The Chungsim Fight Part 1

Beberapa abad silam, sebuah kerajaan di Negeri Korea Tenggara hidup dengan makmur dan tentram, terkecuali jika Negeri Korea Tenggara sedang terlibat perang dengan Negeri Korea Barat Laut. Korea Barat Laut sering sekali melemparkan bola api ke Negeri Korea Tenggara. Tidak hanya rakyat yang hidup di Negeri itu saja yang terancam. Karena bola api itu ukurannya sangatlah besar, hampir menyerupai bom, bola itu bisa menggilas habis beberapa benteng di Negeri Korea Tenggara.
Kerajaan Chungsim. Kerajaan ini merupakan Kerajaan utama dengan benteng megah dan besar yang dihuni oleh Raja dan Ratu Chungsim beserta kedua anak perempuan kembarnya. Chungsim berarti pusat. Memang, Kerajaan Chungsim adalah pusat pemerintahan Negeri Korea Tenggara.
Kerajaan-kerajaan lain yang mengikuti Kerajaan Chungsim tersebar di seluruh wilayah Negeri Korea Tenggara. Semua kerajaan-kerajaan yang berada di wilayah ini dan juga termasuk Kerajaan Chungsim disebut dengan Insamgop. Insamgop berarti tujuh ginseng. Tujuh Kerajaan di Negeri Korea Tenggara.
Semua orang tau, Benteng Chungsim merupakan yang tertua dan sangat dimuliakan. Dan Chungsim memiliki 6 benteng pengikut yang menjadi tameng. Jadi memang tidak mudah untuk menghancurkan bahkan mengambil alih tahta di Kerajaan Chungsim. Mereka harus benar-benar menakhlukan 6 benteng lainnya. Karena pepatah yang terus dipegang oleh Rakyat Negri Korea Tenggara, “

********

Kerajaan Hosu

Kerajaan Hosu adalah salah satu Insamgop. Kerajaan Hosu terletak paling jauh dengan Kerajaan Chungsim. Letak bentengnya ada di tengah-tengah danau, itulah sebabnya Kerajaan ini diberi nama Kerajaan Hosu. Dan dengan dipimpin oleh seorang Jendral muda ahli panah bernama Jendral Yoochun, Kerajaan Hosu dapat menghidupi rakyat yang tinggal di sekitar Kerajaan Hosu.
Kerajaan Hosu sangat terkenal dengan prajuritnya yang sangat ahli panah. Semua prajurit di sana memang di latih khusus untuk memiliki keahlian panah. Jendral Yoochun tidak tinggal sendiri di benteng itu, ada dongsaengnya yang juga tinggal bersamanya dalam benteng itu.
Kerajaan Hosu memiliki sebuah pasukan besar yang dikenal dengan nama Mul. Selain memiliki keahlian untuk memanah, pasukan prajurit ini juga mendapatkan pelatihan khusus untuk berenang. Hal ini disebabkan karena letak Kerajaan Hosu yang berada di tengah danau. Keistimewaan mendapatkan pelatihan berenang adalah karena hanya mereka yang bisa berenang dari seluruh negeri Korea Tenggara.

******

Kerajaan Noona

Kerajaan Noona merupakan kerajaan kedua yang letaknya terjauh kedua setelah Kerajaan Hosu. Kerajaan ini memiliki beberapa keistimewaan, salah satu diantaranya adalah kerajaan ini dipimpin oleh seorang wanita. Wanita perkasa ini adalah Jendral Hyoyeon. Awalnya, kerajaan ini dipimpin oleh seorang laki-laki tapi kemudian ia dikalahkan oleh Hyoyeon dalam pertarungan memperebutkan gelar pimpinan di kerajaan ini. Akhirnya Hyoyeon mampu mengalahan laki laki itu dan memimpin kerajaan ini sampai sekarang.
Kerajaan Noona memiliki 2 resimen besar, yaitu Resimen Kembang Goyang dan Resimen Kembang Boseok. Resimen Kembang Goyang memiliki 4 ksatria tangguh yang seluruh anggotangnya adalah wanita perkasa. Mereka adalah Tiffany Yang, Yoona Yang, Yuri Yang dan Sunny Yang. Di tiap akhir nama mereka selalu ditambahkan kata ‘Yang’. ‘Yang’ merupakan gelar yang diberikan kepada ksatria yang masuk Resimen Kembang Goyang.
Sedangkan Resimen Kembang Boseok juga memiliki 4 ksatria kuat yang masing-masing bernama Ce Jessica, Ce Taeyeon, Ce Seohyun dan Ce Sooyoung. Berbeda dengan Resimen kembang Goyang yang menyisipkan gelar ksatrianya di belakang nama mereka, Resimen Kembang Boseok memberi gelarnya di depan nama dengan menambahkan kata ‘Ce’.

****

Kerajaan Kuksu

Kerajaan Kuksu memiliki arti ‘Bakmi’. Nama ini diambil karena pimpinan kerajaan ini, Jendral Hankyung adalah pecinta bakmi sejati. Sehingga ia memutuskan bahwa nama kerajaan yang dipimpinnya adalah Kerajaan Kuksu. Meskipun kerajaan ini tidak memiliki resimen yang terkenal seperti kerajaan lainnya, kerajaan ini tetap merupakan salah satu benteng yang tingkat kekuatannya cukup tinggi. Hal ini disebabkan karena Jendral Hankyung memiliki ilmu berperang yang cukup tinggi. Sehingga tidak mudah untuk menaklukkan dan mengambil alih benteng ini.

****

Kerajaan Gaekkin

Kerajaan Gaekkin merupakan sebuah kerajaan yang letaknya berada jauh di dalam rimba. Tempat dimana kerajaan ini berasal selalu ditutupi oleh kabut tebal. Sehingga musuh-musuh yang menyerang akan kesulitan untuk melihat karena terhalangi kabut tebal ini. Kerajaan Gaekkin ini dipimpin oleh Jendral Shindong. Tingkat kekuatan kerajaan ini sebenarnya mudah untuk ditaklukkan, tapi karena tebalnya kabut yang menghalangi pandangan musuh jadi musuh menganggap bahwa kerajaan ini susah untuk ditaklukkan.
Jalur kerajaan ini meliputi rawa-rawa, sungai, dan jalan setapak yang berliku dan tentu saja dipenuhi kabut yang sudah ada sejak Kerajaan Gaekkin ini belum berdiri.

*****

Kerajaan Dasson

Kerajaan Dasson adalah salah satu benteng terkuat yang melindungi Chungsim. Kerajaan Dasson terletak di puncak gunung yang sangat tinggi. Letak benteng utama kerajaan ini berada di salah satu dari beberapa puncak gunung yang ada. Kerajaan ini dipimpin oleh Jendral GD. Kerajaan ini menjadi salah satu kerajaan terkuat karena pertahanan para pasukannya yang disebut Horangi yang mampu bertahan pada suhu yang sangat rendah. Banyak musuh yang kalah karena mereka tidak tahan dengan suhu di benteng utama yang terletak di puncak gunung. Hanya yang mampu bertahan di suhu ekstrim lah yang bisa menaklukkan Kerajaan Dasson ini.

*****

Kerajaan Hyoraek

Kerajaan Hyoraek yang berarti darah adalah benteng terkuat yang dimiliki Kerajaan Chungsim. Nama Hyoraek sendiri memiliki arti, yaitu sebuah benteng yang dari luar terlihat sangat mudah untuk ditaklukkan. Tapi dibalik itu semua, terdapat prajurit prajurit terpilih sehingga banyak sekali pertumpahan darah yang terjadi di tanah kerajaan Hyoraek. Kerajaan Hyoraek dipimpin oleh Jendral Kangin. Kerajaan ini juga dikenal dengan sebutan Kerajaan Akhir karena setelah musuh berhasil menaklukkan Kerajaan Hyoraek, mereka akan memasuki Chungsim. Tapi sampai saat ini belum ada satu pun pasukan dari negeri lain yang berhasil mengalahkan Kerajaan Hyoraek dibawah pimpinan Jendral Kangin. Jendral Kangin pun mendapat daulat menjadi Jendral terbaik dalam sejarah Negeri Korea Tenggara.

*****

Kerajaan Chungsim

Kerajaan tertua dan yang paling dituakan oleh rakyat Korea Tenggara. Semua kepemerintahan Korea Tenggara berada di Kerajaan ini. Kerajaan Chungsim dulunya dipimpin oleh seorang Raja bernama Lee Sooman dan seorang Ratu bernama Lee Sangmi. Akan tetapi, keduanya gugur dalam pertempuran terakhir mereka dengan Korea Barat Laut dan meninggalkan 2 orang Putrinya. Lee Hyorin dan Lee Haerin.
Selama beberapa bulan ini, posisi pemerintahan Chungsim diambil alih oleh Jendral Joon untuk mengisi kekosongan pemerintahan sebelum salah seorang Putri Chungsim menggantikan posisi orangtuanya. Tetapi, di sinilah permasalahan terjadi.

*****

“Jendral Joon, aku memerintahkanmu segera untuk memanggil Hwarang Yesung dari Resimen Baram untuk segera menghadapku.” Perintah Hyorin. Jendral Joon membungkuk dan segera pergi dari hadapan Hyorin. Haerin yang sedari tadi mengintip dari balik pintu akhirnya masuk.
“Unnie, aku berharap kau tidak menggunakan cara licik untuk mendapatkan tahta ini.” Kata Haerin.
“Ya~ kau tau apa? Aku yang akan menggantikan orangtua kita untuk memimpin Korea Tenggara. Dan tidak ada yang bisa menghalangiku…” jawab Hyorin.
“Kau tidak bisa melakukan itu. Mengapa tidak biarkan saja Jendral Joon yang memimpin Negeri ini? Ingat, aku juga berhak atas tahta itu.”
“Aku lebih dulu lahir. Tentunya akulah yang berhak menggantikan posisi Omma sebagai Ratu Chungsim. Sudahlah, kau tidak perlu khawatir, Insamgop akan kupimpin dan Negeri Korea Tenggara akan hidup sejahtera di tanganku. Kita akan memenangkan perang melawan Negeri Korea Barat Laut.” Ucap Hyorin lalu memejamkan mata sejenak.
Tok!
“Hormat, Yang Mulia Putri Hyorin.” Seru Hwarang Yesung.
“Segera siapkan Resimen yang kau pimpin untuk upacara penyerahan tahta besok pagi. Aku tidak mau sampai ada sedikitpun pengganggu di upacara besok. Dan juga, segera utus para kurir untuk menyampaikan berita ini kepada Kerajaan-kerajaan lain. Mulai besok, aku yang akan menjadi Ratu di Chungsim. Hahahaaaa…” tawanya menggelegar.
Haerin hanya memandang saudara kembarnya dengan tatapan muak kemudian keluar dari tempat singgasana Raja.
“Nee, Yang Mulia Putri Hyorin, laksanakan…” sahut Hwarang Yesung, membungkuk lalu pergi dengan tatapan serius.

******

Penasihat Kangta memutar-mutar token teratai di hadapannya. Token itu bahkan selalu berhenti di gambar teratai yang sama. Haerin diam menunggu Penasihat Kangta yang hendak angkat bicara.
“Putri Haerin, sebenarnya itu bukan masalah besar, mengingat Putri Hyorin adalah anak pertama dari Kerajaan Chungsim. Namun, jika Putri Haerin memang mencemaskan kepemimpinan Putri Hyorin, itu bisa dipertimbangkan…” kata Penasihat Kangta bijak.
“Tapi, aku dan Hyorin adalah saudara kembar. Ini tidak adil. Dia selalu mengambil keputusannya sendiri tanpa mempedulikan orang lain. Aku tidak yakin jika Hyorin akan memimpin Negeri ini dengan baik…” kata Haerin.
“Hmmm… aku bisa melihatnya, Putri Haerin. Aku mengerti. Tapi kita tidak bisa berbuat banyak.” Jawab Penasihat Kangta. “Hyorin bahkan sudah memanggil Hwarang Yesung untuk menyiapkan upacara pergantian tahta besok pagi. Ottohkee??”
“Ke empat Resimen Chungsim tidak akan bertindak jika salah satu Resimen tidak menyetujui pergantian tahta ini. Jika Tuan Putri memang ragu, temui saja Hwarang Leeteuk untuk berbicara. Mungkin dia dapat membantumu.”
Benar, 4 Resimen Chungsim yang terbagi atas Resimen Baram yang dipimpin oleh Hwarang Leeteuk, Resimen Nun yang dipimpin oleh Hwarang Ryeowook, Resimen Taeyang yang dipimpin oleh Hwarang Eunhyuk, dan Resimen Bi yang dipimpin oleh Resimen Leeteuk.
Resimen-Resimen ini merupakan tombak Kerajaan Chungsim. Mereka adalah rakyat biasa yang direkrut oleh Kerajaan Chungsim untuk dilatih menjadi Prajurit di Kerajaan Chungsim. Dan Resimen ini dibagi menurut tingkatannya. Resimen Baram adalah yang terkuat, dan Resimen-Resimen lain di bawahnya mengikuti.
Selain para Resimen yang menjadi tombak Kerajaan Chungsim, juga ada sekelompok orang yang tinggal di Swordian Village dan Arrowan Village. Seperti namanya, Swordian Village berisi sekelompok orang yang khusus dilatih untuk menjadi ahli Pedang. Sama halnya dengan Arrowan Village. Orang yang tinggal di sana memang khusus dilatih untuk menjadi pemanah.
Tetapi sayangnya, belum banyak orang yang tau keberadaan kelompok-kelompok ini. Umumnya, Swordian Village dan Arrowan Village hanya mengirimkan pasukannya jika keadaan sudah benar-benar kritis.

“Hwarang Teuki! Baiklah, aku akan segera menemuinya. Kamsahamnida Penasihat Kangta. Annyeong,”

*****

Swordian Village

“Bangsawan Kibum, semua pedang sudah selesai dibuat. Akan dikemanakan setelah ini?” tanya Heechul, bangsawan yang paling dekat dengan Kibum.
Kibum memasukkan pedang samurainya kedalam sarungnya lalu mengernyit. “Sudah selesai?”
“Nee. Semuanya sudah selesai dibuat.”
“Baiklah kalau begitu. Segera kirimkan ke Benteng Chungsim. Mereka tidak suka menunggu.” Kata Kibum. Heechul mengangguk lalu menyuruh semua anak buahnya mengepak dan mengirimkannya pada Kerajaan Chungsim. Kibum masuk ke dalam kubu pertahanan Swordian Village.
“Semuanya!! Lanjutkan Latihaan! Istirahat sudah selesai!!!” seru Kibum.

*****

“Err, Hwarang Leeteuk…”
“Yang Mulia…”
“Ada sesuatu yang ingin kusampaikan padamu. Ikutlah ke dalam…” perintah Haerin.
Haerin membawa Hwarang Leeteuk ke dalam ruangan yang tidak begitu luas disbanding dengan ruangan-ruangan di istana yang lain. Namun, ruangan itu memiliki aura tertentu yang membuat orang yang memasukinya menjadi tenang dan damai.
Haerin tersenyum lalu menyuruh Hwarang Leeteuk untuk duduk di sebuah kursi yang ada di dalam ruangan itu, sementara Haerin membuka selambu-selambu yang menutupi ruangan itu.
“Ini ruangan pribadiku.” Kata Haerin.
“Ah, Maaf Yang Mulia…”
“Gwaenchanaa. Kau mau teh?” tawar Haerin lalu menuangkan teh hijau dari dalam poci ke dalam cangkir yang berukuran sangat mini. Leeteuk hanya tersenyum. Haerin mengerti lalu menuangkannya juga ke dalam cangkir lainnya. Leeteuk menunggu hingga Haerin meneguknya, baru ia akan meneguknya juga.
“Sejujurnya jika aku boleh berpihak, aku akan berpihak pada Resimenmu, Hwarang Leeteuk.” Ucap Haerin akhirnya setelah menghela nafas cukup panjang.
Leeteuk memicingkan matanya mencoba mendalami perkataan Haerin.
“Begini, kau sudah dengar kan jika Saudara Kembarku akan mengadakan upacara pergantian tahta besok.”
“Sudah, Yang Mulia. Hwarang Yesung sudah memberitahu kami semua untuk mempersiapkan segalanya.” Jawab Hwarang Leeteuk.
“Aku tidak setuju dengan upacara itu. Dengar, jika salah satu resimen bisa bisa menolaknya dan berpihak padaku, itu akan menggagalkannya. Dan, aku mempercayakan ini padamu, Resimen Bi.” Kata Haerin. Hwarang Leeteuk bingung, sampai-sampai ia tidak berani menatap mata Haerin. Sebagai Hwarang, ia tidak boleh memihak pada satu orang. Tugasnya hanyalah untuk memimpin Resimen.
“Maaf, Yang Mulia… Tapi ini melanggar hukum yang berlaku.” Ucap Hwarang Leeteuk.
“Araseo. Ini bukan karena aku iri dengan saudara kembarku atau apa. Kau tau sendiri kan, bagaimana Saudara kembarku itu ingin sekali mengambil alih kerajaan hanya untuk kesenangannya semata? Bukan itu yang kuinginkan. Aku tidak ingin rakyat-rakyatku menderita dan hidup kelaparan.” Tegas Haerin.
“Jadi, apa maksud Yang Mulia…~?”
“Nee, aku percaya sepenuhnya padamu. Aku sangat percaya padamu, Hwarang Leeteuk.”
Hwarang Leeteuk melengos. “Baiklah, aku akan berusaha.”
Haerin mengangguk sambil tersenyum menatap Hwarang Leeteuk.

*****

Chungsim, 10:00

Hari itu belum begitu terik. Semuanya berkumpul di halaman benteng Chungsim. Tak terkecuali Haerin yang juga hadir di upacara itu. Ia mengenakan Hanbok yang bagian atasnya berwarna pink dan bagian bawahnya yang berwarna merah. Ia tampak berdiri dengan tenang. Sesekali ia melirik sinis pada Hyorin, saudara kembarnya.
Hyorin yang berdiri di depan mimbar, berdiri dengan penuh hormat. Para Resimen berdiri di depannya dengan membawa bendera Resimennya masing-masing. Dari keempatnya, hanya Resimen Bi lah yang paling tampak gelisah. Mereka membawa misi besar yang sangat berpengaruh bagi seluruh rakyat.
GOONGG!!
Bunyi Gong pertama terdengar. Semuanya diam. Salah satu pengawal memasuki pintu gerbang kerajaan Chungsim dengan kudanya. Hyorin tampak sangat menikmati upacara ini. Terlihat dari wajahnya yang selalu memaparkan senyumannya.
Pengawal itu memberikan gulungan perkamen itu pada Jendral Joon. Jendral Joon membuka gulungan itu dan berdeham kecil, bersiap-siap membacakan isinya. Isi dari perkamen itu adalah janji-janji untuk menjadi Ratu yang sah. Hyorin menunggu.
“Apakah Bangsawan Lee Hyorin bersedia untuk menjaga nama baik Kerajaan Chungsim dan Negeri Korea Tenggara?” ucap Jendral Joon.
“Aku bersedia.”
“Apakah Bangsawan Lee Hyorin rela untuk berkorban demi membela Negeri Korea Tenggara…?”
“Aku Bersedia,”
“Apakah Bangsawan Lee Hyorin bersedia untuk memimpin Negeri Korea Tenggara tanpa imbalan?”
“Aku bersedia…” ucap Hyorin.
Haerin menatap sosok Hyorin dari belakang. Haerin mendengar Bibi Bom berbicara pada Suaminya. Bibi Bom adalah Unnie dari Ommanya. Mereka tinggal di belakang istana Chungsim. Mereka sendiri yang meminta.
“Aku benar-benar tidak yakin. Hyorin sangat meniru Sangmi.” Bisiknya.
“Aku juga sedikit ragu. Tapi apa boleh buat, sepertinya Haerin juga tidak bisa berbuat apa-apa.” Jawab Paman Bom. Haerin memejamkan matanya sejenak untuk mendengarkan pembicaraan mereka.

GOOONGG!! GOONGG!!
“Apakah di antara kalian ada yang tidak setuju?” tanya Jendral Joon. Tidak ada reaksi. Haerinpun tidak berbuat apa-apa. Hwarang Leeteuk juga lebih takut pada Hyorin ketimbang Haerin yang mempercayakannya selama ini. Haerin melengos. Ia benar-benar berharap Hwarang Leeteuk akan mengajukannya. Rupanya, dirinya salah mengira.
GRAAAAKKKK ….
“Tungguuuu …” pekik seseorang dari arah gerbang.
Semua menatapnya. Dia seorang perempuan dengan pakaian yang amat lusuh. Dia berusaha melepaskan cengkraman pengawal yang sedari tadi menahannya.
“Yaaaaa~~ lepaskan akuuu… aku ingin mengajukan keberatanku!!!” rontanya.
Haerin ingin memerintahkan para pengawal untuk melepaskannya, tetapi Hyorin menahannya untuk itu.
“Apa yang membuatmu datang ke tempat kehormatan ini?” tanya Hyorin.
“Aku keberatan jika kau menjadi Ratu di Chungsim!”
“Waawawaaa… siapa kau bisa berkata seenaknya seperti itu, hah?”
“Aku memang orang biasa, tapi aku tau siapa kau! Aku tidak suka kau menjadi Ratu Chungsim!!” katanya sambil menunjuk Hyorin. Hyorin mengernyit.
Hwarang Leeteuk maju lalu meletakkan bendera Resimennya. Ia menunduk dalam-dalam.
“Maaf, Yang Mulia… aku- juga keberatan.” Katanya. Para Hwarang terbelalak dengan pernyataan Hwarang Leeteuk barusan. Hwarang Eunhyuk di sebelahnya menyenggolnya. Tetapi, Hwarang Leeteuk tidak mempedulikannya.
“Ada apa lagi ini?” gerutu Hyorin. Haerin tersenyum lalu turun dari atas undakan.
“Lepaskan dia, Pengawal!” suruhnya pada pengawal-pengawal itu agar gadis lusuh itu tidak mengerang kesakitan.
“Unnie, aku juga sama tidak setujunya dengan mereka. Sudah kubilang kan, sebelumnya?”
“Pengawal, tangkap gadis itu dan penjarakan dia. Ini perintah!!” suruh Hyorin.
“Andwae! Dia akan ku urus setelah ini. Hwarang Ryeowook, antar dia ke dalam…” kata Haerin. Hwarang Ryeowook membungkuk lalu menyerahkan benderanya pada wakil Hwarang.
“Ayo,” ucapnya ketus sambil menarik paksa tangan gadis itu.

“Apa maumu, Hah??” bentak Hyorin.
“Aku hanya tidak setuju. Begitupula dengan Resimen Bi.” Kata Haerin. Hyorin menatap seluruh Resimen Bi di bawah bendera kebanggaannya. “KAU!!!”
“Dengan begini, pengangkatan Bangsawan Hyorin menjadi Ratu dibatalkan karena alasan tertentu. Baiklah, bubarkan!!” suruh Jendral Joon pada masing-masing Resimen dan prajurit kerajaan. Semuanya bubar. Hyorin segera masuk ke dalam ruangannya dengan wajah ditekuk 9.
Leeteuk menatap Haerin hati-hati. Tetapi Haerin mengacuhkannya dan masuk.

*****

“Kau sudah rapi. Bagaimana? Apakah dayang-dayang memperlakukanmu dengan baik?” tanya Haerin ramah. Haerin tertawa kecil lalu menuangkan teh panas.
“Duduk dan minumlah…” kata Haerin lalu berlalu. Ia membuka beberapa buku dan membaca isinya. Gadis itu duduk dengan ragu-ragu. Haerin meliriknya sesaat.
“Siapa namamu dan darimana asalmu?” tanya Haerin.
“Namaku Hwang Hyemin, Yang Mulia. Dan aku tinggal di perkampungan Gil, tetapi mulai beberapa hari yang lalu aku ikut dengan seorang ajusshi di sekitar sini.” Jawab Hyemin lalu meminum teh panasnya perlahan. Haerin tidak menjawab.
“Yang Mulia, maafkan aku jika tadi aku sangat lancang…” ucap Hyemin.
“Kau tidak meminta maaf, justru aku sangat berterima kasih padamu, Hyemin~ah. Tapi bagaimana kau tau ada upacara di sini?” tanya Haerin.
“Ituu…”
“Apa salah satu Hwarang yang memberi tahumu?”
“Nee…”
Haerin mengangguk lalu duduk di depan Hyemin sambil membaca bukunya. Hyemin melihat ke sekitar ruangan. Ruangan itu memang sedikit berantakan. Banyak sekali kertas-kertas bertebaran. Namun, Hyemin merasa nyaman sekali di sini.
“Tenang saja, tidak ada siapa-siapa di sini.” Kata Haerin.
“Eh-oh, Yang Mulia…”
“Ya?”
“Apa~”
TOK TOK TOK…
“Err~ sebentar ya…” kata Haerin lalu beranjak untuk membukakan pintu.
“Yang Mulia, Bangsawan Hyorin memanggilmu.” Lapor Jendral Joon. Haerin tersenyum. “Baiklah, aku akan segera ke sana. Kau tolong antar dia ke kamar ya, sepertinya dia butuh istirahat. Jangan sampai ia kenapa-napa. Aku masih ada sedikit urusan dengannya.” Kata Haerin lalu berlalu.
“Baik, Yang Mulia…”

*****

Singgasana Raja,

“Unnie memanggilku?” tanya Haerin.
“Hh, apa kau masih bisa bertanya apa aku memanggilmu?” timpal Hyorin ketus.
“Penasihat Kangta, ada apa lagi ini sebenarnya? Apa Bangsawan Hyorin tidak puas karena gagal menjadi Ratu Chungsim karena kemurkaannya sendiri?” tanya Haerin.
“Diam kau, Haerin! Aku ingin kita perang, perang untuk mendapatkan tahta Ratu Chungsim. Kau menginginkannya kaaaan ???” kata Hyorin.
“Mwo? Kau serius, Unnie ?” tanya Haerin, mukanya berubah menjadi serius.
“Aku serius! Kau sebenarnya juga menginginkannya, tetapi kau tidak percaya diri untuk memimpin Korea Tenggara. Lalu untuk apa kau menggagalkan upacara tadi?”
“Kau pikir aku takut dengan ancaman perangmu?” tanya Haerin tenang.
“Mwo, beraninya kau!!” pekik Hyorin.
“Yang Mulia, memang tidak ada cara lain. Kalau memang seperti ini keadaannya, mau tak mau kalian harus berperang untuk mendapatkan tahta ini. Kecuali salah satu merelakan yang lain untuk menjadi Ratu Chungsim. Yang Mulia, Chungsim butuh pemimpin untuk memimpin Korea Tenggara secepatnya.” Kata Penasihat Kangta.
“Aku sudah menyarankanmu untuk mengalah, Haerin.” Kata Hyorin.
“Mana mungkin aku bisa mengalah jika tau watak aslimu seperti apa…” balas Haerin.
“Baiklah jika begitu. Aku sudah memperingatkanmu untuk mengalah, Hae. Kau yang tidak mau mendengarkanku. Pengawal Taemin, beritakan seluruh Negeri kalau kita akan berperang. Dan, segera siapkan pasukan untukku.” Kata Hyorin. Haerin menggeleng, lalu pergi.
“Ambil semua orang yang membelaku! Dan, siapkan semuanya. Besok pagi kita mulai berangkat ke Barat.”
“Laksanakan, Yang Mulia…” jawab Pengawal Taemin lalu pergi dari situ.
“Pengawal Seungri, panggil para Hwarang ke sini sekarang juga!” suruh Hyorin.
“Laksanakan, Yang Mulia…”

“Apa Yang Mulia yakin akan berperang?” tanya Penasihat Kangta untuk ke sekian kalinya.
“Sudah kukatakan berapa kali? Aku yakin! Hanya itu yang dapat membuktikan bahwa akulah yang pantas untuk menjadi Ratu Chungsim.” Kata Hyorin kaku.
“Hormat Yang Mulia…” sahut para Hwarang.
“Yayaya.”
Hyorin melengos. “Seperti yang kubayangkan, aku dan saudara kembarku, Bangsawan Haerin akan berperang. Aku ingin kalian ikut denganku dan membelaku. Kalianlah yang terpilih.” Kata Hyorin.
“Maaf Yang Mulia, apa Yang Mulia benar-benar yakin?” tanya Hwarang Eunhyuk.
“Tentu saja. aku tau, ini satu-satunya cara agar aku dapat menjadi Ratu Chungsim. Jika terus menunggu, Haerin tidak akan pernah menyerahkan tahta ini untukku begitu saja…” jawab Hyorin.
“Maaf Yang Mulia, aku tidak bisa membela Yang Mulia.” Kata Hwarang Leeteuk tiba-tiba. Hyorin mengernyit. Hwarang Eunhyuk lagi-lagi menyenggolnya.
“Hah, sudah kuduga. Kau akan tetap membela dongsaengku. Kau memang tidak bisa diandalkan. Pantas saja kau tidak bisa menjadi Resimen paling baik di Chungsim. Kau terus membelanya…” kata Hyorin.
“Pergilah, besok kita berangkat pagi-pagi.” Suruh Hyorin lalu pergi masuk ke kamarnya sendiri. Hwarang Yesung mendekat Hwarang Leeteuk dan menarik bajunya.
“Kau bodoh sekali, kau memang pantas menjadi Hwarang di Resimen Bi. Kau bahkan tidak tau mana yang pantas untukmu. Kalau kau ikut bersama Bangsawan Hyorin, hidupmu akan terjamin. Kita akan memenangkan perang ini Karena Bangsawan Haerin tidak punya kekuatan apapun.” Kata Hwarang Yesung.
“Ya~ aku tidak peduli dengan itu.” Kata Leeteuk lalu pergi dari tempat itu meninggalkan ketiganya yang tertawa terbahak-bahak, menertawakan dirinya dan Haerin.

Hwarang Leeteuk menemui Haerin di dalam kamarnya. Sebenarnya, itu pelanggaran dan bisa dikenai hukuman bila mengunjungi seorang Bangsawan di kamarnya. Tetapi, Haerin cepat-cepat menarik Hwarang Leeteuk masuk ke dalam. Hwarang Leeteuk terus menunduk karena malu. Ia tidak biasa melihat Haerin hanya memakai baju tidurnya dan tidak memakai make up sedikitpun.
“Apa yang membuatmu menemuiku tengah malam begini?” tanya Haerin sambil menguap. Hwarang Leeteuk diam.
“Mian, kau datang malam-malam seperti ini sih. Aku kan belum mempersiapkan diri. Sudahlah, hanya kau yang tau diriku yang sebenarnya seperti apa.” Kata Haerin.
“Yang Mulia, kita harus berangkat sekarang.” Kata Hwarang Leeteuk.
“MWOO ?! Berangkat untuk apa ? malam-malam seperti iniii ???” pekik Haerin.
“Yang Mulia, kita tidak bisa menunggu lebih lama lagi. Saat ini yang terpenting adalah segera pergi dari Chungsim jika ingin selamat.”
“Kenapa tidak menunggu besok saja?”
“Tidak bisa. Kita tidak punya cukup pasukan, Yang Mulia. Dan Bangsawan Hyorin sudah merekrut semua Resimen bersamanya. Jika menunggu sampai besok, aku khawatir… Bangsawan Hyorin akan mulai menyerang kita.” Kata Hwarang Leeteuk. Haerin berdiri menuju ke jendela kamarnya.
“Akhirnya, hari ini datang juga. Aku sudah lama membayangkannya. Berapa orang yang ikut, Hwarang Leeteuk?” tanya Haerin menoleh pada Hwarang Leeteuk.
“Jumlahnya ada 100 orang, Yang Mulia.”
Haerin mengangguk. “Hyemin. Bangunkan Hyemin. Dia akan ikut bersama kita. Latihlah dia sebagai anak Resimenmu, Hwarang Leeteuk. Dan, jangan sampai terjadi apa-apa dengannya.” Pesan Haerin lalu pergi dari tempat itu untuk mempersiapkan semuanya.

*****

2 responses

8 12 2009
minzypop

ceilaaah, ini cerita gua yang bikin ??
*Mimin mengkerik : aku juga ikut aciiiittt ><"
HAHAHAAA

19 12 2009
Other Masterpieces « Minzypop's Blog

[…] The Chungsim Fight […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: