War of Love Part 11

Cahaya matahari bersinar menembus jendela kamarn Minyeon yg tertutup tirai tipis. Matanya mengerjap pelan. Ia merasakan matanya menjadi berat.
“Bukannya semalam…” Minyeon berusaha mereka ulang kejadian semalam. Club, Eli, Zico. “Ah. Aku tau.” ia kemudian mengucek kedua matanya. Ia melangkah turun untuk mengisi perutnya yg mulai keroncongan. Ia sadar bahwa sejak kemarin sore ia sama sekali belum mengisi perutnya. Perutnya hanya terisi oleh minuman kaleng pemberian Zico.
Ia memungut sekotak susu dari dalam kulkasnya. Ia berjalan untuk mengambil gelas kemudian menuangkan susu dingin itu ke dalamnya. Minyeon berjalan menuju ke ruang tamu dan berniat untuk membuka pintu agar udara segar bisa masuk ke dalam rumahnya. Tapi langkahnya terhenti begitu melihat sosok Zico sedang terbujur tenang di sofanya.
Minyeon berjalan mendekatinya. Ia menatapnya dari jarak dekat. Wajah Zico terlihat sangat tenang. Sama sekali berbeda dengan ekspresinya semalam ketika berhadapan dengan Eli. Tiba-tiba Zico membuka matanya membuat Minyeon mundur selangkah.
“Annyeong~” sapa Minyeon hangat. Zico membalasnya dengan senyuman. Minyeon kembali ke dapur untuk mengambil segelas susu dingin untuk Zico. Sesaat kemudian ia kembali ke ruang tamu dan meletakkan susu dingin itu di hadapan Zico.
“Lihatlah dirimu. Kau menjadi jelek.” ledek Zico kemudian meneguk susu dingin itu. Minyeon mengernyit.
“Mwoya?”
“Matamu jadi bengkak seperti itu. Padahal kau tidak seharusnya menangisi orang seperti dia.” Terang Zico santai. Zico mengisyaratkan agar Minyeon duduk di sebelahnya. Minyeon menurutinya kemudian duduk di sebelahnya.
“Apa yg akan kau lakukan sekarang?” tanya Zico kemudian. Minyeon menatapnya bingung. “Maksudmu?”
“Apa yg akan kau lakukan kepada Eli?”
“Molla. Aku tidak ingin mendengar namanya lagi.” Ucap Minyeon gusar. Wajahnya cemberut lagi. Zico mencoba menghiburnya. Tiba-tiba pintu rumah Minyeon diketuk seseorang.
TOK TOK TOK
Minyeon segera membuka pintu rumahnya. Tapi sesaat setelah membukanya, ia buru-buru menutupnya kembali. Hal ini membuat Zico menjadi bingung.
“Nugu?” tanya Zico. Minyeon tidak menjawab. Ia menatap langit-langit rumahnya kosong.
“Minyeon~ah. Aku ingin bicara denganmu.” Suara Eli terdengar dari luar rumah. Zico mengerti apa yg membuat Minyeon menutup kembali pintunya. Zico menyadarkan kembali Minyeon yg sedang menerawang jauh.
“Berbicaralah kepadanya. Ungkapkan semua yg ada di pikiranmu. Arasseo?” ucap Zico tenang. Ia kemudian menyuruh Minyeon agar membukakan pintu untuk Eli. Minyeon segera melakukannya.
Minyeon menarik nafas dalam sebelum berhadapan langsung dengan Eli. Ia sudah tidak sanggup lagi kalau harus menerima kebohongan lagi dari Eli. Minyeon pelan-pelan membuka pintu rumahnya. Wajah panik Eli segera terlihat di mata Minyeon. Minyeon menatapnya dingin.
“Ada apa?” tanya Minyeon. Tidak ada ekspresi yg tergambar di wajahnya yg pucat. Eli segera menarik Minyeon ke dalam pelukannya yg hangat. Minyeon tidak membalas pelukannya. Ia hanya berdiri diam di tempat.
“Aku ingin berbicara denganmu.” Ucap Eli lirih setelah melepas pelukannya.
“Katakan saja.”
“Aku mohon jangan tinggalkan aku. Aku tau aku sudah menyakitimu. Tapi kumohon beri aku kesempatan sekali lagi.” Ungkap Eli. Suara Eli terdengar sedikit bergetar. Ia seperti sangat menahan emosinya.
“Aku sudah memberimu banyak sekali kesempatan dan aku tidak mau kau sakiti lagi. Dan aku sudah sangat jelas mengatakannya padamu malam itu kalau kita sudah tidak ada apa-apa lagi.” Terang Minyeon datar. Matanya mulai berkaca-kaca. Ia berusaha menahan air matanya agar tidak jatuh ke pipinya.
“Minyeon~ah. Jebal.” Ujar Eli lirih. Ia menggenggam tangan Minyeon. Ia kemudian mengangkat wajah Minyeon dengan tangan kanannya. Eli mengecup bibir Minyeon lembut. Air mata Minyeon tidak dapat ditahan lagi. Minyeon melepaskan ciuman Eli.
Di dalam rumah, Zico menyaksikan Eli mencium Minyeon dari balik tirai tipis. Emosinya memuncak. Tangannya mengepal kuat. Tapi ia menahannya agar tidak menyakiti perasaan Minyeon. Zico kemudian merebahkan diri lagi di sofa. Menenangkan diri dan menghapus semua yg baru saja dilihatnya.
“Ani. Aku tidak bisa menerimamu lagi.” Terang Minyeon pelan kemudian masuk ke dalam rumahnya. Air matanya mengalir deras. Zico melihat Minyeon masuk ke rumah dengan air mata membuatnya ingin memeluk tubuh kecil Minyeon. Dengan cepat Zico menghalangi langkah Minyeon kemudian menenggelamkannya ke dalam pelukannya. Minyeon tidak memberontak. Ia justru memeluk balik Zico. Ia mencengkeram keras kaos yg dikenakan Zico.
Setelah beberapa lama Minyeon menangis di pelukan Zico, ia melepaskan pelukan itu. Zico menyingkirkan helaian rambut yg menutupi wajah Minyeon. Mata Minyeon semakin sembab. Zico menyeka air mata yg masih tersisa.
“Sudahlah. Lupakan dia. The show must go on. Aku tidak ingin melihatmu menagis lagi.” Zico menenangkan Minyeon.
“Aku akan mencobanya.” Ucap Minyeon lirih. Ia berusaha tersenyum di sela-sela senggukan tangis yg mulai mereda. Zico mengusap puncak kepalanya pelan.
Zico meminta Minyeon untuk segera bersiap-siap karena ia akan mengajaknya berkeliling untuk melupakan semua kejadian yg sudah terjadi. Minyeon segera melaksanakan perintah Zico. Zico menunggunya dengan sabar.
Tak sampai 30 menit, Minyeon sudah menghampirinya dan membawakan baju baru untuk Zico.
“Kau juga harus mandi. Ini kaos milik oppaku. Pakailah. Ppali.” Ucap Minyeon kemudian mendorong Zico menuju ke kamar mandi.
Sesaat kemudian Zico sudah keluar dari kamar mandi dengan baju baru pemberian Minyeon. Minyeon menatapnya senang.
“Ternyata kau seukuran dengan oppaku.”
“Jincha? Geurae. Ayo kita pergi sekarang. Kaja.”

Zico membawa Minyeon berkeliling. Zico juga mengajak member Block B yg lain. Ketika malam menjelang, mereka tiba di sebuah taman yg cukup ramai. Di taman itu sedang diadakan sebuah free style rap competition yg penontonnya cukup ramai. Zico yg tertarik segera mengajak mereka semua untuk melihat kompetisi tersebut.
Minyeon melihat raut wajah Zico sangat senang sekali. Wajahnya seperti anak kecil yg sedang menyaksikan pertunjukan sulap dari seorang pasulap. Matanya tampak berbinar-binar.
“Yeah! Adakah diantara kalian yg mau menunjukkan kemahiran rap kalian? Kami menantang kalian~” pekik salah seorang dari atas panggung yg ukurannya tidak terlalu besar itu.
“Hyung! Majulah hyung!! Kau kan jago sekali.” Pekik PO cepat. Ia mengguncang pundak Zico. “Ani. Aku tidak mau.” Zico menolaknya. PO tampak kecewa.
“Majulah oppa! Aku tau kau sangat hebat dalam rap! Majulah!!” Minyeon ikut mendesak Zico agar mau menunjukkan bakatnya. Minyeon kemudian mengacungkan tangannya kemudian menunjuk ke arah Zico.
“Yah. Kau. Naiklah. C’mon!” pekik MC tersebut keras. Minyeon dan PO mendorong Zico bersamaan hingga akhirnya Zico bangkit dari tempat duduknya tapi tangannya tanpa sengaja menarik tangan PO hingga ia juga ikut berdiri.
“2 orang? Baiklah!” pekik MC itu lebih keras. PO hanya pasrah ketika Zico menariknya berjalan menuju panggung.
Zico mulai menunjukkan free style rap nya. Sebaliknya, PO menunjukkan keahliannya dalam BeatBoxing. Ia menyanyikan salah satu lagu yg ia ciptakan sendiri. Lagunya yg berjudul Cloud Sucks.
Tepuk tangan terdengar sangat meriah ketika keduanya mengkahiri lagu. Bahkan MC tersebut mengakui kehebatan Zico dan PO.
“Good job! Kalian hebat sekali!” pekik MC itu heboh. Zico dan PO tersenyum canggung. MC itu kemudian turun ke barisan penonton kemudian menarik tangan Minyeon dan mengajaknya naik ke atas panggung.
“Mwoya?” tanya Minyeon bingung ketika ia ditarik ke atas panggung.
“Apa dia yeojachingumu? Aku melihatnya ia menyaksikanmu tanpa berkedip.” Goda MC itu. Mata Minyeon membulat. Pipinya bersemu merah.
“Ah ne. dia yeojachingunya.” PO mengiyakan. Minyeon mencoba mengelak. Tapi sesaat kemudian Zico berjalan mendekat kepadanya kemudian memeluknya.
“Ne. dia yeojachinguku.” Jawab Zico santai. Sorak sorai terdengar dari seluruh kursi penonton. Pipi Minyeon semakin memerah. Ia berusaha menyembunyikannya.
Setelah acara itu berakhir, Zico segera mengajak mereka pulang. Tapi sepanjang perjalanan Minyeon sama sekali tidak mau berada di dekat Zico. Ia memilih untuk berjalan dekat U-Kwon.
“Yah, Minyeon~ah. Gwaenchana?” tanya U-Kwon. Minyeon mengangguk pelan. Zico segera mendekatinya. Tapi Minyeon menjauh lagi, kali ini ia berjalan di dekat Hyo. Zico mengejarnya lagi. Lagi-lagi Minyeon menjauh. Dan kini ia berjalan di dekat B-Bomb yg sedang menikmati snacknya.
“YAH! SHIN MINYEON!” pekik Zico kesal. Minyeon segera menoleh tapi kemudian segera mengalihkan pandangannya. Zico berdiri di depannya.
“kau kenapa?” tanya Zico yg masih kesal. Minyeon menggeleng menandakan kalau tidak ada yg salah dengan dirinya. Zico mendekatkan wajahnya ke wajah Minyeon hingga hidung keduanya hampir bersentuhan.
“Kau marah karena masalah tadi?” tanya Zico. Segurat senyum tergambar di bibirnya.
“Ani!” Minyeon menggeleng cepat. Zico menjauhkan diri. Tapi sesaat kemudian ia menggandeng tangan Minyeon. Minyeon menatapnya bingung.
“Saranghae~” bisik Zico pelan. Ia kemudian menatap Minyeon lagi. Kini senyum Zico semakin mengembang.
“Yah! Aku ingin pulang sekarang.” Pekik Minyeon tiba-tiba. Mau tidak mau Zico harus segera mengantarkannya pulang.
Tak sampai 20 menit, mereka tiba di rumah Minyeon. Zico mengantarkan Minyeon hingga di depan pintu rumahnya yg terlihat gelap. Minyeon mencari kunci rumahnya dari dalam tas kuningnya.
“Gomawo.” Ucap Minyeon setelah ia berhasil membuka pintu rumahnya.
“Ne cheonmaneyo.” Jawab Zico. ia kemudian segera kembali ke mobilnya untuk mengantar yg lain pulang. Tapi baru saja ia melangkahkan kakinya selangkah, Minyeon menarik tangannya kemudian menyapukan ciuman singkat di bibir Zico.
“Na do saranghae~” ucap Minyeon pelan. Minyeon segera masuk ke dalam rumahnya meninggalkan Zico yg masih berdiri diam terpaku di depan pintu.
“Aigoo~~ PO, kau belum boleh melihat adegan itu.” Ucap U-Kwon kemudian menutup mata PO. PO berusaha melepaskannya.
“Hyung! Ayo ppali antarkan kami pulang!” teriakan PO menyadarkan kembali Zico ke alam sadarnya. Zico segera menyusul yg lainnya.

***

Keesokan harinya, sekolah mendadak gempar karena mading sekolah dihiasi headline news dengan berita bahwa Zico dan Minyeon sudah berpacaran. Hal ini tentu membuat Eli geram. Ia segera mencari keberadaan Zico.
Eli menemukan Zico sedang berada di kantin bersama Kyung dan B-Bomb. Eli segera mencengkeram kerah baju Zico.
“Yah! Yah!” Kyung berusaha memisahkan Eli. Tapi sia-sia, Eli Nampak sangat emosi. Zico menatapnya tenang.
“Apa berita itu benar?? Kau sudah berpacaran dengan Minyeon??” sembur Eli tidak sabar. Zico tertawa pelan. Zico belum menjawab ketika tiba-tiba sebuah tangan menarik lengan Eli yg mencengkeram kerah baju Zico. Minyeon menatap Eli tajam.
“Minyeon~ah, berita itu tidak benar kan? Kau tidak berpacaran dengannya kan?” tanya Eli membabi buta.
“Berita itu benar. Aku sudah berpacaran dengan Zico oppa.” Jawab Minyeon datar. Eli tidak percaya kemudian mengguncang tubuh kecil Minyeon.
“Geotjimal!! GEOTJIMAL!!” raung Eli keras.
“Ani. Ini kenyataan.” Ucap Minyeon kemudian segera menggandeng tangan Zico keluar dari kantin. Kyung dan B-Bomb mengikuti dari belakang.
“Shit!!!” pekik Eli keras kemudian menendang kursi yg tadi diduduki oleh Kyung.
Zico menghentikan langkah Minyeon yg hampir memasuki kelasnya.
“Jamkan.” Zico membalik tubuh Minyeon hingga berhadapan dengannya. Minyeon menatapnya santai. Matanya sudah tidak sesembap kemarin malam.
“kenapa kau mengatakan itu?” tanya Zico penasaran.
“Wae? Kau tidak suka? Padahal aku sungguh mengatakannya.” Jawab Minyeon tenang.
“Neo…”
“ng?”
“Kau menyukaiku?” tanya Zico lagi. Minyeon mengangguk malu-malu. Kyung dan B-Bomb ikut tersenyum melihat jawaban Minyeon. Pipinya bersemu merah lagi.
“Nan neoreul saranghae, Shin Minyeon.”
“Na do, Zico.”
Zico kemudian mengunci bibir Minyeon dengan bibirnya. Kyung dan B-Bomb segera berlalu meninggalkan mereka berdua.

END

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: