

..

Esoknya, adalah pemakaman Ryeowook. Semua menghadiri pemakaman itu. termasuk Kibum yang sengaja ijin untuk tidak masuk sekolah hanya demi menghadiri upacara pemakaman Ryeowook. Minji yang berada di rangkulan Kibum tampak sedikit lebih tenang setelah semalam mereka menangis terus mengenang Ryeowook.
Omma Jessica yang tidak henti-hentinya menangis hingga berkali-kali pingsan selama proses pemakaman berlangsung akhirnya di antar oleh Kangin untuk beristirahat. Raja Siwon tetap pada posisinya dan memberikan hormat terakhir pada anaknya. SangEun juga di pelukan Yesung ikut menangis.
Kibum mengeratkan pelukannya pada Minji.
“Kibum~ah, apa wookie bahagia di sana?”
“Nee. Pasti. Maka dari itu jangan menangis lagi, ya… Oppamu pasti sangat sedih jika melihatmu menangis.” Kata Kibum lalu mengacak rambut Minji.

Setelah proses pemakaman berakhir dan semuanya sudah kembali pulang ke rumah masing-masing, keluarga Rubah Putih segera berkumpul di aula untuk mendengar sepucuk surat yang ditinggalkan Ryeowook sebelum pergi ke medan perang.
Semua duduk di tempat masing-masing. Hanya satu kursi yang kosong, yaitu kursi Ryeowook. Haerin duduk di sebelah Leeteuk dan masih menangis. Begitupula SangEun. Daddy Siwon diam dan tidak banyak berkata-kata. Mereka masih dalam suasana berduka. Bahkan, Omma Jessica sampai memaksakan diri untuk ikut mendengar surat dari Ryeowook yang akan dibacakan oleh Penasihat Yoochun.
“Sebelum Tuan Muda Ryeowook pergi, dia menitipkan surat ini padaku. Mohon jangan ada yang berkomentar dulu maupun menyangga apapun yang saya bacakan.” Kata Penasihat Yoochun lalu berdeham.

Kepada semua orang yang mencintaiku,

Annyeong Haseyo,
Sebelumnya ada yang beberapa hal yang ingin kusampaikan.
Jika aku nanti tidak kembali untuk selamanya, aku mohon dengan sangat untuk tidak sedih berlarut-larut. Aku ingin kalian tetap menjalani kehidupan dengan semangat, walaupun aku sudah tidak bersama kalian lagi, kuharap semangatku selalu menyertai kalian semua.
Dan jika aku benar-benar pergi dan tidak kembali lagi untuk selamanya, aku ingin kalian memberikan mataku untuk Hwang Hyemin, gadis yang sangat kusayangi. Aku harus bertanggung jawab padanya karena telah membuatnya buta.

Untuk Omma dan Daddy yang menyayangiku…
Terima kasih telah merawat dan membimbingku selama ini. Mianhamnida, aku belum bisa membanggakan kalian berdua. Tapi aku akan berusaha membuat kalian bangga karena telah mempunyai anak seperti kami. Omma, Daddy, kalian adalah orangtua terbaik yang pernah kutemui.

Untuk Teuki Hyung…
Hyung, selamat atas pernikahanmu dengan Haerin Noona. Semoga kalian bahagia sampai maut memisahkan. Mianhamnida, aku tidak dapat melihat kalian berdua menikah sampai tiba dimana aku sudah tidak di sini lagi.

Untuk Yesungie Hyung…
Hyung, Teruslah berjuang. Cita-citamu untuk menjadi raja akan tercapai jika Hyung terus berusaha. Hyung, Hwaiting! Walaupun kau sering sekali menjahiliku, tetapi aku tidak pernah marah pada Hyung karena di satu sisi Hyung sangatlah dewasa. Hyung, aku bangga padamu…

Untuk Henry…
Henhen, Sebelum Minji datang, kau adalah dongsaeng satu-satunya yang kumiliki. Aku selalu berusaha untuk melindungimu, tapi kau yang malah melindungiku. Sudahlah, aku juga bangga padamu…

Untuk Minji…
Mianhamnida yang kesekian kalinya. Padahal aku sudah berjanji padamu untuk datang ke pernikahanmu dengan Kibum. Minji, aku tau kau adalah gadis yang pintar. Teruslah bercita-cita dan jangan larut dalam kesedihan. Aku sangat mendukungmu. Hwaiting!

Untuk semua yang mencintaiku,
Mianhamnida. Mungkin aku tidak bisa menemani kalian lebih lama lagi. Tetapi, semangatku-hatiku-jiwaku-dan senyumku selalu bersama kalian.
Kwaenchana, aku pasti akan bahagia melihat kalian dari surga. Kamsahamnida,

Ryeowook

NB : Temui Hwang Hyemin di Kerajaan Musang Lancip

Raja Siwon menundukkan kepalanya. Omma Jessica menghapus sisa airmatanya yang masih mengalir. Lalu Penasihat Yoochun menutup surat itu lalu memasukkan kembali ke dalam amplopnya. Kemudian ia terdiam karena semua orang tampaknya masih sedikit terguncang dengan surat peninggalan Ryeowook.
Omma mengangkat kepalanya.
“Yoochun~ah… tadi kau menyebutkan bahwa Wookie akan memberikan matanya pada Hyemin?”
“Nee, Baginda Ratu…”
“Wae?”
“Begini, Baginda Ratu… beberapa waktu lalu sebelum Tuan Muda Ryeowook pergi, ia menemui Hwang Hyemin anak dari Kerajaan Musang Lancip untuk berkencan. Tetapi di tengah-tengah kencan itu, Tuan Muda Ryeowook pergi membeli es krim untuk Nona Hyemin. Lalu ketika kembali dari membeli eskrim, Nona Hyemin menyusulnya tetapi na’asnya dia tertabrak oleh mobil dan membuat kedua matanya buta.”
“Omonaa… lalu?” tanya Omma Jessica.
“Lalu Tuan Muda Ryeowook merasa bersalah dan akan melakukan apa saja untuk membuat Nona Hyemin sembuh. Bahkan jika harus mengorbankan dirinya sekalipun. Tuan Muda Ryeowook berpesan pada saya untuk memberikan kedua kornea matanya untuk Hyemin, jika ia tidak selamat dalam perang.” Jawab Yoochun. Minji membekap mulutnya. Ia tidak menyangka Oppanya akan bertindak senekat itu.
“Baiklah, kalau memang itu pesan Wookie kita harus segera berikan kornea matanya untuk anak Musang Lancip itu. kau sudah menyimpannya kan, Yoochun?” tanya Raja Siwon. Penasihat Yoochun mengangguk.
“Besok, kita akan ke Kerajaan Musang Lancip untuk memberikan kornea Wookie sebagai penghormatan terakhirnya… tapi, apakah si Hyemin itu sudah tau bahwa Wookie telah~”
“Belum, Baginda. Tuan Muda Ryeowook berpesan agar Nona Hyemin jangan sampai tau sebelum kornea itu sampai ke matanya dan Nona Hyemin dapat melihat kembali seperti semula…” jawab yoochun.
“Begitu. Baiklah…”
“Jagiya, aku bangga sekali dengan anak kita…” kata Omma Jessica kemudian pada suaminya.

>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>.

Esoknya, Raja Siwon dan Ratu Jessica sudah bersiap-siap hendak pergi menemui Raja Eunbum di Kerajaan Musang Lancip. Mereka sudah berdandan sangat rapi sekali. Istana Rubah Putih sudah seperti biasa lagi. Matahari sudah kembali bersinar. Walaupun masih ada rasa duka yang menyelimuti anggota keluarga, tetapi karena pesan Ryeowook sendiri agar mereka tidak berlarut-larut dalam kesedihan atas meninggalnya, seluaruh keluarga mencoba untuk menerima.
Yesung mengantar SangEun kembali ke dunia manusia karena SangEun masih harus kuliah. Juga Minji dan Kibum yang tidak bisa berlama-lama. Henry juga ikut kembali ke dunia manusia karena bosnya hanya memberinya izin untuk satu hari saja. Hanya Haerin yang tinggal di istana bersama Leeteuk atas perintah Daddynya.

Tepat siang hari itu, Raja Siwon dan Ratu Jessica tiba di depan halaman istana Musang Lancip. Raja Siwon tampak ragu keluar dari kereta kudanya. Penasihat Yoochun mempersilakan Raja Siwon untuk turun.
“Apa kita harus menyerahkan ini pada Musang Lancip, eh?” tanya Raja Siwon lagi. Ratu Jessica menggenggam tangan Raja Siwon, “Jagiya, mau tak mau kau harus. Karena ini pesan terakhir Ryeowook. Kau tidak ingin menghianati keberanian anak kita sendiri kan, Siwon? Bersikaplah gentle. Jangan menjadi pengecut selamanya. Lagipula, aku kan ada di sini. Aku yakin tidak akan terjadi apa-apa.”
“Bagaimana kalau sampai ia memukulku bahkan menyihirku…?”
“Aneyo. Kalau sampai terjadi apa-apa padamu aku tidak akan mengampuni mereka! Tetapi itu kan hanya ketakutanmu saja. Sudahlah. Ayo kita turun. Sampai kapan kita mau terus-terusan di dalam sini…” kata Jessica lalu turun terlebih dahulu lewat sisi kiri pintu. Beberapa saat kemudian, Siwon juga turun lalu diikuti oleh Yoochun.
“Baiklah.. Hhhhuuuuuuuhhhh…” lengos Siwon lalu dengan berat ia melangkahkan kakinya menuju ke dalam.

..

“Yang Muliaa… Yang Muliaa… ada 3 orang yang ingin bertemu Yang Mulia di luar.” Lapor Shindong dengan gelagapan. Raja Eunbum mengernyit. Kedua istrinya melempar tatapan saling bertanya.
“Siapa yang ingin bertemu denganku di saat seperti ini? Kau tau kan bahwa aku hendak pergi ke kerajaan Rubah Putih untuk~”
“Raja Rubah Putih yang mencari Yang Mulia…” potong Shindong. Raja Eunbum terdiam. Kedua istrinya memekik tidak percaya. “JINCHAAA???” pekik Tiffany. “Nee, Baginda Ratu…”
“HOOOOHHH… Ada apa tiba-tiba mereka datang ke sini, yaaa? Adduuh, padahal kita baru saja akan pergi ke sana. Malah mereka yang menghampiri kita. Haisss…” keluh Taeyeon.
“Yasudah, suruh mereka ke aula utama. Aku akan menunggu di sana. Oh iya, pastikan anak-anakku tidak ada yang tau ya. Ini masalah kerajaan.” Pesan Raja Eunbum sebelum benar-benar pergi dari aula keluarga.
Shindong menyuruh Raja Siwon, Ratu Jessica, dan Penasihat Yoochun untuk masuk ke aula utama tempat untuk menjamu para tamu-tamu yang datang ke istana. Di sana sudah tampak Raja Eunbum dengan wajah tegang juga sepertinya tidak ingin melihat kearah para tamu yang sudah datang. Tiffany dan Taeyeon memersilakan ketiganya untuk duduk.
“Err~ bagaimana kabar kalian?” tanya Ratu Jessica.
“Aah, kami baik-baik saja. Kalian sendiri? Sudah lama sekali kita tidak bertemu ya…” kata Ratu Taeyeon.
“Kami juga baik. Hanya ada sedikit masalah yang terjadi. Dan, itu berhubungan dengan maksud kedatangan kami ke istana kalian ini. Maaf sedikit merepotkan kalian.” Kata Ratu Jessica.
“Wae?” tanya Tiffany.
“Kami barusaja kehilangan anak kami yang nomor 3, Ryeowook. Dia meninggal dalam perang militer beberapa waktu yang lalu.” Kata Siwon akhirnya berhasil mengontrol emosinya.
“Oooh, Mianhamnida. Aku tidak tau soal itu. lalu ada apa?” tanya Ratu Taeyeon.
“Begini, sebelumnya aku ingin bertanya apakah anak kalian baik-baik saja?” tanya Ratu Jessica. Raja Eunbum berdeham. “Ya, anak kami baik-baik saja. Hanya saja anak kami yang baru saja lepas dari kutukan 17 tahun lalu sudah tidak bisa melihat lagi. Ia buta karena sebuah kecelakaan. Di dunia manusia…” jawab Raja Eunbum.
“Itulah, maksud dari kedatangan Raja dan Ratu saya, Baginda Raja Musang Lancip. Ketika Tuan Muda Ryeowook meninggal beberapa waktu yang lalu, ia menitipkan sebuah surat untuk keluarganya. Salah satu pesannya adalah untuk memberikan sepasang kornea matanya untuk Hwang Hyemin. Anak Baginda Raja Musang Lancip…” kata Penasihat Yoochun. Tiba-tiba Penasihat Hodong datang lalu tersenyum pada semua yang ada di ruangan besar itu.
“Apa hubungannya?” tanya Raja Eunbum.
“Maaf Yang Mulia, sebenarnya sudah sejak lama Nona Hwang Hyemin menjalin hubungan dengan Tuan Ryeowook dari Kerajaan Rubah Putih. Jauh sebelum Hwang Hyemin tau keluarga sebenarnya.” Sahut Hodong. Tiffany mengernyit. Taeyeon juga. Tiffany berdiri mendekati Hodong.
“Hodong sshi, apa yang sebenarnya terjadi? Kau ingin mengatakan bahwa semua cerita yang diceritakan oleh Hyemin itu bohong?? Kau harus menjelaskannya pada kami!! Ini perintah!!!” kata Ratu Tiffany.
Hodong menundukkan kepala. Lalu ia bercerita mulai dari awal hingga akhir kepada semuanya.
Ratu Tiffany memekik ketika Hodong selesai bercerita. Ratu Jessica juga. Ratu Tiffany masih tidak menyangka apa yang terjadi itu semua juga menjadi tanggung jawab Ryeowook. Tetapi Ratu Tiffany tidak menyalahkan Ryeowook atas perkara ini. Ia tau anak Rubah putih itu tidak bermaksud untuk mencelakakan Hyeminnya.
“Lalu? Kalian kesini untuk memberikan kornea mata Ryeowook untuk Hyemin?” tanya Ratu Tiffany lirih namun semua dapat mendengarnya dengan jelas. Ratu Jessica mengangguk. “Nee. Ini pesan anakku sendiri.”
“Aah, Mianhae Jessica… aku benar-benar tidak tau anakmu akan melakukan hal ini untuk Hyemin.” Katanya.
“Sudahlah, lebih baik cepat pasangkan mata ini untuknya. Aku harap Hyemin dapat melihat kembali.” Timpal Raja Siwon. “Baiklah. Shindong! Cepat panggil tabib paling hebat untuk membuat Hyemin dapat melihat kembali. Cepat!” suruh Raja Eunbum. Shindong membungkuk hormat lalu segera menerima kotak yang disodorkan oleh Raja Eunbum.
“Entahlah apa yang harus ku katakan pada kalian setelah apa yang kalian lakukan pada kami semua. Sungguh, kami tidak akan bisa membalas kalian dengan apapun.” Kata Ratu Tiffany yang masih terlalu senang.
“Oh, iya. Sebenarnya kami baru saja akan pergi ke istana kalian…” sahut Ratu Taeyeon.
“Eh? Waeyo??”
“Err~ Ada yang mau suamiku sampaikan pada suamimu, Jessica…” kata Ratu Taeyeon.
“Aku?” gumam Siwon. Ratu Taeyeon mengangguk dan disetujui pula oleh Ratu Tiffany. Kedua istrinya berbisik pada Raja Eunbum. “Aaah, iya-iya baiklah…”
“aah. Emm… Errr~ Ngh, eee… Siwon sshi…”
“ah, Wae?” tanya Siwon bingung.
“Begini. Err~ sebenarnya aku ingin minta maaf padamu. Aku sudah sadar bahwa aku lah yang salah. Aku bahkan berutang budi padamu karena telah memberikan kornea anakmu untuk anakku.”
“Aah, sudahlah. Aku juga lelah lama-lama bermusuhan denganmu. Dipikir-pikir tidak ada gunanya juga kita bermusuhan. Bahkan, anak kita saling mencintai dulu.” Sergah Siwon.
Raja Eunbum mendongak. Matanya berkaca-kaca. Ia tidak menduga Siwon, yang dianggap musuh terbesarnya memaafkannya. Choi Siwon, yang sebelumnya adalah teman karibnya semasa kecil dan terpisah karena bermusuhan. Choi Siwon dan Eunbum berdiri lalu saling menjabat kemudian berpelukan satu sama lain.
“Aku sungguh menyesal sekali, Siwon sshi.”
“Kwaenchana, yang sudah berlalu biarlah berlalu. Lebih baik kita buka lembaran yang baru…”
“Harusnya aku memikirkan untuk berdamai denganmu sejak dulu-dulu. Kalau begini, Hyemin tidak mungkin tertekan karena sembunyi-sembunyi jika ingin berkencan dengan Ryeowook.”
“Kwaenchana. Sudah kubilang, lupakan saja. Yang terpenting kau sudah sadar dan aku juga sudah sadar.”
Ratu Jessica membekap mulutnya sambil berlinangan airmata karena terharu. Begitu pula Ratu Taeyeon juga Ratu Tiffany. “Omona. Ini momen yang sangat mengharukan. Air mata ini turun begitu saja…”
“Benar Chingu. Ini sangat dramatis sekali…” jawab Taeyeon.
Siwon dan Eunbum melepaskan pelukannya lalu kembali duduk di tempatnya. “Baiklah, mulai sekarang kami putuskan bahwa semua pertengkaran ini berakhir. Sekarang tinggal menunggu hasil dari Hyemin.”
“Kita berdoa saja bersama-sama…”

>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: