SARANG SARANG SARANG pt 3

“Hhhoaam…” Hyosung menguap dan bangun tetapi matanya masih terpejam. Di sebelahnya masih ada Hyolyn yang tidur dengan pulas setelah kemarin menangis seharian. Dongjun sudah berbicara pada Hyolyn, dan Hyolyn mau untuk ikut shooting lagi. Hyosung membuka pintu balkon dan merasakan angin menerpa dirinya.

“Hhhoaahh… annyeong haseyo lautaan… langit… padangbungaa… ahhhh… senangnya.”

“Ya Nana~ah, Hyolyn~ah, bangunlah. Bagaimana kalau kita berolah raga sebentar?” ajak Hyosung. Tidak ada jawaban. Hyosung melengos dan masuk lagi ke dalam hendak membangunkan Nana dan Hyolyn. Tetapi matanya tertuju pada tempat tidur yang ukurannya lebih kecil.

“Woah, Nana sudah bangun?” tanyanya sendiri. Hyosung menyahut jaketnya dan memakainya sambil berjalan keluar kamar. Dia ingin sedikit menggerakkan badannya agar lebih segar.

“Kau sudah bangun, Hyosung~ah?” tanya Sunggyu yang juga baru keluar dari kamarnya.

“Ne. aku ingin olahraga sedikit. Kau sendiri juga sudah bangun?”

“Ahaha, aku juga ingin olahraga…” jawab Sunggyu. Hyosung mengangguk. Akhirnya mereka berjalan bersama keluar dari hotel menuju pantai untuk berjogging.

“Mana yang lain? Apa masih tidur?” tanya Sunggyu.

“Oh, Ne… Hyolyn masih tidur dan Nana sepertinya bangun lebih awal dariku.”

“Aku tidak melihatnya semalam. Padahal ada yang harus kubicarakan tentang perannya.”

“Na do. Sehabis briefing aku tidur dan belum melihatnya sampai sekarang.”

“Geurae…”

 

Jgrekk.

“Ya, kenapa tidak dikunci?” tanya Nana. Tetapi tidak ada yang menjawab.

“Hyosung~ah, Hyolyn~ah…” panggilnya. “Mwo?” sahut Hyolyn dengan suara berat dan mengantuk.

“Kenapa pintunya tidak dikunci? Mana Hyosung?” Nana mengecek kamar mandi yang kosong.

“Molla. Tadi sepertinya keluar…”

“Hh arasseo. Ya, kita~”

Ringtone Comeback Infinite berbunyi. Nana mengeluarkan HPnya dari saku jaket dan membuka flipnya.

“Ya, kau dimana?” tanya orang dari sebrang.

“Aku di kamar. Kau sendiri?”

“Aku di pantai dengan Sunggyu. Ya, pemandangan di sini bagus sekali. Bangunkan Hyolyn dan Dongjun. Kita shooting sekarang…” kata Hyosung. “Sekarang? Oh, ne. akan kubangunkan mereka. Apa kau sudah membawa peralatan shootingnya?”

“Tolong bawakan sekalian. Geurae… aku tunggu ya. Ppali…”

“Nee…”

TUT

“Hyolyn~aahh… Ya Hyolyn~aaaahh…” Nana membangunkan Hyolyn dan menarik selimut tebalnya. Hyolyn menggulung badannya dan tetap memejamkan matanya.

“Ya, aku tau kau sudah bangun. Ppali. Kita shooting lagi.”

“Shiro…”

“Neo… yaaa~ ppali!!” Nana berhasil menarik tangan Hyolyn dan membuatnya bangun. Hyolyn melenguh panjang dan masuk ke kamar mandi. Nana hanya menggeleng dan duduk di samping tempat tidur sambil menelpon kamar Dongjun. Suara berat menyambutnya. Dan sudah bisa dipastikan dia masih setengah sadar.

“Dongjun~aaaah… ppali. Kita mau shooting.” Seru Nana dengan suara malas.

“Mmm… eum… mwo? Hhoaaamm…”

“Tck, ppali nawa… jangan tidur lagi. Ke pantai. SEKARANG!”

“Aikkhh… ne ne ne.” Nana tertawa kecil dan menutup telponnya. Suara pancuran shower terdengar juga bersamaan dengan senandung Hyolyn yang tidak jelas karena bercampur dengan air.

Nana membereskan peralatan shootingnya dan mengganti bajunya dengan yang baru. Dan seketika ia tersadar, jaket yang sedaritadi ia pakai bukan miliknya. “Ini pasti jaket punya L.Joe. tck…” Nana berdecak dan tersenyum bersamaan. Dilepasnya dan ia mengganti kaos I love My Prince nya dengan baju garis-garis biru muda dan putih tanpa lengan. Dipakainya lagi jaket L.Joe dan duduk di balkon. Dari situ ia bisa melihat Sunggyu dan Hyosung yang asyik bermain air seperti anak-anak.

“Nana~ah, apa yang perlu kubawa?” tanya Hyolyn.

“Oh, aniyo. Biar kubawa sendiri. Kau turun saja dulu dan sarapan. Dari tadi malam kan kau belum makan…”

“Ehehe, arasseo. Aku turun dulu. Hati-hati ya…”

“Ne…”

Hyolyn membuka pintu dan seketika lututnya lemas. “Annyeong. Kau sudah segar… kaja…” Dongjun merangkul Hyolyn dan menggeretnya untuk turun. “Yaah yaahh…”

“Wae? Kau masih marah denganku?” tanya Dongjun.

“Bukannya kau yang marah denganku?”

“Na? untuk apa marah. Hahaha, kaja… kita makan dulu…”

 

“Take One! Camera Rolling Action!!” seru Sunggyu.

“Jakkaman Sunggyu~ah…” Hyosung menghampiri Sunggyu. Sunggyu mengernyit.

“Waee??”

“Aku harus seperti apa? jadi kan Dongjun akan berselancar, lalu tiba-tiba ia jatuh dan tenggelam…”

“Ne. kau harus berakting panik dan larilah ke laut untuk menolongnya.”

“Kenapa bukan Hyolyn saja?” tanya Hyosung. Hyolyn mendelik.

“PPALIIII…!!” seru Sunggyu tidak sabar dan menyuruh Hyosung untuk serius memainkan perannya.

“Take Two! Camera Rolling Action!!”

Dongjun yang sudah siap dengan papan selancarnya segera berselancar dengan lihai. Memang sebelumnya Dongjun bisa berselancar dan kali ini ia menunjukkan kebolehannya berselancar dengan berbagai macam gaya. Hyolyn ternganga, tidak bisa dipungkiri bahwa ia sebenarnya kagum dengan Dongjun.

Aktingpun dimulai, Dongjun terjatuh dan tangannya ke atas meminta bantuan. Dongjun tidak benar-benar tenggelam karena dia berselancar di tepi yang airnya tidak seberapa tinggi.

“Hyosung~ah, waktumu…” bisik Nana.

“Oh, Ne!” Hyosung mengangguk dan berlari menuju laut untuk menolong Dongjun. “DONGJUN~AAAHH…”

Sejauh ini ia berhasil menyelesaikan sampai adegan menarik Dongjun ke pantai dan berekspresi panik. Hyosung menepuk-nepuk pipi Dongjun tetapi Dongjun tetap tidak sadar. Sunggyu merekam mereka jarak dekat sedangkan Nana dengan kamera berbeda dari jarak jauh.

“Dongjun~ah… Dongjun…”

“Dongjun… Dongjun… Ya…. YAA… bukannya sekarang waktunya Hyolyn keluar?” Hyosung membalikkan badan dan menunjuk Hyolyn yang kelupaan dengan skripnya. Sunggyu dan Nana bersamaan berteriak, “CUT!!” dan menatap Hyolyn yang menggaruk kepalanya sambil nyengir.

“Ini sudah bagus sekali, kenapa kau tidak masuk?!” seru Sunggyu.

“Mianhae… aku lupa karena terlalu asyik melihat acting Hyosung.” Kata Hyolyn lalu berlari mendekat. Hyosung menampar pipi Dongjun yang masih memejamkan mata. “Yah, ayo kita ulang lagi…” seru Hyosung. Dongjun melengos dan bangun. Hendak bersiap berselancar lagi.

“Dongjun~ah, tidak usah. Nanti aku akan memotong scene tadi dan menggabungnya.” Sahut Nana.

“Yaa… kita harus mengulang lagi scene itu.” Sunggyu menimpali.

“Tidak perlu. Kita kan bisa memotongnya.”

“Ani. Kita ulang saja biar lebih bagus…”

“Yaa… sangat membuang waktu. Lebih baik lanjut ke scene selanjutnya saja!” seru Nana akhirnya berdiri. Sunggyu juga berdiri dan mendekati Nana. “Scene-scene lain bisa kita ambil di hotel dan padang bunga! Ayo semuanya bersiaplah…” Sunggyu membuyarkan tontonan Hyolyn, Dongjun, dan Hyosung.

“Yaa… tidak usah. Ayo lanjut ke scene lain!”

“Jangan dengarkan dia. Dongjun, kaja…”

“Dongjun~ah, tidak usah!”

“Yaaaa~~ aku adalah sutradaranya! Aku yang berhak mendirect pemain-pemainku.”

“MWO? Geurae! Geurae!! Atur saja sesukamu.” Geram Nana lalu mengambil tasnya yang ada di pasir dengan kasar dan pergi. “Nana~aahh… Nana~aahh…” panggil Hyosung.

“Hhh…” Sunggyu melengos dan menendang pasir.

“Biarkan dia menenangkan diri dulu. Ayo kita shooting lagi supaya lebih cepat selesai.” Dongjun menarik Hyosung yang hampir mengejar Nana. Hyolyn hanya bisa terdiam dan melengos.

 

***

 

L.Joe mengarahkan SLRnya ke laut biru lepas dan menjepretnya. Sudah satu jam lebih dia duduk di atas cap mobil yang tadi pagi dikirim oleh Jia agar L.Joe bisa berjalan-jalan. Angin sepoi-sepoi menggoyangkan rambutnya yang sudah berwarna coklat tua. Ia mengarahkan SLRnya lagi ke bibir pantai dan memfokuskan kameranya pada gadis berkacamata hitam dengan baju garis-garis birumuda berbalut berjaket kebesaran yang dipakainya asal-asalan sehingga memperlihatkan bahu indahnya, dan hot pants jeans yang membuat kakinya terlihat lebih jenjang. Rambutnya di cepol acak-acakan yang semakin membuatnya terlihat mempesona.

L.Joe mendekatkan kamera ke matanya dan mulai menjepret. Ia tersenyum dan terus mengambil gambarnya. Dari jarak sejauh itupun, ia sudah tau bahwa gadis itu pastilah Nana. L.Joe masih menjepret Nana yang sekarang melepas sepatunya dan menjinjingnya dengan tangan kirinya yang bebas.

“Oy!” panggil L.Joe saat Nana sudah dekat.

Nana mendongak dan mendapati L.Joe sedang tersenyum manis padanya dari atas cap mobilnya. Nana melambai dan berlari kecil menghampiri L.Joe lalu ikut duduk di atas cap mobilnya.

“Sepertinya kau sedang marah…” tebak L.Joe. Nana mengernyit.

“Wae?”

“Terlihat dari wajahmu.” Kata L.Joe sambil tersenyum. Nana ikut tersenyum. Mereka terdiam sejenak sambil menikmati angin yang menerpa wajah mereka.

“Woahh, ya~ mobil siapa ini?” tanya Nana kagum.

“Aku menyewa…”

“Jincha? Wah, bagus sekali.” Gumam Nana lagi. L.Joe melingkarkan tangannya dan membetulkan jaketnya yang tersibak. Nana terdiam sambil menatap L.Joe.

“Nanti kau bisa sakit lagi…” kata L.Joe seolah menjawab pertanyaan Nana.

“Ne? tck… jincha…” gumam Nana berdecak.

“Bagaimana keadaanmu?” tanya L.Joe lalu menempelkan punggung tangannya ke kening dan pipi Nana.

“Aku baik-baik saja, hoobae~ya…” jawab Nana. L.Joe tersenyum lagi dan tertawa, membuat Nana juga ikut tertawa.

“Apa yang kau lakukan di sini?” tanya Nana.

“Aku sedang menikmati suasana. Kau sendiri sedang apa? bukannya mengurusi tugas akhir malah keluyuran…”

“Ya~ aku sedang kesal makanya aku pergi.” Sahut Nana lalu merengut. “Aah, jincha? Kau mau mendinginkan kepalamu sebentar?” tanya L.Joe.

“Mwo mwo?”

“Kaja, masuklah…”

“Ya ya… biar Noona yang menyetir untukmu L.Joe…”

“Tidak perlu.” Jawabnya dari dalam mobil. Nana turun dari cap dan masuk ke dalam Volvo hitam L.Joe.

“Kita mau kemana?” tanya Nana. “Mendinginkan kepala…” jawabnya lalu melesatkan mobilnya cepat menembus jalan yang kanan kirinya dihiasi oleh padang bunga yang sangat cantik. L.Joe membawanya ke sebuah pantai lain yang khusus digunakan untuk watersport. L.Joe memarkirkan mobilnya lalu mengajak Nana turun.

“Biar aku yang bayar…” Nana mencegah L.Joe.

“Gwaenchana Nana~ah…” sahut L.Joe sambil tertawa kecil dan membayar tiket masuk dan semua permainannya.

“Kaja…” L.Joe menarik tangan Nana menuju ke ruangan tempat penyewaan life jacket.

“Berapa orang?” tanya penjaga.

“2 orang…” jawab L.Joe. si penjaga lalu memberikan dua buah life jacket pada L.Joe. L.Joe memakaikannya pada Nana lalu memakai sendiri punyanya.

“Kalian tampak serasi sekali…” kata si penjaga lalu pergi.

“Anii… kita bukan~ aigoo…” Nana berusaha mengelak.

“Hahaha, itu karena mukaku yang terlihat dewasa atau kau yang terlihat masih anak-anak?” tanya L.Joe yang langsung disambut jitakan lembut di kepalanya. “Aakh yaa~~”

“Kaja…” Nana menarik tangan L.Joe.

Mereka mencoba permainan bungee jumping. L.Joe terlihat bersemangat sekali menarik-narik tangan Nana. Setelah lift yang mereka naiki sampai di atas, mereka memasang perlengkapan agar tetap aman.

“Aku akan lompat dulu.” Seru L.Joe.

“Andwae andwaee.. Yaa~ ini mengerikan.”

“Sst… Kau harus lompat setelah aku ya, Im Nana.”

“Bagaimana kalau nanti talinya terlepas dan aku jatuh, lalu aku tenggelam dan..”

“Hassh… Nanti kalau kau jatuh dan tenggelam, aku akan menolongmu. Hwaiting!” Seru L.Joe sambil berlalu dan meninggalkan Nana yang berdiri mematung menatap ketinggian.

Jantungnya berdesir setiap ia melihat pemandangan bawah yang begitu mengerikan dan tinggi. Salah satu guide menghitung sampai tiga dan L.Joe melompat dengan sangat indah. Tetapi Nana terlalu takut untuk mengagumi lompatan itu.

5 menitpun berlalu, kali ini giliran Nana untuk melompat. L.Joe sudah bebas berada di bawah dan melambai pada Nana. “Yaaa~ ppali!!” Seru L.Joe.

“Ommmaaaaa……… Ajusshi, apa talinya kuat?? Ajusshiii…….” Rengek Nana.

“Tenang saja, tali ini sangat kuat dan dapat menahan beban seberat 1 ton.” Jelas ajusshi.

“Jincha? Tapi aku takut sekali, ajusshii…”

“NANA~AAAHH HWAITING!!” Terdengar suara nyaring L.Joe menyemangati Nana.

“Geurae geurae. Aku akan lompat.”

“Baiklah, lompatlah pada hitungan ke tiga. Hana… Dul…. Set….!!” Nana menutup mata dan melompat dengan ragu-ragu. Sekarang ia sedang terjun bebas dan berteriak nyaring sekali. L.Joe yang melihatnya tertawa terbahak-bahak penuh kepuasan.

“AAAARRKKHH.. OMMMAAAA…”

Setelah bergelantungan 5 menit, akhirnya tali dikendurkan dan guide yang sudah standby di bawah melepaskan talinya. Nana jatuh berlutut karena kakinya gemetar sangat hebat. L.Joe menghampirinya.

“Asyik sekali kan??” Tanyanya lalu membantu Nana berdiri.

“Mwoyaa…” Semburnya. L.Joe tertawa lagi lalu mengiring Nana ke pinggir pantai. Mereka duduk bersama.

“Kau mau main lagi? Kali ini bukan bungee jumping…” Kata L.Joe sambil terkikik.

“Geurae! Ayo kita main lagi!!” Nana bangkit dan berlari lebih dahulu ke pinggir pantai tempat permainan banana boat.

“Kita main berdua saja…” Sahut L.Joe.

“Yaa~” sergah Nana.

“Gwaenchanaa…”

Mereka bermain banana boat berdua. Sudah 10 kali rasanya Nana dan L.Joe terjungkir. Mereka juga mencoba permainan lain seperti paralayang, jetski, dan selancar. Sampai tidak terasa matahari sudah hampir turun dan warna langit berubah menjadi jingga dengan semburat biru. Akhirnya karena sudah sore, mereka memutuskan untuk kembali lagi ke hotel.

L.Joe masih menyetir dalam diam. Sesekali ia melirik gadis di sampingnya yang tertidur pulas. Baju dan celananya yang basah sudah mengering dengan sendirinya. Jaket miliknya masih setia melekat di tubuh Nana.

L.Joe memarkirkan mobilnya di basement dan membangunkan Nana. Nana ngulet sebentar lalu bangun dan mengecek jam tangannya.

“Aigoo, sudah jam 6 sore.” Pekiknya. L.Joe menunjukkan senyum manisnya dan mengikuti Nana turun dari mobil.

 

***

 

Nana berjalan gontai mendaki undakan demi undakan tangga hotel. L.Joe juga berjalan dalam diam di belakangnya. Tiba-tiba Nana berbalik,  membuat langkah L.Joe terhenti seketika.

“Gomawo, hari ini menyenangkan sekali…” Katanya dan L.Joe hanya diam dan lagi-lagi tersenyum.

“Kalau begitu istirahatlah. Sampai jumpa besok..”

“Ne, kau juga.” Balas L.Joe lalu mengacak rambut Nana.

L.Joe berjalan lebih dahulu kembali ke kamarnya. Dari arah berbeda terlihatlah Hyosung dan Hyolyn yang histeris dengan keberadaan Nana.

“OMO!! OMOMO OMO OMO!! GWAENCHANA YO???” tanya Hyosung sambil mengecek.

“YAA~~ KAU KEMANA SAJA? SEMUA ORANG PANIK MENCARIMU!!” Hyolyn ikut menyembur Nana.

“Mianhae… aku refreshing sebentar…” cengir Nana.

“MWORAGOO?? SEBENTAR? AKU DAN HYOSUNG SAMPAI HAMPIR MATI…” seru Hyolyn.

“Kajaa… yang lain mencemaskanmu!” Hyosung menarik tangan Nana.

Mereka sampai ke aula hall tempat makan malam mereka. Tampak semua orang masih belum menyentuh makanannya. Begitu pintu besar terbuka, semua langsung menoleh dan mendapati Hyosung, Hyolyn, dan juga orang yang selama ini mereka cari-cari.

“Yaaahh~ Im Nana!!! Eodigaaa??” serbu anak-anak lain. Sunggyu dan Dongjun tercengang. Mereka berjalan menghampiri Nana. Namun langkahnya kalah cepat dengan Siwon yang sudah berada di depannya sekarang. Tampangnya marah sekali. Belum pernah mereka melihat Siwon yang semurka itu.

“Darimana saja?” tanya Siwon, nadanya masih stabil dan berusaha menahan emosinya.

“Chosunghamnida, Sonsaengnim…”

“Kau tau dari jam berapa kita semua mencarimu? Ppali haebwa, darimana saja? Kenapa kau tidak mengerjakan tugas akhirmu hah?” bentak Siwon. Nana menunduk dalam. Lalu terdengar suara Sunggyu mencoba membela Nana.

“Sonsaengnim, sudah kubilang ini semua salahku. Tadi ada perbedaan pendapat lalu kami berdebat dan aku mengatakan hal yang membuatnya sakit hati.”

“Hhh… tetap saja, Nana, kau dihukum!”

“Ne??”

“Besok kau tidak boleh ikut tour Jeju dan kerjakan tugas dariku.”

“Mworago? Tapi sonsaengnim…” Hyosung membantah.

“Tidak ada yang bisa merubah keputusanku!” seru Siwon lalu pergi. Hyolyn, Hyosung, Dongjun, dan Sunggyu menatap kepergian Siwon dengan kecewa.

“Gwaenchana…” gumam Nana lalu berbalik hendak kembali ke kamar. Tangan Sunggyu menarik tangannya.

“Mianhae… lagi-lagi aku membuatmu dalam masalah, kalau saja tadi aku tidak~”

“Yaa~ ini salahku sudahlah. Lagipula tadi aku sudah berjalan-jalan. Aku akan kembali dulu ke kamar dan istirahat. Annyeong…” Nana melambai dan berbalik menuju kamarnya.

 

***

 

8:00 AM Jeju International Hotel

“Semoga jalan-jalan kalian menyenangkan~” kata Nana malambai pada Hyosung dan Hyolyn.

“Aku akan memberimu sesuatu nanti…” kata Hyosung.

“Pasti tidak seru jika tidak ada dirimu, Nana…” Hyolyn memeluk Nana dan Hyosung.

“Hash… sudah cepat sana. Sampai ketemu di airport.”

“Kau langsung ke airport?” tanya Hyosung.

“Ne, aku bisa naik taxi. See you…”

“Ne, jalga…” Hyolyn dan Hyosung dengan berat hati melangkah keluar kamar dan menutupnya kembali. Nana melengos berat dan mulai mengeluarkan buku-bukunya untuk mengerjakan tugas dari Siwon. Sebenarnya soalnya tidak terlalu susah baginya, tetapi ia sedang tidak mood untuk mengerjakannya. Bolak-balik Nana menguap dan terpengaruh oleh pemandangan luar balkon.

Suara Ringtone HPnya berbunyi. Nana melihat di screen siapa yang menelponnya. Ia tidak kenal dengan nomor ini. Tetapi ia langsung tau begitu ia mengangkatnya.

“Yoboseyo?” sapa Nana. “Hei, kau sudah dalam perjalanan ke Seoul?” tanya L.Joe.

“Aniyo. Aku masih di hotel. Wae?”

“Pantas saja aku tidak melihatmu tadi di rombongan kelasmu.” Kata L.Joe sambil tertawa renyah.

“Geurae?”

“Aku sudah di depan kamarmu. Cepat bukakan pintunya.” Kata L.Joe. Nana mendelik. “K… Kau didepan pintu? Kamarku?”

“Ne.”

Nana berjalan untuk membukakan pintunya. Dan benar saja, sosok L.Joe yang sudah fresh sedang berdiri sambil tangan kirinya yang masih memegang HPnya. “Annyeong,” sapanya sambil tersenyum. Nana tertawa lalu menyuruhnya untuk masuk. “Wow, apa semua ini barang-barangmu?” tanya L.Joe. pandangannya tertuju pada bikini 2 piece yang tergeletak di kasur.

“YAAH~ YAAH~~” Nana langsung membereskannya dan meletakkan kembali ke dalam tas kopernya. Satu-satunya tas koper yang ada di kamar itu. Hyosung dan Hyolyn sudah mengemasi koper mereka dan membawanya karena setelah tour Jeju, mereka akan langsung ke airport.

“Waeyo?” tanya L.Joe.

“Tsk, sekarang duduklah. Kau mau kupesankan sesuatu?” tanya Nana. L.Joe menggeleng.

“Kalau begitu kau duduk saja di sini. aku akan mengerjakan tugasku.” Ucap Nana. L.Joe tertawa kecil dan mengacak rambut Nana. “Yaah~ berani-beraninya kau mengacak-acak rambut Noona!”

“Noona? Hahaha…”

“Yaa, aku lebih tua darimu.”

“Geurae?? Tck… kelihatannya tidak begitu.”

“Hhh, terserahlah, aku mau mengerjakan tugasku dulu…”

“Mau kubantu?” tawar L.Joe. Nana tidak mengacuhkannya. “Ya, geurae geurae… Noona…” sahut L.Joe lagi.

“Ah, jincha. Begitu baru bagus. Apa susahnya memanggilku Noona…”

 

***

 

Esoknya, aktifitas kuliah berjalan seperti biasa. Nana, lagi-lagi sudah berada di cafeteria. Hari ini kelasnya memang dijadwalkan kuliah siang, tetapi entah kenapa Nana datang pagi-pagi. Ternyata sudah banyak anak yang datang karena kuliah pagi. Beberapa pasang mata tampak sedang memperhatikannya. Karena risih, Nanapun pergi ke lab khusus jurusan perfilman yang biasa disebut bioskop mini oleh teman-teman seperjurusannya.

L.Joe yang tidak sengaja melihatnya berniat mengagetkannya dari belakang. Tetapi niatnya langsung pupus terhenti ketika dari balik tembok, sebuah tangan menarik Nana. L.Joe segera bersembunyi dan mencari tempat yang aman untuk menguping.

“Woohyun~ah!” seru Nana. Woohyun tidak berekspresi dan tampak murung.

“Eodi ga? Kau tidak mengabariku seminggu ini…” L.Joe bisa merasakan penekanan di setiap kata yang dikeluarkan Hyungnya.

“Mianhae… aku pergi ke Jeju untuk tugas akhirku.”

“Kau sama sekali tidak mengangkat teleponku! Kau membuatku gila, ara?!”

“Woohyun~ah… aku tidak bermaksud seperti itu.”

“Sudahlah, aku tidak mau berdebat denganmu…” Woohyun melengos dan pergi meninggalkan Nana.

“Hyun~ah, kau marah padaku?” tanya Nana. Matanya sudah berkaca-kaca. Ia sangat merindukan Woohyun dan entah kenapa ketika ia bertemu dengannya, Woohyun malah memarahinya. Padahal, Woohyun sering kali menghilang selama beberapa hari tanpa mengabarinya.

Woohyun berhenti. “Molla…” jawabnya lalu kembali berjalan. L.Joe segera pergi dari tempat itu dan memutuskan tidak mendekati Nana saat itu.

 

Kuliah berakhir lebih awal. Beberapa anak memutuskan untuk membahas filmnya yang kemarin ia buat, ada juga yang langsung pulang dan hang out. Kampus memang terlihat masih ramai oleh mahasiswa-mahasiswa yang menunggu mata kuliah selanjutnya atau hanya sekedar nongkrong dan mengobrol.

Nana sudah tidak asing lagi dengan tatapan sinis sebagian besar mahasiswa di sini. baginya hal-hal itu merupakan makanan sehari-harinya. Tapi bukan itu penyebab wajahnya murung seharian ini. Hyosung dan Hyolyn berkali-kali menanyakan apakah dia baik-baik saja yang dijawab hanya dengan anggukan olehnya.

“Kau benar-benar tidak apa-apa?” tanya Hyosung lagi. Lagi-lagi Nana mengangguk. Terdengar bisik-bisik yang makin keras sewaktu mereka bertiga berjalan melewati lobby. Semua yang mengerumuni papan madding segera menyebar dan sibuk menatap juga berbisik-bisik. Tiba-tiba, Hyolyn menepuk bahu Nana dan Hyosung.

“Yaaa… ige mwoya??” seru Hyolyn sambil menunjuk papan madding yang terpampang besar-besar berita tentang selingkuhnya Woohyun dengan seorang mahasiswi bernama Hwang Bora. Nana mendekat dan mencabut kertas yang berukuran besar itu untuk membacanya lebih jelas. Di situ juga terpampang foto Bora dan Woohyun yang sedang berduaan. Tampak sangat mesrah.

“Hah, ini pasti editan kan?” tuding Hyosung sambil berkacak pinggang. Semua orang berbisik-bisik lagi. Semakin keras dan keras. Entah mengapa kepalanya menjadi pusing sekali karena berita yang dipasang orang-orang tidak bertanggung jawab di madding dalam ukuran besar. Jujur sekali, ia sangat jealous melihat foto mesrah Woohyun dan Bora.

“Ckckck… waaw, sepertinya sekarang sudah jelas Woohyun hanya memanfaatkanmu saja…” kata Dasom dengan nada yang sangat meremehkan. Hyolyn berbalik dan berlari menjambak rambut pirang Dasom dengan sadis.

“YAAA~ KAU KAN YANG MEMBUAT INI SEMUA? YAAA~~ AKUI SAJA! APA MAUMU HAA??” Hyolyn masih menjambak Dasom. “YAAAAAHHH~ LEPASKAN TANGAN KOTORMU DARI RAMBUTKU, PECUNDANG!!” seru Dasom berusaha menyelamatkan rambut indahnya. “Sudahlah, Hyolyn~ah… lupakan saja orang itu. Dia hanya iri denganku. Ya… lakukan saja sesukamu. Tsk, kasihan sekali dirimu…” ucap Nana lalu meremas kertas di tangannya dan melemparnya tepat di kepala Dasom.

“YAAA~ BITCH!! EODI GA?? WOOHYUN? DIA PASTI SEDANG BERSAMA BORA…”

Nana memejamkan matanya mencoba untuk meredam emosinya dan tidak mempedulikan Dasom yang memanggil-manggil namanya untuk memanas-manasinya.

“Gwaenchana?” tanya Hyolyn.

“Hyolyn~ah, Hyosung~ah, aku mau sendiri dulu saja…”

“Geurae…” Hyosung mengangguk dan merangkul Hyolyn agar tidak mengikuti Nana lagi.

Nana berjalan gontai dan duduk di taman belakang yang jauh dari orang-orang yang sedari tadi membicarakannya. Ia ingin mendinginkan kepalanya dulu. Lagi-lagi Nana melengos. Berita Woohyun dan Bora masih melekat jelas di benaknya. Tapi dari hati kecil yang terdalam, ia menyangkal. Tidak mungkin namjachingunya berselingkuh dengan yeoja lain.

Di sisi lain, L.Joe berjalan mendekati taman belakang yang terlihat sepi. Ia yakin tadi melihat Nana berjalan ke tempat ini. Ia terus menyusuri taman dan menemukan orang yang dia cari sedang melamun. Rambutnya sudah tidak teratur lagi. L.Joe duduk agak jauh darinya dan mulai bergerak dengan SLRnya memotret Nana, objek favoritenya.

15 menit sudah L.Joe duduk dan memenuhi SLRnya dengan foto-foto Nana yang rata-rata dengan posisi dan gaya yang sama karena Nana hanya mengubah posisinya sekali. L.Joe tersentak melihat jam tangannya. Sudah waktunya dia masuk ke mata kuliah selanjutnya. Ia memasukkan SLR kesayangannya ke dalam tasnya dan berlari menuju kelasnya.

 

***

 

“Woohyun~ah, kita harus bicara…” kata Nana di telepon. Woohyun melengos.

“Jagiya, siapa sih?” terdengar suara centil dari sebrang teleponnya. Nana menggigit bibir bawahnya hingga berdarah saking kecewa dan sedihnya. Semua perasaanya bercampur menjadi satu. “Siapa itu?” tanya Nana, mencoba tegar dan tidak menimbulkan suara isakan sedikitpun.

“Oh? Aniyo… wae?” tanya Woohyun.

“Apakah itu Bora? Apa  Bora yang di sebelahmu?” tanya Nana agak memaksa.

“Mm… Ne.” Jawab Woohyun sedikit ragu-ragu.

“Mwo? Geurae… woohyun~ah, lalu apa maumu sekarang? Jadi berita itu benar, bahwa kau dan Bora…”

“Aniyoooo~ itu karena kau tidak mempedulikan aku sedangkan Bora memberikan dirinya 100% untukku…”

“Yaaah~~ aku melakukan semuanya untukmu! Seberapa sering aku meninggalkanmu hah? Kau tidak ingat berapa ribu kali kau menelantarkanku karena tugas-tugasmu? Yaaaa~ neon baboya.”

“Molla. Sepertinya aku sedang tidak ingin berdebat denganmu. Kita bicarakan besok saja…” balas Woohyun lalu menutup telponnya. “YAAA~~! YAAA~~!!” Nana menjerit dan memekik di telponnya. Tapi percuma saja, yang terdengar hanyalah nada sambung yang terputus. Nana berteriak keras-keras dan menumpahkan semua airmatanya malam itu.

 

***

 

Seoul University 10:00 AM

Nana sengaja menunggu di depan kelas Woohyun agar dapat bertemu langsung dan membicarakan masalah mereka berdua dengan kepala dingin. Setelah 10 menit menunggu, akhirnya kelas berakhir dan muncullah Woohyun yang tidak sendirian melainkan bergandengan tangan dengan seseorang yang Nana tau itu adalah Bora.

“Geurae. Kenapa kau ada di sini?” tanya Woohyun bingung.

“Aku ingin kita bicara.” Jawab Nana.

“Tidak ada yang perlu dibicarakan lagi.”

“Mworago? Ya, apa karena dia?” tanya Nana sambil menunjuk wajah Bora. Bora mengernyit dan memandang Nana dengan tatapan super jijik. Dan lagi, semua orang tampak mengerumuni mereka dan menonton kejadian yang jarang sekali terjadi. Kebanyakan dari mereka anti dengan Nana dan pro dengan Bora.

“Geurae, kalau begitu bicaralah sekarang.” Tantang Woohyun. Nana terdiam. Ia bingung apa yang harus ia katakan pada Woohyun saat ini. Banyak sekali mata yang memperhatikan. Ia ingin permasalahan ini jangan sampai diketahui orang karena takut image Woohyun tercemar.

“Wae? Kau tidak bisa mengatakannya? Geurae. Aku masih ada kelas lagi. Kaja Bora~ah…” Woohyun mengalihkan pandangannya dan Bora mengalungkan lengannya ke tangan Woohyun dan menggelayutinya. Terdengar hinaan dan comooh yang terlontar dari orang-orang yang berada di situ.

“Kasihan sekali. Rupanya selama ini dia yang meminta-minta Woohyun agar menjadi pacarnya? Haha, murahan sekali ya…” komentar yang terdengar jelas di telinga Nana.

“Apa orangtuanya tidak mendidiknya sama sekali? Apa dia tidak punya harga diri sedikitpun?” komentar lain ikut terlontar. Nana mendengus kesal dan berlari pergi dari tempat itu. Terlalu banyak suara yang mengerikan.

BRAKK

“Chosunghamnida chosunghamnida…” seseorang menubruk L.Joe yang tertarik dengan keributan di situ.

“Gwaenchanayo, Gain sshi.” Sahut L.Joe sambil memungut bukunya yang jatuh. Gain yang ternyata adalah teman seperjurusan L.Joe mendongak dan kembali membungkuk.

“Ya, kau sudah mau ke kelas?” tanya Gain.

“Ne, tapi aku sedikit tertarik dengan kerumunan ini. Waegeurae?”

“Oh, biasa. Paling-paling juga si Im Nana.” Jawab Gain.

“Im Nana? Waeyo?”

“Kau tidak tau? Dia kan terkenal sekali di Seoul University.” Kata Gain sambil berjalan. L.Joe berjalan sejajar dengannya. “Jincha? Wae?”

“Karena dia adalah yeojachingu Nam Woohyun! Tapi semua orang di sini membencinya karena hal itu.”

“Jongmal?”

“Kudengar hubungan Nam Woohyun dan Im Nana sudah hampir berakhir karena Bora. Tapi memang Bora jauh lebih baik. Setidaknya Bora berasal dari kalangan yang jelas. Tidak seperti Im Nana.” Terang Gain. Jujur, mendengar penjelasan Gain, L.Joe ingin sekali menyumpal dengan cewek itu dan orang-orang yang dari tadi mengomentari Nana dengan kasar tadi. Tapi niat itu diurungkannya.

“Kaja, kita sudah hampir telat…”

“Oh, Ne…” L.Joe menyahut dan menyusul Gain yang lebih dulu berjalan.

***

 

“Ya, Ya Nana~ah, kau mau kemana?” tanya Hyolyn ketika Nana tiba-tiba berdiri sambil membawa tasnya serta. Saat itu sedang ada kuliah dari Siwon. Siwon berhenti menulis dan berbalik karena Nana sudah berdiri tepat di belakangnya. Siwon sejenak mengernyit bingung. Ia lalu mendongak, menyuruh Nana untuk berbicara.

“Aku harus ijin sonsaengnim. Ada urusan mendadak.”

“Urusan apa?”

“Sss aku terburu-buru Sonsaengnim. Chosunghamnida…” Nana membungkuk dan berlari kecil meninggalkan kelas.

Pikirannya sudah kacau dan tidak bisa menerima kuliah yang diberikan oleh Siwon. Ia pulang ke rumah dengan bus umum yang sepangjang perjalanan ia habiskan hanya untuk melamun dan melamun. Ia sendiri juga tidak sadar dimana dan kemana arah rumahnya. Ia berjalan terus sampai ia kelelahan sendiri, barulah dia sadar harus kemana ia pulang.

Sesampainya di apartement, tetangganya yang bernama CAP sempat menyapanya. Sepertinya dia sedang akan pindah rumah. Entahlah, karena dia membawa banyak sekali barang-barangnya. Nana mengunci pintu apartementnya dan bahkan mengganti kodenya dengan yang baru. Ia tidak ingin Hyolyn atau siapapun masuk dan menemuinya hari ini. Suasana hatinya memang benar-benar sedang kacau.

Nana berjalan lemas ke sofanya dan duduk termenung. TVnya menyala tanpa ada yang menonton. Nana juga menatap bubur yang sudah ada di depannya. Rupanya tadi pagi-pagi Hyolyn ke apartemennya dan membuatkan bubur untuknya sebelum berangkat ke kampus. Tetapi saking terburu-burunya, Nana sampai tidak tahu Hyolyn meninggalkan bubur di sana.

Nana hanya duduk termenung dengan tatapan yang kosong. Perlahan ia melirik fotonya berdua dengan Woohyun di meja samping sofanya. Ia sengaja memberi pigura yang cantik pada foto itu karena menurutnya itu foto terbagusnya dengan Woohyun. Woohyun mencium pipinya dan Nana dengan wajah syoknya terpajang rapi dan cantik sekali. Tiba-tiba air matanya mengalir jatuh dan semakin deras. Nana mulai menangis meraung-raung. Hingga ia capek dan tertidur dengan sendirinya di sofa.

 

***

 

Palace

“Woohyun, kau harus segera menikah.” Ucap Sunhwa Omma.

“Hhh aku belum siap, Ommamama…” jawab Woohyun jelas lalu meneguk tehnya. Jia menatap Woohyun sayu. “Woohyun~ah, kau dan yeojachingumu tidak sedang~” ucapan Jia terputus oleh deham Doojun Abeoji. L.Joe mendelik pada Jia tetapi Jia tidak menghiraukan L.Joe.

“Kau akan menikah dengan calon yang Abeoji tentukan.”

“Abeoji! Andwae…” sergah Woohyun.

“Woohyun~ah… kami sudah sepakat untuk menjodohkanmu dengan salah satu bangsawan juga. Kau tidak akan menyesal.” Kata Sunhwa Omma meyakinkan. “Omoni…!!” Woohyun masih membantah namun ia sudah berdiri. Jia menarik dongsaengnya untuk duduk kembali, tetapi Woohyun menyentakkan tangan Noonanya dan keluar dengan kesal.

“Memangnya itu benar? Woohyun sudah punya yeojachingu?” tanya Sunhwa Omma penasaran.

“Ne, Omoni.” Jawab Jia.

“hmmm… sekretaris Chunji! Sekretaris Chunji!!” panggil Sunhwa Omma.

“Ye, Mama~” Chunji berlari agak tergesah-gesah.

“Tolong beritahu Woohyun untuk merubah jadwalnya besok. Aku ingin bertemu dengan calon istrinya besok jam 4 sore di hotel Bliss.”

“Ye, Mama… akan saya lakukan.”

“Omonii… Woohyun bahkan belum siap untuk menikah…” seru Jia.

“Itu tidak penting. Yang penting dia harus secepatnya menikah.”

“Jadi Omma akan setuju dengan calon yang akan Woohyun kenalkan besok?” tanya Jia pelan. Sunhwa menggeleng, “Kalau memang berkualitas, akan kuterima.”

 

***

 

Seoul University, lab film.

“Hhhoaam… annyeong Hyolyn~ah.” Sapa Hyosung yang masih mengantuk.

“Ne.” jawab Hyolyn singkat.

“Tugasnya sudah kuselesaikan. Sudah kuedit kemarin. Tinggal kita kumpulkan.” Kata Hyosung.

“Wow, geurae…” Hyolyn mengeluarkan handycamnya dan membuka sesuatu. Ia memasukkan file-file itu ke laptop yang ada di depan dan memutarnya. Proyektor mulai memutar filmnya dan Hyosung juga Hyolyn sama-sama menikmati film yang telah mereka buat selama di Jeju.

“Oh jincha jinchaa… aku tidak mau lihat!” seru Hyolyn sambil menutup wajahnya.

“Waegeurae??? Bagus sekali. Ppali lihatlah…” Hyosung menarik tangan Hyolyn agar tidak menutupi wajahnya.

“Oh jinchaaaaa… aku malu sekali…”

Beberapa saat kemudian, terdengar isak tangis dari Hyosung. Ia menangis terharu melihat film yang mereka buat sendiri. Hyolyn melihatnya dengan tatapan aneh dan kembali melanjutkan menonton.

“Aah, aku ingat bagian ini. Kita harus bekerja 2 kali lipat karena Nana dan Sunggyu bertengkar!” seru Hyosung.

“Ne… Sunggyu sampai kewalahan sendiri. Hahaha…”

“Ya, by the way… dimana Nana? Tumben dia belum datang…” Hyosung bertanya dalam gelap karena film tiba-tiba berhenti. “Molla. Aku sudah menelponnya, tetapi masih tidak bisa. Bagaimana kalau nanti siang kita ke apartemennya?” tanya Hyolyn. “NE!” jawab Hyosung dengan penuh semangat.

 

L.Joe duduk di taman belakang yang belakangan ini menjadi tempat favoritenya. Tidak ada yang menjamah tempat ini. Sepertinya tempat ini benar-benar tersembunyi. L.Joe, seperti biasa mulai sibuk dengan SLRnya dan memotret-motret pemandangan yang menurutnya memiliki nilai seni yang sangat tinggi. Setelah mendapatkan banyak sekali foto-fotonya, ia membuka lagi dan melihat-lihat kembali hasil jepretannya yang nyaris mulus tanpa cacat. Tangannya berhenti pada foto yang beberapa waktu terakhir ini selalu menghiasi SLR dan ruang cuci cetaknya. Objek favoritenya yang entah mengapa sudah jarang ia temukan di kampus. Bahkan sudah tidak pernah mengobrol lagi sejak di Jeju terakhir kali.

“Hh, kemana dia?” helanya lirih dan sendu.

L.Joe akhirnya kembali pulang ke rumah karena mata kuliahnya sudah habis dan akan menghadiri pertemuan dengan calon istri Hyungnya. Sebenarnya ia cemas, siapa yang akan dibawa oleh Hyungnya nanti. Karena setahunya, Hyungnya sudah tidak bersama Nana lagi melainkan dengan Bora. Tetapi L.Joe jelas masih sangat meragukan keseriusan Woohyun pada Bora.

L.Joe mengunci pintu kamarnya dan masuk ke ruang di bawah kamarnya. Tempat dimana hasil jepretannya di cuci dan di cetak di sana. Foto Noonanya menggantung di atas tali yang berada di samping ruangan. Sebelumnya L.Joe memang suka menjadikan Noonanya sebagai objek foto karena gayanya sangat keren. Tetapi belakangan, foto Jia mulai tergantikan dengan foto-foto Nana. Mulai dari pertama kali ia menjepret Nana saat di pantai dan sedang makan ice cream sampai terakhir kali sewaktu berada di taman belakang.

Ia bahkan harus menambahkan satu lagi tali karena foto-fotonya yang banyak sekali. L.Joe melengos. Ia harus segera mandi dan bergabung dengan Sunhwa Omma dan Doojun Abeoji ke hotel Bliss.

 

***

 

TOK TOK TOK

DING DONG DING DONG…

“Yaa… Yaa… buka pintunya…” seru Hyolyn. Sudah lebih dari 15 menit mereka di depan pintu apartemen Nana dan menekan-nekan belnya, tetapi belum ada jawaban dari dalam.

“Mungkin dia sedang pergi…” kata Hyosung untuk yang ke sekian kalinya juga.

“Hhh… apa boleh buat. Tapi perasaanku Nana ada di dalam…”

“Kalau dia ada di dalam, dia pasti akan membukakan pintunya untuk kita.”

“Hah!! Untuk apa dia mengganti kodenya! Aku jadi tidak bisa masuk dengan bebas lagi.”

“Kaja, aku lapar…” Hyosung menggeret Hyolyn.

Dari balik pintu, Nana hanya melengos dan berjalan kembali ke meja barnya dan menghirup kopinya lagi. Sebenarnya ia masih terjaga sampai sekarang juga karena begelas-gelas kopi yang diminumnya. Di bawah matanya ada kantung hitam yang terlihat sangat jelas karena seharian kemarin sampai tadi pagi dia masih menangisi Woohyun yang telah berpaling darinya. Sekarang dirinya sudah agak tenang. Nana memberanikan diri untuk mengaktifkan HPnya kembali. Serentetan pesan dari Hyolyn dan Hyosung memenuhi inboxnya. Tetapi tidak ada satupun pesan ataupun miscall dari Woohyun untuknya. Satu nama muncul di inboxnya. L.Joe. tetapi Nana tidak sedang berminat untuk membalasnya, hanya membacanya sambil sesekali tersenyum.

 

Tepat pada saat yang bersamaan di Hotel Bliss, Sunhwa Omma dan Doojun Abeoji sudah duduk manis sambil meminum anggurnya. Mereka terlihat asyik berbincang-bincang. Jia yang memakai dress pendek berwarna merah menyala dan L.Joe yang memakai jas abu-abu juga larut dalam obrolan mereka sendiri. Woohyun dan orang yang mereka nantikan belum juga datang sampai sekarang. Jia melirik jam tangannya. Sudah hampir jam 5.

“Menurutmu apa dia akan datang?” tanya L.Joe.

“Nugu?”

“Calon Woohyun Hyung…”

“Molla. Memangnya dia beneran putus dengan pacarnya itu?” tanya Jia akhirnya penasaran.

“Kudengar seperti itu. Di kampus heboh sekali…”

“Wah, kalau begitu tantanganku tetap berlaku padamu.” Kata Jia sambil tersenyum penuh arti. “Eh? Tantangan yang mana??” tanya L.Joe. “Kyaah…”

“Hhh, kalau aku benar-benar bisa membuatnya menyukaiku bagaimana?” tanya L.Joe menantang Noonanya.

“Sudah kubilang, kau boleh minta apa saja.”

TOKTOKTOK

Semua yang ada di dalam ruangan langsung duduk tegak dan menatap pintu yang masih tertutup. Namun beberapa detik kemudian, pintupun terbuka dan muncullah Woohyun yang tampak gagah sekali dengan jas hitam dan dasi merahnya. Di belakangnya tampaklah seorang gadis yang terlihat malu-malu memakai dress berwarna pastel.

“Annyeong, maaf aku sedikit telat. Masih ada sedikit urusan di kampus.” Woohyun membungkuk diikuti oleh Bora juga. “Kaja, masuklah…” bisik Woohyun. Bora mengangguk. Rambut keritingnya ikut bergoyang seirama dengan gerakan kepalanya.

Sunhwa Omma dan Doojun Abeoji hanya terdiam dan mempersilakan Bora untuk duduk di tempat yang telah mereka sediakan. Woohyun menyenggol L.Joe yang terbengong-bengong menatap Bora yang sama sekali bukan tipenya. Caranya memakai lipstick sungguh bukan tipe ideal L.Joe.

“Annyeong hassimnikka… choneun Hwang Bora Imnida, pangabsumnida… Mama…” kata Bora sedikit grogi lalu membungkuk dalam-dalam. Jia memandang Woohyun nanar seakan sudah siap untuk menginterogasinya tentang pacar barunya ini. Tetapi tentu saja ia menahannya hingga acara makan malam berakhir.

Mereka langsung memakan hidangan yang telah datang dengan anggun. Bora sedikit ragu hingga menjatuhkan garpunya ke lantai dan menimbulkan suara yang sangat berisik sekali.

“Jadi, kau benar-benar mencintai Woohyun?” tanya Sunhwa Omma disela-sela makannya.

 

***

 

“Yaahh, bagaimana bisa kau dengan anak itu? Kau sudah gila? Hhh sama sekali bukan tipe yang pantas untuk dijadikan adik iparku!” seru Jia mengomel di dalam mobil yang dinaiki oleh L.Joe, Woohyun, dan dirinya. Woohyun melengos untuk yang kesekian kalinya.

“Memangnya kenapa kalau dia bukan tipe idealmu? Memangnya aku peduli?”

“Yaah, kemana pacarmu yang dulu?” tanya Jia. Woohyun mengernyit. “Noona, kau tau pacarku yang dulu??”

“AH, ani ani… yaaa~ tapi yang ini parah sekali.”

“Hhh, aku sudah bosan dengannya, Noona.”

“Berarti benar kau sudah putus dengan pacarmu yang lama?” tanya Jia antusias. L.Joe hanya mendengarkan sambil berpura-pura tidur. “Aku belum putus.”

“Babo!! YA~ cepat putuskan dia kalau kau memang serius dengan Bora. Bisa-bisanya kau mempermainkan wanita! Hhh… mengapa aku harus mempunyai dongsaeng se babo Woohyun….” Gerutu Jia.

“Jadi L.Joe tidak babo? Yaa… come on, Noona…”

“Kau harus memilih, Woohyun~ah. Kau pilih pacarmu atau  Bora…”

“Geuraee geuraee…”

 

***

 

BRUG!

Nana yang tadinya berjalan dengan lesu kini sudah terjatuh karena badannya yang lemas. Sebenarnya ia hanya masuk kuliah karena hari ini ada test yang wajib diikuti untuk syarat agar dapat ikut ujian akhir. Barusan seseorang telah menabrakknya dan sekarang sedang berdiri di depannya. Nana melengos dan berdiri dengan sisa tenaganya yang masih ada. Ia mendongak dan mendapati Woohyun, orang yang tadi menabraknya dan bahkan tidak menolongnya. Nana semakin miris dibuatnya.

“Permisi…” Nana berniat pergi, tetapi Woohyun menghalangi. Ia tetap tidak menatap Nana malah ke arah lain dengan santainya. Nana beralih ke sisi satunya, tetapi dengan sigap Woohyun menghalanginya lagi. Orang-orang sedang ramai berkumpul karena tempat itu adalah lobby yang sering menjadi jalur penting di kampus. Makin banyak yang menonton dan berbisik-bisik. Tetapi Woohyun tetap focus untuk menghalangi Nana lewat.

“Waegeurae?”

“Ya~ neonun wae? Apa kau memikirkanku seharian sampai matamu seperti itu?” tanya Woohyun.

“Tsk…” decak Nana malas.

“Jincha. Jadi kau benar tidak pernah memikirkanku? Tidak salahlah kalau aku dengan Bora sekarang. Dia jelas lebih perhatian kepadaku…”

“Chukae.”

“Mwo?”

“Chukae. Apa kau tuli? Ya, minggir… aku malas melihat mukamu…”

Suara bisikan penuh cemooh makin keras terdengar. Woohyun hanya menanggapinya dengan tertawa.

“Beginikah kelakuan seorang pangeran?” tanya Nana penuh penekanan.

“Ani. Ya, sudahlah… aku tidak ingin terlalu bertele-tele. Aku hanya ingin kita putus. Jangan pernah menganggapku bagian dari hidupmu lagi. Karena aku sudah tidak menganggapmu seperti itu. Arasseo?”

“Wae? Ya~ sebenarnya apa salahku? Kau tidak pernah memberitahu apa salahku padamu!”

“Ani, kau tidak salah. Hanya saja Bora lebih menarik menurutku…”

“hh… Geurasseo. Dwaesseo!” Nana membanting map yang ia bawa. Woohyun berdecak dan melenggang pergi dengan gagah dan penuh wibawa. Terdengar sorakan “HUU…” penuh kemenangan dari orang-orang yang ada di situ. Nana menatap lantai-lantai atas yang ternyata sangat penuh dengan orang.

BYUURR!

Tubuh Nana basah seketika. Orang-orang yang berada di lantai atas dengan sengaja menyiramkan 3 ember air penuh pada Nana.

PLOOKK!!

Sebuah telur mentah menghantam kepalanya dan pecah seketika. Lalu bertambah dan semakin banyak yang melemparkan telur mentah ke arahnya. Nana hanya tertunduk dan menahan air matanya yang sudah hampir jatuh. Belum pernah ia dipermalukan sampai segini parahnya. Lalu seseorang lagi menghampiri Nana dan mengguyurnya dengan tepung terigu dengan beringas. Nana semakin tidak berbentuk. Ia bahkan sudah siap untuk dijadikan kue.

“HAHAHA, bagaimana kalau setelah ini kita panggang dia di oven?” tanya salah seorang mahasiswa.

“Geuraaaaee!!” sambut yang lainnya dengan tertawa juga.

“Geumanhae…” seru salah satu mahasiswa dengan rambut pirangnya. Ia mendekati Nana dan menggandengnya keluar dari lobby. Dan mengajaknya ke mobilnya. Tubuhnya sudah dipenuh dengan tepung. “L.Joe?” tanyanya lirih sekali. L.Joe terdiam lalu membersihkan sisa-sisa tepungnya.

“L.Joe?” tanyanya sekali lagi. Kali ini L.Joe menangguk dan tepat saat itu Nana merasa kepalanya sangat pusing dan ia ambruk di pelukan L.Joe yang begitu hangat.

“Ya… Nana~ah? Yaa? gwaenchana??” L.Joe mengangkat Nana dan membawanya masuk ke dalam mobil.

 

***

 

L.Joe membawa Nana ke rumah sakit karena takut terjadi apa-apa dengannya. L.Joe terus berjalan mondar-mandir hingga dokter Minjae keluar. Dokter Minjae sudah bekerja 30 tahun untuk keluarga kerajaan. Dokter Minjae menghampiri L.Joe yang raut wajahnya sudah sepucat mayat.

“Temanmu hanya sedikit kecapekan dan dehidrasi. Mungkin karena syok yang terlalu berat. Untuk sementara waktu biarkan dia beristirahat di sini sehari.” Katanya.

“Ne, ajusshi. Kamsahamnida…”

“Ne…”

L.Joe perlahan membuka pintu dan mendekati Nana yang terbaring lemah dengan jarum infuse yang menembus kulit tangannya. Di hidungnya juga ada selang untuk cairan agar cairan tubuhnya terpenuhi lagi sehingga tidak dehidrasi. L.Joe manarik kursi dan duduk di sisi ranjang sambil terus menatap Nana. Tangannya bergerak sangat pelan, ujung jarinya menyentuh pipinya. Sangat berhati-hati agar ia tidak terbangun. Lalu tangan satunya bergerak untuk menggenggam tangan Nana yang bebas dari jarum infuse.

“Apa kau terlalu memikirkan, hyung? Apa dia yang telah membuatmu menjadi seperti ini?” tanya L.Joe pelan.

“Nana~ah… Noona… mungkin ini sangat konyol. Tapi sepertinya aku… mencintaimu…” ucapnya.

“Saranghae…” lanjut L.Joe lagi. Perlahan ia bangkit dan mencium kening Nana lama sekali baru kemudian ia beranjak dan keluar dari kamar itu.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: