SARANG SARANG SARANG pt 6 [LAST PART]

Palace 1:30 AM

 

“Yoboseyo? Omma…”

“Ne? apa kau sudah merindukan Omma hah?” sahut Gahee Omma lalu terkekeh.

“Aku tidak betah tinggal disini. Hhh… mereka menyuruhku membaca buku kuno yang tebal dan menyuruhku untuk menghafalkan semua peraturan selama di istana. Ottokeyo? Lakukan sesuatu Omma. Aku benar-benar tertekan!” kata Nana. Gahee Omma lagi-lagi terkekeh.

“Gwaenchanayo, dar~ah. Kau harus tahan sebentar. Arasseo. Okay. Omma will be there before the D-day. Hwaiting jagiya!!”

TUT.

“Yoboseyo Omma? Omma? Jincha…” Nana melengos dan memasukkan kembali HPnya ke dalam saku hanboknya. Seharian ini ia harus memakai hanbok super tebal dan membaca buku sampai benar-benar habis. Sekilas ia melihat sosok L.Joe sedang berjalan sendiri ke loteng atas. Nana melihat keadaan sekitar, setelah benar-benar aman, ia mengikuti L.Joe ke tempat itu.

KRIEEK…

“L.Joe? kau di sini?” tanya Nana.

“Apa yang kau lakukan di sini?” tanya L.Joe kaget. “Aku mengikutimu.” Jawabnya lalu duduk di sebelah L.Joe.

“Gwaenchanayo?”

“Memangnya aku kenapa?” tanya L.Joe.

“Kau sudah tau tentang hal ini? L.Joe~ya, kalau boleh memilih, aku tidak akan memilih kalian berdua. Tetapi…”

“Kau ini bicara apa sih? Tentang pernikahan ini? Ya, Nana… aku yang harusnya minta maaf padamu. Aku tau sebenarnya kau masih mencintai Hyung. Kau tidak perlu merasa bersalah padaku. Ini semua keputusanku dulu. Kalau saja aku tidak menerima tantangan Jia Noona…”

“Jia Unnie menantangmu apa?”

“Aku tau dari awal kalau kau sebenarnya adalah pacar Hyung. Lalu Jia Noona menantangku untuk membuatmu suka padaku. Dan aku menyanggupinya. Mianhae…” kata L.Joe lalu tertunduk.

“Hh… dan pada akhirnya kau benar-benar menyukaiku?” tanya Nana.

“Ne. gwaenchanayo. Kurasa kita memang tidak ditakdirkan bersama. Aku akan menerima dengan senang hati kalau kau menjadi Noona iparku. Walaupun aku malas sekali memanggilmu Noona.”

“Aiihh… L.Joe~ya. Gomawoyo… Kau tau, aku sangat-sangat-sangat menyayangimu seperti dongsaeng kandungku sendiri.”

“Sebentar lagi aku akan menjadi dongsaengmu. Ingatlah itu.”

“Ne, aku ingat. L.Joe~ya… kau benar-benar tidak apa-apa kan? Aku tidak enak sekali padamu…”

“Im Nana, kalau kau sekali lagi bertanya tentang hal itu, aku tidak akan pernah memanggilmu Noona. Sudah kubilang, aku tidak apa-apa. lagipula aku masih terlalu muda. Aku mau meneruskan kuliah dulu dan bersenang-senang.”

“Jongmal Gomawoo dongsaeng..” seru Nana lalu mencubit pipi L.Joe dengan gemas.

 

***

 

1 minggu kemudian. Sabtu, 31 Desember 10:00 AM

 

Hari ini adalah hari pernikahan Woohyun dan Nana secara tradisional. Semua orang tampak dengan serius dan khidmat menjalani prosesi pernikahan yang disiarkan secara live di stasiun-stasiun televise. Woohyun dan Nana sudah hampir di ujung acara dan sedang melakukan penghormatan kepada semua tetua yang hadir di acara itu. Prosesnya memang agak lama karena banyak sekali yang harus mereka lakukan sesuai dengan adat korea.

“Bertahanlah sebentar lagi…” bisik Woohyun lalu menyeka keringat di dahi Nana.

“Gwaenchanayo.”

“Kita sudah resmi menjadi suami istri, Im Nana.” Bisik Woohyun lagi. Nana pura-pura tidak mendengarnya walaupun sebenarnya ia ingin melonjak saking senangnya. L.Joe tampak tersenyum bahagia dari jauh mengikuti upacara pernikahan itu. Jia sampai menitikkan air matanya karena terharu.

Suara Gong dibunyikan, tanda upacara pernikahan telah selesai.

Nana menjatuhkan dirinya di lantai dan memejamkan matanya. “Akhirnya…” Woohyun ikut tidur di sampingnya dan terengah. “Kita masih harus menikah secara modern besok. Istirahatlah…” kata Woohyun.

“Omo, kau mau tidur di sini?” tanya Nana panik.

“Tidak sekarang, Jagiya. Kita masih harus tidur terpisah…”

“Oh, that’s good…”

“Aish… saranghae…” Woohyun mengecup kening Nana kilat.

 

***

 

Esoknya…

“AIGOOOO NANAA!! AKHIRNYA KAU MENIKAH!!” seru Hyolyn histeris.

“Neee… kalian berdua bersiaplah menangkap buket bunga dariku.” Kata Nana.

“Aku tidak. Aku masih belum ingin menikah. Hahaha. Hyolyn sepertinya akan menyusulmu.” Sahut Hyosung.

“Geuraee… Hhhh ottohke. Aku takut sekali…”

“breath in breath out. Everything will be fine ok! Kau tau, Sunggyu sempat histeris mendengar kau menikah. Tapi dia dan Dongju akhirnya datang dan kita semua akan merekam moment bahagiamu.”

“Ne Ne. gomawoyooo…”

“Nana, Hwaiting!!!” seru mereka berdua lalu pergi. Meninggalkan Nana sendiri.

Seseorang membuka pintu perlahan. Dan sebuah kepala menyembul dari baliknya. “Yaaahh… istriku mengapa cantik sekali. Tsk tsk…” Woohyun terpesona dengan Nana. “Woohyun~ah, kau jangan lupa dengan janji sucinya, arasseo.” Kata Nana. “Aku tidak akan lupa. Ya, Im Nana. Kita sudah menikah, dan akan menikah lagi hari ini. Bisakah kau tidak bersikap jutek seperti itu padaku? Aku ini suamimu…”

“Jincha? Aku biasa saja…”

“Hh… Im Nana. Aku akan mempercayakan hidupku padamu.”

“Woohyun~ah, dengarkan baik-baik. Aku tidak akan mengulangi ini…” kata Nana. Woohyun mengangguk.

“Sa-rang-hae…” bisik Nana lirih. Woohyun membelalakkan matanya lalu mengecup Nana singkat dan berjalan keluar dari ruangan itu. Samar-samar, Nana bisa mendengar Woohyun berseru “yes” berkali-kali.

 

“Pengantin saling menukarkan cincin…” kata MC dengan antusias. Woohyun tersenyum lalu mengambil cincin dan memasangkannya di jari manis Nana. Begitu juga Nana. Ia memasangkannya hati-hati ke jari Woohyun. Setelah terpasang, dengan cepat Nana menarik kepala Woohyun dan mencium bibirnya dalam-dalam. Semua tamu yang hadir bertepuk tangan riuh sekali.

“Hyung! Chukkae!!” kata L.Joe lalu menepuk bahu Hyungnya. Woohyun tersenyum padanya dan memeluk Woohyun singkat. “Gomawo L.Joe~ya…”

“Hyung, kau harus jaga Nana baik-baik, aratji? Aku sudah mengalah untukmu. Kalau sampai kau melukainya, kau akan ku hajar…”

“Ne, Ne… tentu saja aku akan menjaganya. Hahaha… sebaiknya kau cari seseorang juga, L.Joe…”

“Akan kupikirkan. Hyung, ppali. Nana sudah menunggumu.” Kata L.Joe lalu mendorong Woohyun.

Setelah itu, Nana melemparkan buket bunga dari belakang dan Jia yang menangkapnya. Semua bertepuk tangan lagi. L.Joe yang paling keras lalu tertawa bersama Noonanya lagi. Setelah itu, mereka berfoto bersama keluarga mereka dan teman-teman sebelum acara berakhir. Nana tampak sangat bahagia sekali begitu juga dengan Woohyun.

“Ommaa…” seru Nana lalu menghambur ke pelukan Gahee Omma.

“Appaaa…” ia beralih ke Junhyung Appa.

“Ommaa… Appaa…” Junhyung Appa terisak. “Uljima… aku akan sering-sering mengunjungi Appa nanti…” kata Nana.

“Nana, kau harus jaga diri. Sekarang kau sudah berumah tangga. Appa dan Omma ingin cepat-cepat menggendong cucu…”

“Aigoo… Ya, Appa… Appa dan Omma masih terlalu muda untuk menggendong cucu.”

“Tidak masalah kapan saja. Ya~ ppali ppali… kalian kan harus berbulan madu…” Gahee Omma menggeret Nana masuk ke mobil Woohyun. “Omma… apa yang harus kulakukan nanti?” tanya Nana innocent.

“Tidak ada. Kalian hanya akan bersenang-senang. Arasseo… jalga. Omma saranghae…”

“Na do saranghae, Omma Appa…”

“Jagiyaa… ppali!” seru Woohyun dari dalam mobil. “Ye Ye…”

 

***

 

“Aah, melelahkan…” Nana ambruk di atas kasur dan mulai bergeliat.

“Ya, tidakkah kita seharusnya berbulan madu di jepang?” tanya Woohyun.

“Tidak perlu. Jeju juga menyenangkan.” Jawab Nana lalu merentangkan tangannya dan beranjak dari tempat tidur.

“Kau mau kemana?” tanyanya.

“Mandi.” Jawab Nana singkat lalu masuk ke kamar mandi. Woohyun melompat ke depan pintu kamar mandi.

“Jagiyaa… aku juga ingin mandi. Buka pintunya…” Woohyun mengetuk pintu kamar mandi dengan antusias.

“Mwoya? Tunggu dulu. Setelah aku selesai.”

“Anii… Jagiya, aku ingin mandi bersamamu.”  Rengek Woohyun. Nana membuka pintu kamar mandi. Woohyun langsung terpelongo. “Ya sudah, kau masuklah…” suruh Nana. Woohyun tersenyum gembira lalu masuk ke dalam kamar mandi. Nana tersenyum iblis dan segera keluar dari kamar mandi dan menutup Woohyun dari luar.

“YAA… JAGIYAA… Kenapa kau malah mengunciku di sini….???” Woohyun menggedor pintu.

“Katanya kau ingin mandi? Mandi sana. Aku akan menunggu.”

“Uuuh… arasseo.” Woohyun akhirnya mandi dengan menekuk mukanya.

Seteah selesai mandi, mereka berdua pergi berjalan-jalan ke pantai dan duduk di sebuah kedai eskrim yang sama seperti sewaktu ia makan eskrim bersama L.Joe untuk pertama kalinya. Woohyun memesan eskrim banyak sekali dan menyuruh Nana untuk memakan semuanya.

“Ya, Woohyun~ah. Kau tau… beberapa bulan lalu, aku pernah mengajak L.Joe makan eskrim di sini.” cerita Nana.

“Jincha? Setauku L.Joe tidak suka eskrim…” ujar Woohyun.

“Jongmal? Tapi dia memakannya kok.”

“Dia tidak bisa makan atau minum sesuatu yang dingin.” Kata Woohyun lagi.

“Aaah, benar juga. L.Joe tidak pernah minum sesuatu yang dingin…”

“Ya, tak bisakah kau berhenti membicarakan L.Joe saat kita bersama?” tanya Woohyun. Nana menatap Woohyun yang raut mukanya sudah berubah marah. “Kalau kau memang menyukai L.Joe, kau menikah saja dengannya.” Sahut Woohyun lalu pergi meninggalkan Nana sendirian. Nana terpelongo bingung. Woohyun bukan orang pencemburu, tapi entah mengapa jika menyangkut L.Joe ia sedikit sensitif.

Nana menyendokkan eskrim terakhirnya dan membayar eskrim yang sudah ia makan. ‘keterlaluan sekali Woohyun. Membiarkanku membayar ini semua. Apa ia juga ingin ditraktir seperti L.Joe?’ pikir Nana geram lalu berlari mengejar Woohyun yang sudah jauh sekali berjalan.

“Ya~ Nam Woohyun. Tunggu aku…” seru Nana. Namun Woohyun tidak memperhatikannya.

“Woohyun~ah…” panggil Nana lagi. Tidak ada tanggapan dari Woohyun. Nana berlari lebih cepat dan akhirnya ia hampir dekat dengan Woohyun. “Jagiya…” panggil Nana pelan. Woohyun berhenti. Nana tersenyum kecil lalu memeluk Woohyun dari belakang dengan erat.

“Mianhae, Woohyun~ah…” ucap Nana lirih. Woohyun masih diam.

“Apa kau cemburu?” tanya Nana hati-hati. Ia bisa merasakan Woohyun melengos. Dengan cepat Nana melepaskan pelukannya dan berdiri di depan Woohyun agar dapat melihat wajahnya.

“Jawab aku Woohyun~ah. Apa kau cemburu?” tanya Nana sekali lagi.

“Apa menurutmu aku cemburu?” tanya Woohyun akhirnya. Nana tersenyum puas dan mengangguk.

“Ani. aku tidak cemburu.”

“Ya~ aku ingin kau mengatakan kalau kau cemburu, Woohyun~ah…”

“NE, IM NANA. AKU SANGAT CEMBURU…” teriak Woohyun sambil menatap mata Nana dalam-dalam. Nana tersenyum lebar lalu berjinjit. Seketika Woohyun sudah memejamkan mata dan membiarkan Nana mencium bibirnya dengan lembut.

“Woohyun~ah, aku capek…” ucap Nana disela-sela ciumannya. Woohyun menatap Nana yang sekarang hampir sejajar dengannya. Ia bahkan baru sadar Nana sedari tadi berjinjit. “Naiklah, aku akan mengajakmu berjalan-jalan…” Woohyun membungkuk dan menawarkan punggungnya.

“Ne? aku berat sekali. Nanti punggungmu bisa remuk…”

“Tidak akan. Ppali…” Woohyun menarik Nana agar naik ke punggungnya. “Aiiisshh… kau berat sekali…” gumam Woohyun.

“Jinchaaa?? Aku akan diet, Woohyun~ah.”

“Jangan. Aku tidak mau kau diet. Arasseoo…?” kata Woohyun lalu berjalan menyusuri bibir pantai sambil menggendong Nana di punggungnya. Nana menenggelamkan wajahnya di rambut-rambut Woohyun yang halus. “Woohyun Jagiya… saranghae…” katanya.

“Aku tau. Kau sudah mengucapkan itu lebih dari seribu kali.”

“Jincha? Ini baru yang ke sepuluh.”

“Aniyo. Kau menyebutkan itu saat kau mengigau, Nana babo…”

“Yaahh!! Turunkan aku ppali!! Aku akan menghajarmu!!”

“Never. Aku tidak akan melepaskanmu…” sahut Woohyun lalu tertawa bahagia.

 

***

 

“Nana, berjanjilah padaku satu hal…” gumam Woohyun dari balik selimut.

“Mwo?”

“Kau akan terus mengatakan hal itu setiap hari padaku…”

“Mwo?”

“Yang selalu kau katakan, Im Nana…” Woohyun memeluk Nana dan meletakkan kepala Nana di dadanya.

“Woohyun~ah, mulai sekarang mulailah menghitung berapa kali aku mengatakan saranghae padamu.” Kata Nana.

“Katakan itu setiap pagi, siang, malam, dan setiap saat.”

“SA RANG HAE, Jagiya…” ucap Nana lalu mengecup bibir Woohyun singkat sebelum ia tertidur.

“Na do. Nomu nomu nomu nomu nomu nomu nomu nomu nomu nomu nomu nomu saranghae, Im Nana…”

 

THE END

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: