War of Love Part 5

Seperti biasa. Pagi ini Minyeon bangun pagi kemudian menyiapkan perlengkapannya untuk pergi sekolah. Ketika ia sedang memakai sepatunya, seseorang mengetuk pintunya. Minyeon segera membukakan pintu.
“Annyeong.” Minyeon terlonjak begitu melihat siapa orang di hadapannya. Hyo sudah siaga di depan pintu rumahnya. Dan sebuah motor besar berwarna merah terparkir manis di belakangnya.
“Apa yg kau lakukan?” tanya Minyeon polos. Hyo memutar bola matanya. “menjemputmu, Yeonnie. Kau pikir aku mau mengantarkan surat?” goda Hyo. Minyeon tertawa kecil.
“Masuklah. Aku akan mengambil tasku.” Dalam sekejap Minyeon sudah menghilang di balik anak tangga yg menuju ke lantai 2. Hyo lalu duduk di sofa merah yg ada di dekatnya. Ia menatap ke seluruh ruangan itu. Ruangan yg kecil tapi tertata rapi sehingga terlihat cukup luas.
Ketika sedang asyik menatap seisi ruangan, Minyeon tiba dari lantai atas sambil menenteng tasnya. Ia lalu menyambar jaket yg ia gantungkan di salah satu kursi di ruang tengah. Hyo menatapnya geli begitu melihat Minyeon menyelipkan sepotong roti tawar di bibir tipisnya.
“Kenapa kau melihatku seperti itu? Ada yg salah?” tanya Minyeon ketikan menangkap tatapan Hyo. Hyo menggeleng cepat.
“Ani. Tidak ada yg salah. Ayo kita berangkat sekarang. Kaja kaja.” Ajak Hyo. Keduanya lalu keluar dari rumah. Tak lupa Minyeon mengunci pintu rumahnya. Setelah ia rasa rumahnya aman, ia segera menghampiri Hyo yg sudah menyalakan mesin motornya.
“Pakai ini.” Ucap Hyo lalu memberikan sebuah helm kepada Minyeon. Minyeon menerimanya lalu segera duduk di belakang Hyo dengan posisi miring.
“Yah. Jangan miring seperti itu. Duduklah seperti kalau kau menunggang kuda.” Pinta Hyo. Minyeon mendengus kecil lalu menggeleng.
“Ani. Aku duduk seperti ini saja.” Minyeon mempertahankan posisi duduknya. Hyo lalu menoleh kepadanya tanpa turun dari motornya.
“Motorku jadi tidak seimbang kalau kau duduk seperti itu. Lagipula kalau kau dududk seperti itu, kau mungkin akan jatuh tertiup angin. Aku bukan orang penyabar di jalan.” Terang Hyo panjang lebar. Kalimat terakhir Hyo membuat Minyeon memikirkan kembali posisi duduknya. “Bagaimana? Mau mengubah posisi?” tanya Hyo kemudian. Minyeon menarik nafas panjang lalu mengubah posisi duduknya.
“Junbi dwaesseo?”
“Ye.” Hyo segera tancap gas dengan kecepatan tinggi meninggalkan rumah Minyeon. Minyeon di belakangnya hanya bisa menutup mata dan berdoa agar tidak terjadi apa-apa di jalan menuju ke sekolahnya.

Tak sampai 15 menit, motor Hyo sudah memasuki gerbang sekolahnya. Hyo menurunkan kecepatannya agar tidak membahayakan siswa lain yg berlalu lalang di depannya. Ketika ia tiba di tempat parkir, Hyo mematikan motornya. Kemudian Minyeon turun dari motor Hyo dan melepas helmnya.
“Gomawo tumpangannya, Hyo.” Ucap Minyeon lalu segera balik badan untuk menuju kelasnya. Tapi tangan kuat Hyo mencegahnya. Hyo lalu menarik kembali tubuh kecil Minyeon ke hadapannya.
“Hyo? Sebutkan dengan lengkap.” Pinta Hyo. Minyeon memiringkan kepalanya untuk mencerna ucapan Hyo barusan. Sepersekian detik kemudian ia menemukan jawabannya.
“Gomawo tumpanannya, Hyo OPPA.” Ulang Minyeon dengan penekanan penuh di akhir kalimatnya membuat Hyo tersenyum puas. Hyo lalu melepas genggaman tangannya membiarkan Minyeon berlari ke kelasnya.
Tak lama kemudian Zico datang menghampirinya.
“Kau sudah tau dimana rumahnya?” tanya Zico langsung. Hyo mengangguk. Ia lalu memberikan secarik kertas kecil kepada Zico yg berisi alamat rumah Minyeon. Zico menepuk pundak Hyo pelan. “Gomawo.”
“Ye.” Jawab Hyo singkat lalu berjalan meninggalkan Zico yg masih terdiam di tempatnya. Zico lalu membaca isi kertas itu. Tulisan tangan Hyo yg rapi membuat tulisan itu sangat mudah untuk dibaca.

Hari ini keadaan tidak seperti biasa. Biasanya aroma persaingan dan penyerangan terjadi di kubu Minyeon maupun kubu Zico, namun hari ini suasana tampak damai. Tak satu pun dari kedua kubu tersebut melakukan penyerangan seperti biasa.
“Hyung. Apa kau tidak menyerang Minyeon lagi?“ tanya PO. Zico yg dari tadi sibuk memainkan hpnya kemudian menyandarkan tubuhnya di kursi.
“Aku menunggu dia melakukan penyerangan dulu. Baru nanti aku membalasnya.“ terang Zico.
“Atau jangan-jangan dia sudah menyerah?“ celetuk Taeil.
“Andwae. Dia tidak mungkin menyerah karena dia yg memulai perang ini. Kita tunggu saja dia.“ucap Zico lalu beranjak dari tempat duduknya. Anggota Block B yg lain lalu berjalan mengikutinya.

Minyeon dan yg lainnya sedang berada di lapangan untuk berlatih baseball.
“Minyeaon~ah. Giliranmu.“ panggil Hyolyn. Minyeon yg sedang menunggu giliran akhirnya masuk ke lapangan. Ia pun mengambil tongkat pemukulnya. Bora menjadi pitcher dalam permainan kali ini. Bora merupakan pitcher yg cukup baik. Ia menduduki peringkat ke-2 di sekolah ini sebagai pitcher terbaik. Sedangkan peringkat pertama diduduki oleh Jiyoon.
Bora mulai bersiap melakukan lemparan terbaiknya. Minyeon pun bersiap untuk mengayunkan tongkatnya keras-keras.
Ppung!!
Bola baseball melambung tinggi. Minyeon segera berlari melewati base-base yg ada. Beberapa detik kemudian Minyeon telah melewati base terakhir dan disambut ucapan selamat oleh Hyolyn.
“Daebak Minyeon~ah! Daebak!“ ucap Bora sambil tersenyum lebar. Minyeon kebingungan melihat tingkah Bora.
“ah wae?“ tanya Minyeon bingung.
“Kau melakukan Home Run!!!“
“ah jincha?? Jincha??“ tanya Minyeon lagi tidak percaya. Bora mengangguk cepat. Minyeon lalu menghampiri Jiyoon dan yg lainnya di samping lapangan.
“woaa. Home run!“ pekik Jiyoon ketika melihat Minyeon menghampirinya.
“Mwoya? Biasa saja.“ ucap Minyeon lalu melepas topinya. Jiyoon menggeser posisi duduknya agar Minyeon bisa duduk di sampingnya.
“Ya, Minyeon~ah. Akhir-akhir ini aku tidak melihat Zico melakukan penyerangan.“ ucap Sohyun setelah menyedot habis jusnya. Minyeon hanya bergidik tidak tahu.
Tak berapa lama kemudian, Minyeon menangkap sosok Zico dan Block B sedang berjalan di samping lapangan yg berseberangan dengan tempat duduk Minyeon. Sebuah ide tiba-tiba muncul di pikiran Minyeon.
Minyeon lalu membisikkan sesuatu kepada Sohyun dan Jiyoon. Keduanya mengangguk setuju lalu segera berlari ke dalam lapangan. Jiyoon mengambil bola baseball, sedangkan Minyeon mengambil tongkat pemukulnya. Jiyoon lalu melemparkan bolanya ke arah Minyeon. Beberapa detik kemudian Minyeon memukulnya keras menuju ke arah Zico.
Ppung!!
“Aaaargh!“ pekik Zico keras begitu bola itu menghantam kepalanya. ia lalu mengambil bola itu kemudian mencari siapa pemukul bola itu. Dilihatnya Minyeon dan Jiyoon sedang ber-high five merayakan keberhasilannya. Zico menatapnya geram. Dengan langkah besar ia mendatangi Minyeon dan Jiyoon.
“Apa maumu hah??“ sembur Zico di hadapan Minyeon. Minyeon menatapnya tenang. Senyum kemenangan tersungging di bibir tipisnya.
“Aku hanya berlatih baseball. Ada yg salah huh?“
“Tentu saja ada! Kau mengenai kepalaku! Kau buta??!“
“Ani.“ jawab Minyeon singkat. Zico menatapnya semakin geram. Sesaat kemudian Jiyoon menghampiri Minyeon kemudian membisikkan sesuatu. Minyeon mengangguk setuju.
“Aku menantangmu.“ucap Minyeon.
“Mwo?“
“Hmmm.. Kita bertanding baseball. Yg menang bisa mendapatkan apapun dari yg kalah.“tantang Minyeon. Zico tampak berpikir sejenak.
“Bagaimana? Tapi kusarankan kau untuk memikirkannya lagi sebelum kau..“
“Deal. Kita bertanding.“ ucap Zico memutus pembicaraan Minyeon yg belum selesai menyampaikan ucapannya. Minyeon tersenyum lebar.
“Jeongmal? Kau benar-benar menerima tantanganku?“ ulang Minyeon.
“Ye.“
“Geurae. Kutunggu besok. Kita bermain disini.“ terang Minyeon kemudian berlalu. “ah, jangan lupa kau bawa 9 pemain.“ tambah Minyeon mengingatkan Zico. Ia kemudian meninggalkan Zico yg masih berdiri di tengah lapangan.
“Kau sebaiknya memikirkan jawabanmu dulu.“ Kyung memecah keheningan. Zico menarik nafas panjang.
“Sudahlah. Aku yakin mereka pasti kalah.“ ucap Zico lalu berjalan meninggalkan lapangan. Kyung hanya menggeleng pasrah dengan keputusan Zico yg menerima tantangan Minyeon.

***

Hari yg dinanti pun tiba. Ketika bel pulang berbunyi seluruh siswa tidak langsung pulang melainkan berkumpul di sekitar lapangan baseball untuk melihat pertandingan antara kubu Zico melawan kubu Minyeon. Berita tersebar sangat cepat. karena dalam waktu kurang dari 1 jam, hampir seluruh siswa tahu tentang pertandingan ini.
Kubu Minyeon sudah bersiap di bangku pemain lengkap dengan kostum berwarna biru putih. Tak berapa lama kemudian kubu Zico muncul dari dalam gedung sekolah memakai kostum berwarna merah putih. Zico berjalan di barisan depan disusul oleh Kyung, Taeil, Hyo, B-Bomb, U-Kwon dan PO. Mereka menambah pemain dengan bantuan dari Mir dan Thunder.
Minyeon juga menambah pemain dengan memasukkan Bora dan Dasom ke dalam tim mereka. Secara keseluruhan, tim Minyeon merupakan anggota club baseball di sekolahnya, kecuali Hyunah, Jihyun dan Gayoon.
“Ah! Zico oppa!!“ pekik seorang yeoja dari kerumunan penonton.
“Kyung oppa!“
“Jaehyo oppa!! Hwaiting!!“ secara bertubi-tubi tim Zico mendapat dukungan dari penonton yg rata-rata adalah yeoja yg memang menjadi fans dari Block B.
“Kita kalah pendukung.“ ucap Sohyun pelan. Jiyoon tertawa kecil.
“Ani. Mereka hanya belum terlihat. Tunggu hingga Bora dan Minyeon beraksi. Ahahah.“ canda Jiyoon. Jiyoon nampak tenang menghadapi pertandingan ini karena dia memang terbiasa bertanding.
Tim Zico berkesempatan untuk bermain lebih dulu. Jiyoon menjadi pitcher dalam pertandingan kali ini. Ia segera berjalan menuju ke tengah lapangan untuk melemparkan bolanya.
Kyung masuk ke dalam lapangan. Ia pemain pertama dari tim Zico yg bermain. Sorak sorai membahana di seluruh sisi lapangan yg rata-rata adalah kaum yeoja. Kyung tampak tenang. Ia berkonsentrasi penuh kali ini.
Jiyoon bersiap. Ia memberi kode kepada Dasom yg berada di belakang Kyung. Beberapa saat kemudian Jiyoon melempar bolanya cukup rendah. Kyung sengaja tidak memukulnya.
“Ball!“ pekik si wasit. Ia kemudian melempar kembali bola itu kepada Jiyoon. Jiyoon kembali konsentrasi penuh. Jiyoon melempar bolanya dan kali ini ia melemparnya lurus kearah Kyung dengan kekuatan tinggi. Bola itu melesat dengan cepat. Kyung memukulnya dengan sekuat tenaga.
PPUNG!!
Bola melesat cepat melambung ke udara. Minyeon mencoba menangkap bola tersebut disusul oleh Jihyun. Bola berhasil ditangkap Minyeon, tetapi Kyung sudah aman di base 2.
“Yeeaaah!! Kyung oppa fighting!!“ sorakan semacam itu terus membahana di lapangan. Kyung mengatur nafasnya di base 2 yg dijaga Gayoon. Gayoon menatapnya sengit sedangkan Kyung tersenyum penuh kemenangan.
“Zico!! Zico~ah! Go go Zico!“ seketika lapangan ramai begitu Zico masuk ke dalam lapangan. Jiyoon hanya tersenyum geli melihat Zico sudah siap dengan tongkat pemukulnya.
Jiyoon kembali bersiap untuk melempar. Setelah memberi kode, ia melemparkan bolanya sedikit tinggi. Zico memukulnya tetapi tidak mengenai bola.
“Strike 1!“ pemain lain tampak kecewa dari bangku pemain. Begitu juga Kyung yg sudah bersiap untuk berlari dari base 2.
Zico kembali melakukan strike di lemparan kedua Jiyoon. Tapi akhirnya ia bisa mengenai bola pada lemparan ketiga. Namun sayangnya, ia memukulnya dengan pelan sehingga Minyeon menangkapnya dengan mudah kemudian mematikan Zico.
“Yeaaah!!“ pekik Minyeon puas. Terjadi pergantian pemain. Kini tim Zico menjadi penjaga sedangkan tim Minyeon menjadi penyerang.

Permainan sudah mencapai babak ke 9. Kedudukan imbang. Tapi terjadi perbedaan score ketika Dasom berhasil mematikan Mir yg akan melewati base terakhir. Terjadi pergantian pemain untuk terakhir kalinya. Seluruh pemain dari masing-masing tim mengerahkan seluruh kemampuan mereka.
Bora segera masuk ke lapangan. Ia menghadapi B-Bomb sebagai pitcher. Bora menangkap B-Bomb memberikan sebuah kode kepada U-Kwon yg berada di belakang Bora. Bora bersiap menerima bola dari B-Bomb. B-Bomb melempar bolanya dan..
PPUNG!
Bora berhasil memukulnya kuat namun masih bisa ditangkap Taeil yg menjaga di belakang base 2. Bora berhasil berlari mencapai base 2 sebelum Taeil mematikannya.
Seluruh tim Minyeon melihat papan score. Score terpaut tidak cukup jauh. Timnya hanya butuh 1 poin lagi. Setelah diminta oleh pemain yg lain, akhirnya Minyeon memasuki lapangan. Sorak sorai sontak bergemuruh. Dan kali ini suara tersebut didominasi suara namja. Minyeon merasakan tatapan Zico yg terus menatapnya.
Lampu-lampu di samping lapangan sudah mulai menyala. Jam di papan score menunjuk pukul 7 lewat 13.
B-Bomb bersiap melempar. Beberapa detik kemudian dia melemparnya agak ke bawah. Minyeon tidak memukulnya.
“Ball 1!“
Minyeon kembali fokus begitu juga B-Bomb. Tak berapa lama kemudian B-Bom melempar bolanya lurus ke depan. Seluruh penonton bagaikan menahan nafas menunggu apakah yg akan terjadi dengan bola itu.
“STRIKE 1!“
Terdengar sorak kekecewaan di bangku penonton, begitu pula di bangku pemain. Tapi sorak kegembiraan muncul di kubu Zico. U-Kwon mengembalikan bola kepada B-Bomb. B-Bomb kembali bersiap lalu melempar bolanya ke sisi kanan Minyeon. Minyeon membiarkannya lagi.
“Ball 2!“
kali ini Minyeon menarik nafas panjang. B-Bomb mulai melakukan ancang-ancang untuk melempar bolanya. B-Bomb melempar bolanya dengan kecepatan tinggi. Minyeon mengerahkan seluruh kemampuannya. Nafas seisi lapangan serasa berhenti kembali.
PPUNG!
Bola melambung tinggi. Semakin tinggi. Dan semakin tinggi hingga akhirnya menghilang di balik tembok besar yg menutupi sekolah.
“HOME RUN!!!!“
“YEAAAAYYYYY!!“ suara teriakan senang kembali bergemuruh melihat aksi home run yg dibuat Minyeon. Tim Zico tampak sangat kecewa. Sebaliknya tim Minyeon bersuka cita kemudian menerobos masuk ke dalam lapangan menyambut Minyeon yg baru saja melewati final base.
“Daebak Yeonnie! Daebak! Kita menang!!“ pekik Sohyun gembira.
Beberapa pemain club baseball terlihat ikut memberi selamat kepada Minyeon.
“Minyeon~ah. Chukahae. Kau keren sekali!“ ucap Hyunseung, salah satu pemain terbaik club baseball.
“ne. Gomawo.“ jawab Minyeon malu-malu. Di tengah lapangan terlihat B-Bomb dan U-Kwon sedang merebahkan diri di rumput. Minyeon menghampiri mereka.
“yah. Kalian bermain sangat bagus sekali.“ ucap Minyeon mengagetkan mereka berdua. U-Kwon lalu terduduk di rumput.
“Ah ne. Gomawo. Kau juga.“ U-Kwon balik memuji Minyeon. Minyeon menangkap sosok Zico di ujung matanya. Ia lalu menghampirinya. Terlihat Zico sedang mengubur mukanya dengan kedua telapak tangannya.
“ehem.“ Minyeon berdehem. Zico mendongak kemudian membuang muka.
“aku sudah bilang. Sebaiknya kau memikirkan tantanganku dulu.“
“Shiro!!“ sembur Zico. Minyeon tersenyum kecil lalu menatap ke penjuru lapangan.
“ingat. Yg menang mendapatkan semuanya. Dan kau harus bersiap-siap.“ terang Minyeon tanpa menatap Zico. Zico tidak menanggapi ucapan Minyeon. Tanpa dia sadari, Minyeon sudah meninggalkannya.
“Kau seharusnya tau kalau dia itu pemain baseball terbaik di sekolah ini. Shin Minyeon. 7 kali melakukan home run di baseball champion beberapa saat lalu dan membawa sekolah kita menjadi pemenang.“ terang Hyo panjang lebar. Zico hanya menggeleng pasrah.

***

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: