UNFORGETTABLE

Kamis sore ini kota Seoul diguyur hujan yang cukup deras. 2 orang anak perempuan terlihat sedang menunggu jemputan mereka.

“Unnie, mana jemputan kita? Apa mereka lupa untuk menjemput kita?” tanya anak yang bernama Minji.

“Sabarlah, Minji~a… mungkin jalannya sedang macet.” Terang unnienya, Haekyu.

Tak lama, tiba-tiba sebuah mobil berhenti di depan mereka berdua. Lalu si pengemudi membuka salah satu kaca mobilnya.

“Minji~a. Haekyu~a… cepatlah masuk.” Ucap Haerin. Haerin adalah unnie dari mereka berdua. Keduanya pun segera masuk ke dalam mobil sebelum mereka basah terkena hujan. Kemudian mobil itu bergerak menuju rumah mereka.

“Annyeong…” sapa ketiganya begitu memasuki rumah mereka yang terasa hangat.

“Annyeong. Kalian kehujanan?” tanya Hyemin, unnie mereka bertiga.

“Aneyo, unnie… kami aman dari hujan. Tadinya kupikir tidak ada yang menjemput kita. Haerim unnie lama sih…” terang Minji sambil meletakkan tasnya.

“Ya sudah kalau begitu. Cepatlah mandi. Kalau mandinya sudah selesai, omma meminta kita untuk berkumpul di ruang keluarga.” Jelas Hyemin. Ketiganya mengangguk dan segera pergi mandi.

“Waeyo, omma?” tanya Haekyu tidak sebar.

“Begini, Omma dan Appa akan mengajak kalian berlibur ke Jeju Island. Bagaimana menurut kalian?” tanya Omma mereka.

“Liburan? Ke Jeju Island?” tanya Haekyu. Ommanya mengangguk mantap. Keempatnya masih terdiam. Mereka masih mencerna ucapan omma mereka. Omma mereka pun menunggu reaksi mereka berempat. Suasana menjadi hening.

“Kalian tidak senang?” ucap Omma mereka memecah keheningan. “Kalau begitu kita tidak jadi liburan…” ucap Omma mereka.

“Ah. Aneyo. Aneyo… kami sangat senang Omma…” ucap Haerin akhirnya sambil memeluk ommanya yang kemudian disusul oleh Hyemin dan Haekyu. Kemudian mereka bersorak gembira.

“Kau tidak ikut, Minji~a?” tanya Omma mereka bingung. Ia bingung karena biasanya Minji lah yang paling semangat jika diajak pergi liburan. Sepertinya haerin mengetahui masalah Minji. Ia kemudian berjalan mendekati Minji yang masih terduduk di sofanya.

“Minji~a, kita akan berlibur ke Jeju. Kita semua…” terang Haerin. Minji masih bingung.

“Liburan? Jadi kita semua akan pergi libuaran?” ulang Minji. Haerin mengangguk. Terlihat senyum yang leber dari bibir Minji. Kini ia ikut bersorak bersama unnie-unnienya.

“Kita akan liburan…!!!! Asiiiiiikk!!!!!!!!”

***********

“Hyemin unnie, bagaimana kalau kita pergi belanja?” usul Minji kepada Hyemin. Mereka semua baru saja selesai packing bawaan mereka.

“Belanja? Ayo. Haekyu~ah, Haerin~ah… kalian mau ikut kita belanja apa tidak?” ajak Hyemin kepada Haekyu dan Haerin yang sedang bermain monopoly di ruang tengah.

“Belanja? Asiikkk… Aku ikut, unnie…” ucap Haekyu meninggalkan Haerin sendirian di depan permainan monopoly mereka.

“Tunggu… Aku juga ikut…” ucap Haerin sambil langsung menyusul ketiganya yang sudah berjalan menuju mobil mereka.

Di supermarket…

“Ambillah yang kalian mau.” Ucap Hyemin kepada semua dongsaengnya.

“Mwo? Benarkah, unnie?” tanya Haekyu. “Nee~” jawab Hyemin.

“Gratis?” tanya Minji. “Nee~” jawab Hyemin lagi. Haekyu dan Minji saling berpandangan dengan senyum lebar di wajah mereka berdua. Kemudian mereka berdua langsung pergi untuk mengisi trolley mereka dengan makanan dan keperluan mereka untuk liburan nanti.

“Kau tidak ikut bersama mereka, Haerin~ah?” tanya Hyemin kepada Haerin yang masih berdiri di sampingnya.

“Aneyo… Aku bersama unnie saja.” Ucapnya sambil mulai berjalan mencari keperluan mereka.

Tak sampai 20 menit, Minji sudah kembali menemui unnienya.

“Unnie, kami sudah selesai…” ucap Minji dengan penuh senyuman. Tapi tidak terlihat Haekyu yang tadi pergi bersamanya ataupun trolley yang terisi dengan keperluannya.

“Mana Haekyu?” tanya Haerin. “Dan belanjaanmu?” sambung Hyemin. Minji masih tersenyum senang. “Itu…” Minji menunjuk ke arah Haekyu yang terlihat sedang mendorong trolley yang terisi penuh dengan keperluan mereka. Dan sebagian besar isi trolley itu adalah makanan. Hyemin dan Haerin takjub dengan isi trolley mereka yang menggunung.

“Araseo… ayo kita bayar…” ucap Hyemin. Kemudian mereka segera membayar belanjaan mereka di kasir.

“Mwo?! 5ribu won Cuma buat belanjaan kita berdua?” Haekyu terkejut melihat total belanjaan mereka yang tertera di struk tersebut. Minji pun ikut memperhatikan struk yang sedari tadi diteliti oleh Haekyu.

“Kasihan Hyemin Unnie, tau? Uangnya habis Cuma buat kalian berdua…” Haerin ngomel di sebelah Hyemin yang menyetir mobil mereka.

“Mianhe, unnie…” ucap keduanya bersamaan dengan wajah yang memelas. Hyemin menatap wajah mereka dari kaca mobil.

“Gwenchan’a… itu uang dari omma kok. Dan uang itu memang dipakai untuk belanja liburan…” jelas Hyemin.

“Jincha?? Gwenchan’a, Haerin unnie…” ucap Haekyu  terkekeh bahagia. Kini Hyemin melihat wajah Minji dan Haekyu berubah ceria lagi. Mobil mereka melesat di jalanan Seoul yang masih basah karena sorenya diguyur hujan yang tidak terlalu deras.

*******

Icheon Airport, 09.35…

Minji dan keluarganya menunggu jadwal keberangkatan pesawat mereka dengan tujuan ke jeju Island. Semua tampk gembira dengan liburan ini. Minji, Haerin dan Hyemin tampak sedang berfoto-foto. Sedangkan Omma dan Appa mereka sedang sibuk membaca majalah yang mereka bawa dari rumah. Tapi Haekyu terlihat tidak senang dengan liburan ini. Hyemin yang menyadarinya langsung menghampiri Haekyu.

“Haekyu~ah, ada apa?” tanya Hyemin yang kini sudah berdiri di depan Haekyu. Haekyu menggeser posisi duduknya agar unnienya bisa duduk bersamanya.

“Aneyo, unnie…” jawab Haekyu dengan wajah cemas.

“Ayolah. Ceritakan padaku. Kau kenapa?” tanya Hyemin lagi. Haekyu menarik nafasnya.

“Baiklah, aku akan bercerita. Unnie, aku merasa ada yang aneh.” Ungkap Haekyu kepada Hyemin. Hyemin mencerna kalimat Haekyu.

“Aneh? Aneh bagaimana?” tanya Hyemin. “Molla. Seperti akan terjadi sesuatu yang buruk, unnie…” terang Haekyu. Kini wajahnya semakin terlihat ketakutan.

“Araseo. Tidak akan terjadi apa-apa. Percayalah padaku.” Ucap Hyemin yang mencoba untuk menenangkan Haekyu. Haekyu mempercayai Unnienya bahwa tidak akan terjadi apa-apa. Dan kini wajahnya ceria kembali.

Kemudian tiba waktunya bagi mereka untuk berangkat ke Jeju Island. Mereka pun melangkahkan kaki dengan riang gembira.

Di dalam pesawat…

Haekyu mengamati seisi pesawat itu. Ia melihat ke segala penjuru pesawat. Semua tampak baik-baik saja. Tapi  perasaannya semakin memburuk. Sepertinya hal buruk itu akan benar-benar terjadi dan menimpa mereka semua yang berada di pesawat itu.

Peawat sudah lepas landas, semua tampak baik-baik saja. Suasana di dalam pesawat sangatlah tenang. Tapi tiba-tiba pesawat itu mengalami guncangan yang cukup kuat sehingga membuat para penumpang menjadi panic.

“Semuanya jangan panic. Ini hanya gangguan teknis. Tetaplah tenang.” Ucap salah seorang pramugari. Meskipun ia meminta seluruh penumpang untuk tetap tenang, tapi wajahnya menunjukkan tanda-tanda kepanikan yang luar biasa.

Kini seluruh penumpang merasakan bahwa pesawat ini mulai meluncur tak terkendali ke bawah. Haekyu mulai meneteskan air matanya. ia merasa bahwa hal buruk inilah yang akan menimpa seluruh keluarga mereka. Ternyata bukan hanya Haekyu yang menangis karena hal ini. Dongsaeng dan kedua unnienya juga melakukan hal yang sama, termasuk omma dan appa mereka.

Akhirnya pesawat yang mereka tumpangi jatuh ke tanah. Seluruh penumpang terluka cukup parah. Hyemin yang juga terluka cukup parah mulai bangkit untuk mencari keluarganya.

“Omma… Appa… Haerin~ah… Haekyu~ah… Minji~ah…!!!” Hyemin memanggil seluruh keluarganya. Dihadapannya terlihat jelas bagaimana parahnya pesawat itu mengahantam tanah. Asap hitam yang bersumber dari api di bagian ekor pesawat masih mengepul dan membumbung tinggi di udara. Beberapa orang melakukan hal yang sama dengan Hyemin. Mereka bersahut-sahutan memanggil nama anggota keluarga mereka. Hyemin mencarinya diantara orang-orang yang berjalan kesana-kemari.

Ia tetap berjalan meskipun kaki dan tangannya terasa sangat sakit. Lalu di antara orang-orang yang berlalu lalang, Hyemin mendapati sosok Haerin dengan jaket abu-abunya yang sudah berlumuran darah sedang terduduk menahan sakit di atas sebuah batu besar.

“Haerin~ah…!” Hyemin berteriak dengan suaranya yang parau. Haerin menoleh dan mendapati unnienya mengampirinya dengan sedikit berlari.

“Unnie…” Haerin menangis dipelukan Hyemin. Begitu pula sebaliknya.

“Bagaimana keadaanmu?” tanya Hyemin kepada Haerin. Haerin hanya meringis menahan sakit yang dialaminya.

“Sepertinya tangan kiriku patah, unnie… apakah unnie menemukan yang lainnya?” tanya  Haerin. Hyemin hanya bisa menggelengkan kepalanya. Tapi ia masih berusaha mencari keluarganya. Satu-satunya keluarga yang ia temukan hanya Haerin saja. Sedangkan yang lainnya belum ditemukan.

Hyemin kembali bangkit untuk mencari keluaranya.

“Unnie, mau kemana?” ucap Haerin sambil memegang tangan Hyemin.

“Mencari Omma, Appa, Haekyu dan Minji.” Terangnya. “Aku ikut.” Pinta Haerin. Hyemin mencegahnya.

“Aneyo… kau tetap disini saja, biar unnie yang mencari mereka.” Hyemin mendudukkan Haerin yang sudah berdiri.

“Aku tetap ikut.” Tegas Haerin. Hyemin tidak bisa melakukan apa-apa untuk mencegah dongsaengnya. Akhirnya mereka berdua mulai mencari keluarga yang lainnya. Mereka sepakat untuk berpencar mencari keluarganya.

“Haekyu~ah… Minji~ah…” Haerin memanggil nama mereka.

“Omma… Appa…” panggil Hyemin kepada Omma dan Appanya.

“Unnie, aku melihat Omma dan Appa…” ucap Haerin dari tempatnya. Hyemin segera menampirinya dan berjalan menuju Omma dan Appanya. Keduanya selamat dengan luka di badannya. Mereka berempat punsaling berpelukan.

“Omma, kita masih harus mencari Minji~ah dan Haekyu~ah.” Terang Hyemin. Ommanya mengangguk. Hyemin segera berbelik untuk mencari kedua dongsaengnya. Tapi ketika ia berbalik, ternyata Haekyu menemukannya.

“Unnie…” Haekyu langsung menangis dipelukan Hyemin dan Haerin. Keduanya langsung menenangkan Haekyu yang menangisnya semakin menjadi.

Setelah tangis Haekyu mulai mereda, mereka sepakat untuk mencari Minji yang masih belum mereka temukan. Mereka mencari ke seluruh penjuru tempat kejadian itu. Tapi mereka tidak bisa menemukan Minji.

“Aku tidak bisa menemukan Minji~ah…” ucap Haerin. Hyemin dan Haekyu juga memberi kabar yang sama. Mereka tidak menemukan Minji dimana pun.

Sampai reruntuhan pesawat itu sudah dibersihkan, Minji tetap tidak ditemukan. Omma dan Appa mereka semakin panic ketika mengetahui bahwa anak terkecil mereka tidak ditemukan.

“Minji menghilang…”

***********

“Kembalikan sepatuku, hyung…” rengek Ryeowook kepada Kangin. Kangin mengerjai Ryeowook kali ini. Ia berniat untuk menyembunyikan sepatu milik Ryeowook.

“Hahahahaaa. Ayo ambil kalau bisa.” Ejek Kangin sambil mengangkat tinggi tangan kanannya yang memegang sepatu milik Ryeowook. Ryeowook semakin berjinjit untuk mendapatkan kembali sepatunya.

“Bagaimana kalau sepatu ini ku buang?” tanya Kangin.

“Aneyo, hyuuuuunnnggg… jangan kau lakukan itu.” Rengekan Ryeowook semakin menjadi. Kangin masih tertawa senang. Ryeowook masih melompat-lompat untuk mendapatkan sepatunya kembali.

SYIIIUUUWWWW…

Sepatu milik Ryeowook diterbangkan Kangin ke tempat lain yang datarannya lebih rendah dari tempat mereka berada sekarang.

“Omonaaaaaa… Tega sekali kau, hyung…” Wajah Ryeowook memelas. Kangin masih tampak senang melihat Ryeowook seperti ini.

“Temani aku mengambil sepatuku, hyung…” Ryeowook menarik tangan Kangin untuk menemaninya mencari sepatunya yang tadi dibuang Kangin. Tapi Kangin buru-buru menepis tangan Ryeowook.

“Ogah. Aku tak mau menemanimu. Ajak saja yang lain. Hahahahaha.” Tawa Kangin merajalela. Kemudian Kangin berjala kembali menuju rumah mereka. Ryeowook melengos. Kemudian ia melihat Kyuhyun yang baru datang dari acara lari paginya.

“Kyuuuuuu…” panggil Ryeowook dari tempatnya. Kyuhyun menoleh dan mendapati Ryeowook berjalan dengan terpincang-pincang karena sebelah sepatunya dibuang oleh Kangin.

“Temani aku mencari sepatuku.” Pinta Ryeowook. Tanpa banyak bicara Kyuhyun mengangguk setuju dan segera mengikuti langkah Ryeowook yang berjalan di depannya.

Mereka mulai mencari sepatu Ryeowook. Mereka mencari sampai ke semak-semak. Mereka mulai berjalan menuju sungai yang ada disana. Sungai yang berarus deras itu tampak sangat jernih dengan banyak batu besar di dalamnya. Tapi, di pinggir sungai itu Ryeowook menemukan sesuatu yang mencurigakan.

“Itu apa, Kyu?” tanya Ryeowook sambil menunjuk ke pinggir sungai. Kyuhyun melihat ke arah yang dimaksud Ryeowook. Benar saja, ia juga menemukan sesuatu yang mencurigakan. Lalu mereka berjalan mendekati benda mencurigakan itu.

“Menurutmu itu apa?” tanya Ryeowook polos. Kyuhyun tidak menjawab.

“Batang pohon mungkin?” jawab Kyuhyun. Ryeowook menatap Kyuhyun dan mengajaknya lebih mendekat lagi. Lalu mereka berjalan semakin dekat ke benda aneh itu.

“Omaonaaaaaaaa…!!!!!! Ini kan manusia, Kyu???” jerit Ryeowook histeris.

“Tenanglah, Hyung. Bagaimana kalau kita panggil yang lain untuk menyelamatkannya?” usul Kyuhyun yang langsung disambut dengan anggukan kepala Ryeowook. Secepat kilat mereka berlari menuju rumah mereka.

‘Seluruh korban jatuhnya pesawat dinyatakan selamat walau mereka harus mengalami luka yang cukup parah. Namun menurut daftar penumpang pesawat, seorang penumpang dinyatakan hilang……’

“Kasihan sekali mereka.” Ucap Leeteuk. saat ini mereka sedang menyaksikan berita tentang pesawat tujuan Jeju Island yang jatuh dari televisi.

“Haish. Tapi aku kasihan kepada penumpang yang hilang itu.” Tambah Eunhyuk. Yang lain menganggukkan kepalanya.

“Semua, bisakah kalian membantu kami?” tanya Kyuhyun tiba-tiba.

“Untuk apa? Mencari sepatu Ryeowook? Hahahaha.” Ejek Kangin lagi. Tapi Ryeowook langsung mengangkat kaki kanannya yang sudah terlindungi dengan sepatunya yang tadi diterbangkan Kangin.

“Aneyo. Ini masalah darurat! Cepatlah…!!” ajak Kyuhyun. Akhirnya mereka semua mau mengikuti keman Kyuhyun dan Ryeowook melangkah.

Tak berapa lama mereka tiba di tepi sungai itu.

“Omaigoootttt… itu kan manusia???” Heechul mengeluarkan respon yang sama seperti respon Ryeowook tadi.

“Yaiyalah itu manusia… Siapa bilang itu batang pohon?” ejek Yesung. “Kyuhyunnie…” sahut Ryeowook tiba-tiba sambil menunjuk ke arah Kyuhyun. Kemudian mereka saling mengejek. Keadaan menjadi sangat ricuh.

“Sudahlaaaaaaahh… jangan ribut. Ayo kita tolong anak ini.” Usul Donghae menenagkan mereka semua yang sama berisiknya dengan ibu-ibu arisan yang dapet lotre panci serba guna. Lalu mereka semua langsung tenang.

“Ayo kita bawa dia ke rumah.” Ucap Donghae. mereka saling berpandangan.

“Gendonglah dia…” suruh Leeteuk. donghae mendelik. “Aku???” tanya Dongahe tak percaya. Leeteuk mengangguk mantap penuh keyakinan. Tapi Donghae menggeleng cepat.

“Lalu siapa yang mau membawanya ke rumah?” tanya Leeteuk. tiba-tiba Kibum muncul dan langsung menggendong perempuan itu. Setelah itu mereka semua berjalan lagi menuju villa mereka.

Kibum meletakkan gadis itu di atas kasur. Yang lain mengikuti Kibum dari belakang.

“Ada yang mau ikut aku membeli perlengkapan untuk gadis ini?” tanya Leeteuk. semua langsung mengacungkan tangannya, kecuali Kibum dan Donghae.

“Kalau begitu kita berangkaat sekarang saja. Keburu dia sadar.” Ajak Leeteuk. akhirnya mereka semua pergi berbelanja kecuali Kibum dan  Donghae yagn memilih untuk tetap di rumah menjaga gadis itu.

Mereka berdua mengambil kursi dan meletakkannya di sebelah kasur itu. Mereka mengamati gadis itu. Gadis itu tampak sangat berantakan. Bajunya terkena darah dan banyak bagian yang sobek. Dan kepalanya terluka.

“Bummie, bagaimana kalau kau bersihkan dia? aku nggak tega melihatnya berantakan seperti ini.” Usul Dongahe sambil beranjak dari tempat duduknya.

“Kenapa bukan kau saja, hyung?” tanya Kibum. Donghae menoleh.

“Aku akan membuat bubur untuknya. Jalgaaaaa…” Donghae ngeloyor pergi. Kibum masih belum bergerak. Ia masih diam di kursinya.

“Jangan kau apa-apakan dia, Bum~ah…” ucap Donghae yang tiba-tiba muncul lagi dari balik pintu kamar itu. “Nee~”

Kibum beranjak dari tempat duduknya dan berjalan menuju kamarnya untuk mengambil kemejanya yang ukurannya cukup besar dari dalam lemarinya. Ia kembali ke kamar yang ditempati gadis itu dan berniat untuk mengganti pakaiann gadis itu. Setelah ia mengganti bajunya, Kibum membersihkan luka yang diderita gadis itu. Kini gadis itu tampak lebih bersih dari sebelumnya.

Tak lama Donghae datang sambil membawa semangkuk bubur yang terlihat masih mengepul. Kibum menyambutnya dengan penuh senyuman. Kemudian dia meletakkan mangkuk bubur itu di atas meja yang berada di sebelah tempat tidur itu. Donghae memperhatikan gadis yang masih belum sadarkan diri itu. Ia menemukan sesuatu yang berbeda dari sebelumnya.

“Bummie, apa ini hanya perasaanku saja atau memang ada yang berubah dengannya?” ucap Donghae.

“Apa hyung?” tanya Kibum. Donghae masih diam. Dia terus mencari perbedaan yang dirasakannya. Tiba-tiba…

“KAU MENGGANTI BAJUNYA??!!!” pekik Donghae sambil berkacak pinggang. Kibum mengangguk dengan polosnya. Dongahe melotot kepada Kibum.

“Jadi kau,,,” pertanyaan Dongahe menggantung. “Wae?” tanya Kibum. Donghae menggelengkan kepalanya.

“Melihat…” lanjut Donghae. Kibum masih belum mengerti dengan maksud ucapan Donghae. Donghae melirikkan matanya kepada anak yang masih tertidur itu. Kibum mencoba mencerna maksud Dongahe.

“Oh, itu. Hehehe… Sedikit Hyung…” jawab Kibum cengengesan sambil menggerakkan jarinya. Dongahe hanya bisa duduk diam mendengar pengakuan Kibum barusan. Sedangkan Kibum Cuma menggaruk kepalanya yagn tidak gatal.

Lama kamar itu menjadi sunyi. Yang terdengar hanya bunyi detak jam dinding di kamar itu.

“Menurutmu dia kenapa, Bummie?” Donghae akhirnya memecah kesunyian di kamar itu. Kibum menutup buku cerita yang dibacanya.

“Molla. Menurutmu kenapa, Hyung?” Kibum balik bertanya kepada Donghae. Donghae hanya menggerakkan bahunya. Kemudian Donghae berjalan menuju meja yang berada di ujung ruangan itu. Ia mengambil tas milik anak itu yang ikut hanyut bersamanya.

“Bukalah tas ini.” Pinta Donghae sambil memberikan tasnya dipangkuan Kibum. Kibum menggeleng.

“Ayolah, Bummie. Masa kau berani membuka pakaiannya tapi tidak berani membuka tas bawaannya?” ucap Dongahe. Kibum melotot.

“Aneyo. Aku kan berniat untuk membersihkaannya, bukan maksud yang lain. Lagipula kan, kau yang menyuruhku.” Terang Kibum.

“Baiklah, kalau begitu aku yang membukanya.” Ucap Dongahe lalu membuka tasnya dan mengeluarkan isinya. Akhirnya Kibum ikut melihat isi tas tersebut.

Satu per satu mereka keluarkan barang-barang yang ada di dalamnya. Pandangan mereka berhenti pada sebuah buku kecil berwarna pink yang bergambar lucu.

“Menurutmu ini apa? Sejenis diary?” tanya Donghae. lagi-lagi Kibum hanya bergidik.

“Buka saja, Hyung…”

Kemudian Donghae membuka buku itu. Halaman pertama hanya bertuliskan sebuah nama dengan tulisan yang sangat rapi.

Jung Minji…’ itulah tulisan diawal halaman.

“Jung Minji? Mungkinkah itu namanya?” tanya Kibum. “Mungkin…” jawab Donghae.

Kemudian mereka membuka halaman berikutnya. Terdapat sebuah foto yang di dalamnya terdapat 6 orang yang sedang tersenyum bahagia.

My family ^^’ tulisan dengan tinta warna-warni itu menjadi judul di halaman itu. Mereka melanjutkan ke halaman berikutnya.

Di halaman selanjutnya terdapat 4 orang perempuan yang sedang tersenyum bahagia di sebuah ruangan yang dihias dengan lucu. Sepertinya mereka sedang berfoto di acara ulang tahun seseorang. Mereka pun membalik ke halaman berikutnya.

Minji & Hyemin Unnie… #1 Unnie’. Di foto ini terdapat dua orang perempuan yang sedang berpose di padang rumput yagn luas dengan senyum yang sangat alami. Mereka berdua berpandangan dan memperhatikan foto itu.

“#1 unnie? Maksutnya apa, Hyung?” tanya Kibum.

“Molla. Mungkin Hyemin ini adalah Unnienya yang pertama.” Jawab Donghae. lalu mereka lanjut ke halaman berikutnya. Objek yang sama, hanya saja background dan partner yang berbeda.

“Wajah Hyemin berubah ya?” ucap Donghae. Kibum buru-buru menoyor kepala Donghae. Donghae mendelik.

“Kau tidak bisa baca, Hyung? Itu bukan Hyemin, tapi Haerin.” Ucap Kibum kepada Dongahe sambil menunjuk sebuah tulisan di bawah foto itu. ‘Minji & Haerin Unnie… #2 Unnie’.

“hehehehe… ga keliatan, Bummie…” ucap Donghae sambil menggosok kepalanya yang baru saja ditoyor Kibum.

“Kira-kira mereka ini foto dimana?” tanya Donghae. “Itu kan pantai, Hyung.” Jawab Kibum. Donghae manggut-manggut. Kemudian mereka membalik ke halaman selanjutnya.

Minji & Haekyu Unnie… #3 Unnie’.

“Hosh, berapa banyak Unnie yang dimilikinya?” protes Donghae.

“Biarkan saja Hyung. Terserah Omma dia kan?” jawab Kibum. Lalu Donghae membuka kembali halaman sebelumnya yang terdapat foto mereka berempat.

“Mereka cantik-cantik.” Ucap Donghae sambil memperhatikan wajah di dalam foto itu satu per satu.

“Kaau cocok dengan Minji, Bummie…” ucap Donghae tiba-tiba yang membuat Kibum menyemburkan minuman yang baru saja diminumnya.

“Kenapa bisa begitu?” tanya Kibum lalu kembali duduk di sebelah Donghae.

“Molla. Kalian sepertinya sangat cocok.” Jawa Donghae. Kibum lalu merebut buku itu dari tangan Donghae dan mulai memperhatikan wajah mereka berempat.

“Kalau kau cocok dengan, pfffhhh…” mulut Kibum dibekap oleh Donghae. Kibum meronta-ronta.

“Aku tau. Aku cocok dengan Hyemin Sshi.” Jawab Donghae. kibum memutar bola matanya. “Terserah kau, Hyung.”

Lalu mereka memasukkan kembali buku itu ke dalam tas Minji dan duduk di samping kasur Minji. Mereka menunggu hingga Minji tersadar.

“Aa… ehm…” Minji bersuara. Kibum dan Donghae langsung bertampang siap untuk menyambut Minji yang tersadar dari masa tak sadarkan dirinya.

Minji membuka matanya. Tapi terlalu silau karena terlalu banyak cahaya yang masuk ke matanya. Ia lalu mengerjapkan matanya berulang kali. Kemudian ketika matanya sudah siap untuk melihat sekitar, ia menemukan dua orang lelaki yang berada di sampingnya dengan wajah penuh senyuman.

“Annyeong…” sapa Donghae. Minji tidak menjawab. Ia masih belum bisa merespon apa-apa. Kepalanya sangat sakit.

“Dimana ini?” Minji akhirnya bersuara. “Di villa kami.” Jawab Kibum. “Villa? Kenapa aku ada disini?” Minji bertanya lagi.

“Justru seharusnya kami yang harus bertanya, apa yang terjadi padamu?” tanya Kibum.

“Molla, aku tidak bisa mengingat apa-apa.” Ucap Minji. Kemudian Donghae berpamitan keluar sebentar karena ia harus mengangkat teleponnya. Kibum duduk tepat di sebelah Minji.

“Asalmu dari mana, Minji~ah…?” tanya Kibum dengan bibir penuh senyuman.

“Minji? Siapa itu?” ucap Minji. Kibum terdiam. “Lalu namamu siapa?” tanya Kibum yang mengetes daya ingat Minji.

Minji diam. Ia mencoba mengingat. Tapi yang terjadi adalah kepalanya menjadi sangat sakit. Semakin ia mencoba mengingat, semakin sakit kepalanya. Melihat Minji yang kesakitan, Kibum mencoba menenangkannya.

“Aku tidak tau siapa namaku…!!!” pekik Minji. Ia lalu menangis dan rasa sakit di kepalanya semakin hebat.

“Sudah. Jangan dipikirkan lagi.” Kibum meminta Minji untuk berhenti berpikir. Tapi Minji tidak mendengarkannya dan ia semakin berteriak-teriak. Kibum tak tega melihat Minji seperti itu. Ia mencoba menenangkannya tapi sangatlah susah.

“Apa boleh buat…” ucapnya. Kibum lalu memeluk Minji untuk menenangkannya. Kibum merasakan nafas Minji yang tersengal-sengal. Minji merasa Kibum memeluknya sangat erat sekali.

“Sudahlah. Tidak usah kau pikirkan, Noona.” Bisik Kibum di telinga kiri Minji yang kini sudah mulai tenang. Minji meresapi kata-kata Kibum dan berhenti memikirkan apapun. Setelah Minji benar-benar tenang, Kibum baru melepaskan pelukannya.

“Noona. Dari bukumu yang aku baca, namamu adalah Minji. Jung Minji.” Terang Kibum. Minji mengangguk.

“Namaku Minji?”.

“Nee~…”. Minji lalu menunjukkan senyumnya untuk yang pertama kali setelah lama ia tak sadarkan diri.

“Bisa kau ingat sesuatu, Minji~a?” tanya Kibum. Ia mencoba untuk bertanya beberapa hal kepada Minji.

Minji mencoba mengingat. Di pikirannya terlintas beberapa kejadian yang dialami sebelumnya. Ia mengingat sebuah pesawat yang jatuh kemudian terbakar.

“Jeju… Pesawat… jatuh… terbakar…” ucap Minji sambil mencoba terus mengingat. Tapi kini ia mulai terlihat kesakitan lagi. Kibum mengkhawatirkannya.

“Sudah. Cukup, Minji~a… sekarang kau beristirahatlah.” Ucap Kibum dengan senyuman lalu mencoba menidurkan Minji.

Cukup lama ia menunggu Minji untuk tidur. Akhirnya setelah Minji tertidur, Kibum berjalan keluar kamar itu untuk menemui yang lainnya yang baru datang dari berbelanja.

“Sepertinya kita menemukan korban pesawat yang hilang.” Ucapnya pada dirinya sendiri. Pelan-pelan ia menutup pintu kamar itu agar tidak membangunkan Minji.

******

Pagi itu, jam tangan Kibum menunjukkan jam 07.44. jadi Kibum telah bangun dari tidur malamnya. Ia lalu berjalan menuju lantai 2, yaitu kamar yang ditempati oleh Minji. Setelah membuka pintu pintu kayu itu, ia segera masuk ke kamar Minji. Di dalam, ia sudah menemukan Minji sedang duduk di kursi yang berada di balkon. Minji yang menyadari kedatangannya langsung menoleh.

“Annyeong…” sapa Kibum. “Annyeong…” jawab Minji dengan tersenyum. Kibum lalu melangkahkan kainya ke tempat Minji berada.

“Kau sudah bangun, eh?” tanya Kibum sambil menarik kursi. Minji mengangguk sambil terus menatap ke luar. Keduanya diam. Tak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulut mereka.

“Tidak mau makan?” tanya Kibum kemudian. Minji tampak berpikir sejenak lalu ia mengangguk dan beranjak dari tempat itu. Mereka berdua pun turun ke lantai satu untuk mendapatkan sarapan pagi.

Di lantai satu keributan mulai terdengar. Benar saja, 12 orang anak sedang sibuk dengan urusannya masing masing. Donghae sedang bermain computer. Kyuhyun bermain PSP. Ryeowook menyanyi sambil mendengarkan lagu dari headsetnya.

Kangin  yang menangkap kehadiran Minji langsung bergerak mendekati Minji yang datang bersama Kibum.

“Annyeong, Noona.” Sapa Kangin. “Annyeong…” jawab Minji. Lalu Kibum mengajak Minji berjalan ke dapur untuk melihat menu apakah yang dibuat Hankyung hari ini.

Memasuki dapur, aroma masakan yang sedang dibuat mulai tercium. Kibum sangat hafal dengan bau ini. Hankyung hampir setiap hari memasakkannya untuk mereka semua.

“Kau membuat Beijing Fried Rice lagi, hyung?” tanya Kibum sambil terus berjalan mendekati Hankyung yang sedan sibuk mengolah makanannya. Minji mengikuti Kibum dari belakang.

“Kau mau itu?” tanya Kibum kepada Minji sambil menunjuk ke Beijing Fried Rice yang masih berada di atas kompor itu.

“Anya…” Minji menggelengkan kepalanya. Minji lalu meninggalkan Kibum yang berada di dapur. Tapi Kibum mengikutinya. Minji berjalan menuju ruang tengah yang terdapat televisi. Disana sudah terdapat Donghae, Leeteuk, dan Eunhyuk yang sedang melihat berita jatuhnya pesawat yang sedang ramai diperbincangkan. Melihat Minji yang tiba-tiba duduk bersama mereka, mereka lantas menyapa Minji.

“Annyeong, Minji~ah. Bagaimana kabarmu?” tanya Donghae.

“Baik.” Jawab Minji singkat. Kepala Minji yang terluka kemarin sudah tertutupi oleh perban yang melingkar di kepalanya.

Minji kembali menekuni berita yang disiarkan oleh seorang reporter bernama Song JanHae di tempat kejadian jatuhnya pesawat. Mendadak kepala Minji sakit lagi. Ia mengerang dengan sangt keras sehingga membuat panic seisi rumah itu, termasuk Kibum.

“AAAARRGHHHHHHHHHHH…!!!!!” Minji terus berteriak sambil memegangi kepalanya yang dibalut perban. Ingatan tentang sebuah pesawat yang jatuh dan terbakar pun  terus muncul di pikirannya. Minji pun terkulai lemas dan tak sadarkan diri

“Minji~ah… kau kenapa??” Kibum tampak sangat panic dengan keadaan Minji saat ini. Ia buru-buru menggendong Minji kembali ke kamarnya.

“Kibum sangat bersemangat sekali.” Ucap Leeteuk karena melihat tingkah laku dongsaengnya yang tidak biasa itu.

“Munkin dia jatuh cinta?” celetuk Eunhyuk. Leeteuk dan Eunhyuk saling berpandangan. Kemudian mereka ikut yang lainnya berjalan menuju kamar Minji yang berada di lantai 2.

“Sebenarnya nama aslinya siapa, Bummie?” tanya Siwon. Kibum masih terlihat panic.

“Namanya Minji. Jung Minji.” Terang Kibum.

“Tau dari mana jika namanya Minji?” tanya Heechul juga. Donghae lalu bergerak untuk mengambil diary milik Minji yang terdapat di dalam tas Minji. Kemudian ia memberikan kepada Heechul yang langsung diserbu oleh yang lainnya.

“Waw… Mereka sangat cantik-cantik…” celetuk Kangin begitu ia melihat Minji beserta para Unnienya berpose.

“Aku mau yang ini…” ucap Leeteuk sambil menunjuk ke arah Haerin.

“Aku yang iniiiiii…” Eunhyuk juga ikut-ikutan menunjuk. Tapi kali ini ke arah Haekyu.

“Aku yang ini…” Hankyung mencoba ikut-ikutan dengan menunjuk Hyemin, tapi Donghae memukul tangannya.

“Itu milikku…!” ucap Donghae. “Sudahlah… biarkan dia istirahat sekarang. Kita turun ke bawah saja.” Ajak Kibum. Kibum tidak langsung meninggalkan Minji. Ia masih menunggu hyung-hyungnya turun lebih dulu. Setelah ruangan itu hanya berisi dia dan Minji, Kibum berjalan mendekati Minji yang terbaring.

“Annyeonghi jumuseyo, Minji~ah…” bisik Kibum kepada Minji lalu mengecup keningnya lembut. Kemudian dia segera meninggalkan Minji.

Kibum sudah berpakaian rapi. Sepertinya ia akan pergi ke suatu tempat entah dengan siapa. Lalu ia berjalan ke arah Minji yang sedang bermain bersama Heechul dan Hankyung. Melihat kedatangan Kibum yang sangat rapi, Heechul buru-buru menggoda Kibum.

“Bummie… Mau kemana kau? Berkencan dengan siapa, eh?” goda Heechul. Kibum tersenyum.

“Dengan dia.” Kibum menunjuk Minji. Minji terkejut. “MWO?” Tanya Minji tidak percaya.

“Nee~. Denganmu, Minji~ah…” ucap Kibum. Minji masih terdiam menatap lelaki yang kini berdiri tak jauh darinya.

“Kenapa diam saja, Minji~ah? Cepatlahh ganti baju.” Usul Hankyung. Minji mengangguk lalu segera berlari ke lantai 2.

Kibum menunggu Minji dengan sabar. Tak lama, Minji turun dari lantai 2 dan menghampiri Kibum yang tengah menunggunya.

“Kau siap, tuan putri?” tanya Kibum. Minji mengangguk sambil tersenyum. Kemudian mereka berjalan keluar rumah.

“Jangan kau apa-apakan dia, Bummie…!!!” teriak Donghae tiba-tiba dari pintu. Kibum menoleh dan menemukan Donghae sedang melambaikan tangannya kepada mereka berdua.

“Nee, Hyung…” jawabnya. Kemudian ia membukakan pintu mobilnya untuk Minji. Kibum juga memasuki mobilnya. Tak lama, mereka segera pergi meninggalkan Donghae yang  masih berdiri di depan pintu.

Mereka berdua melangkahkan kakinya dengan riang gembira. Tiba-tiba Kibum memegang tangan Minji yang ada di sebelahnya. Minji terkejut. Tapi genggaman tangan Kibum semakin mengerat. Minji tersenyum kecil, begitu pula Kibum.

Kemudian langkah Minji berhenti di depan sebuah tempat foto.

“Kau mau?” tanya Kibum. Minji tidak menjawab, tapi Kibum buru-buru menarik Minji untuk masuk ke dalamnya.

Tak beberapa lama mereka keluar dari tempat itu. Minji melihat hasil foto mereka berdua. Minji tersenyum sendiri.

“Ini lucu sekali ya?” tanya Minji sambil menunjuk ke sebuah foto. Kibum mengangguk dan kembali menggenggam tangan Minji.

Jam tangan Kibum menunjukkan pukul 7 malam. Mereka berencana untuk pulang. Lagipula, dari tadi Kangin sudah memintanya untuk pulang. Akhirnya mereka berjalan ke parkiran mobil.

“Minji~ah…” ucap Kibum tiba-tiba menghentikan langkahnya. Minji kebingungan.

“Waeyo?”

“Sebenarnya ada  sesuatu yang ingin kubicarakan padamu.” Ucap Kibum dengan wajah serius. Minji semakin bingung dengan sikap Kibum yang seperti itu. Tapi Minji tetap diam menunggu penjelasan Minji.

“Aku menyayangimu, Minji~ah.” Kibum akhirnya menyatakan rasa cintanya kepada Minji. Minji tak bisa berkata-kata. Dia merasa senang sekaligus sangat terkejut dengan pengakuan Kibum yang dirasa begitu cepat.

“Jincha?” tanya Minji. Kibum mengangguk mantap. Sama sekali tak terlihat jika Kibum sedang mengajaknya bercanda. Wajahnya sangat serius. Baru kali ini Minji melihatnya seserius ini.

Hening. Tak ada kata yang terucap dari mulut mereka berdua. Mereka terdiam dalam pikirannya masing-masing.

“Saranghaeyo…” Kibum akhirnya membuka mulut dan kini ia menunggu jawaban dari Minji.

“Na too saranghae, Oppa…” jawab Minji akhirnya. Kibum tersenyum senang, begitu juga Minji. Kibum mengecup tangan Minji.

“Tapi berjanjilah satu hal padaku.” Ucap Kibum.

“Apa?”

“Jika suatu hari ingatanmu kembali, jangan pernah kau lupakan aku.” Terang Kibum. Minji mengangguk setuju. Kibum memeluknya hangat.

“Aku benar-benar menyayangimu…” ucap Kibum lalu mendekatkan dirinya kepada Minji. Kibum mengecup bibir Minji. Minji tidak menolaknya. Malam ini menjadi malam sangat menyenangkan bagi mereka berdua. Lama Kibum mencium Minji. Kemudian Minji melepaskan ciuman Kibum.

“Ini parkiran, Oppa…”

********

Hari ini Super Junior berencana untuk kembali ke Seoul dari liburan mereka. Pagi-pagi buta mereka sudah bengun dan bersiap untuk kembali ke Seoul. Hampir sejam mereka baru selesai melakukan packing. Setelah itu mereka berjalan ke mobil yang sudah menunggu mereka semua.

“Naiklah ke mobil yang terdepan, Minji~ah.” Ucap Leeteuk kepada Minji. Minji segera berjalan ke arah mobil yang dimaksud Leeteuk. kibum mengikutinya dari belakan. Tapi Leeteuk mengahalanginya.

“EEiiitss.. mau kemana kau, Bummie?” tanya Leeteuk. Kibum menunjuk ke arah Minji yang sudah masuk ke dalam mobil.

“Aneyo… aneyo… Kau tetap di mobilmu.” Ucap Leeteuk. Kibum manyun.

“Kalau terjadi apa-apa dengannya bagaimana, Hyung? Kau tau kan, dia sering pingsan tiba-tiba? Aku tak ingin dia kenapa-kenapa selama perjalanan nanti. Dia tanggung jawabku, Hyung.” Kibum berbicara panjang lebar. Ia menunjukkan kepanikan jika terjadi sesuatu dengan Minji.

“Tanggung jawabmu? Apakah kalian berpacaran?” Leeteuk menginterogasi Kibum. Kibum salah tingkah. Tidak mungkin ada seorangpun yang tau kalau mereka telah berpacaran.

“Katakan saja…” Leeteuk memaksa Kibum agar buka mulut.

“Nee, hyung…” ucap Kibum sambil cengengesan. Leeteuk langsung memukul kepalanya.

“Adoowww. Waeyo, hyung? Ada yang salah?” Kibum protes.

“Tentu saja ada.” Jawab Leeteuk sambil ngeloyor ke mobil yang lainnya. Kibum menggidikkan bahunya lalu berjalan ke mobil yang dinaiki Minji.

Tepat pukul 8, mobil mereka sudah meninggalkan tempat itu.

Selama perjalanan, Minji tertidur dengan sangat lelap. Kibum yang duduk di sebelahnya meletakkan kepala Minji di bahunya. Kemudian ia mengelus kepalanya lembut.

“Jangan pernah lupakan aku…” bisiknya pelan. Ia takut kalau Shindong, Eunhyuk, Donghae dan Kyuhyun mendengarnya.

“Welcome home… “ ucap Kyuhyun ketika memasuki dorm mereka untuk pertama kali sejak mereka pergi liburan.

Mereka semua pun segera menghambur ke dalam dorm mereka untuk meletakkan barang-barang bawaan mereka. Minji pun terduduk di sofa yang berada di sudut ruangan yang tak terlalu besar itu. Kibum juga duduk di sofa itu untuk menemani Minji.

“Minji~ah… kau meninggalkan ini kemarin.” Ucap Yesung sambil memberikan diary milik Minji yang waktu itu sempat ia baca. Mengetahui itu, Kibum cepat-ceoat merebut diary itu. Tapi Minji terlanjur mengetahuinya.

“Aaah… Oppa. Berikan benda itu kepadaku.” Minji meminta Kibum untuk mengembalikan buku itu. Tapi Kibum menolaknya.

“Berikan padaku.” Pinta Minji untuk kedua kalinya. Kibum tetap menolaknya.

“Kau jahat…!!!” pekik Minji keras lalu menginggalkan Kibum. Kibum menjadi serba salah. Ia tak tau harus berbuat apa. Donghae yang melihat kejadian itu buru-buru memberi kode untuk mengejar Minji yang berlari ke taman di belakang dorm mereka.

“Minji~ah. Tunggu aku.” Kibum mengejar Minji yang berlari menjauhi Kibum.

“Untuk apa kau menyembunyikan buku itu, Oppa? Apa ada yang salah dengan buku itu?” ucap Minji sedikit berteriak. Kibum berjalan mendekatinya, kemudian meraih tangan Minji. Tapi Minji buru-buru menepisnya. Kibum pun membalik badan Minji yang membelakanginya. Kini wajah mereka saling berhadapan.

“Kenapa kau menyembunyikan buku itu dariku, Oppa? Jelaskan..!” pinta Minji. Kibum tak bisa menolak permintaan dari orang sangat disayanginya.

“Aku menyembunyikan buku ini karena…” penjelasan Kibum terputus.

“Karena apa, Oppa?!” ucap Minji tak sabar ingin mendengarkan penjelasan Kibum. Kibum menarik nafas.

“Karena aku tidak ingin ingatanmu kembali, Minji~ah…” ucap Kibum akhirnya. Sulit sekali mengeluarkan kata-kata tersebut.

Minji terkejut dengan penjelasan Kibum barusan. Maksud perkataan Kibum itu apa? Apa yagn sebenarnya terjadi padanya? Pikiran itu terus memenuhi pikiran Minji.

“Apa yang sebenarnya terjadi padaku, Oppa?” Suara Minji terdengar gemetaran. Ia tidak tau apa yang sebenarnya terjadi padanya. Kibum lalu mengajaknya untuk masik ke dalam dorm karena angin yagn berhembus semakin kencang.

Di dalam dorm, Kibum segera mendudukkan Minji dan meminta hyung-hyungnya untuk berkumpul bersama mereka berdua. Ia ingin menjelaskan apa yagn sebenarnya terjadi kepada Minji.

“Sebenarnya…” Donghae mulai menjelaskan peristiwa-peristiwa yang mereka alami salama liburan kemarin. Dongahe bercerita bagaimana Minji ditemukan. Donghae juga bercerita mengenai diary Minji yang mereka temukan di dalam tasnya. Kibum lalu menyerahkan diary itu kepada Minji dengan hati was-was. Ia benar-benar tidak ingin Minji melupakannya.

Minji lalu membuka halaman pertama diary itu. Disana memang tertulis ‘Jung Minji’ yang menandakan bahwa diary itu miliknya. Minji lalu membalik ke halaman yang berikutnya. Donghae dan Kibum sudah hafal jika di halaman itu terdapat foto Minji bersama Omma dan Appanya.

Mendadak kepala Minji terasa sakit. Beberapa kejadian masa lalu sebelum ia hilang ingatan pun muncul di pikirannya. Peristiwa ketika dai berfoto dengan unnienya, ketika mereka berbelanja, semua ingatan itu pelan pelan bisa diingat kembali oleh Minji. Tapi ia masih bisa menyembunyikan rasa sakitnya yagn sangat hebat di hadapan Super Junior yang kini duduk mengitarinya.

Halaman berikutnya ia buka. Rasa sakit yang menyerang kepalanya semakin menjadi. Ia mengerang kesakitan dan langsung tak sadarkan diri. Kibum mulai panic. Begitu pula angota super junior yang lainnya. Donghae menangkap wajah sangat panic Kibum. Kibum pun segera membawanya ke mobil untuk dibawa ke rumah sakit untuk mendapatkan pertolongan.

“Cepatlah hyung…!!!” Kibum berteriak kepada Siwon. Siwon segera menancap gas mobilnya untuk menuju ke rumah sakit terdekat.

“Aku benar-benar tidak menginginkan hal ini terjadi, Minji~ah…” ucap Kibum sambil menggenggam tangan Minji yang dingin. Pelan-pelan air mata Kibum turun membasahi pipinya.

Minji sudah dibaringkan di atas kasur rumah sakit. Dokter JoongHwa mengatakan bahwa Minji dalam keadaan yang sangat lemah. Ia benar-benar butuh perawatan yang sangat intensif. Hati Kibum tersiksa begitu mengetahui bahwa kini di tubuh Minji sudah terdapat jarum yang menembus tangan kanannya. Minji juga menggunakan O2 untuk bantuan bernafasnya.

“Seharusnya aku tidak mencintaimu, Minji~ah…” Kibum menangis di sebelah kasur tempat Minji terbaring tak berdaya. Donghae yang menemaninya hanya bisa menenangkan Kibum yang masih menangis.

“Tapi kau sudah berjanji untuk tidak melupakanku.” Ucapnya kepada Minji yang belum tentu bisa mendengarkannya. Tapi Kibum melihat sebutir air mata menetes dari mata kanan Minji.

Donghae yang tidak ingin mengganggu Kibum pun segera beranjak dari kamar itu. Ia melangkah keluar untuk menemui yang lainnya.

“Bagaimana, Dongie?” tanya Heechul. Donghae menggelengkan kepalanya.

“Molla. Tapi aku benar-benar ingin mencari keluarga Minji.” Ucap Donghae. member yang lainnya membelalak tak percaya dengan pernyataan Donghae.

“Wee?? Apa maksudmu?? Seoul ini besar. Tidak semudah mencari teddy bear di tumpukan batu.” Ucap Eunhyuk. Dia meragukan usul Donghae. Tapi Donghae meyakinkan member yang lainnya untuk percaya padanya.

“Dia nekat sekali untuk mencari keluarga Minji…” ucap Leeteuk kepada Eunhyuk yang berada di sebelahnya.

“Jangan-jangan…”

********

Donghae tidak berniat untuk pergi menemani Kibum di rumah sakit hari ini. Ia ingin mencari udara segar di luar sana. Beberapa hari ini dia selalu menemani Kibum di rumah sakit. Dan sampai hari ini Minji belum sadarkan diri. Kibum bahkan tidak pulang ke dorm hanya untuk menjaga Minji.

“Mau kemana kau, hyung?” tanya Ryeowook dari sofa yang sedang membaca majalah.

“Jalan-jalan.” Jawab Donghae sambil memakai jaketnya dan bersiap untuk pergi berjalan-jalan. Kemudian Donghae menghilang dibalik pintu.

Donghae berjalan menyusuri jalanan Seoul yang sepi. Hanya ada beberapa orang yang berlalu lalang di depannya. Kemudian ia melangkahkan kakinya menuju toko kue yang terlihat sangat menarik. Ia pun memasuki toko roti itu.

Di dalam toko itu, Donghae disuguhi oleh sebuah etalase besar yang berisi macam-macam kue. Mulai dari yang berukuran kecil hingga yang berlapis-lapis. Donghae memperhatikan kue-kue itu. Karena ia terlalu sibuk memperhatikan kue yang ada di etalase, dia menabrak seseorang yang membawa sekotak kue.

“Kyaaaaaa~…” jerit perempuan itu. Kue tart yang ada di dalam kotak berwarna pink itu pun jatuh berantakan ke lantai.

“Ah, mianhae… ku tidak sengaja.” Ucap Donghae lalu berjongkok untuk membantu gadis itu membersihkan kue tart itu.

Perempuan itu menyingkirkan rambut yang menutupi wajahnya dan Donghae memperhatikannya. Sepertinya ia mengenalnya. Tapi dia tidak tau dimana ia pernah melihatnya. Donghae lalu merogoh tasnya. Beruntungnya, ia menemukan sebuah foto yang diambilnya dari diary Minji. Lalu ia memperhatikan satu per satu wajah yang ada di foto itu. Matanya terhenti pada sebuah foto yang bertuliskan ‘Hyemin Unnie’. Donghae memberanikan diri untuk bertanya.

“Mian, boleh aku bertanya…?” ucap Donghae. perempuan itu mendongak dan mendapati bahwa yang menabraknya adalah Donghae.

“Nee~ waeyo?” jawab perempuan ini. Kemudian Donghae mengganti kue yang tadi dia jatuhkan dan mengajak perempuan itu ke sebuah restoran.

“Sebelumnya, namaku Donghae.” Donghae memperkenalkan diri kepada perempuan itu. Perempuan itu tersenyum.

“Mmm… Apakah namamu Hyemin?” Donghae ragu-ragu bertanya. Belum sempat Hyemin menjawab, pesanan mereka berdua sudah datang.

“Nee~… tau dari mana kalau namaku Hyemin?” tanya Hyemin penasaran. Kemudian, Donghae mengeluarkan foto Hyemin dan dongsaeng-dongsaengnya. Lalu ia menyerahkannya kepada Hyemin.

“Omonaaaa…!!!” pekik Hyemin sambil mendekap mulutnya.

“Itu benar kau kan, Hyeminnie…?” Donghae mencoba meyakinkan sekali lagi. Hyemin mengangguk.

“Kau tau dimana dongsaengku???” tanya Hyemin tidak sabar. Donghae mengangguk. Hyemin semakin histeris. Dongsaeng yang selama ini hilang ternyata ada bersama orang yang kini berada di depannya.

“Bisakah kau membawaku kepadanya?” ucap Hyemin. “Nee~…” jawab Donghae. Hyemin pun langsung menyeret Donghae keluar dari tempat itu dan berjalan menuju mobilnya. Mobil itu pun melaju kencang. Tapi bukan ke arah rumah sakit.

“Ini bukan jalan ke rumah sakit, Hye…” ucap Donghae kebingungan.

“Araseo. Kita ke rumahku dulu untuk mengajak dongsaengku yang lainnya.” Terang Hyemin. Donghae hanya bisa menurut dan mengikuti kemana Hyemin membawanya.

Kini Hyemin satu mobil dengan Donghae, Haerin dan Haekyu. Sedangkan Omma dan Appanya berada di mobil yang lain. Donghae yang duduk di sebelah Hyemin menjadi penunjuk jalan untuk menuju ke rumah sakit tempat Minji dirawat.

10 kemudian mereka tiba di rumah sakit itu. Seperti sebelumnya, Donghae menjadi penunjuk di kamar manakah Minji dirawat. Sebelumnya, Donghae sudah menelepon member lain untuk berkumpul di kamar Minji. Ia beralasan kalau ada sesuatu yang sangat penting yang akan ditunjukkannya.

Berkali-kali pula Eunhyuk meneleponnya hanya untuk menanyaan dimana dia saat ini.

“Yoboseyo? Wae? Nee~. Aku sudah di ujung korodor. Tunggu sebentar lagi…” kata Donghae ketika menerima telepon keempat dari Eunhyuk yan gsudah tidak sabar. Akhirnya mereka sampai di depan pintu kamar Minji. Hyemin menarik nafasnya dan mulai membuka pintu itu.

Hyemin terkejut ketika ia masuk, ternyata sudah ada banyak orang yang menunggu mereka. tapi Donghae tidak menemukan sosok Kibum disana. Leeteuk mengajak Omma dan Appa Minji beserta semua Unnienya untuk mendekati tempat tidur Minji.

“Minji~ah…” ucap Omma Minji begitu melihat keadaan Minji yang terbaring lemah dengan infuse di tangannya. Ia meneteskan air matanya. Kemudian Appa Minji menenangkannya.

“Sebenarnya apa yang terjadi dengannya, Dongie?” tanya Hyemin kepada Donghae. mereka berdiri agak ke belakang. Belum sempat ia menjelaskan, seseorang datang dengan wajah kusut terrkejut dengan banyaknya orang di kamar itu.

“Bummie, kenalalkan ini Hyemin.” Donghae mengenalkan Hyemin kepada Kibum. Kibum tampak terkejut.

“Unnnienya Minji?” tanya Kibum mencoba memastikan. Hyemin mengangguk. Kemudian Donghae mengisyaratkan Kibum untuk menemui Omma dan Appa Minji yang masih menangis melihat keadaan Minji.

Kemudian semua member kecuali Kibum meninggalkan ruangan itu. Begitu juga dari keluarga Minji. Semua keluar kecuali Omma dan Appanya.

Jam di ruangan itu menunjukkan pukul 8 malam. Donghae duduk di sebelah Hyemin yang sedang mendengarkan lagu dari hpnya. Sedangkan Haerin dan Haekyu sedang membeli makanan yang dipesan oleh anak Suju yang lainnya. Mereka berdua pergi bersama Yesung, Eunhyuk dan Leeteuk.

“Tadi kau belum menjelaskan tentang apa yang terjadi dengan Minji.” Ucap Hyemin sambil memasukkan hpnya ke dalam saku jaketnya.

“Begini…” tapi lagi-lagi cerita Donghae terputus karena Omma dan Appanya baru saja keluar dari kamar Minji.

“Hye, Omma dan Appa pulang dulu ya. Kalau sempat, besok kami kesini lagi.” Ucap Ommanya. Hyemin mengangguk. Kemudian mereka berdua pergi meninggalkna rumah sakit itu.

“Lanjutkan.” Ucap Hyemin.

“Awalnya…” Donghae menjelaskan dengan sangat detail mengenai bagaimana Minji ditemukan untuk pertama kali, hingga hubungannya dengan Kibum saat ini. Hyemin manggut-manggut.

“Lalu bagaimana dengan Kibum?” tanya Hyemin.

“Molla. Aku kasihan padanya. Aku takut kalau Minji sadar nanti ternyata ia sama sekali tidak bisa mengingat Kibum.” Ucap Donghae.

Tiba-tiba, Kangin, Heechul dan Hankyung datang dari arah lift. Mereka langsung punya rencana untuk menjahili Donghae yang sedang berduaan dengan Hyemin.

“Annyeong, Hyemin~ah…” sapa Kangin. Mereka langsung duduk berdesakan. Kangin duduk di sebelah Donghae, sedangkan Heechul duduk di sebelah Hyemin. Mereka mendorong Donghae dan Hyemin agar merapat.

“Aaaarghhh…” Hyemin tampak kesakitan ketika Heechul merepetnya.

“Kalian apa-apaan sih, hyung?” Donghae akhirnya emosi. Tapi Kangin dan Heechul hanya menunjukkan senyum iblis mereka di hadapan Donghae. hankyung hanya bisa tertawa melihat kelakuan mereka.

“Sudahlah, Donghae… Kau kan menyukai Hyemin sshi…” goda Heechul. Mata Donghae membelalak seketika. Wajahnya memerah. Hyemin pun tak kalah terkejutnya ketika mendengar ucapan Heechul.

“Jangan kau dengarkan dia, Hye sshi…” ucap Donghae sambil berusaha menutup mulut Heechul.

“Halaaah… ketika kita melihat foto mereka. kau ingat kan?” ucap Kangin.

“Ya~ kau bahkan memukul tanganku ketika aku memilihnya kan?” kini Hankyung ikut-ikutan mengerjainya. Wajah Donghae bertambah merah karena malu.

“Benarkah itu…?” tanya Hyemin. Donghae menyembunyikan wajahnya karena malu.

“Kalian berpacaran saja sana. Kami tidak akan mengganggu…” ucap Kangin dan Heechul sambil meninggalkan mereka berdua. Donghae menatap wajah Hyemin.

“Waeyo, Oppa?” tanya Hyemin. Donghae tidak menjawab, tapi ia semakin mendekatkan wajahnya kepada Hyemin.

“Saranghae…” bisik Donghae.

CLUP

Jalanan Seoul saaat itu sangat dingin. Yesung, Leeteuk, Eunhyuk, Haerin, dan Haekyu menggigil kedinginan.

“Ayo cepat kita kembali ke rumah sakit. Yang lain pasti sudah mengunggu kita.” Ajak Eunhyuk.

“Ayo…” jawab yang lainnya bersamaan. Mereka pun segera melangkahkan kakinya menuju rumah sakit.

Yesung menekan tombol lift untuk menuju kamar Minji. Kamar Minji berada di lantai 4. Tak lama mereka  menunggu, akhirnya pintu lift itu terbuka. Tapi di dalam lift itu sudah banyak orang. Mereka mencoba masuk ke dalamnya.

BIP BIP BIP

Sebuah tulisan ‘Overload’ muncul. Artinya, lift itu kelebihan muatan. Akhirnya Leeteuk dan Haerin mengalah dan membiarkan Yesung, Eunhyuk dan Haekyu untuk naik duluan.

“Haerin~ah…” Leeteuk memanggil Haerin. “Waeyo?”.

“Aneyo. Hehehe… hanya ingin memanggilmu.” Ucap Leeteuk. Haerin tersenyum kecil. Kemudian mereka masuk ke dalam lift yang kosong dan menuju ke kamar Minji.

Kibum masih setia menemani Minji yang masih belum sadarkan diri sejak hampir seminggu lalu. Kibum bahkan tidak pulang ke dormnya untuk menemani Minji. Ia menggenggam tangan Minji.

“Minji~ah. Aku benar-benar menyesal karena telah menunjukkan isi diarymu. Seharusnya aku mencegahmu. Haish…” Lagi-lagi Kibum meneteskan air matanya. Mungkin kini persediaan air matanya telah habis karena hampir setiap dia memandang Minji, dia selalu menangis.

CKLEK

Pintu kamar itu terbuka. Hyemin dan Donghae masuk ke dalam kamar itu. Kibum buru-buru menyeka air matanya.

“Sudahlah, Oppa. Yang sudah terjadi biarkan saja. Yang terpenting sekarang ini kita mendoakan dia agar dia cepat sadar.” Ucap Hyemin sambil berkaca-kaca. Donghae memeluknya dan menenangkannya.

“Aku tau, Hye. Tapi aku benar-benar menyayanginya. Aku tidak mau kalau dia melupakanku.” Terang Kibum.

“Aku yakin Minji tidak akan melupakanmu, Oppa.” Ucap Hyemin lalu berjalan mendekati Minji. Sesaat ia melihat Hyemin, tapi kemudian ia keluar dari kamar itu dan membiarkan Kibum sandirian menjaga Minji.

*****************

Hari ini tepat sepuluh hari sejak hari pertama Minji tak sadarkan diri. Seperti biasa, Kibum ada di sampingnya untuk menungguinya hingga tersadar.

Kibum dan yang lainnya sedang berbincang-bincang di dalam kamar itu. Untung kamar Minji adalah kamar VIP, jadi, berapapun orang yang masuk di dalam kamar itu, tak akan ada yang bisa protes gara-gara mereka terlalu berisik.

Hyemin, Haerin, dan Haekyu kini lebih dekat dengan member super junior yang lain. Kini mereka sering bermain ke rumah Hyemin jika mereka bosan di rumah sakit.

“Ya~ Haerin~ah… bisa kita keluar sebentar?” ajak Leeteuk kepada Haerin.

“Mau kemana kau, hyung?” tanya Shindong. “Keluar sebentar bersama Haerin…” ucap Leeteuk yang kemudian segera keluar dengan menggandeng tangan Haerin.

“Mau kemana kita, Oppa?” tanya Haerin kepada Leeteuk yang menggandeng tangannya. Kemudian dia mendudukkan Haerin di kursi yang berada di luar kamar Minji.

“Kau tau, Haerin~ah? Sebenarnya aku sudah menyukaimu dari awal. Aku mulai tertarik denganmu ketika Donghae dan Kibum menemukan diary milik Minji.” Leeteuk melakukan sebuah pengakuan yang sangat mengejutkan Haerin.

“Aku tau mungkin ini terlalu cepat, tapi…” Leeteuk tidak melanjutkan kata-katanya. Ia bingung mencari kata-kata untuk mengungkapkan perasaannya kepada Haerin.

“Arasseo, Oppa. Sebenarnya aku juga menyukaimu…” Haerin pun mengaku kepada Leeteuk. sejenak Leeteuk masih belum mengerti apa maksud Haerin.

“Kau juga menyukaiku?” leeteuk mencoba memastikan. Haerin mengangguk.

“Saranghaeyo, Oppa…” ucap Haerin.

“Na too saranghae…” jawab Leeteuk. . Leeteuk tersenyum senang lalu mendekatkan dirinya kepada Haerin dan mencium bibir Haerin.

“YAAAAAA~… Kalian ketahuaaaaannn…!!!!” suara Eunhyuk tiba-tiba menggema di sepanjang koridor itu. Leeteuk dan Haerin kaget lalu saling melepaskan ciuman mereka.

Muka haerin memerah. Karena saat itu Hyemin dan Haekyu juga sedang melihat mereka. leeteuk jadi salah tingkah. Ia kemudian mengejar Eunhyuk yang jadi pengganggunya bersama Haerin. Semua tertawa melihat mereka.

“HYUUUNGGG…!!!!” Kibum tiba-tiba memanggil mereka dari dalam kamar. Semua pun berhamburan ke dalam kamar, memastikan saemuanya baik-baik saja.

“Waeyo, Bum?” tanya Yesung. “Sepertinya Minji akan sadar.” Ucap Kibum.

“Benarkah?” Siwon bertanya. Kibum mengangguk dan menjelaskan kalau tadi dia mendengar Minji berkata sesuatu.

“Kita tunggu saja.” Ucap Kyuhyun.

Mereka pun menunggu Minji tersadar. 10 menit sudah mereka menunggu. Kemudian…

“Omma… Appa…” suara Minji terdengar di telinga mereka semua. Kibum semakin menggenggam erat tangan Minji.

“Unnie… Unnie…” terdengar Minji memanggil unnienya. Kemudian Hyemin, Haerin dan Haekyu berdiri di dekat Minji.

Minji mencoba mambuka matanya pelan-pelan. Cahaya lampu di kamar itu sanat menyilaukan matanya. Ia mesih mengerjapkan matanya agar ia bisa melihat dengan jelas.

Terlihat wajah Hyemin, Haerin, Haekyu dan beberapa orang lain. Dan ketika Minji benar-benar bisa membuka matanya, ia melihat semua orang di kamar itu meneteskan air mata karena senang melihatnya tersadar. Hyemin, Haerin dan Haekyu pun berhamburan memeluk Minji.

“Unnie. Apa yang terjadi denganku?” tanya Minji. “Ceritanya panjang, dongsaeng…” ucap Haerin.

Kemudian Haekyu menunjuk seorang lelaki yang berada di dekatnya.

“Kau tau dia siapa, Minji?” tanya Haekyu. Minji diam. Semuanya juga diam. Mereka berharap Minji tidak melupakan orang yang selama ini mencintainya.

“Molla. Aku tidak mengenalnya.”

DEG.

Semua terkejut bukan main. Mereka tidak menangka bahwa Minji melupakan Kibum. Kibum terdiam. Bagaimana mungkin Minji melupakannya?

“Kalau kau tidak ingat, aku akan pulang sekarang.” Ucap Kibum datar. Ia kemudian melangkahkan kakinya menuju pintu.

“Oppa… Oppa!!! Hyemin meneriakinya. Begitu pula yang lainnya.

“Kibum~ah… Kenapa kau seperti ini? Kenapa kau meninggalkannya begitu saja??” ucap Donghae sedikit berteriak.

“Dia sudah sadar, Hyung. Dan aku tidak ada di masa lalunya. Aku hanya ada di masa di hilang ingatan saja.” Kibum membela diri.

“Lalu kau menyerah dengan semudah itu?!”

“Apa lagi yang harus kulakukan? Membuatnya hilang ingatan lagi? Sudah tidak ada lagi yang bisa kulakukan, hyung.”

“Kau Babo, Kim Kibum!!!” teriak Donghae lalu meninggalkan Kibum sendirian. Kibum tidak bisa berbuat apa-apa. Kini orang yang dicinyainya sudah melupakannya.

******

Seoul, 07.33

“Apa yang kau lakukan, Minji~ah?” tanya Hyemin sambil membereskan pakaian Minji. Hari ini Minji sudah diperbolehkan dokter untuk pulang. Jadi hari ini Minji akan kembali ke rumahnya.

“Kau sudah benar-benar sehat, Minji~ah?” tanya Donghae. Minji menganggukkan kepalanya.

Setelah Minji sadar dan ingatannya kembali beberapa hari yang lalu, semua anggota super junior masih sering mendatanginya. Mereka ingin tetap berteman dengan Minji. Dan kini Minji sudah terbiasa dengan mereka. tapi, Kibum tidak pernah mendatanginya.

“Minji~ah, kau ingat dengan lelaki yang kemarin kutunjukkan kepadamu?” tanya Haekyu.

“Oh, orang itu. Nee~ memangnya ada apa dengan orang itu?” tanya Minji. Kemudian Hyemin dan Donghae duduk di sebelah Minji.

“Namanya Kibum. Kau tau, selama kau hilang ingatan dialah yang merawatmu.” Terang Hyemin.

“Bahkan kau sudah berpacaran dengannya.” Lanjut Donghae. Minji terkejut.

“Pacaran? Jincha?” tanya Minji tak percaya.

“Nee~ ini foto kalian berdua.” Ucap KAngin tiba-tiba sambil menyerahkan sebuah foto yang dibuat Minji dan Kibum ketika masih liburan. Minji memoerhatikan foto itu. Itu memang dirinya. Tapi laki-laki itu…

Kepala Minji sakit lagi. Bayangan-bayangan yang tidak begitu jelasa muncul lagi. Kali kejadian yang muncul adalah kejadian ketika dia hilang ingatan. Dan ada Kibum dalam pikirannya itu.

“Kira-kira, sekarang dia dimana?” tanya Minji tiba-tiba.

“Baru saja aku meneleponnya. Katanya ada di taman. Waeyo?” ucap Siwon. Minji tidak menjawabnya. Tapi kemudian dia turun dari tempat tidurnya dan berlari meninggalkan kamar itu.

“Minji~ah…!!!” Donghae berhasil mencegah Minji. Namun Minji menolak untuk dihentikan.

“Aku mohon Oppa…” ucap Minji. Karena tidak tega, akhirnya Donghae membiarkan Minji pergi untuk mencari Kibum.

Minji berlari menyusuri jalanan Seoul yang gelap karena cuaca hari ini sangat mendung. Ia berlari tanpa memakai alas kaki. Sebenarnya kondisinya masih belum terlalu baik. Dia masih butuh istirahat untuk memulihan kesehatannya.

Langkah Minji berhenti di depan sebuah taman yang sangat sepi. Disana hanya terdapat seseorang yagn memakai jaket sedang duduk di salah satu kursi taman itu. Nafasnya tersengal-sengal. Rintik-rintik hujan mulai turun membasahi taman itu. Samakin lama semakin deras.

“KIM KIBUM OPPAAAAAAAAAAAAAAAAAA…!!!!!!!” Minji berteriak sekencang-kencangnya dengan sisa nafas yang dimilikinya.

Kibum menoleh dan mendapati seorang perempuan sedang berdiri di bawah guyuran hujan sedang berlari menuju ke arahnya.

“Minji??” Kibum sempat tak percaya dengan apa yang sedang dilihatnya saat ini. Mungkinkan dia sedang bermimpi? Tapi dia tidak mungkin bermimpi, karena Minji benar-benar sedang memeluknya erat saat ini.

“Kau ingat aku?” Kibum mencoba memastikan Minji mengangguk kemudian ia kembali memeluk Kibum.

“Saranghaeyo, Oppa…” ucap Minji.

Lalu Kibum melepaskan pelukan Minji dan mulai mencium Minji, gadis yang dicintainya. Minji merasa benar-benar telah menemukan hidupnya. Begitu pula Kibum.

Lama mereka berciuman dalam hujan, Kibum melepaskan bibirnya dan mengajak Minji untuk segera kembali ke rumah sakit. Sepanjang perjalan menuju rumah sakit, Minji tak pernah melepas genggaman tangan Kibum yang selama ini dirasakannya saat ia tidak sadarkan diri.

******

3 bulan kemudian…

“Bawa makanan itu kemari…” ucap Eunhyuk.

“Sabarlah, Oppa… sedang dimasak.” Ucap Haekyu.

Hari itu mereka mengadakan pesta barbekyu di rumah Minji. Semua tampak sangat senang hari itu. Semua bergembira penuh suka cita.

Hyemin, Haerin, Haekyu, Minji, Hankyung dan Ryeowook sedang asyik memasak makanan untuk pesta besar itu. Sedangkan yang lainnya melakukan hal-hal yang mereka anggap menyenangkan.

“Jagiya… makanannya belum selesai?” ucap Donghae tiba-tiba sambil merangkul Hyemin.

“Sebentar lagi selesai. Kembalilah kesana dulu.” Ucap Hyemin. Donghae mengangguk kemudia mendaratkan sebuah ciuman di kening Hyemin. Wajah Hyemin memerah karena dongsaeng-dongsaengnya melihat kejadian itu.

“Cieeee… Hyemin unnie senang sekali…” goda Haekyu.

“Sudahlah… Lihatlah siapa yang ada di belakangmu, Haekyu.” Ucap Hyemin dan menyuruh Haekyu membalik badannya. Ternyata ia mendapati Eunhyuk sudah berlutut di depannya sambil menyembunyikan tangan kanannya di belakang badannya.

“Haekyu~ah. Sebenarnya sudah lama ingin ku katakana. Maukah kau menjadi kekasihku…?” tanya Eunhyuk sambil mengeluarkan setangkai mawar merah.

Wajah Haekyu memerah karena malu.

“Nee~ oppa…” jawab Haekyu pelan pelan tapi bisa didengar oleh semuanya.

Eunhyuk tersenyum senang lalu mencium bibir Haekyu tapi hanya sebentar karena Haekyu malu dengan para unnienya.

Mereka menyambut malam dengan suka cita.Leeteuk bermanja-manja kepada Haerin.

“Suapin…” rengak Leeteuk. “Ayo, buka mulutmu… aa…” ucap Haerin menyuapi Leeteuk. lalu mereka berdua tersenyum bahagia.

Tapi mereka baru sadar kalau Minji dan Kibum berpisah dengan mereka.

“Kemana mereka berdua?” tanya Kangin. “Molla. Sedang berpacaran, mungkin. Ayo kita lanjut pesta…”

Minji dan Kibum pergi ke sebuah bukit yang tak jauh dari rumah Minji. Mereka berdua pun duduk bersama di atas bukit itu.

“Minji…” ucap Kibum. “Wae?”

“Would you marry me?” tanya Kibum langsung . tanpa ragu-ragu Minji menjawab, “Yes, Ido.”

Kibum mengeluarkan sebuah kotak kecil berwarna merah dan memakaikan cincin yang ada di dalamnya di jari manis Minji. Lalu mereka berdua hanyut dalam suasana malam yang begitu indah. Begitu pula yang lain yang sedang berpesta.

“Jangan pernah kau lupakan aku lagi, Minji…” ucap Kibum sambil tersenyum.

“Saranghaeyo, jagiya…”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: